
“Bagaimana mereka bisa mendapat kepercayaan diri seperti itu?”
“Dasar kumpulan bedebah sinting!”
“Mereka hanya akan mengantarkan nyawa karena harus menghadapi kita”
“Benar! Pasukan yang jumlahnya jauh dari kita tidak akan mungkin menang!”
Pasukan kerajaan Adipura yang saat ini sudah loyal kepada raja Jaka berkomentar terhadap sikap lawannya. Mereka tertawa mengejek, menganggap usaha dari lawannya akan sia-sia nantinya. Ini wajar karena dalam perang jumlah termasuk faktor dimana perang bisa dimenangkan.
Raja Jaka juga tidak ingin kalah dari saudaranya, melihat kepercayaan diri pasukannya membuatnya yakin akan memenangkan perang ini dengan cepat.
Dia kemudian maju ke depan pasukannya dengan menunggangi kudanya, “Lihatlah para bedebah-bedebah bodoh yang telah berpikir gila bahwa bisa menang melawan kita! Ubah teriakan semangat itu menjadi teriakan kepedihan atas kekalahan yang akan mereka dapatkan! Jangan beri ampun! Habisi semuanya, tidak ada yang boleh tersisa! Tunjukkan bahwa kita adalah pasukan terkuat yang pernah ada!”, raja Jaka berseru lantang kepada pasukannya.
“Hidup raja Jaka!”
“Hidup! Hidup! Hidup!!!”
Pasukan pimpinan raja Jaka juga tidak ingin kalah suara dari pasukan lawannya, dengan bersama-sama mereka berseru lantang setelah raja Jaka menyampaikan pidatonya. Raja Jaka tersenyum melihat para prajurit yang loyal kepadanya terus mendukung keputusannya sampai sekarang.
Ini jelas karena para prajurit itu telah mengetahui siapa orang dibalik layar yang membantu kekuasaan raja Jaka bertahan sampai sekarang. Mereka yakin dengan adanya orang-orang seperti itu perang ini akan mudah mereka menangkan.
“SERRAAANGGG!!!!!”, raja Jaka memerintahkan pasukannya untuk bergerak maju menyerang, para pasukan yang mendengar seruan itu lantas berlari menuju tempat lawannya berada. Dengan jumlah yang besar pasukan itu bergerak sampai berdesak-desakan sesama mereka.
Patih Purno yang melihat pasukan lawan sudah bergerak lantas mulai berbicara, “Lakukan sesuai dengan strategi kita! Semuanya mulai bergerak!”, perintah Patih Purno.
Pasukan pemberontak yang telah disusun sesuai rencana kemudian berlari ke posisi masing-masing, mereka menunggu aba-aba dari pimpinan mereka yaitu Patih Purno.
__ADS_1
“SERAAANGGGG!!!!”, seru Patih Purno kepada pasukannya.
Pasukan pemberontak digaris depan dengan cepat bergerak serempak menuju ke arah lawan, Aryo ikut dalam gerakan itu ditemani oleh Subani di sampingnya. Tidak butuh waktu lama pertemuan antara dua kubu itu akhirnya terjadi, kedua belah pihak bertarung dengan seluruh kemampuannya.
Dentingan pedang bertemu pedang, pedang menghantam tameng serta teriakan prajurit yang terkena serangan menghiasi suasana perang saat ini. Tempat yang menjadi ajang perang itu dalam sekejap berubah menjadi lautan mayat, tidak terhitung banyaknya prajurit yang telah kehilangan nyawa akibat serangan dari lawannya masing-masing.
Debu menghiasi tempat itu, para prajurit menunjukkan ketangguhannya dalam menghadapi kematian di depan matanya.
Pasukan pemberontak dengan pimpinan Aryo serta Subani berhasil membuat lawan mereka kewalahan, apalagi kombinasi serangan dari keduanya dengan mudah membunuh prajurit kerajaan Adipura beserta aliansinya.
Aryo dengan keris Bagaskara menyerang dengan gencar kepada lawannya sedangkan Subani menggunakan silat tangan kosongnya terus melumpuhkan lawan yang datang menyerangnya.
Dia tidak segan mematahkan kaki, tangan bahkan leher dari lawannya, aksinya membuat seseorang menjadi tertantang dan ingin melawannya. Orang itu tidak lain adalah pria misterius, dia ingin mengetes seberapa jauh kekuatan dari Subani.
***
Menteri Balda hanya diam, pikirannya masih terfokus pada pertempuran yang sedang berlangsung. Mengingat di pihak lawannya ada seseorang yang memiliki akal dan siasat yang mumpuni, rasa khawatir kemudian menyerang menteri Balda.
“Menteri tidak perlu khawatir, kami akan memberi kematian yang cepat kepada lawan kita hari ini!”, pria misterius terus mencoba untuk meyakinkan menteri Balda dengan pendiriannya.
Menteri Balda menghembuskan nafas pelan lalu menoleh ke arah pria misterius, “Serang mereka sekuat mungkin, jangan sampai ada yang tersisa!”, titah dari menteri Balda.
Mendengar perintah itu pria misterius segera pergi menuju pasukan berkudanya berada. Suara terompet langsung dibunyikan sebagai tanda penyerangan pasukan berkuda pimpinan pria misterius. Mereka memacu kudanya secepat mungkin agar sampai ke medan laga untuk membantu pasukan kerajaan Adipura.
Dalam kacaunya peperangan Aryo dan Subani dapat melihat pergerakan dari pasukan berkuda lawannya. Aryo tersenyum, semuanya berjalan sesuai rancangan yang telah disusun oleh Patih Purno. Lantas dia mulai berteriak di tengah-tengah medan perang, “Mundur secara perlahan!”, Aryo memberikan perintah yang segera dilakukan oleh setiap pasukannya.
Pasukan pemberontak lantas mundur teratur, pasukan kerajaan Adipura yang melihat hal itu lantas keheranan. Tadinya pasukan pemberontak berhasil membuat mereka kewalahan namun sekarang mereka mundur dari medan perang secara perlahan.
__ADS_1
“Jangan biarkan mereka lolos!”
"Halangi mereka!"
“Kalian tidak akan pergi kemana-mana!”
“Mati kau!”
Seorang Patih dari kerajaan Adipura hendak menebas leher dari lawannya, namun tebasan itu tidak pernah sampai dikarenakan lehernya lah yang terlebih dahulu tertebas oleh keris Aryo. Patih itu jatuh terbaring ke tanah karena serangan tersebut.
Ia mencoba mencari siapa orang yang telah menyerangnya secara tiba-tiba, tidak butuh waktu lama ia dapat melihat seorang pemuda yang memandanginya dengan tatapan mengiba.
Dengan samar-samar ia memandangi sosok yang telah menyerangnya, matanya melotot setelah mendapati siapa orang yang telah menyerangnya. Ia ingin bersuara namun ia harus menahan cucuran darah dari luka di lehernya yang membuat nafasnya menjadi sesak.
“Maaf paman, aku harus membunuh mu...”, Aryo mengenali Patih itu yang tidak lain adalah Patih yang bersamanya saat hari terakhir dia menjadi raja kerajaan Adipura.
Aryo tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi, ia pikir bahwa Patih tersebut sudah mati karena tidak pernah mendengar kabarnya. Namun akhirnya mereka dipertemukan dalam perang ini namun dia juga tidak menyangka pertemuan mereka berakhir dengan saling menjadi musuh dalam perang.
Patih itu menundukkan pandangannya kepada Aryo, “Maa—maa—afff...”, suaranya tidak terdengar jelas karena darah mulai memenuhi tenggorokannya.
Aryo sempat linglung saat melihat Patih yang dulu melindunginya justru sekarang harus meregang nyawa karena serangannya. “Aku akan memberi paman kematian yang terhormat”, dengan setengah hati Aryo memegang kerisnya dengan kedua belah tangan berniat menusuk lawannya.
Patih itu memandangi wajah Aryo yang dulu pernah dia lindungi, walaupun sedikit berubah namun dalam sekejap mata saja dia dapat mengenalinya dengan jelas.
Tidak ada lagi wajah riang serta ramah dari rajanya yang dulu, sekarang ekspresi dari Aryo hanya terdapat ketegasan. Patih itu tersenyum dan kemudian ia merelakan apa yang akan terjadi berikutnya.
Aryo memantapkan hatinya dan setelahnya menusukkan kerisnya tepat di jantung Patih itu berada, dalam sekejap tusukannya telah membuat lawannya kehilangan nyawa hari itu.
__ADS_1
“Semoga dewa menuntun paman di atas sana”, Aryo begitu terpukul, dalam perang kita akan banyak menemui kematian dimana-mana. Namun ketika kehilangan sosok terdekat dalam perang hanyalah ajang penderitaan yang tidak akan ada habisnya.