
"Zel!" Gavin kembali mengguncang tubuh Zeline yang sepertinya benar-benar pulas. Tak ada reaksi apalagi tanggapan dari Zeline, meskipun Gavin sudah mengguncang dengan kuat.
Jangan-jangan Zeline pingsan.
"Zel, kamu pingsan?" Tanya Gavin lagi yang sudah ganti meletakkan telunjuknya di bawah hidung Zeline untuk memeriksa jalan nafas istrinya tersebut.
"Masih bernafas."
"Eh, orang pingsan kan memang masih bernafas." Gavin bergumam sendiri, lalu pria itu ganti mengubah posisi Zeline yang tadinya miring dan memeluk guling menjadi posisi telentang.
"Zel! Bangun!" Gavin ganti meletakkan kepalanya di dada Zeline untuk mendengarkan detak jantung Zeline.
"Empuk sekali," gumam Gavin masih sambil berusaha mendengarkan detak jantung Zeline.
"Pegang sedikit nggak masalah, ya! Kan sudah sah," kikik Gavin selanjutnya yang mulai tergoda dengan bongkahan kenyal milik Zeline.
Tangan nakal Gavin mulai merem*s dada Zeline yang masih tertutup piyama, lalu pria itu nyengir sendiri.
"Kenyal," gumam Gavin setelah merem*s gundukan sebelah kanan.
"Yang kiri kenyal juga, nggak?" Tanya Gavin seraya tangannya berpindah dan ganti mer*mas gundukan Zeline sebelah kiri, sebelum kemudian pria itu kembali terkekeh.
"Kenyal ju-"
Plak!
Gavin belum selesai bergumam, saat tiba-tiba sebuah keplakan keras sudah mendarat di tangannya yang masih merem*s gundukan kenyal Zeline.
"Kau sedang apa? Kenapa grep*-gr*pe begitu?" Omel Zeline yang rupanya sudah bangun dan wajah wanita itu terlihat bersungut kesal.
"Sedang memegang dua gunung yang selalu kau bawa kemana-mana," jawab Gavin usil seraya menunjukkan adegan mer*mas pada Zeline.
"Kenyal ternyata," lanjut Gavin seraya terkekeh tanpa dosa.
Lah, kenapa juga harus merasa berdosa.
Pegang punya istri kan memang tidak dosa!
Plak!
Zeline kembali mengeplak tangan Gavin dengan kesal.
"Auuuw! Sakit, Zel! Kenapa kau suka sekali memukulku?" Keluh Gavin seraya merengut dan mengusap-usap punggung tangannya yang kini memerah.
"Kau itu yang lancang dan tak tahu sopan santun! Gr*pe-gr*pe sembarangan! Kita kan belum-" Zeline tak jadi melanjutkan kalimatnya karena sepertinya wanita itu sudah ingat pada sesuatu.
"Belum apa? Belum belah duren?" Cecar Gavin dengan ekspresi wajah meledek.
"Kita sudah sah sebagai suami istri! Lihat! Lihat!" Gavin menunjukkan cincin di tangan Zeline sekaligus di jarinya sendiri seolah sedang mengingatkan Zeline.
"Eh, iya! Aku lupa," ringis Zeline seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Masa bisa lupa kalau sudah menikah," gumam Gavin merasa heran.
"Iya namanya juga lupa! Kamu ngertiin sedikit bisa, nggak?" Omel Zeline yang tetap saja ujung-ujungnya menyalahkan Gavin.
__ADS_1
Ya, ya, ya!
Wanita memang selalu benar!
Terima saja, Gavin! Terima saja!
"Iya, aku paham!" Cibir Gavin seraya mengulurkan punggung tangannya pada Zeline.
"Apa maksudnya?" Tanya Zeline bingung.
"Iya, kamu minta maaf ke aku! Kan tadi kamu udah ngeplak aku dua kali! Sakit, tahu!" Jelas Gavin dengan ekspresi wajah kekanakan.
"Ck! Namanya juga lupa!"
"Salah sendiri kamu grep*-gr*pe nggak minta izin dulu!" Omel Zeline yang lagi-lagi malah menyalahkan Gavin.
Terserah!
"Grep*-gr*pe istri sendiri juga harus minta izin?" Gavin lanjut berdecak dan geleng-geleng kepala.
"Udah, aku minta maaf! Aku ngeplaknya juga nggak keras tadi! Kamu aja yang lebay!" Ucap Zeline setelah wanita itu mencium punggung tangan Gavin.
"Nggak keras tapi sakit!" Keluh Gavin lebay.
"Apanya juga yang sakit! Nggak ada bekasnya begini!" Omel Zeline yang kembali meraih tangan Gavin lalu memeriksa setiap inchinya.
"Udah, aku mau tidur!" Ujar Zeline yang kembali berbaring seraya meraih gulingnya, lalu memunggungi Gavin.
"Lah, kok tidur lagi! Kita belah duren dulu, Zel!" Gavin sudah meraup tubuh Zeline dari arah belakang dan menyusupkan kepalanya di pundak istrinya tersebut.
"Tadi bukannya kamu udah ngantuk? Ini aku juga udah ketularan ngantuknya kamu. Belah durennya besok saja, Gavin!" Cerocos Zeline sambil menejamkan matanya.
"Tapi aku capek! Kamu emangnya nggak capek setelah acara tadi?" Jawab Zeline beralasan.
"Enggak! Aku nggak capek!" Jawab Gavin bersungguh-sungguh.
"Ayo, Zel! Kita coba bentar!" Ajak Gavin selanjutnya pada Zeline dan sedikit memaksa.
"Ck!" Zeline berdecak dan menutupkan guling ke wajahnya yang mendadak terasa memanas.
Ya ampun!
Zeline mendadak jadi gugup.
"Sekarang jam berapa?" Tanya Zeline masih sambil menutupi wajahnya dengan guling.
"Jam tiga lebih lima belas menit," jawab Gavin setelah memeriksa jam di atas nakas.
"Kamu dari tadi emang nggak pakai baju?" Tanya Zeline lagi setelah tangannya meraba-raba tubuh Gavin yang sejak tadi memang hanya mengenakan underwear saja.
Lah!
Nggak takut masuk angin apa suami berondong Zeline ini?
Mana AC-nya dingin sekali!
__ADS_1
"Kamu nggak pakein aku baju sejak tadi! Bilang suruh ganti baju, tapi cuma ditelanjangi begini, dan nggak dipakein baju ganti," jawab Gavin sedikit menggerutu.
"Iyakah! Salah sendiri, pas digantiin baju malah tidur!" Kekeh Zeline yang lagi-lagi malah balik menyalahkan Gavin.
Ya ya ya!
Sudah menjadi hukum di bumi ini kalau wanita selalu benar!
Besok Gavin akan pindah ke planet pluto saja!
"Coba bentar, ya!" Rayu Gavin yang kembali menyusupkan kepalanya di ceruk leher Zeline.
"Hmmmm," jawab Zeline yang hanya bergumam pelan.
"Hmmm apa maksudnya? Iya atau tidak?" Gavin mengeratkan dekapannya pada Zeline.
"Iya!" Jawab Zeline akhirnya yang kembali menutupi wajahnya dengan guling.
"Yess! Cepat buka baju!" Perintah Gavin setelah pria itu bersorak dengan lebay.
"Kamu yang bukain, lah! Tadi aku sudah bukain baju kamu, masa iya sekarang aku juga harus buka baju aku sendiri! Kamu jadi laki-laki itu romantis dikit bisa, nggak!" Zeline sudah berbalik dan mengomeli Favin panjang lebar seraya memukuli suamimya itu dengan guling karena kesal.
Dia yang ngajak nganu-nganu, kenapa Zeline yang disuruh buka baju sendiri?
Dasar pria!
"Oh, jadi harus gantian begitu, ya? Aku kan nggak tahu!" Ujar Gavin beralasan, seraya membuka satu persatu kancing piyama Zeline.
"Namanya juga baru pertama kali," imbuh Gavin lagi tetap beralasan.
Dasar si tukang nge-less!
"Bentar-bentar!" Zeline kembali berkomentar, saat Gavin hendak menarik turun celana tidurnya.
"Apalagi? Ada yang salah? Tadi bukannya kamu yang minta aku bukain baju kamu?" Cecar Gavin merasa bingung.
"Iya, memang! Tapi kenapa langsung kamu buka semua begitu? Nggak sambil pemanasan dulu bukanya?" Tanya Zeline yang langsung membuat Gavin mengernyit tak mengerti.
"Pemanasan?"
"Maksudnya-" Gavin tiba-tiba sudah bangkit berdiri lalu melakukan gerakan senam kecil di depan Zeline.
"Pemanasan kayak kalau mau renang begini, ya?" Tanya Gavin yang langsung membuat Zeline menepuk keningnya sendiri sekaligus ingin menggigit kasurnya saja.
Ini berondong kenapa polosnya kebablasan begini?
Jangan-jangan memang dia ini masih bocah dan belum pernah mendapatkan mimpi basah!
Dasar payah!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.