Takdir Kerajaan Adipura

Takdir Kerajaan Adipura
54. Informasi Penting


__ADS_3

"Apa yang akan dilakukan Patih Purno?", Aryo bertanya penasaran.


"Ahhh... menurut paman Patih Purno akan mengorek informasi dari para tawanan tadi", pria sepuh menjawab sambil mengelus dagunya.


Tidak diragukan lagi bahwa seorang tawanan akan diperlakukan demian, Aryo hanya berharap Patih Purno tidak terlalu memaksakan kehendaknya mengingat dirinya bukanlah seorang pendekar melainkan prajurit kerajaan.


Mereka kadang bertindak diluar aturan pendekar, bahkan dengan cara yang bisa dibilang terlalu keras. Itu merupakan prinsip mereka agar jalan yang mereka tempuh menjadi mudah walau harus mengorbankan usaha yang tidak sedikit.


Aryo dan pria sepuh masih berbincang mengenai situasi perang namun tidak lama kemudian datang seorang prajurit yang memberitahukan bahwa Patih Purno meminta agar mereka berdua menemuinya segera.


"Baik, antarkan kami kesana"


"Baik tuan muda"


Prajurit itu kemudian mengantarkan Aryo serta pria sepuh menuju ruangan yang menjadi tempat tawanan perang ditahan. Di dalam sudah ada beberapa pasukan kuda besi serta Patih Purno dan Subani.


Di depan mereka puluhan prajurit lawan yang kini menjadi tawanan bertekuk lutut dengan tangan terikat di belakang dan kepalanya ditutupi dengan karung. Patih Purno meminta keduanya datang karena ada urusan yang harus terselesaikan hari ini juga.


"Maaf sudah membuat tuan muda datang kesini"


"Ah.. Tidak apa-apa Patih, aku yakin alasan Patih meminta kami kesini karena ada hal penting bukan?"


"Benar tuan muda, untuk lebih jelasnya saya serahkan kepada tuan Subani", Patih Purno mempersilahkan rekannya menjelaskan perihal yang ingin disampaikan.


"Maaf tuan muda, perihal yang ingin kami sampaikan yaitu mengenai..."

__ADS_1


Subani kemudian menjelaskan perihal yang yang harus ia sampaikan kepada Aryo selaku pimpinan awal pasukan pemberontak. Semakin lama penjelasan dari Subani semakin buruk pula raut wajah Aryo, ia tidak habis pikir dengan penjelasan yang ia dengar sekarang.


Dari penjelasan tersebut kekhawatiran mereka mengenai suku kulit benar, di pihak musuh terdapat ratusan orang suku kulit hitam berkekuatan setara pendekar serigala tingkat lima, dan beberapa dari mereka mendekati kekuatan pendekar harimau belang.


Ini merupakan sebuah informasi yang sangat mengejutkan, pertanyaan besar muncul di benaknya. Bagaimana caranya pasukan lawan mendapat bantuan dari pasukan sekuat ini, apa yang diinginkan orang-orang suku kulit hitam ini ikut dalam perang yang sedang berlangsung.


"Tunggu paman, apa informasi ini benar adanya?", Aryo memotong penjelasan dari Subani.


Subani tersentak kaget, padahal ia hampir selesai menjelaskan perihal tersebut namun Aryo lantas memotong penjelasannya. Subani kemudian menoleh ke arah Patih Purno yang ditanggapi dengan anggukan kepala.


Subani melangkah ke arah salah satu tawanan mereka dan membuka karung yang menutupi kepala tawanan tersebut. Kemudian Subani menyuruh tawanan itu menjelaskan informasi yang ia ketahui.


"Tolong ampuni aku, aku... aku.. akan memberi tahu semuanya"


"Ba...baik, baik", tawanan itu mulai menjelaskan informasi yang ia ketahui walau itu tidak terlalu banyak.


Tawanan itu membenarkan informasi yang telah disampaikan oleh Subani barusan. Di perkemahan mereka sekarang terdapat lebih dari ratusan orang suku kulit hitam dengan kekuatan yang mengerikan. Tatapan mereka selalu tajam bahkan sesama rekan mereka sendiri, tak pernah ada tawa diantara mereka membuat para prajurit yang lain enggan untuk mendekat.


Dan ia kemudian menceritakan bahwa kerajaan Kendala menjalin kerja sama dengan suku kulit hitam atas rekomendasi dari setan merah. Sontak penjelasan itu membuat Aryo menahan nafas, sosok yang disebutkan sangat membekas dalam ingatannya.


Setan merah mempunyai rekan seperguruan yang berasal dari pulau Sulagendi, karena ia sedang dalam misi khusus ia tidak bisa hadir membantu pasukan kerajaan Adipura serta Kendala. Ia kemudian menawarkan rekannya ini untuk bergabung dengan pihak kerajaan dan ternyata tawaran itu diterima dengan baik.


Dengan bantuan dari raja Padri ratusan orang suku kulit hitam berhasil diseberangkan dari pulau Sulagendi menuju pulau Jawata. Dan informasi terakhir yang ia ketahui adalah raja Padri tertarik untuk menjadikan orang-orang suku kulit hitam menjadi pasukan khas kerajaan Kendala.


Mata Aryo melotot mendengar pernyataan dari tawanan itu, ia tidak habis pikir jika memang itu semua akan terjadi. Jika pasukan itu terbentuk maka kerajaan Kendala akan menjadi sangat kuat dan tentu saja akan merajalela menindak kerajaan-kerajaan kecil nantinya.

__ADS_1


Butuh kekuatan besar jika ingin mengalahkan kerajaan Kendala jika semua itu terjadi, Aryo tidak ingin semua itu menjadi kenyataan. Kemudian ia bertekad untuk segera menghabisi semua pasukan suku kulit hitam dalam medan perang nanti.


"Jadi bagaimana kita akan menanggapi ini semua Patih?", Aryo menoleh ke arah Patih Purno dengan raut wajahnya yang masih buruk.


Patih Purno menangkap maksud dari raut wajah tersebut, ia tahu bahwa Aryo kini sedang berpikir keras untuk mencari jalan keluar dari semua masalah ini.


"Tidak ada cara lain, kita harus menghabisi semua pasukan ini dalam perang nanti", Patih Purno memberikan jawabannya.


Seluruh orang terkecuali tawanan perang menganggukkan kepalanya serempak tanda setuju dengan pendapat dari Patih Purno barusan. Jika memang itu harus dilakukan maka dengan sekuat tenaga mereka akan menyanggupinya.


Akhirnya setelah itu Aryo, pria sepuh, Patih Purno serta Subani keluar dari ruangan tersebut. Mereka kemudian bergerak ke tempat peristirahatan masing-masing karena matahari sebentar lagi akan tenggelam di ufuk Barat.


***


Suasana di perkemahan pasukan kerajaan Adipura beserta aliansinya menjadi begitu suram, jeritan dan tangisan pilu prajurit kini menghiasi perkemahan mereka. Para pemimpin pasukan berusaha menenangkan mereka, namun rasa takut akan kematian telah menggerogoti jiwa mereka, yang ada dibenak mereka hanyalah kata kematian.


Rasa takut mereka terus menerus menjadi sangat parah, walaupun dengan upaya yang besar tidak akan mudah untuk membuat prajurit itu kembali bersemangat lagi untuk berperang. Peristiwa yang mereka alami dan mereka lihat hari ini begitu mengguncang jiwa mereka, tidak sedikit yang akhirnya berujung menjadi diam dengan tatapan kosong ke depan.


Semula mereka merasa yakin akan menang dengan mudah, namun setelah melihat kekuatan lawan mereka akhirnya mereka sadar bahwa jumlah saja tidak akan membantu untuk menang kali ini.


Menteri Balda yang mengamati jalannya perang harus menerima kenyataan pasukannya harus dipukul mundur untuk hari ini. Banyak sekali pasukannya yang terluka bahkan harus gugur di medan perang.


Untungnya prajurit yang masih sempat mundur tidak mendapat serangan namun kini mental mereka saat ini benar-benar jatuh drastis, tubuh mereka tak berhenti bergetar karena baru saja menyaksikan kekuatan lawan yang tidak kalah besar dari jumlah mereka bahkan lebih.


Patih yang menjadi pemimpin dari pasukan yang baru saja mundur langsung menghadap raja Jaka yang ditemani menteri Balda dan wanita muda di samping, perasaan takut menyerang Patih itu. Dia sudah membayangkan betapa murkanya raja Jaka nanti setelah mendengar laporannya saat di medan perang.

__ADS_1


__ADS_2