Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
61. Kombinasi


__ADS_3

Pasukan suku kulit hitam tidak menyangka bahwa ada sebuah tombak yang secara tiba-tiba muncul dari belakang Aryo dan kini mengarah ke mereka. Karena tombak itu melesat dengan sangat cepat serta sebab keterkejutan sesaat membuat mereka tidak punya waktu dalam menangani keadaan.


Aryo juga sempat ikut terkejut karena hal itu, tidak dapat dipungkiri tubuhnya bergetar disebabkan tombak yang tiba-tiba melesat dari arah belakangnya. Rasa keterkejutannya itu tidak bertahan lama, keterkejutan itu sudah terjawabkan setelah tombak itu menancap ke salah satu tubuh lawannya.


Mata tombak itu menembus tubuh lawannya tepat di perut, membuat lawannya terjatuh dalam posisi berlutut dengan mulut terbuka lebar dan mengeluarkan darah segar.


Orang itu kini tidak lagi bergerak, luka yang ia terima telah mengakhiri masa hidupnya. Setelah beberapa saat tombak itu berhenti barulah Aryo menyadari bahwa tombak itu adalah milik dari Patih Purno, dia kemudian menoleh ke belakang dan mendapati bahwa jaraknya dengan Patih Purno tidak terlalu jauh lagi.


***


Patih Purno berlari ke tempat Aryo berada dengan cepat, ada alasan yang membuatnya harus segera menemui Aryo setelah duelnya dengan tiga orang pimpinan suku kulit hitam sudah selesai.


Saat jaraknya sudah dekat ia dapat melihat sisa-sisa pasukan suku kulit hitam bergerak bersamaan untuk menyerang Aryo, sementara beberapa dari mereka sedang menahan serangan-serangan yang dilancarkan oleh Subani yang ada di belakang.


Sebenarnya Patih Purno yakin bahwa Aryo akan sanggup menghadapi lawan yang menyerangnya secara bersama-sama, walaupun tentu saja itu harus mengerahkan seluruh kekuatannya. Namun kondisi sekarang mengharuskan dia agar sedapat mungkin membantu rekannya dalam jalannya pertarungan.


Dia menarik nafas cukup lama dan mengalirkan tenaga dalam ke sekitar tangannya, kemudian ia mengangkat tombaknya dan bersiap melempar tombak itu ke arah pasukan suku kulit hitam. Lemparannya barusan ternyata berhasil, salah satu dari pasukan suku kulit hitam harus mati karena serangannya.


Dia kemudian mempercepat langkahnya untuk segera ke tempat Aryo berada. Saat jarak Patih Purno dan Aryo sudah berdekatan tanpa memperhatikan ekspresi Aryo yang kaget karena bantuannya barusan ia lantas berucap kepada Aryo.

__ADS_1


"Tuan muda, kita tidak punya waktu lagi. Melihqt mereka sudah masuk ke sini lebih dulu pasti bala bantuan musuh sudah mulai bergerak dari arah gerbang menuju ke arah kita. Tuan muda tolong dengarkan baik-baik engkau harus....", Patih Purno menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh Aryo, "Kita harus sesegera mungkin menyiapkan pasukan kita untuk pertempuran malam ini!", Patih Purno mengakhiri penjelasannya.


Aryo sempat tertegun dengan penjelasan dari Patih Purno barusan, namun saat Patih Purno menepuk pundaknya dan kemudian Patih Purno maju ke arah pasukan suku kulit hitam seraya berucap, "Serahkan urusan disini kepada kami, siapkan pasukan kita tuan muda", Patih Purno berlari ke arah tombaknya yang tertancap di salah satu pasukan suku kulit hitam.


Dengan mudah Patih Purno mencabut tombak itu dari tubuh korbannya. Dan Setelah mendapatkan tombaknya kembali Patih Purno kemudian maju menerjang lawan.


Aryo menganggukkan kepala tanda mengerti, ia segera berbalik arah menuju pasukannya berada, tidak butuh waktu lama kini ia telah berada di depan pasukannya. Para pasukan pemberontak serta aliansi mereka menatap penuh semangat ke arah Aryo, menurut mereka kedatangan Aryo akan menyampaikan perintah kepada mereka.


Aryo menatap balik tatapan dari para pasukannya, walau tidak dapat menatap semuanya dia yakin semua pasukannya memiliki tatapan seperti itu. Dia menoleh ke arah pria sepuh yang dibalas anggukan kepala oleh pria sepuh.


"Tugas kembali memanggil kita malam ini, mari bersama-sama kita kerahkan seluruh kemampuan yang kita miliki sekarang. Demi kemuliaan!!!", Aryo berpidato untuk menyemangati pasukannya.


"Mari berjuang bersama-sama!!!"


Pasukan pemberontak lantas berteriak penuh semangat untuk berperang, sorak-sorai menggema memenuhi gelapnya malam. Semangat yang ditunjukkan pasukannya menggetarkan hati Aryo, pasukannya sudah tidak takut akan kematian.


Benar yang dikatakan oleh pria sepuh kepadanya, apa yang harus ditakuti jika kematian adalah hal terakhir yang akan menghampiri kehidupan setiap manusia. Malam ini akan menjadi malam penuh perjuangan melawan kebatilan serta pertumbuhan darah yang akan dikenang selama ratusan tahun di tanah jawata.


***

__ADS_1


Patih Purno dan Subani masih sibuk menghadapi sisa-sisa pasukan suku kulit hitam yang kini jumlah hanya tinggal enam orang saja. Rekan-rekannya yang lain sudah menemui ajal mereka di tangan kedua lawannya, tinggal menunggu waktu mereka pasti akan segera menyusul.


Patih Purno tidak ingin menunggu lebih lama, dia memberi aba-aba pada Subani agar segera menyelesaikan pertarungan ini. Subani mengerti dengan apa yang harus dilakukannya, ia lantas mencabut goloknya.


Pasukan suku kulit hitam yang menyadari hal itu kini menjadi lemas, kakinya bergetar karena ketakutan. Ketakutan itu sangat jelas di wajah mereka, menghadapi Subani dengan tanpa senjata dan hanya bermodalkan tangan kosong saja sudah kesulitan, apalagi sekarang harus menghadapi Subani beserta goloknya yang memiliki mata tajam di tangan lawannya.


Mereka ingin mencoba bergerak mundur namun rasa takut sudah menguasai tubuh dan pikiran mereka, melihat golok itu dimain-mainkan dengan begitu elegan oleh lawannya bukannya membuat mereka tenang malahan seperti sedang terancam.


Gerakan yang begitu elegan serta berliku-liku Subani tunjukkan kepada lawannya, "Jurus golok ular sendok", Subani mengeluarkan salah satu jurus andalannya untuk menyelesaikan pertarungan ini.


Tanpa lawannya sadari sebelum menyerang dengan jurusnya Subani terlebih dahulu mengikat gagang goloknya dengan sebuah tali, karena gelapnya malam tali tersebut tidak dapat dilihat.


Momentum yang ditunggu-tunggu telah tiba, saat pasukan suku kulit hitam sedang fokus dengan pertunjukan dari rekannya, Patih Purno lantas maju ke depan terlebih dahulu untuk menyerang lawan.


Suku kulit hitam yang melihat hal itu kemudian bersiap menghadapi Patih Purno yang menyerang duluan, melihat tidak ada gerakan berikutnya dari Subani mereka lantas memfokuskan menahan serangan dari Patih Purno dengan seluruh tenaga yang mereka miliki.


Perlawanan suku kulit hitam ini membuat Patih Purno takjub karena tekad mereka. Walaupun kenyataan bahwa kekuatan mereka terpaut jauh namun jiwa seorang petarung membuat mereka tegar dan setidaknya jika matipun mereka akan bangga bahwa mereka telah menjadi seorang petarung sejati yang tak lari dari pertarungan.


Nyatanya kekaguman Patih Purno itu sungguh salah, lawannya saat ini tidak punya pilihan selain menghadapi mereka berdua. Jika mereka menggunakan segenap kemampuan untuk mundur dan lari dari pertarungan pasti dengan mudah Patih Purno dan Subani menyusul mereka.

__ADS_1


Alhasil mereka harus dihadapkan bahwa sekarang pemburu yang sedang berburu kini menjadi pemburu yang sedang diburu.


__ADS_2