Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
31. Pertemuan


__ADS_3

Rindu dan bimbang sudah pasti dialami oleh seorang istri kepada suaminya. Sudah lima hari semenjak kepergian Aryo ke medan perang membuat suasana di rumahnya menjadi sunyi. Hari-hari ia lalui tanpa belaian kasih sayang dari suami tercintanya.


Namun ia harus menerima semuanya sebab ia mengetahui bahwa apa yang dilakukan oleh suaminya sekarang adalah untuk kepentingan banyak orang. Perasaan sedih itu kemudian tergantikan dengan perasaan senang setelah bayi di dalam kandungan Sinta yang mulai bereaksi menendang-nendang di dalam perutnya.


Sinta duduk di kursi bambu di depan teras rumah sambil mengelus perutnya. Dengan lantunan lagu yang merdu menemani aktivitasnya sekarang. Tidak lama berselang datang bik Sekar menyapanya dengan ramah.


“Bagaimana kondisi non hari ini?”


“Aku baik-baik saja bik, beberapa hari ini bayi di dalam kandungan ku sudah beberapa kali menendang-nendang”


"Benarkah? Ah... Pasti anak mu akan sehebat ayahandanya kelak”


“Aku juga berharap seperti itu bik, tapi aku tidak ingin dia memiliki nasib seperti ayahandanya”


Sinta menjawab pertanyaan bik Sekar sambil tersenyum ke arahnya. Namun senyum itu tidak bertahan lama dan perlahan mulai memudar. Bik Sekar yang mengetahui alasan yang membuat Sinta seperti itu memilih mengalihkan pembicaraan.


“Apa non tidak bosan di rumah? Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar mengitari kampung”


“Benarkah bik? Aku juga terlalu bosan di rumah. Mari bik kita jalan-jalan sekarang!”


Sinta menjawab dengan penuh semangat ajakan dari bik Sekar. Suasana rumah yang sunyi membuatnya kadang merasa bosan, tentu saja untuk keluar sendiri ia tidak berani sebab sedang hamil besar. Dan sekarang ada seseorang yang mengajaknya jalan-jalan membuatnya begitu semangat.


Bik Sekar membantu Sinta berdiri dari posisi duduknya. Dengan usia kehamilan yang sudah tergolong tua gerak Sinta saat ini terbatas. Mereka berjalan dengan pelan sambil berbincang-bincang mengenai banyak hal. Sinta tertawa lepas saat bik Sekar menceritakan kisah-kisah lucu yang pernah dialami bik Sekar ketika masih muda.


"Ternyata bibik pernah melakukan hal itu"


"Shhhuutttsss... Ini hanya kita berdua yang tahu, jangan bilang pada siapa-siapa"

__ADS_1


Bik sekar membuat gerakan menutup mulut dengan satu jarinya, tawa Sinta yang lumayan keras membuat para warga kampung yang mendengarnya melirik ke arah mereka.


Sinta menutup mulutnya namun ekpresinya masih sama, dia mencoba menahan tawanya akibat cerita yang telah bik sekar ceritakan.


“Sekarang coba ceritakan awal pertemuan non dengan tuan muda”


“Aihhh... Bik, aku jadi malu ketika mengingatnya”


“Ahhh... Biar bibik tebak, non tidak berani menyatakan perasaan kepada tuan muda kan?”


Sinta terkejut dan spontan berhenti berjalan. Dia kemudian memandangi wajah bik Sekar yang kini tersenyum penuh makna. Warna merah merona perlahan menghiasi pipi Sinta sekarang.


Dia tersipu malu karena bik Sekar mengetahui kebiasaannya ketika menyimpan rasa dengan Aryo ketika masih menjadi pangeran mahkota.


“Apakah non tidak mau menceritakannya kepada bibik?”


“Bagaimana dari awal non mulai bertemu dengan tuan muda”


Bik Sekar terus mendesak agar Sinta bercerita, sedangkan Sinta seperti salah tingkah harus bercerita atau tidak. Namun hati kecilnya tidak ingin mengecewakan teman perjalanannya sekarang. Akhirnya Sinta memilih bercerita tentang kisah cintanya dulu.


“Baiklah bik aku akan menceritakannya dari awal pertemuan kami yang bisa dibilang sebuah takdir", Sinta tersenyum, "Waktu itu.....”


Sinta mulai bercerita sambil berjalan bersama bik Sekar. Awal ceritanya bermula saat umurnya baru menginjak remaja yang baru tumbuh namun memiliki paras yang cantik. Dia bercerita bahwa rumahnya menjadi tempat latihan bagi murid-murid didikan ayahnya.


Pada suatu hari rumahnya tiba-tiba saja menjadi ramai dan sedikit ribut. Sinta bertanya-tanya apakah gerangan yang terjadi saat itu. Menurut penuturan salah satu murid dari ayahnya dia akhirnya mengetahui alasan keramaian tersebut.


Hari itu di rumahnya kedatangan tamu yang sangat penting yang tidak lain adalah mendiang raja Aryi ketika masih menjadi raja Adipura. Raja Aryi datang membawa kedua putranya yang akan diserahkan kepada ayahnya sebagai murid perguruan silat yang dibina oleh ayahnya kala itu.

__ADS_1


Ayah Sinta merupakan pendekar aliran putih yang cukup terkenal dengan julukan Taring Putih, ia sangat disegani di kerajaan Adipura. Hal Itu juga yang membuat raja Aryi memilih ayahnya menjadi guru silat dari kedua pangeran mahkota. Raja Aryi yakin bahwa ayahnya adalah guru yang tepat untuk kedua anaknya.


Sinta melihat perbincangan ayahnya dan raja Aryi dari kejauhan, namun tak lama keberadaannya diketahui oleh ayahnya.


Dia mendekat setelah melihat lambaian tangan ayahnya yang meminta agar dia duduk menemaninya. Sinta berjalan pelan dan sekarang sudah duduk di samping ayahnya. Dia kemudian diam mendengar pembicaraan ayahnya dengan raja Aryi.


Ayahnya memperkenalkan dirinya kepada raja Aryi yang disambut senyuman manis dari raja Aryi.


"Parasnya sudah kelihatan sejak dini, dia akan menjadi primadona di tempat ini nantinya", raja Aryi tersenyum.


Sinta menanggapi pujian itu dengan tersenyum malu, tidak biasanya dia seperti itu. Sinta yang tersipu malu membuat raja Aryi tertawa karena sikapnya sedangkan ayahnya hanya tersenyum sambil meminum teh yang yang ada di meja hadapan mereka.


Banyak yang berbicara begitu kepada Sinta dan dia hanya menanggapinya dengan biasa saja, namun perkataan yang dilontarkan oleh seseorang yang sangat penting bagi kerajaan Adipura sangatlah tidak biasa. Pipinya merah merona setelahnya, membuat wajahnya semakin cantik jika dilihat.


Raja Aryi tertawa, "Dia memang memiliki sifat pemalu darimu Rama"


Ayahnya kembali tersenyum melihat sikap dari anaknya, itu mengingatkan akan kepribadiannya yang pemalu ketika masih remaja. Namun itu semua berubah saat dirinya mengenal raja Aryi yang saat itu masih berstatus pangeran mahkota.


Sinta kembali menyaksikan ayahnya dan raja Aryi membahas berbaga hal. Dia kini hanya menundukkan kepala namun perlahan dia memberanikan diri untuk mencuri pandang ke arah tamu di depannya.


Ayahnya dan raja Aryi terus berbincang dan sesekali tertawa bersama. Ini wajar karena keduanya dulu merupakan teman sedari kecil sampai sekarang. Saat itulah kesempatan Sinta untuk mencuri pandang ke arah pangeran mahkota. Saat pandangannya tertuju kepada pangeran Jaka perasaannya biasa saja.


Ini dikarenakan wajah pangeran Jaka yang tampak begitu garang dan kelihatan tidak merasa nyaman dengan suasana di rumahnya, "Dasar kalangan bangsawan", pikir Sinta saat itu.


Namun saat Sinta melihat ke arah pangeran Aryo seketika itu juga pandangan mereka tiba-tiba bertemu.


Keduanya berpandangan cukup lama dan tanpa Sinta sedari awal pandangan itu pangeran Aryo tersenyum ke arahnya. Namun ekspresi Sinta malah terbalik dan tergolong terkejut dengan senyuman dari lawan pandangnya sekarang. Senyum yang begitu ramah baginya dan sangat menghangatkan.

__ADS_1


 


__ADS_2