
Patih Sentot masih terisak dalam pelukan Aryo, sementara tamu yang ada di rapat memandangnya dengan pandangan menghina dan seolah tak peduli dengan apa yang terjadi dengan keluarganya.
"Tu-tu-an muda, tol-oong mee-naangkan pe-pera-aang ini dan be-baassskan ke-keluarga pa-maaan", selesai berucap demikian dengan sisa-sisa tenaganya dan tanpa sempat Aryo sadari tangan Patih Sentot meraih gagang keris Bagaskara dan melepaskannya dari sarung keris tersebut.
Aryo baru menyadari kerisnya telah meninggalkan sarung ketika tiba-tiba saja Patih Sentot terkapar dengan keris Bagaskara tertancap di perutnya. Patih Sentot tersenyum ke arahnya, dari sorot matanya terlihat jelas bahwa itu adalah pilihan terakhir sebagai penebusan atas perbuatannya yang menyimpang.
Tubuh Patih Sentot yang memang sudah lemas langsung tak bergerak lagi dan akhirnya Patih Sentot mati di hadapan Aryo dan para tamu undangan karena perbuatannya sendiri.
Tanpa Aryo sadari air matanya menetes karena kematian dari Patih Sentot, walaupun orang di depannya adalah mata-mata namun ia masih menganggapnya sebagai rekan seperjuangan. Tidak ingin berlarut dalam kesedihan, Aryo lantas memerintahkan prajurit penjaga membawa jasad Patih Sentot keluar untuk dimakamkan.
"Satu masalah sudah terselesaikan, tinggal masalah inti dari diskusi hari ini", ucap raja Pawan ditengah suasana yang hening.
Aryo bangkit berdiri menghadap ke arah tiga penguasa kerajaan yang beraliansi dengannya, "Maaf atas kelalaian kami, walaupun masalah ini berkaitan dengan rencana yang telah kita susun secara bersama. Saya harap tuan-tuan sekalian masih tetap berdiri bersama kami untuk menentang pemerintahan kerajaan Adipura yang telah berbuat banyak kejahatan kepada rakyat", Aryo mencoba menarik simpati para tamu undangan.
Para tamu di ruangan rapat kembali berbicara satu sama lain untuk mencerna situasi yang mereka hadapi sekarang. Bahkan ada beberapa omongan dari tamu undangan yang ingin keluar dari aliansi tersebut, membuat suasana sedikit menjadi panas.
Perdebatan yang tak diinginkan pun terjadi, terdapat dua kubu yang saling bertentangan karena adanya selisih pendapat diantara mereka, Aryo yang awalnya tenang kini harus dibuat khawatir karena situasi yang tak diinginkannya akhirnya terjadi.
Pria sepuh mencoba menenangkan para tamu rapat yang sedari tadi saling adu argumen dalam masalah ini, namun sayangnya suaranya tidak didengarkan oleh tamu rapat tersebut. Namun ketika suara batuk pelan seorang wanita paruh baya terdengar seketika itu juga para tamu rapat menghentikan perdebatan mereka.
__ADS_1
"Maaf menyela keributan ini, tapi aku harus berbicara sebelum terlambat. Maaf tuan muda, aku sebagai ratu kerajaan Surka tidak bisa ikut lagi dalam aliansi ini", ratu Arum menyampaikan keinginannya.
Semua orang menahan nafas setelah mendengar pernyataan dari ratu Arum, mereka tidak menyangka bahwa ratu Arum adalah orang pertama yang menyatakan akan keluar dari aliansi.
"Mengingat kerajaan kami lah yang paling lemah di sini, kami tidak bisa mengambil resiko yang besar akan peperangan ini. Kami akan lebih memilih posisi netral setelahnya”, sambung ratu Arum lagi.
Semua mata kini tertuju kepada ratu Arum, bahkan raja Gandi memerhatikan ratu Arum tanpa berkedip karena terkejut akan pernyataannya barusan.
“Mengapa begitu cepat berubah pikiran ratu? Bukankah selama ini kita hadir disini untuk membalas budi terhadap mendiang ayahanda tuan muda Aryo, kenapa sekarang memilih memundurkan diri?”, raja Gandi bertanya karena keheranan atas sikap dari ratu Arum.
Ratu Arum terdiam sejenak sambil menundukkan kepalanya, setelahnya ia menatap ke arah Aryo berdiri sekarang.
"Tidakkah itu sebuah tindakan yang kurang cermat ratu?", raja Pawan yang sedari tadi diam kini ikut angkat bicara.
Langkah ratu Arum dan penjaganya berhenti seketika, ia mengetahui suara itu adalah milik dari raja Pawan. Dari ketiga kerajaan kecil ini kerajaan pimpinan raja Pawan memiliki kekuatan diatas kerajaan yang dipimpin oleh ratu Arum serta raja Gandi. Oleh karenanya ratu Arum mau tidak mau harus berhenti dan berbalik badan untuk mendengarkan perkataan dari raja Pawan.
"Apa yang ratu Arum lakukan sekarang menurut ku adalah sebuah langkah yang salah, aku mempunyai prinsip bahwa dalam sebuah masalah pasti terdapat jalan keluarnya. Musuh kita memang kuat tapi kita sudah mempersiapkan banyak hal untuk menghadapi mereka. Ini tanah kita, kita lah yang lebih memahami medan tempur ini, bukankah itu sebuah batu loncatan untuk kemenangan kita. Lantas mengapa hanya karena masalah ini ratu memilih untuk angkat kaki dari aliansi kita?", terang raja Pawan.
"Bukan seperti itu raja, sebenarnya aku...", ratu Arum mulai sedikit gelisah dengan perkataan dari raja Pawan barusan.
__ADS_1
Pernyataan dari raja Pawan membuat seisi ruangan menjadi hening dengan mata tertuju kepada rombongan ratu Arum. Aryo sendiri juga ikut memandangi rombongan tersebut, terutama ke arah ratu Arum yang diam membisu disebabkan perkataan raja Pawan.
"Maaf aku tidak bisa menjawabnya, kami hanya tidak pantas dalam aliansi ini", ratu Arum memberi hormat kepada para tamu rapat dan kemudian langsung berbalik badan meninggalkan ruang rapat secepat mungkin.
Raja Pawan sedikit tersinggung karena sikap dari lawan bicaranya barusan, ia hendak menghentikan langkah rombongan ratu Arum namun sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Biarkan saja dia, mungkin dia punya alasan tentang situasi seperti ini", pinta raja Gandi.
"Tapi, kita..."
"Kita tidak bisa memaksakan kehendak yang semestinya itu bukan milik kita, kita serahkan saja semuanya kepada dewa. Aku yakin semuanya akan berjalan lebih baik ke depannya", sambung raja Gandi untuk menenangkan raja Pawan.
Raja Pawan akhirnya memilih tutup mulut setelah diberi nasihat dari raja Gandi. Raja Gandi adalah sosok raja yang sudah berumur namun memiliki wawasan tak jauh dari mending raja Aryi sebab keduanya dulu merupakan sahabat lama.
Karena pertemanan itulah akhirnya membawa hubungan antara kerajaan Adipura dan kerajaan Gundala menjadi sangat harmonis. Karena faktor ini jugalah raja Gandi secara sukarela bahkan sudah sangat siap membantu anak mendiang sahabat lamanya untuk mengambil hak yang telah direbut oleh lawannya.
Walaupun begitu kepergian ratu Arum beserta rombongannya tetap menjadi permasalahan. Suasana di ruangan rapat kembali ricuh tak lama setelah ratu Arum keluar dari ruangan rapat diikuti oleh penjaganya serta pendekar-pendekar yang ia bawa dari kerajaan Surka. Dengan sekejap suasana rapat yang awalnya ramai kini hanya tinggal separuh dari jumlah awalnya.
Aryo kini hanya berdiri mematung karena semua rencana yang telah lama ia susun harus menjadi seperti ini, dia tidak menyangka bahwa aliansi yang sudah ia bentuk selama dua tahun telah berkurang separuhnya dalam waktu singkat.
__ADS_1