
"Gavin!" Terdengar suara Zeline disertai ketukan di pintu, saat Gavin baru saja akan terlelap.
"Gavin!" Suara ketukan di pintu semakin keras.
"Gavin!"
Gavin akhirnya beranjak dari atas yempat tidur dan membuka pintu kamarnya. Terlihat Zeline yang sedang meringis seraya memegangi perutnya.
"Ada apa?" Tanya Gavin heran.
"Aku kebelet dan tidak ada toilet di dalam kamar-"
"Kamar mandinya ada di bagian belakang rumah," sela Gavin cepat memotong kalimat Zeline.
"Ck! Antar aku ke sana!" Perintah Zeline memaksa.
"Tinggal lurus dan buka pintu belakang. Nanti sudah terlihat kamar mandinya," jelas Gavin seraya menunjuk ke lorong yang mengarah ke pintu belakang.
"Antarkan cepat! Atau kau mau aku buang air disini?" Ancam Zelone seraya mendelik pada Gavin.
"Jorok!" Cibir Gavin.
"Antarkan cepat!" Zeline sudah mencekal tangan Gavin dan sedikit menarik pemuda itu agar mau mengantarnya ke toilet. Zeline bukannya takut pada hantu atau setan. Zeline hanya takut jika ada yang mengintipnya saat berada di dalam toilet.
Lagipula, apa alasan orang membangun kamar mandi di luar rumah? Kenapa tak ditaruh saja di dalam rumah agar mudah diajses saat kebelet malam-malam?
"Manja sekali, sih?" Cibir Gavin yang tak berhenti menggerutu, meskipun akhirnya pemuda itu tetal mengantar Zeline ke kamar mandi di belakang rumah. Namun Gavin hanya duduk di undakan teras belakang dan membiarkan Zeline masuk sendiri ke dalam kamar mandi.
Ya iyalah!
Kalau Gavin ikut masuk ke dalam kamar mandi yang ada ia akan mendapat hadiah bogem mentah dari Zeline!
"Fiuuh! Akhirnya!" Zeline terlihat bernafas lega, setelah hampir sepuluh menit gadis itu bertapa di dalam kamar mandi. Gavin sampai bertanya-tanya kenapa Zel bisa begitu lama menunaikan panggilan alam? Apa gadis itu sedang sembelit karena kebanyakan makan ikan bakar siang tadi?
Zeline sama sekali tak berbasa-basi pada Gavin dan gadis itu sudah langsung ngacir masuk ke dalam rumah, meninggalkan Gavin yang masih melongo di undakan teras belakang.
Apa-apaan ini?
Tak ada ucapan terima kasih?
Dasar tidak sopan!
Gavin terus menggerutu dalam hati, sebelum akhirnya pria itu kembali masuk ke dalam rumah dan tak lupa menutup pintu belakang.
"Hoaaaam!" Gavin menguap lebar sembari mendorong pintu kamarnya dan pemuda tersebut langsung membanting tubuhnya ke atas tempat tidur tanpa menutup pintu kamar.
Biar saja!
Gavin sudah ngantuk berat!
****
"Gavin!" Zeline memukul kepala Gavin dengan bantal sekali lagu karena pria itu tak kunjung bangun dan malah tidur mendengkur.
__ADS_1
"Gavin! Bangun!" Zeline memukul lebih keras saat akhirnya Gavin bangun dan pria itu langsung gelagapan.
"Apa? Kau kebelet lagi?" Tanya Gavin to the point setelah pemuda itu menyadari kalau yang membangunkannya dengan barbar adalah Zeline.
"Tidak! Tapi aku mau melihat sunrise!" Jawab Zeline seraya bersedekap pada Gavin.
"Sekarang jam berapa memangnya?" Gavin melihat jam di arlojinya lalu pria itu garuk-garuk kepala.
"Baiklah! Aku cuci muka dulu," ujar Gavin akhirnya seraya bangkit dari atas tempat tidur. Gavin langsung menuju ke kamar mandi di bagian belakang rumah untuk mencuci muka, sebelum mengantar Zeline melihat sunrise pagi ini.
"Cepat!" Seru Zeline dari pintu depan yang sama sekali tak disahut oleh Gavin.
Tak sampai lima menit, Gavin sudah kembali menghampiri Zeline yang langsung terlonjak kaget.
"Cepat sekali?" Tanya Zeline heran.
"Katanya tadi disuruh cepat," jawab Gavin seraya berdecak.
"Ayo ke pantai!" Ajak Gavin selanjutnya yang sudah berjalan mendahului Zeline yang sejak tadi masih duduk di undakan teras depan.
Zeline bergegas menyusul langkah Gavin, sembari gadis itu mengusap-usap lengannya yang sedikit terasa dingin karena hembusan angin pantai. Baru berjalan beberapa langkah, Zeline sudah bisa melihat semburat matahari pagi di ufuk timur. Gadis itu langsung berdecak kagum dan tak lupa mengabadikan keindahan alam tersebut.
Ucapan Gavin kemarin sore rupanya benar!
Meskipun pulau ini kecil namun pemandangannya begitu luar biasa!
"Sudah puas?" Tanya Gavin yang sudah berdiri di samping Zeline yang masih sibuk mengambil beberapa foto.
"Puas sekali!"
"Siang ini jika cuaca cerah."
"Jika cuaca cerah?" Zeline mengernyit tak paham.
"Iya, jika cuacanya buruk dan gelombang besar, kita tidak bisa naik speedboat, Zeline!"
"Tapi pagi ini cuaca begitu cerah! Jadj mustahil siang nanti cuaca akan memburuk tiba-tiba," celetuk Zeline sok tahu.
"Tidak ada yang mustahil di pulau inj karena cuaca disini tak pernah bisa ditebak!" Ujar Gavin berteori.
"Terserah! Pokoknya yang penting, aku harus kembali ke resort hari ini karena besok adalah hari terakhirku berlibur di pulau ini," Cerocos Zeline panjang lebar.
"Kenapa tidak diperpanjang? Bosmu di kantor galak dan pelit?" Tanya Gavin sok tahu. Zeline sontak mengernyit dengan pertanyaan Gavin tersebut.
Bos?
Bos yang mana yang galak dan pelit?
Zeline adalah bos di kantornya dan ia tak pernah galak ataupun pelit.
Dasar Gavin sok tahu!
"Aku adalah bosnya dan aku tidak galak maupun pelit!" Jawab Zeline to the point yang langsung membuat Gavin melongo.
__ADS_1
"Kau? Bos?" Tanya Gavin tak percaya.
"Iya! Kenapa? Heran? Tak percaya? Merasa ragu?" Cerocos Zeline mendelik-delik pada Gavin.
"Tentu saja tidak!" Sanggah Gavin cepat.
"Aku hanya bersyukur karena akhirnya aku akan mendapat banyak tip darimu, Ibu Bos!" Cengir Gavin tanpa dosa.
"Dasar mata duitan!" Decak Zeline seraya bersedekap. Matahari sudah keluar dari peraduannya, dan sinarnya yang hangat mulai menerangi alam semesta.
Zeline dan Gavin memutuskan untuk pergi mencari sarapan, setelah mereka puas menikmati sunrise pagi ini. Mereka berdua akan lanjut berkeliling pulau setelah sarapan, lalu setelah itu Zeline dan Gavin akan kembali ke resort sebelum jam makan siang.
****
"Sial!" Umpat Gavin saat gelombang mulai tidak bersahabat. Baru beberapa menit yang lalu ia dan Zeline meninggalkan pulau dan hendak menuju ke resort. Namun cuaca tiba-tiba berubah dengan cepat dan sekarang gelombang mulai memgombang-ambingkan speedboat Gavin.
"Berapa lama lagi kita sampai?" Tanya Zeline seraya menghampiri Gavin.
"Berapa lama lagi? Masih lama! Kita di tengah laut sekarang dan cuacanya tidak bersahabat!" Jawab Gavin yang masih berusaha mengendalikan speedboat.
"Pakai lifejacket-mu!" Perintah Gavin selanjutnya pada Zeline.
"Apa kita akan terbalik dan tenggelam?" Tanya Zeline mulai parno.
"Katamu kau bisa berenang! Jadi mustahil-"
Kalimat Gavin belum selesai saat obak besar tiba-tiba menghantam speedboat-nya.
Zeline refleks memekik bersamaan dengan mesin speedboat yang mendadak mati.
Oh, sial!
"Ayo menyala!" Gavin berusaha menyalakan kembali mesin speedboat, namun tak kunjung berhasil.
"Gavin! Cepat jalan!" Perintah Zeline seraya mendekati Gavin. Berdiri dibatas speedboat yang terombang-ambing membuat perut Zeline seketika merasa mual.
"Aku sedang berusaha!" Sergah Gavin yang masih terus mencoba menghidupkan kembali mesin speedboat. Namun tetap gagal, hingga tiba-tiba sebuah gelombang kembali menghantam Zeline dan Gavin. Speedboat berserta Zeline dan Gavin yang masih berada di atasnya, langsung terhempas jauh.
"Gaviin!!!!"
Gavin masih sempat mendengar teriakan Zeline dan pemuda itu juga berusaha meraih tangan Zeline sebelum akhirnya gelombang terus menghempaskan tubuhnya dan tubuh Zeline dari atas speedboat.
Zeline dan Gavin sempat terombang-ambing di lautan lepas, sebelum akhirnya mereka menemukan sebuah daratan asing yang penuh pasir berwarna pink nan indah.
Pulau apa ini?
Apa Zeline dan Gavin sudah sampai di pulau tempat resort berada?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.