Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
25. Ritual


__ADS_3

Perjalan terasa begitu sunyi sebab sepanjang perjalanan tersebut menteri Balda hanya terdiam, begitu pun dengan pria misterius. Namun keduanya kini mulai bereaksi setelah raja Jaka membuka suara untuk menanyakan hal yang sedang mengganjal hatinya saat ini.


“Guru, maaf jika murid lancang. Apakah murid bisa bertanya tentang satu hal?”, tanya raja Jaka memecah keheningan.


Pria misterius menoleh ke arah raja Jaka sebab pertanyaan itu ditujukan untuknya, “Apa yang murid Jaka ingin tanyakan?”, pria misterius balik bertanya.


“Sebenarnya ritual apa yang menteri Balda katakan ketika di tenda tadi? Sepertinya pernyataan dari wanita muda itu begitu membekas bagi menteri”, raja Jaka menjelaskan pertanyaan yang sudah ia pendam sejak tadi.


Ekspresi pria misterius menunjukkan rasa tidak nyaman, sebab pertanyaan itu langsung terarah kepada menteri Balda yang duduk tepat di depannya. Ia merasa canggung untuk menjawab pertanyaan tersebut, namun belum sempat dia bereaksi menteri Balda akhirnya buka suara dan menjawab pertanyaan itu.


“Kau memang masih terlalu muda, sebagai raja baru kesibukan mu hanya untuk menumpas gerakan saudara mu yang ingin memberontak. Apakah kau yakin ingin mendengar jawabannya?”, balas menteri Balda.


“Murid yakin menteri”, raja Jaka menjawab dengan singkat setelah memantapkan hatinya untuk mendengar jawaban dari pertanyaannya.


“Cerita ini mungkin sedikit panjang, tapi biar aku ringkas saja. Aku tahu sedikit tentang ritual yang dilakukan wanita itu, dan menurut ku itu terlalu liar dan sangat tidak manusiawi” ucap menteri Balda membuka penjelasan.


"Apa maksud menteri dari tidak manusiawi itu?", raja Jaka memotong penjelasan dari menteri Balda.


"Sebaiknya kita dengarkan dahulu, berikan menteri Balda waktu untuk menceritakan semua itu", pria misterius menengahi pertanyaan dari raja Jaka sebab dia melihat ekspresi tidak senang yang diperlihatkan oleh menteri Balda ketika raja Jaka memotong penjelasannya.


Menteri Balda menghembuskan nafas pelan dan setelahnya menteri Balda kembali menceritakan apa yang ia ketahui tentang wanita muda itu. Ia bercerita bahwa ritual yang menjadi perdebatan diantara mereka tadi adalah sebuah ritual yang berkaitan erat dengan ilmu hitam yang sangat tersohor di pulau Sulagendi.

__ADS_1


Ritual ini menuntut agar penggunaannya melakukan pembunuhan dan memakan hati dari korbannya dengan mentah selagi dilumuri oleh darah korbannya tersebut. Dan yang lebih mencengangkan lagi diketahui bahwa korban tersebut haruslah banyak yaitu wanita perawan berjumlah 100 orang.


Jika sudah mencapai angka tersebut maka pengguna ritual ini akan memiliki kekuatan mistis yang sangat besar dan tidak menutup kemungkinan dia bisa menjadi ancaman dalam dunia persilatan. Sebab itulah menteri Balda menolak mentah-mentah tawaran dari wanita muda tersebut.


“Walaupun ritual ini sangat mengerikan terdapat juga kelemahannya”, kata-kata menteri Balda terhenti di sini.


Raut wajah raja Jaka dan pria misterius yang awalnya mendengar dengan seksama kini melirik ke arah menteri Balda. Menteri Balda kini terdiam dan melihat ke arah luar sambil memandangi langit yang sebentar lagi akan redup karena akan menjelang malam.


“Maaf menteri, apakah kelemahan dari ritual itu?”, raja Jaka kembali bertanya karena penasaran. Ia ingin lebih mendalami cerita ini, walaupun sedikit liar tapi dalam hatinya terdapat sebuah ketertarikan dalam cerita tersebut.


“Ritual ini bersifat turun-temurun dan tidak bisa dipelajari seperti ilmu silat seperti pada kehidupan sehari-hari. Tiap-tiap keturunan dari penyandang ritual ini harus menjadikan salah satu dari keturunan mereka lagi sebagai inang agar ilmu hitam ini terus berlanjut”, jawab menteri Balda masih memandangi langit.


“Bagaimana menteri bisa mengetahui semua itu?”, tanya pria misterius karena terkejut dengan alasan tersebut.


Raja Jaka dan pria misterius kembali terdiam setelah mendengar penjelasan terakhir dari menteri Balda barusan. Mereka tidak menyangka bahwa ilmu hitam dari pulau lain juga memiliki kekuatan yang di luar nalar seperti ini. Melihat keseriusan dalam ekspresi wajah menteri Balda, keduanya meyakini bahwa berurusan dengan orang yang memiliki ilmu hitam sangatlah tidak baik.


Pasukan raja Jaka terus berjalan menuju tempat yang telah ditentukan, perlahan tapi pasti mereka berjalan dengan penuh semangat. Sampai menjelang malam barulah pasukannya berhenti untuk beristirahat dan membuat perkemahan. Sementara itu, di markas pemberontak Patih Purno keluar dari kamarnya dan meminta kepada seorang prajurit untuk diantarkan ke kamar Aryo.


***


Tookkk... Tookkk... Tookkk...

__ADS_1


“Tuan muda, apakah saya bisa masuk?”, tanya Patih Purno setelah mengetuk pintu kamar Aryo.


Aryo langsung yang sedari tadi tidak dapat memejamkan mata kini bangkit dari tidurnya dan segera membukakan pintu. Setelahnya ia mendapati Patih Purno yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah yang tampak ingin menanyakan sesuatu padanya.


Aryo segera mempersilahkan agar Patih Purno masuk ke dalam agar keduanya dapat berbincang dengan nyaman. Kini mereka berdua duduk di kursi, Aryo tidak menyangka bahwa dia kedatangan tamu di malam yang sudah hampir larut ini.


“Ada gerangan apa Patih sehingga datang di saat larut begini?”, Aryo bertanya membuka pembicaraan.


“Maaf jika mengganggu waktu istirahat tuan muda”, balas Patih Purno seraya memberikan hormat.


“Tidak apa-apa Patih, mungkin kedatangan Patih ingin membahas mengenai hal penting. Apakah itu benar?”, tanya Aryo kembali.


“Benar tuan muda, saya ingin bertanya tentang satu hal yang saya lihat ketika sampai di sini”, ucap Patih Purno.


Aryo kini mendengar pertanyaan Patih Purno yang tidak lain adalah tentang ruangan yang dijaga oleh beberapa prajurit dengan sangat ketat. Karena terasa mengganjal bahwa ruangan kecil itu dijaga dengan demikian, Patih Purno bertanya ada apakah di dalam ruangan itu sehingga harus dijaga seperti itu.


“Jika Patih merasa penasaran, aku bisa membawa Patih untuk melihatnya”, jawab Aryo.


“Jika tuan muda tidak keberatan Patih bersedia mengikuti tuan muda”, balas Patih Purno lagi.


“Mari Patih”, ajak Aryo kepada Patih Purno.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama keduanya kini beranjak keluar dari kamar dan berjalan menuju ruangan tersebut. Saat keduanya sampai mereka tidak langsung masuk karena menunggu kedatangan pria sepuh terlebih dahulu. Aryo meminta salah satu prajurit penjaga untuk memanggil pria sepuh, saat pria sepuh datang tidak menunggu lama lagi akhirnya mereka masuk ke dalam secara bersamaan.


__ADS_2