
Aryo yang mendengar celotehan itu berasal dari prajuritnya langsung menegur prajurit tersebut, “Masih terlalu dini untuk kalian merasa puas! Perang masih akan berlangsung nanti, aku tidak ingin kalian menjadi lengah dengan kemenangan sementara ini!!!”, nada bicara Aryo yang tegas dan pembawaannya yang lantang membuat pasukannya langsung diam tak bersuara.
Sebenarnya dia tidak ingin mengganggu kegembiraan pasukannya, wajar saja mereka meluapkan kegembiraan yang sangat besar karena mereka hari ini mampu memukul mundur pasukan lawan kembali ke perkemahannya.
Namun kata-kata yang merendahkan lawan tidak akan bagus untuk pasukannya, jika dibiarkan begitu saja para pasukannya akan menjadi sombong ketika akan bertemu pasukan musuh lagi.
Aryo mengharapkan pasukannya tetap fokus untuk pertempuran berikutnya karena yang pasti pertempuran selanjutnya akan sangat berat, mungkin jauh lebih berat dari hari ini.
***
Patih Purno dan pasukannya telah menghabisi semua pasukan bala bantuan musuh yang telah menyeberangi lautan mayat kuda. Tidak ada yang tersisa dari mereka, kini daratan di sekitar mereka penuh dengan mayat-mayat prajurit baik itu dari pihak lawan maupun pihak mereka.
Bau amis darah serta bau gosong begitu menyengat di udara, membuat siapa saja akan menutup hidungnya rapat-rapat agar tidak mencium bau tersebut. Namun bagi pasukan kuda besi yang sudah menjejali banyak pertempuran bau amis dan bau gosong itu adalah hal yang sudah biasa dan sama sekali tidak memengaruhi mereka.
Pasukan berkuda pimpinan Patih Purno berbaris rapi menghadap ke depan, mereka terus memerhatikan punggung musuh yang terus berlari menjauh dari tempat mereka. Tidak ada dari musuh yang berani menoleh ke belakang, mereka takut jika menoleh akan menjadi incaran dari pasukan berkuda pimpinan Patih Purno.
Dengan segenap kemampuannya pasukan musuh berlari secepat mungkin meninggalkan medan laga hari ini.
“Kita kembali ke markas, hari ini akan menjadi pukulan hebat untuk musuh kita”, perintah Patih Purno kepada pasukannya.
Pasukannya menjawab dengan serempak sebelum berbalik arah menuju markas, sedangkan dirinya masih memandangi pasukan musuh yang sedang mundur, mereka baru saja memasuki wilayah dimana tenda-tenda pasukan mereka berada.
__ADS_1
Patih Purno tersenyum pahit, kemenangan yang mereka peroleh hari ini bisa dikatakan kemenangan yang cukup besar. Walaupun terasa mudah namun korban dari pihak mereka juga tidak sedikit, ia memandangi jasad prajuritnya dengan tatapan kesedihan.
Perang hanya akan mempertemukan dua pasukan yang saling tak mengenal demi ambisi dua penguasa yang sedang bertikai. Dia harus merencanakan lagi sebuah strategi baru untuk pertempuran berikutnya, ia ingin mengecilkan jumlah kematian dari pihaknya mengingat jumlah musuh masih terlalu banyak bagi pasukan mereka.
“Patih, mengapa kita belum beranjak dari tempat ini?”, tanya prajurit yang membawa bendera di belakangnya, Patih Purno lantas berbalik arah ke prajurit itu, “Mari kita kembali”, Patih Purno menjawab dengan senyuman terarah kepada prajurit itu membuatnya tertedak nafasnya sendiri.
Patih Purno yang terkenal tegas dan cukup galak dalam memimpin kini tersenyum penuh kedamaian kepadanya, sebuah pemandangan yang jarang terjadi.
Keduanya kini memacu kuda mereka, namun tidak lama kemudian Patih Purno menghentikan laju kudanya saat sudah berada di tempat mayat pria misterius berada. Dia kemudian turun dari kudanya dan berjalan ke arah mayat lawan duelnya hari ini, dia berjongkok dan kemudian menundukkan kepala seraya berdoa kepada dewa.
Hari ini ia telah membunuh banyak pasukan lawan, mungkin ratusan atau bahkan ribuan dia tidak bisa menghitungnya. Dia berdoa agar dewa memaklumi perbuatannya, karena ia rasa ini adalah suatu hal yang harus dilakukan semestinya yaitu melawan kejahatan di atas muka bumi ini.
Setelah selesai berdoa Patih Purno lantas berjalan ke arah mayat seorang pemuda yang kakinya diikat oleh pria misterius. Dengan mudah ikatan itu ia lepaskan, dia kemudian menggendong mayat pemuda itu di bahunya.
Keduanya kini melanjutkan perjalanan mereka dan tidak lama kemudian mereka sampai di pintu gerbang markas pemberontak. Aryo, Subani dan beberapa prajurit menunggu disana, sementara pasukan yang lain sedang berada di dalam markas beristirahat untuk memulihkan stamina mereka.
Subani mengepalkan tangannya sebab ia melihat rekannya membawa seorang mayat pemuda mengenakan pakaian serba merah menuju ke arah benteng, ia lantas berjalan pelan ke tempat Patih Purno berada.
“Maaf telah membuat pemuda ini menjadi korban dari perang hari ini”, Patih Purno mengucapkan belasungkawa atas kematian salah satu pasukan pimpinan Subani.
Subani tersenyum sambil mengelus rambut pemuda itu, “Terima kasih, dia masih muda tapi semangatnya tentu saja tidak akan kalah dari kita yang masih hidup hingga sekarang. Semangatnya akan terus hidup selamanya bersamaku”, jawab Subani.
__ADS_1
Subani lantas menggendong mayat pemuda itu dan membawanya ke dalam benteng, Aryo yang melihat hal itu memberi perintah kepada salah satu pasukannya, “Bawa beberapa prajurit kembali ke medan perang membawa setiap jasad prajurit kita yang telah gugur hari ini dan siapkan upacara pemakaman untuk mereka semua!”, perintah Aryo kepada pasukannya.
"Baik tuan muda"
Pasukannya segera melaksanakan perintah dari Aryo, dengan segera prajurit membagi tugas kesetiaan prajurit yang berada disana. Ada yang ditugaskan untuk mengurusi jasad rekannya dan yang lain bertugas untuk mengatur kayu sebagai upacara pemakaman.
Karena pekerjaan mencari serta mengatur kayu tidaklah terlalu sulit tidak butuh waktu lama akhirnya tumpukan kayu-kayu kering kini sudah tersusun rapi di tengah halaman markas pemberontak.
Berbeda dengan pasukan yang bertugas mengurus jasad rekannya di medan perang, pekerjaan itu tidak bisa sebentar namun memakan waktu yang cukup lama. Melihat hal itu Aryo lantas memerintahkan agar pasukan yang masih mempunyai tenaga membantu pasukan yang sedang bertugas tersebut.
Para pasukannya mengerti harus berbuat apa, mereka membuat gerobak kayu sederhana dan diikatkan di kuda sebagai alat penarik dari gerobak tersebut. Dengan begitu pekerjaan mereka akhirnya bisa diselesaikan tidak lama kemudian.
Aryo menyaksikan pekerjaan dari para prajuritnya sampai pundaknya ditepuk oleh seseorang dari belakang.
"Ahh... Paman"
Aryo mendapati bahwa pria sepuh kini berada di belakangnya, mereka berdua kemudian berbincang mengenai perang yang telah terjadi hari ini.
"Bagaimanapun kemenangan hari ini harus mengorbankan usaha yang tidak sedikit", pria sepuh buka suara.
"Benar paman", Aryo tersenyum pahit, "Aku harap semua yang kita lakukan tidak akan sia-sia"
__ADS_1
"Paman harap juga begitu", balas pria sepuh.
Aryo kemudian menanyakan tentang tawanan yang dibawa Patih Purno kepada pria sepuh karena pria sepuh yang diminta untuk menyiapkan serta menjaga tempat dimana tawanan perang itu ditahan.