Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
KESEMPATAN DALAM KESEMPITAN


__ADS_3

Gavin masih belum bisa memejamkan mata dan sesekali pemuda itu akan melihat ke arah Zeline yang masih tidur dengan posisi meringkuk. Sepertinya Zeline kedinginan dan sedikit tak nyaman juga karena hanya tidur di atas tempat yang keras.


"Dasar manja! Pasti sebelumnya tak pernah tidur di tempat yang keras!" Gerutu Gavin saat Zeline mulai bergerak-gerak gelisah.


Gavin masih diam, namun kedua netranya tak sedikitpun berpaling dari Zeline.


"Aduh!" Ringis Zeline tiba-tiba yang hampir membuat Gavin tergelak karena kepala gadis itu lolos dari tangan yang tadi ia pakai sebagai bantal. Kepala Zeline langsung terantuk lantai gubuk yang terbuat dari kayu dan menimbulkan suara berdebum.


Jangan sampai gadis itu jadi gegar otak atau amnesia besok karena kepalanya terantuk lantai kayu yang keras.


"Auuw!" Zeline mengusap-usap kepalanya, namun kedua mata gadis itu tetap terpejam, dan tak berselang lama, Zeline sepertinya sudah tidur lagi.


"Dasar tukang tidur!" Cibir Gavin yang masih di posisinya semula.


"Bump!"


Kembali terdengar debuman saat kepala Zeline lagi-lagi terguling dari tangannya sendiri. Gadis itu lalu berbalik dan berganti posisi. Kini Zeline ganti menghadap ke arah Gavin dan gadis itu tetap saja terlelap.


"Ck! Dasar manja!" Gerutu Gavin sekali lagi yang akhirnya sedikit menggeser duduknya. Gavin mengangkat pelan kepala Zeline, lalu meletakkannya ke atas pangkuan. Saat itulah, Zeline langsung menyamankan posisinya seolah baru saja mendapatkan bantal yang empuk.


"Enak, ya!"


"Awas kamu kalau besok ngajakin aku smack down lagi!" Geram Gavin seraya menatap pada wajah Zeline yang terlihat tenang di pangkuannya.


Kalau Gavin perhatikan, gadis di pangkuannya ini cantik juga. Hidungnya mancung sempurna, wajahnya begitu proporsional, ditambah rambut ikal panjang yang begitu menawan.


"Kalian pacaran lima tahun itu ngapain saja?"


"Dia sudah menipuku mentah-mentah dan menguras semua uangku!"


"Dia memanfaatkan aku! Memuji-muji aku setinggi langit dan selalu mengatakan aku cantik dengan postur gendutku ini hingga aku selalu mengurungkan niatku untuk diet."


Gavin tersenyum simpul saat mengingat percakapannya dengan Zeline siang tadi perihal pria yang sudah memacari Zeline selama lima tahun tapi ujung-ujungnya hanya menipu dan memanfaatkan Zeline.


"Kasihan sekali, ditipu sampai lima tahun."


"Kami yang bucin akut atau memang kamu terlalu beg*?" Gumam Gavin seraya memainkan pipi chubby Zeline.


"Ini pipi atau bakpao, sih?" Gavin terkekeh sendiri sambil tangannya masih memainkan pipi Zeline sambil sesekali mentowel-towelnya.


Anehnya, Zeline tak terbangun sedikitpun dan gadis itu malah semakin menyamankan posisinya di pangkuan Gavin, seolah baru saja mendapatkan bantal paling empuk di dunia.

__ADS_1


"Dasar tukang tidur! Udah ditowel-towel masih nggak bangun!" Gavin berdecak heran dan terus memainkan pipi Zeline hingga akhirnya rasa kantuk menyergap pemuda dua puluh tiga tahun tersebut.


"Hoaaam!" Gavin menguap lebar dan kembali menatap pada Zeline yang masih berbaring nyaman di pangkuannya. Gavin akhirnya terlelap masih dengan posisi duduk sambil memangku kepala Zeline.


****


Zeline mengerjap-ngerjapkan matanya, saat merasakan cahaya matahari yang menelusup melalu pepohonan menimpa wajahnya dan sedikit menimbulkan sensasi hangat.


Jam berapa ini?


Kenapa sinar matahari bisa masuk ke kamar Zeline dan mengenai wajah Zeline?


Ah, masabodoh! Zeline masih mengantuk sekarang, jadi Zeline akan tidur lagi barang tiga puluh menit.


Zeline menyamankan posisi kepalanya di atas bantal yang tumben sedikit bergelombang ini. Gadis itu lalu berganti posisi dari miring kanan jadi ke miring kiri, lalu tangannya hendak membenarkan letak bantal.


Zeline mencari-cari ujung bantalnya, namun kenapa tak kunjung ketemu. Dan, apa ini yang mengganjal di samping telinga Zeline. Sedikit kenyal di bagian bawah, lalu atasnya kenapa mirip tongkat?


Zeline diam sebentar dan kembali meraba-raba benda tersebut masih dengan mata terpejam. Zeline mencoba menebak-nebak benda apa sebenarnya yang sedang ia pegang ini.


"Eheeem!" Deheman keras dari Gavin refleks membuat Zeline langsung membuka mata. Tangan Zeline masih di posisi semula dan memegang sesuatu yang berada di antara kedua paha Gavin.


Hah? Apa?


Sialan!


Kenapa Zeline bisa tidur di pangkuan tour guide menyebalkan itu?


"Kau pikir sedang memegang apa tadi? Tongkat sakti?" Tanya Gavin dengan nada meledek pada Zeline yang kini sudah berganti posisi menjadi duduk. Ekspresi wajah Zeline saat ini adalah antara malu dan mungkin juga kesal.


"Sudah kubilang untuk tidak mencari-cari kesempatan saat aku tidur!" Zeline balik mengomel pada Gavin.


"Mencari kesempatan?" Gavin tertawa sinis.


"Jelas-jelas kau yang menegang milikku, meraba-rabanya, lalu meremasnya juga sedikit!" Gavin memaparkan semua yang dilakukan oleh Zeline tadi secara blak-blakan.


"Salahmu sendiri, kenapa sok-sokan memangku kepalaku saat aku tidur!"


"Kau itu yang sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan!" Tuduh Zeline lagi pada Gavin.


"Ck! Aku hanya tak bisa tidur semalam karena mendengar suara kepalamu yang terus saja menghantam lantai!"

__ADS_1


"Bugh! Bum! Gedebug!"


"Berisik!" Gavin menggosok-gosok telinganya dengan lebay.


Zeline buru-buru mengusap kepalanya sendiri yang memang sedikit nyeri karena semalam tidur di atas lantai kayu keras.


"Lalu kau berinisiatif memangku kepalaku begitu?" Tanya Zeline lagi masih sedikit ketus.


"Iya, awalnya aku juga memangkumu di sebelah sini," Gavin menunjuk ke arah pahanya bagian bawah yang berbatasan langsung dengan lutut.


"Lalu kau itu yang geser-geser sendiri, semakin naik, semakin naik!" Lanjut Gavin lagi dengan nada lebay.


"Trus mulai grep*-gr*pe!" Pungkas Gavin dengan nada mencibir.


"Aku pikir pahamu adalah bantalku di kamar!"sahut Zeline mencari alasan dan pembenaran.


"Kalau pahaku bantal, lalu milikku apa? Boneka beruangmu?" Tanya Gavin blak-blakan.


"Ck! Aku tak punya boneka beruang!"


"Memangnya kau pikir aku adalah Greget yang masih bocah itu!" Sergah Zeline lagi yang malah menyebut-nyebut adik iparnya yang memang masih bocah. Usianya saja belum genap dua puluh tahun saat menikah dengan Sakya!


Belum legal age!


Tapi malah sudah menikah.


Lah Zeline yang sudah usianya sudah nyaris kadaluwarsa malah tak kunjung menikah.


Takdir ini sungguh aneh!


"Greget siapa?" Tanya Gavin mengernyit penasaran.


"Bukan siapa-siapa!" Jawab Zeline ketus seraya hendak merapatkan kemeja Gavin yang masih ia kenakan. Namun sepertinya Zeline lupa dengan ukuran kemeja Gavin yang mini dan tak muat di tubuhnya. Hingga akhirnya terdengar suara tak bersahabat dari kemeja berbahan tipis tersebut.


"Wreeeek!!"


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2