Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
CORETAN APA?


__ADS_3

Bruuk!


Gavin langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur yang dipenuhi oleh kelopak bunga, sesaat setelah acara resepsi yang penuh drama itu usai.


"Mandi dan ganti baju dulu, Vin!" Ujar Zeline mengingatkan Gavin yang sudah memejamkan kedua matanya.


"Besok saja mandinya! Kata Bunda jangan mandi malam-malam, nanti rematik!" Jawab Gavin beralasan masih sambil memejamkan mata tentu saja! Namanya juga Gavin!


"Ganti baju kalau begitu! Bajumu ini bau keringat!" Zeline memaksa untuk membalik tubuh Gavin dan suami Zeline itu tetap saja merem dan tak sedikitpun membuka mata.


Mimpi apa, Zeline punya suami seajaib Gavin ini!


"Keringatku baunya enak!"


"Coba cium!" Gavin yang masih merem tiba-tiba sudah menarik tubuh Zeline yang tak siap. Zeline sontak langsung tersungkur dan hidungnya jatuh tepat di ketiak Gavin.


"Hoek!" Zeline langsung berekspresi hendak muntah karena mencium bau asem dari ketiak Gavin.


"Apaan hoek hoek? Ini, cium! Cium!" Gavin terus memaksa Zeline agar menghirup aroma ketiaknya yang amat sangat tak bersahabat.


Sial sekali!!


"Gavin, lepas!" Zeline meronta-ronta dan terus berusaha untuk meloloskan diri dari dekapan maut Gavin.


"Sudah diam! Suami istri itu tidurnya harus pelukan begini!" Ujar Gavin yang kini sudah ganti mendekap Zeline dengan erat.


"Tapi aku tidak bisa bernafas! Kau mau membuatku kekurangan oksigen dan kejang-kejang?" Protes Zeline yang langsung membuat Gavin sedikit mengendurkan dekapannya.


"Benarkah? Kenapa tak bilang dari tadi kalau kau tak bisa bernafas?"


"Sekarang bagaimana? Sudah bisa bernafas?" Tanya Gavin yang kedua matanya tetap merem. Sepertinya Gavin ini punya keahlian untuk melihat memakai mata batin.


Mata merem tapi bisa mendekap Zeline dengan sangat pas begini!


"Sudah! Tapi kau masih bau asem, dan aku juga mau mandi dulu sebelum tidur," jawab Zeline sedikit merengut.


"Besok saja mandinya! Ini sudah malam, jadi mari kita tidur!" Gavin berganti posisi menjadi miring, lalu kaki pria itu membelit tubuh Zeline, seolah Zeline adalah sebuah guling.


"Gavin!"


"Ssssttttt!" Gavin meraba-raba wajah Zeline dan mencari-cari dimana letak bibir istrinya itu.


"Diam! Cepat tidur dan istirahat!"


"Ck! Aku tak bisa tidur! Bisakah kau itu ganti baju dulu minimal kalau memang tak mau mandi? Kemejamu ini bau asem!" Cerocos Zeline yang mulai hilang kesabaran.

__ADS_1


"Baiklah! Kau gantikan kalau begitu!" Gavin sudah mengubah posisinya menjadi telentang sekarang, dan kedua tangan pria itu juga terentang ke samping.


"Ck! Kenapa ridak ganti baju sendiri?" Gerutu Zeline yang akhirnya tetap membuka satu persatu kancing kemeja Gavin. Zeline jiga mengendurkan sabuk Gavin dan sekalian melepaskan celana pria itu.


"Kau mau menelanjangiku, Zel?" Tanya Gavin seraya tertawa kecil.


"Mana ada! Aku hanya ingin mengganti celanamu!" Zeline menarik lepas celana Gavin dan kini suami Zeline itu hanya mengenakan underwear.


Zeline kembali beralih ke kemeja Gavin, dan setelah selesai membuka semua kancingnya, Zeline membuka kemeja warna putih tersebut.


"Ini apa?" Zeline menggosok-gosok noda di dada Gavin, yang tadinya Zeline pikir adalah coretan spidol.


Hah!


Kenapa juga Gavin mencoret dadanya memakai spidol?


"Geli, Zel! Kau sedang apa?" Gavin terkikik saat Zeline masih menggosok-gosok dadanya yang bidang.


"Ini coretan apa, Gavin? Kau punya tato?" Tanya Zeline dengan raut wajah tak percaya saat memperhatikan dengan seksama coretan di dada Gavin tersebut. Dan Zeline lebih tercengang lagi saat tahu tulisan apa yang tersemat di dada Gavin tersebut.


"Zeline?" Zeline bergumam saat membaca namanya sendiri.


"Tato kecil saja! Kemarin hanya iseng," ujar Gavin beralasan.


"Lalu kenapa tulisannya harus namaku?" Tanya Zeline tak mengerti.


"Dengarkan ini!" Gavin meraih tangan Zeline, lalu membawanya ke depan dada untuk mendengarkan detak jantung Gavin yang kini memacu dengan cepat. Hampir sama dengan detak jantung Zeline.


"Aku ingin, hanya kau yang selalu ada di hatiku!" Gavin sudah ganti mendekap Zeline dan membimbing Zeline agar menyandarkan kepalanya di dada bidang Gavin.


Zeline tak lagi protes perihal bau asem yang menguar dari ketiak Gavin, dan wanita itu memilih untuk menyamankan posisinya di dalam dekapan Gavin yang kini hanya mengenakan underwear dan berbaring telentang.


"Hoaaaaayam goreng!" Gavin menguap sekali lagi, dan tak butuh waktu lama, nafas suami Zeline itu sudah teratur. Sepertinya Gavin sudah benar-benar tidur sekarang.


Zeline akhirnya hanya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Gavin yang masih saling mendekap. Zeline lalu ikut memejamkan mata juga, karena sejujurnya Zeline juga lelah dengan semua rangkaian acara pernikahannya bersama Gavin hari ini.


Untuk urusan belah duren, mungkin besok saja Zeline pikirkan. Yang terpenting sekarang, Zeline hanya ingin tidur di dalam dekapan Gavin.


****


Jam di kamar Zeline menunjukkan pukul tiga dinihari, saat Gavin tiba-tiba membuka lebar kedua matanya karena pria itu merasakan kandung kemihnya yang penuh oleh cairan.


"Kebelet!" Gumam Gavin sambil berusaha untuk bangun, saat Gavin menyadari ternyata Zeline sedang tidur sembari menindihnya sekarang.


"Pantas saja, tadi mimpi ditindih gajah. Ternyata..." Gavin terkikik sendiri, lalu berusaha untuk memindahkan Zeline dari atas tubuhnya.

__ADS_1


"Minggir dulu, Istriku yang bohay! Nanti kita lanjut!" Gumam Gavin sambil masih berusaha untuk meloloskan diri dari tindihan maut Zeline. Setelah berhasil lolos, Gavin langsung secepat kilat masuk ke toilet yang menyatu dengan kamar Zeline, untuk menunaikan hajatnya.


Tak sampai lima menit, Gavin sudah keluar lagi dari toilet dan pria itu bersiul lega.


"Lah! Udah ganti posisi?" Des*h Gavin sedikit kecewa, saat melihat Zeline yang sudah ganti memeluk gulingnya dan berbaring miring menghadap tembok.


Gavin yang masih hanya mengenakan underwear, langsung naik ke atas kasur dan sedikit membuat guncangan untuk mengagetkan Zeline.


Namun ternyata istri Gavin itu sama sekali tak kaget dan tetap tertidur pulas.


Aneh!


"Zel, sudah tidur?" Tanya Gavin yang akhirnya mendekap Zeline dari belakang, lalu mentowel-towel pipi Zeline.


Tak ada pergerakan apapun!


Gavin jadi cemas, ini Zeline sedang tidur atau sedang pingsan?


"Zel!" Gavin mengguncang tubuh Zeline sedikit keras, saat sebuah keplakan langsung sukses mendarat di wajah Gavin.


"Berisik!" Gumam Zeline yang kedua matanya tetap merem.


"Sakit, tahu!" Omel Gavin pada Zeline yang sama sekali tak bangun apalagi bertanya pada Gavin, apa keplakannya tadi menyakiti Gavin.


"Bangun, Zel!"


"Aku sudah tidak mengantuk ini!" Gavin kembali mengguncang tubuh Zeline.


"Berisik! Aku mau tidur!" Omel Zeline yang kembali menyamankan posisinya serta memeluk guling kesayangannya.


"Ck! Aku jadiin guling juga kamu!" Geram Gavin yang langsung mengambil posisi di belakang Zeline, lalu kaki Gavin membelit tubuh Zeline dan tangannya juga melingkar di dada Zeline.


"Anget!" Gumam Gavin seraya merapatkan dekapannya pada Zeline. Gavin mencoba untuk memejamkan matanya dan ikut tidur bersama Zeline. Namun hingga satu jam berikutnya, Gavin benar-benar harus menggerutu dalam hati karena ia kehilangan rasa kantuknya sama sekali.


"Hhhhh! Aku tidak bisa tidur, Zeline!"


"Bagaimana ini?"


.


.


.


Mbuh sak karepmu!!

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2