
"Apa papi sedang bercanda?" Tanya Zeline yang hanya terdengar seperti gumaman saat Papi Zayn memperkenalkan Gavin sebagai sekretaris baru Zeline.
"Hai, Nona Direktur Zeline!" Sapa Gavin dengan senyum lebar khas Gavin. Pria itu bahkan tak ada sungkan-sungkannya pada Zeline.
"Papi!" Zeline masih menatap tak percaya pada Papi Zayn.
"Gavin sekretarismu mulai sore ini, Zeline! Dan Papi tidak sedang bercanda."
"Gavin lulusan bisnis manajemen, dan dia juga sudah diajari langsung oleh Opa Theo bagaimana menjadi asisten sekaligus sekretarismu," terang Papi Zayn panjang lebar.
"Opa dulu adalah asisten sekaligus sekretaris Oma Belle! Jadi jangan meragukan ilmu Opa!" Timpal Gavin yang sudah dengan lancang duduk di kursi kerja Zeline dan memutar-mutarnya seperti yang dulu sering Zeline lakukan.
Ya, itu memang menyenangkan!
"Papi harap kalian tak lagi berseteru dan bisa menjadi partner kerja yang akur setelah ini!" Ujar Papi Zayn mengungkapkan harapannya pada Zeline.
"Dan berhentilah uring-uringan tak jelas mulai sekarang, karena Gavin sudah ada di dekatmu dan kalian akan bertemu setiap hari!" Sambung Papi Zayn sebelum papi kandung Zeline itu berbalik dan hendak keluar dari ruang kerja Zeline.
"Apa maksud papi dengan berhenti uring-uringan? Memangnya siapa yang uring-uringan?" Sergah Zeline seraya merengut pada sang papi yang hanya terkekeh serta tetap melanjutkan langkahnya, lalu keluar dari ruang kerja Zeline.
Kini hanya tinggal Zeline dan Gavin yang masih memutar-mutar kursi kerja Zeline.
Ck! Dasar kekanakan!
"Menyenangkan juga ternyata jadi Nona Direktur! Pantas saja kau kekeh ingin tetap jadi Nona Direktur dan tak mau ikut aku pindah," kekeh Gavin yang masih saja memutar-mutar kursinya.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Zeline yang kini sudah berkacak pinggang pada Gavin.
"Maksudnya apa apa?"
"Kemarilah!" Gavin tiba-tiba sudah menarik Zeline dan membuat gadis itu kaget karena tak siap. Zeline langsung jatuh terduduk ke atas pangkuan Gavin sekarang.
"Kursinya akan patah jika kita pangku-pangkuan begini!" Zeline mengingatkan Gavin.
"Nanti tinggal minta yang baru ke inventaris kantor. Kenapa harus risau?" Jawab Gavin santai sambil mendekap Zeline.
Apa lagi ini maksudnya?
"Kau belum menjelaskannya!" Zeline masih saja merengut pada Gavin.
"Bagian yang mana yang ingin aku jelaskan? Kau yang minta aku pindah kesini dan kau akan memberikan aku pekerjaan kan?"
"Dan sekarang aku menerima pekerjaan yang kau berikan! Aku akan menjadi sekretaris sekaligus asistenmu mulai sekarang!" Jawab Gavin tetap dengan nada santai.
"Tapi kenapa? Bukankah seharusnya kau tetap di pantai atau di pulau menjadi tour guide dan instruktur selancar?" Tanya Zeline bingung.
"Ombaknya sedikit kacau belakangan ini dan aku sering terjatuh saat bermain selancar," jawab Gavin beralasan.
"Aneh sekali! Kau kan ahlinya. Dan bagaimana ceritanya ombak bisa kacau?" Zeline bergumam dan merasa semakin bingung.
"Kau yang mengacaukannya!" Kekeh Gavin seraya mengeratkan dekapannya pada Zeline.
"Kok aku?" Zeline sontak merengut.
"Kau memblokir nomorku beberapa bulan kemarin, ya?" Tanya Gavin memastikan dan Zeline langsung salah tingkah.
"Kata siapa?" Zeline serta merta meraih ponselnya di atas meja, lalu membuka blokiran nomor Gavin dengan cepat.
"Lihat! Aku tak memblokir nomormu! Tuduhanmu aneh sekali!" Omel Zeline yang sontak langsung membuat Gavin tergelak.
"Pasti kau sendiri yang memblokir nomorku,tapi malah menuduhku!" Sergah Zeline lagi yang kembali membuat Gavin terkekeh.
"Bisa jadi! Wanita selalu benar, hah?" Gavin menaik turunkan alisnya pada Zeline.
"Turunkan aku! Kita kan masih marahan kemarin! Kenapa kau sudah lancang mendekap-dekap Aku begini?" Perintah Zeline selanjutnya pada Gavin dengan nada galak.
"Iyakah? Aku pikir kita sudah damai dan akur!"
"Aku kan sudah pindah kesini sekarang dan menuruti kemauanmu," Gavin masih tetap mendekap Zeline.
"Bukan aku yang menyuruh dan memaksamu!"
"Lagipula, aku sudah bilang pada Papi untuk membangun resort di pesisir sesuai saranmu waktu itu!" Sergah Zeline yang kembali mencari pembenaran.
"Benarkah? Mau membangun resort di sebelah mana memangnya? Sudah dapat lahan dan perizinan?" Cecar Gavin penuh selidik.
__ADS_1
"Belumlah! Orang baru rencana," jawab Zeline seraya merengut dan Gavin langsung tertawa terbahak-bahak.
"Baru rencana!" Gavin masih saja tergelak.
"Diam, ih! Nggak ada yang lucu juga!" Zeline memukul-mukul dada Gavin karena kesal.
"Stop!" Gavin berusaha menghentikan tingkah barbar Zeline namun oemuda itu masih saja tergelak.
"Ih! Kau masih saja menyebalkan!"
"Kenapa kau harus melakukan ini semua? Kenapa?" Tanya Zeline yang masih belum berhenti memukul-mukul dada Gavin hingga kemudian terdengar suara yang lumayan meresahkan dari bawah kursi.
Kriet!
"Kau kentut?" Tanya Gavin memastikan dan Zeline langsung menggeleng dengan cepat.
"Lalu itu tadi suara apa-"
Bruuk!
"Auuuw!" Gavin langsung mengaduh saat ternyata kaki kursi kerja Zeline patah dan sukses membanting tubuh Gavin dan Zeline ke lantai.
"Kan aku sudah bilang kalau kursinya pasti patah!" Zeline yang terjatuh di atas pangkuan Gavin kembali memukul-mukul dada pemuda itu.
"Aku yang kau tindih, kenapa malah aku yang kau pukul-pukul juga?" Protes Gavin sebelum kemudian pemuda itu kembali meringis dan mengaduh.
Zeline langsung bangkit berdiri, dan lanjut membantu Gavin untuk berdiri juga. Gavin langsung memegangi punggungnya yang terasa nyeri karena selain terbanting ke lantai dengan tiba-tiba, Gavin juga langsung tertimpa buldozer delapan puluh kilo bernama Zeline.
"Kursi bodoh!" Gavin yang kesal menendang kursi Zeline yang sudah patah.
"Sudah! Kenapa malah menyalahkan kursi?" Zeline menarik tangan Gavin dan ganti mengajak pemuda itu untuk duduk di sofa saja yang jelas-jelas kuat dan tak mungkin patah kaki-kakinya, sekalipun Zeline dan Gavin main kuda-kudaan di sana.
Eh!
Kok jadi bawa kuda-kudaan, sih?
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi!" Zeline mendaratkan bokongnya di samping Gavin dan kembali minta penjelasan pada pemuda itu.
"Pertanyaan yang mana?" Tanya Gavin bingung.
"Karena aku mencintaimu," jawab Gavin singkat, padat, jelas, dan terlihat bersungguh-sungguh.
Yakin bersungguh-sungguh?
"Apa katamu barusan?" Zeline mengernyit tak percaya.
"Aku mencintaimu, Zeline! Apa jawabanku masih kurang jelas?" Gavin mengulangi jawabannya seraya menangkup gemas kedua pipi Zeline.
"Kau kemarin berpikir kalau aku memacarimu hanya karena rasa iba, kan? Itu sama sekali tidak benar!"
"Aku sungguh-sungguh mencintaimu, dan sekarang aku sedang membuktikannya!" Ujar Gavin yang ucapannya terlihat bersungguh-sungguh. Sementara Zeline hanya terdiam karena kini gadis itu malah kehilangan kata-kata.
"Sejak kapan?" Tanya Zeline akhirnya yang kembali bisa buka suara.
"Apanya?" Gavin balik bertanya.
"Sejak kapan kau mulai mencintaiku?" Zeline sedikit geregetan dan Gavin malah mengendikkan bahu tanpa dosa.
"Sejak kita hidup berdua di pulau waktu itu mungkin. Atau sejak kau memegang tongkat saktiku malam itu-"
Bugh!!
Zeline langsung memukul bahu Gavin karena pemuda itu membahas tentang tongkat sakti.
"Sudah kubilang kalau aku mengira itu adalah gulingku!" Zeline memukul-mukul dada Gavin dengan kesal dan pria itu malah tergelak sekarang.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu sebagai tour guide? Bukankah kau menyukainya?" Tanya Zeline merasa tak enak hati.
"Itu bukan pekerjaan kata Bunda! Itu hanya hobi yang menghasilkan, dan aku memilih untuk menekuninya saat senggang saja!" Ujar Gavin menjelaskan pada Zeline.
"Lalu sejak kapan kau berada di kota ini dan belajar pada Opa Theo? Dan kenapa aku bisa tak tahu kalau kau ada di sini?" Cecar Zeline lagi penasaran.
"Sekitar dua bulan yang lalu."
"Aku pikir kau sudah tahu karena aku rajin mengirimimu makan siang! Tapi ternyata kau tidak peka!" Gavin mend*sah kecewa.
__ADS_1
"Jadi, kau yang...." Zeline membelalakkan kedua matanya.
"Ya! Kau tidak membuangnya, kan?" Tanya Gavin memastikan dan Zeline langsung menggeleng.
"Aku selalu memakannya!"
"Bagus!"
"Dan lihat sisi positif lain aku tinggal di kota ini!" Gavin membuka kancing mansetnya, lalu mengguling lengan kemeja yang ia kenakan dan memamerkan lengannya yang kini tak lagi segelap saat terakhir kali Zeline berjumpa pemuda ini.
"Aku jadi lebih putih!" Pamer Gavin dengan nada lebay.
"Bagaimana bisa?" Tanya Zeline seraya menggosok-gosok lengan Gavin, khawatir kalau-kalau Gavin sengaja mengecat kulitnya agar terlihat lebih terang.
"Kau suntik putih?" Tanya Zeline berprasangka.
"Sembarangan! Aku sejak dulu memang putih! Hanya terlalu banyak berjemur saja di pantai, makanya betibah jadi brownies bakar." Gavin terkekeh lalu menggulung lengan kemejanya yang lain.
"Tapi wajahmu masih gosong!" Komentar Zeline mencibir.
"Nanti kalau wajahku berubah putih juga, banyak gadis yang kepincut, kau cemburu!" Kekeh Gavin yang langsung membuat Zeline merengut.
"Sudah, jangan merengut begitu! Aku sudah lolos menjadi asisten dan sekretarismu mulai sekarang, kan?" Gavin sudah kembali menarik Zeline ke dalam dekapannya.
"Ya! Mau bagaimana lagi! Aku tak punya pilihan lain," jawab Zeline masih pura-pura kesal.
"Asisten dan sekretaris seumur hidup juga?" Tanya Gavin tiba-tiba yang langsung membuat Zeline menatap penuh tanya pada pemuda dua puluh tiga tahun tersebut.
"Asisten seumur hidup?"
"Apa kau sedang melamarku? Kenapa tak ada romantis-romantisnya begini?" Zeline merengut dan ganti bersedekap kesal pada Gavin.
"Aku tidak sedang melamarmu sekarang." Gavin sudah bangkit berdiri, lalu pemuda itu juga mengajak Zeline untuk ikut bangkit berdiri.
"Mau kemana?" Tanya Zeline saat Gavin mengajakmya mendekat ke arah jendela.
"Memberikanmu kejutan." Jawab Gavin yang tiba-tiba sudah menutup kedua mata Zeline dengan kedua tangannya.
"Maju ke depan!" Titah Gavin pada Zeline.
"Ini mau ngapain, Gavin? Kau mau mendorongku dari jendela?" Tanya Zeline berprasangka.
"Kau pikir aku psikopat? Sembarangan!" Sanggah Gavin yang terus menyuruh Zeline untuk maju ke depan.
"Maju terus!"
"Terus!"
"Sudah nabrak ini!" Ujar Zeline memberitahu Gavin saat gadis itu menabrak kaca jendela ruangannya yang mengarah langsung ke halaman parkir serta jalan di depan gedung kantor Abraham Group.
"Baiklah, kau benar," Gavin kembali terkekeh.
"Kau mau apa sebenarnya, Gavin?" Tanya Zeline yang sudah penasaran setengah mati sekarang.
"Mau menunjukkan sesuatu kepadamu!"
"Satu," Gavin mulai menghitung di dekat telinga Zeline.
"Dua.... tiga!" Gavin menyingkirkan tangannya dari kedua mata Zeline, dan sedetik kemudian, Zeline langsung mematung saat melihat sesuatu di halaman parkir Abraham Group.
Sesuatu yang terbuat dari banyak sekali bunga dan membentuk sebuah tulisan di sana....
"Zeline Abraham, maukah kau menikah denganku?" Tanya Gavin yang tiba-tiba sudah berlutut di depan Zeline seraya menyodorkan sebuah cincin yang tak asing bagi Zeline. Cincin yang sama yang oernah disematkan oleh Gavin saat mereka berstatus sebagai tunangan dadakan.
Apa Zeline sedang bermimpi sekarang?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1