Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
KURANG JATAH


__ADS_3

"Sayang!" Gavin membuka pintu ruangan Zeline seraya memamerkan beberapa kantung makanan yang baru saja ia pesan secara online. Jam sepuluh adalah waktunya untuk Zeline makan kudapan. Dan Gavin tentu saja selalu ingat.


"Kau bawa apa itu?" Tanya Zeline yang masih tak mengalihkan pandangannya dari layar monitor di depannya. Zeline sepertinya sedang membaca sesuatu.


"Aku beli croffle, beberapa dessert box, ada siomay juga, lalu minuman teh kesukaanmu." Gavin membongkar semua makanan yang yadi ia beli dan menatanya di atas meja.


"Kau mau makan yang mana, Sayang?" Tanya Gavin selanjutnya pada Zeline yang tetap fokus ke layar monitor di depannya.


"Siomay!" Jawab Zeline yang langsung membuat Gavin sigap mengambil thinwall berisi siomay, lalu membawanya pada Zeline.


"Sedang memeriksa apa?" Tanya Gavin kepo. Namun Zeline langsung keluar dari aplikasi, saat Gavin melihat ke layar monitor.


"Hanya sedang membaca artikel," jawab Zeline seraya tersenyum pada Gavin.


"Aaaaa!" Gavin hendak menyuapkan siomay ke mulut Zeline, namun istri Gavin itu menolak dengan cepat.


"Aku makan kubis dan parenya saja. Sisanya kau yang makan," ujar Zeline seraya mengambil gulungan kubis yang berada di dalam thinwall.


"Lah! Kok gitu? Biasanya kamu paling suka sama siomay-nya, Zel?" Tanya Gavin merasa bingung.


"Iya, aku udah bosan aja!" Tukas Zeline beralasan.


"Bosan?" Gavin masih mengernyit heran, sedangkan Zeline hanya mengangguk-angguk seeaya lanjur melahap pare dari dalam siomay, meskipun wanita itu sedikit merem-nerem karena kepahitan.


"Trus itu croffle sama desserr box-nya? Aku taruh di kulkas, ya?" Tanya Gavin sekaligus memberikan usul.


"Jangan!" Jawab Zeline cepat.


"Kamu kasih ke karyawan lain saja!" Ujar Zeline selanjutnya pada Gavin.


"Loh, kenapa? Kamu nggak mau?" Tanya Gavin semakin bingung.


"Enggak! Aku sedang diet gula!" Jawab Zeline seraya meringis.


"Biar?" Tanya Gavin lagi.


"Ya, biar agak kurusan," jawab Zeline seraya membenarkan blazernya.


"Aku suka kamu yang chubby begini, kok!", sergah Gavin yang langsung mendekap Zeline.


"Iya, tapi nanti aku susah hamil kalau aku tetap chubby begini, Gavin!" Ujar Zeline akhirnya yang langsung membuat Gavin mengernyit. Tangan Gavin lalu dengan cepat membuka riwayat penelusuran Zeline di layar monitor tadi.


"Gavin!" Zeline hendak mencegah, namub terlambat.


"Tips dan trik agar cepat hamil!" Gavin membaca keras judul artikel yang tadi dibaca oleh Zeline.


"Kita harus mulai menerapkan pola hidup sehat!" Ujar Zeline memberitahu Gavin.

__ADS_1


"Ya! Tapi kita sudah rajin berolahraga dan selalu makan makanan sehat bergizi," gumam Gavin yang masih membaca artikel di layar monitor.


"Olahraga apa maksudnya?" Tanya Zeline yang merasa jarang berolahraga bersama Gavin. Hanya saat weekend saja mereka jogging bersama.


"Olahraga ranjang! Bukankah katamu itu olahraga juga dan setara dengan berlari di treadmill selama tiga puluh menit?" Jawab Gavin yang langsung membuat Zeline berdecak.


"Itu olahraga yang berbeda!"


"Sama saja!" Sergah Gavin bersikeras. Zeline akhirnya tak menanggapi lagi.


"Tapi ngomong-ngomong, kau belum menggodaku pagi ini."


"Padahal tadi malam kita juga hanya bermain satu ronde. Apa kau sudah bosan?" Tanya Gavin berprasangka.


"Bosan apa maksudnya?" Zeline balik bertanya bingung.


"Bosan main kuda-kudaan denganku," jawab Gavin blak-blakan dan to the point.


"Enggak, sih!" Zeline mengusap tengkuknya sendiri.


"Lalu?" Tanya Gavin lagi yang terlihat penasaran.


"Iya, kemarin aku baca artikel. Katanya kalau mau cepat hamil, tidak boleh terlalu sering berhubungan dan tidak boleh terlalu barbar juga. Harus slow," terang Zeline yang langsung membuat Gavin manggut-manggut.


"Mungkin itu juga alasan lain kau sering uring-uringan belakangan ini," tebak Gavin yang langsung membuat Zeline mengernyit.


"Iya, kau terlalu banyak menahan gairah! Makanya kau uring-uringan-"


"Mana ada seperti itu!"Zeline refleks memukul lengan Gavin.


"Tidak usah mengelak! Terlihat jelas dari wajahmu itu! Kau terlihat tertekan dan kurang jatah," ledek Gavin lagi yang semakin membuat Zeline kesal.


"Aku tidak kurang jatah! Dasar sok tahu!" Zeline masih tak berhenti memukuli lengan Gavin.


"Kau itu mungkin yang kurang jatah!" Gerutu Zeline lagi yang masih memukuli Gavin.


"Tepat!" Jawab Gavin tiba-tiba yang langsung membuat Zeline berhenti memukuli sang suami.


"Apa katamu barusan," tanya Zeline menatap serius pada Gavin.


"Aku kurang jatah!" Gavin mengecup sekilas bibir Zeline.


"Jadi..." Gavin mencium lagi bibir Zeline.


"Aku boleh minta jatah sekarang?" Tanya Gavin yang kembali mengecup bibir Zeline namun hanya sekilas-sekilas. Hal itu tentu saja membuat Zeline gemas. Zeline akhirnya menarik kepala Gavin dan langsung mengajaknya berpagutan dengan lama.


"Mau memberiku jatah?" Tanya Gavin yang sudah mengerling nakal pada Zeline.

__ADS_1


"Kau sudah mengunci pintu?" Zeline balik bertanya pada Gavin.


"Akan aku kunci sekarang!" Jawab Gavin penuh semangat. Gavin melesat ke arah pintu dengan cepat, lalu pria itu bergegas menguncinya.


Ceklek! Ceklek!


Gavin kembali berbalik untuk menghampiri Zeline yang sudah melepaskan blazernya. Kini Zeline hanya tinggal mengenakan dress polos lengan panjang warna hitam.


"Istriku yang bohay!" Gavin tiba-tiba sudah mendekap Zeline dari arah belakang, lalu menyusupkan kepalanya di ceruk leher Gavin.


"Pelan-pelan dan jangan barbar!" Pesan Zeline memperingatkan Gavin.


"Hei, hei, hei! Bukankah yang biasanya barbar adalah kau!" Kekeh Gavin yang hendak menggendong Zeline, tapi ternyata pria itu masih belum kuat.


"Sudah, tidak usah memaksa!" Decak Zeline yang akhirnya berjalan sendirian ke arah sofa.


"Jangan marah! Kau boleh menggendongku dan aku tak keberatan," ujar Gavin yang kembalu melingkarkan lengannya di pinggang Zeline, lalu mengekori istrinya itu ke sofa.


"Aku yang keberatan!" Sergah Zeline dengan nada siara yang sudah meninggi.


"Benarkah? Aku kecil padahal," kekeh Gavin yang langsung membuat Zeline berdecak.


"Segitu kecil?" Cibir Zeline yang sudah mendorong Gavin agar duduk di sofa Zeline lalu membuka kedua kakinya dan segera naik ke pangkuan Gavin.


"Woman on top?" Gumam Gavin seraya menangkup wajah Zeline.


"Aku lupa bilang satu hal padamu," ujar Zeline setelah wanita itu mencium bibir Gavin.


"Bilang apa?" Tanya Gavin yang kembali meraup bibir Zeline lalu memagutnya cukup lama.


"Bilang apa?" Tanya Gavin sekali lagi.


"Sebenarnya...." Zeline menggigit bibir bawahnya sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Sebenarnya apa?" Tanya Gavin mulai tak sabar.


"Aku sedang datang bulan," ujar Zeline akhirnya seraya meringis yang sontak langsung membuat Gavin menganga lebar.


"Apa?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2