
Aryo terperanjat karena teriakan Ki Wara yang sedang bercerita di depannya. Teriakan itu membuatnya terjatuh dari kursi tempat ia duduk.
"Hahahahaha.... Wajah cucu ku tegang sekali, maaf orang tua ini telah membuatmu terkejut", Ki Wara tertawa terbahak-bahak melihat Aryo jatuh telentang di hadapannya.
Ia sengaja membuat teriakan itu karena reaksi Aryo yang sangat fokus mendengar ceritanya. Ki Wara tidak permah menyangka bahwa teriakannya barusan berbuah cukup pahit untuk Aryo.
"Aduh Ki, kenapa berteriak sekencang itu?", Aryo berdiri memandangi Ki Wara yang masih saja tertawa terbahak-bahak.
Wajah Aryo memerah sesaat sebab posisi ia terjatuh tadi cukup buruk sehingga membuat para pengunjung kedai yang tersisa menahan tawa mereka.
Tak ingin ambil pusing Aryo kemudian duduk kembali di tempat semula sambil menggosok hidungnya. Ki Wara masih tertawa namun kini sudah tak sekeras tadi, "Maafkan orang tua ini cu, aku hanya bercanda. Sebetulnya teriakan tadi itu benar-benar keluar dari mulut ku waktu itu".
"Ahh.... Tapi setidaknya jangan berteriak di depan cucu juga Ki".
Ki Wara menggaruk kepalanya, "Baiklah, apa cucu ku masih ingin mendengar kelanjutan cerita tadi?".
"Jika Ki Wara bersedia aku akan mendengarkan lagi Ki, dengan syarat tidak ada lagi teriakan seperti tadi".
"Setelah kejadian itu... emmm....", Ki Wara kini melanjutkan ceritanya.
***
Setelah sepasang telapak tangan yang dingin menyentuh wajahnya, Ki Wara berteriak histeris karena kaget bercampur ketakutan. Belum pernah ia merasakan hawa dingin seperti itu, dalam hatinya ia pikir waktu itu ia takkan selamat.
Cerita orang-orang tua tentang demit atau siluman yang suka menculik anak-anak bahkan sampai orang dewasa terngiang-ngiang di kepalanya. Rasanya ia ingin pingsan karena hal itu, namun niatnya kemudian pudar.
"Kang, apa yang engkau lakukan di tempat ini?".
Suara perempuan yang begitu lembut terdengar di telinganya, ia merasa suara itu berasal dari arah depan dan begitu dekat. Spontan saja mata Ki Wara terbuka lebar tanpa ia sadari, saat itulah ia kemudian melihat siapa pemilik suara tersebut.
Di depannya saat ini berdiri perempuan yang begitu cantik dengan wajah yang terlihat khawatir sedang memandanginya. Perasaan takut Ki Wara dalam sekejap hilang dan terbius kecantikan perempuan itu sesaat.
__ADS_1
"Kang, mengapa hanya diam?".
"A-a-aku ti-ti-dak apa-apa", Ki Wara menjawab dengan gugup.
Ia baru menyadari bahwa telapak tangan yang dingin itu berasal dari perempuan yang berada di depannya sekarang. Kini tubuhnya dapat digerakkan sesuai kemauannya, namun bukannya berdiri tegap ia kemudian jatuh ke tanah dalam posisi terduduk.
"Hah.... Aku pikir ada demit yang akan menculik ku", Ki Wara mengusap dadanya berulang kali.
"Demit? Ahhhh... Akang bercanda, mana mungkin ada demit di sekitar sini", perempuan itu tertawa sambil menutup tipis mulutnya.
"A-a-ku bersungguh-sungguh, barusan ada teriakan yang sangat menyeramkan".
"Aku tidak mendengarnya kang, mungkin akang salah dengar tadi. Aku baru saja sampai disini, dan hanya menemukan akang sedang berdiri membatu".
"Benarkah?", Ki Wara melotot ke arah perempuan cantik itu, ia merasa ada yang aneh, "Telapak tangan yang dingin itu, itu telapak tangan mu bukan?".
"Telapak tangan dingin? Ah... Aku bisa menjelaskannya kang", jawab perempuan itu sambil tersenyum ramah.
Ki Wara bangkit dari posisi duduknya, setelahnya ia baru menyadari bahwa perempuan itu memiliki tinggi yang hampir sama dengannya. Degup jantungnya berdetak dengan kencang ketika pandangan mereka bertemu.
"Maaf atas sikap ku barusan, aku tidak menyangka akan bertemu perempuan cantik seperti mu", Ki Wara menggaruk kepalanya.
"Ahaha... Akang ini pandai merayu rupanya, tapi terima kasih atas pujiannya".
"Hahaha... Biasanya aku tidak bersikap seperti ini, entah mengapa ketika melihat mu hati ku merasa sangat tenang".
"Sudah kang cukup, aku jadi malu", perempuan cantik itu menutup wajahnya yang kini merah merona.
Ki Wara tertawa melihat sikap perempuan cantik di depannya saat ini, senyuman penuh kedamaian terukir di wajahnya sekarang. Masih terbius dengan keadaan mereka tiba-tiba saja Ki Wara mengingat sesuatu yang membuatnya khawatir, "Ahhh... Adik ku kemana?!", Ki Wara menjadi panik.
"Adik? Apa akang kesini bersama seseorang?".
__ADS_1
"Benar, aku ke tempat ini bersama adik kandung ku. Kami berniat mencari kayu bakar tapi ada sedikit masalah yang terjadi tadi, sekarang dia pergi entah kemana. Aku menjadi khawatir!".
"Kalau begitu mari kita beranjak dari tempat ini kang, aku akan menemani akang mencari adik akang", ajak perempuan itu.
"Ba-baik".
Ki Wara dan perempuan cantik kini berjalan bersama menyusuri jalan setapak yang berada di hutan. Keduanya berjalan pelan sambil memandangi sekitar mencari keberadaan adiknya Ki Wara.
Ki Wara sendiri berharap dalam hatinya bahwa tidak terjadi apa-apa terhadap adiknya. Jika sampai hal itu terjadi apa yang akan ia katakan kepada kedua orang tuanya bahwa adiknya hilang entah kemana.
Keduanya terus menyusuri jalan setapak itu sampai akhirnya mereka sampai di tepi hutan tempat awal Ki dan adiknya masuk ke dalam hutan. Perasaannya kalang kabut karena tidak menemukan keberadaan adiknya.
Saat itu lah perempuan cantik yang bersamanya memegang tangannya, "Kang, sepertinya ada gerombolan orang yang datang ke arah sini", perempuan cantik itu menunjuk ke satu arah dengan jarinya.
Dengan cepat pandangan Ki Wara tertuju ke arah jari perempuan itu, ia dapat menyaksikan bahwa ada gerombolan orang-orang yang datang ke arah mereka saat ini.
Orang-orang itu berlari dengan tergesa-gesa sambil membawa obor, Ki Wara menjadi heran karena hal itu. Sebelum ia memahami situasi yang terjadi di depannya, perempuan itu kembali berbicara, "Akang, jangan pernah lupakan pertemuan kita. Jika akang ingin bertemu kembali, temui lah aku di tempat awal pertemuan kita".
Ki Wara belum sempat menjawab namun tangan lembut yang menggenggam tangannya tadi dalam sekejap menghilang, begitupun dengan tubuh pemiliknya.
Ki Wara menjadi kaget karena hal itu, ia takut sesaat namun ada rasa kehilangan yang juga ia rasakan. Belum sempat ia berpikir lebih jauh terdengar suara yang tak asing menyebut namanya.
"Pak de, itu kak Wara!!!"
"Anak itu!!!"
Suara yang ia dengar barusan sangat ia kenal, benar itu adalah suara adiknya Ki Wara. Ia kemudian menyadari bahwa dalam gerombolan itu ada adiknya ditemani puluhan orang dewasa bersamanya.
Ki Wara masih diam dengan sebutan kebingungan yang ia rasakan, "Apa yang telah terjadi?", pertanyaan itu terus berputar di pikirannya.
"Nak, untunglah engkau tidak apa-apa", ayah Ki Wara mendekap tubuh anaknya dengan begitu erat.
__ADS_1