
Kejadian masa silam itu terlintas begitu cepat bagaikan angin malam yang membuat tubuhnya bergetar. Semenjak itu Aryo hidup dalam persembunyian dari kejaran pasukan kerajaan Adipura yang diperintah oleh raja Jaka.
Harapan akan menuntut balas atas apa yang telah diperbuat oleh pihak penyerang yang dia ketahui merupakan kerajaan Kendala begitu menggebu-gebu di dadanya. Ia berjanji kepada dirinya sendiri agar menunaikan harapan itu apapun caranya.
Dia juga mendengar dari beberapa percakapan warga bahwa mayat ayahanda dan beberapa patih di gantung di pintu gerbang istana. Tidak lama setelahnya pangeran Jaka mengumumkan bahwa dirinya adalah raja baru dari kerajaan Adipura.
Sedangkan mayat prajurit dibakar dalam satu lubang besar layaknya sebuah pembakaran ternak untuk dijadikan tumbal kepada dewa. Itu merupakan suatu penghinaan yang amat besar dan Aryo bersumpah akan membalas perbuatan itu dengan setimpal.
“Aku akan bersiap, tunggu lah disini sebentar”, Aryo meminta pria sepuh untuk menunggunya sebentar.
Pria sepuh mengerti apa yang ia lakukan, “Baik tuan muda”, setelah menjawab perintah dari Aryo ia lantas berdiri dan beranjak keluar dari rumah setelah memberi hormat kepada Aryo.
Aryo masuk ke dalam kamar dengan tatapan kosong dan tanpa sengaja ia tidak memperdulikan istrinya yang sedari tadi menatapnya dengan cemas. Sinta dapat melihat tatapan kosong itu, perasaan cemas terhadap suaminya kini mulai timbul.
Sinta tahu makna dari tatapan kosong itu, suaminya sekarang menderita karena permasalahan yang terus datang ke kehidupan mereka. Bukan hanya kejadian penyerangan itu saja yang membuat suaminya bersedih, namun setelah kejadian itu warga dan sisa prajurit yang tertangkap atau menyerahkan diri dijadikan budak untuk bekerja tanpa diupah sedikitpun oleh pihak penyerang.
Rakyat tidak bisa berbuat apa-apa sebab jika mereka melawan akibat berakibat fatal nantinya. Rakyat yang awalnya hidup makmur dan berkecukupan akhirnya harus bertahan untuk terus hidup dari rasa lapar bahkan mereka tak segan membunuh sesamanya demi sesuap nasi.
Sinta memandangi suaminya yang sedang terduduk dan menangis menghadap luar jendela, ia segera memeluk suaminya untuk menenangkannya, "Kanda...", ucapnya lirih.
Dia mulai mengusap air mata yang jatuh dan membasahi pipi Aryo dengan lembut. Kelembutan Sinta akhirnya membuat Aryo tenang dan mulai berhenti menangis.
__ADS_1
“Dinda, apakah kanda adalah seorang raja yang baik? Dan apakah kanda seorang suami yang baik?”, pertanyaan itu spontan keluar dari mulut Aryo dan membuat Sinta terkejut.
“Kanda, dari segala raja yang ku ketahui kanda adalah raja yang paling baik dan mengerti akan keadaan rakyatnya. Ketika rakyat kesusahan kanda tidak akan segan membantu dan ketika rakyat meminta pendapat kanda memberikan arahan dan solusi yang tepat sehingga rakyat sangat menghormati kanda. Dan sebagai suami kanda selalu menjadi yang terbaik, dinda hanya menginginkan kanda dan tidak akan pernah ada yang lain”, Sinta menjawab pertanyaan dari suaminya dengan nada lembut diakhiri senyum manis khasnya untuk Aryo.
“Terima kasih telah hadir dalam hidup kanda dinda”, Aryo mulai mengusap matanya yang berair, "Jika tidak ada dinda mungkin hidup kanda sudah tidak ada artinya sekarang", sambungnya.
Sinta menjawab dengan anggukan kepala serta mencium kening suaminya, kini perasaan Aryo yang tadi kalut akhirnya perlahan mulai tenang.
Setelah tenang Aryo meminta agar Sinta membantunya menyiapkan pakaian yang akan ia bawa untuk pergi ke markas pasukan pemberontak yang ia pimpin berkat bantuan dari kerajaan Gundala, Surka, serta Benggawan.
Ketiga kerajaan ini bersedia mengulurkan tangan kepada Aryo untuk menuntut balas atas perbuatan dari raja Jaka yang dibantu oleh kerajaan Kendala.
***
“Dinda akan menunggu kepulangan kanda disini. Berhati-hatilah disana kanda, semoga dewa menyertai perjalanan kanda”, Sinta membalas pelukan itu dengan hangat.
Rasanya sungguh berat ketika harus berpisah dengan istri yang saat ini sedang mengandung dan dalam waktu dekat akan segera melahirkan. Aryo khawatir jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap istrinya, namun Sinta kembali menenangkan dan meyakinkan Aryo bahwa dia akan selalu baik-baik saja sampai hari persalinan tiba.
Setelah diyakinkan kembali oleh istrinya hati Aryo kembali tenang dan dia memantapkan diri untuk segera pergi ke markasnya mengingat perjalanan ini akan menempuh waktu setengah hari untuk sampai kesana. Aryo menaiki kuda yang telah disiapkan oleh pria sepuh, "Terima kasih paman", ucap Aryo kepada pria sepuh.
"Dengan senang hati tuan muda", pria sepuh membalas perkataan dari Aryo. Setelahnya mereka berdua menaiki kuda masing-masing bersiap berangkat menuju markas pemberontak.
__ADS_1
Aryo menatap ke arah istrinya, walaupun ia harus pergi rasa khawatir tentu akan selalu mengikutinya. Tak ingin merasa terbebani ketika di perjalanan ia lantas menyerahkan keris pusakanya yakni keris Bagaskara kepada istrinya.
"Simpan keris ini, dia akan menjaga dirimu dinda", pinta Aryo kepada Sinta.
Awalnya Sinta ingin menolak karena keris itu ialah barang berharga yang selalu digunakan oleh suaminya dalam keadaan apapun, namun Aryo bersikeras agar istrinya. Sinta tak punya pilihan, akhirnya ia menerima pusaka itu atas permintaan dari suaminya.
Setelah menyerahkan keris tersebut Aryo langsung memacu kudanya bersama pria sepuh, dalam hitungan menit Aryo dan pria sepuh sudah hilang dari jarak pandang Sinta.
“Dewa, aku serahkan jalan kehidupan yang telah engkau buat terhadap kami”, ucapan Sinta spontan keluar setelah suaminya tersebut hilang dari pandangannya.
Dalam doanya Sinta meminta agar suaminya selamat dan menepati janji yang telah mereka sepakat bersama.
***
Angin berhembus kencang menandakan akan terjadinya hujan lebat, petir menyambar dengan mengeluarkan suara dentuman yang begitu keras. Sinta segera masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu serta jendela, perasaannya menjadi buruk karena fenomena langit seperti ini.
Tidak lama kemudian langit berubah menjadi gelap dan petir terus menyambar diiringi rintik hujan yang perlahan mulai menjadi lebat. Padahal sebelum itu hari masih siang namun seketika berubah menjadi malam yang gelap dihiasi hujan serta petir yang seolah saling bersautan.
Aryo dan pria sepuh memacu kuda mereka dalam lebatnya hujan dan kerasnya suara petir yang menyambar. Baru kali ini mereka merasakan hujan selebat ini seolah-olah langit sedang menurunkan tampungan air yang sudah lama dibendung.
Bahkan dalam perjalanan mereka beberapa kali mereka berdua bertemu warga yang sedang mengungsi akibat desa tergenang luapan air dari curah hujan yang tinggi.
__ADS_1
Anak-anak, wanita dan para lansia dalam ketakutan besar, sementara para laki-laki dewasa berusaha menolong semampu mereka. Para warga menganggap kejadian hari ini karena murka dewa sebab sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti ini, tidak sedikit dari mereka menangis dan terlihat putus asa karena kejadian ini.