
Kriiing!!
Zeline yang tadinya masih terlelap, langsung terbangun dan gelagapan saat mendengar suara alarm asing yang entah berasal dari mana. Seumur-umur, Zeline tak pernah memasang alarm dengan suara sebising ini!
"Lima menit lagi!" Gumam Gavin yang ternyata masih mendekap Zeline sejak dinihari tadi. Kedua mata Gavin masih terpejam, namun tangan pria itu sudah bergerak dan meraba-raba wajah Zeline seolah sedang mencari sesuatu.
Kriiiing!!
Suara alarm yang berisik itu kembali terdengar dari atas nakas atau lebih tepatnya dari ponsel Gavin.
Ck! Kenapa juga Gavin memasang alarm senorak itu?
Kriing!!
"Berisik!" Geram Zeline seraya mematikan alarm di ponsel Gavin, lalu melemparkan ponsel tersebut kembali ke atas nakas.
Krak!!
Upps!
Sepertinya lemparan Zeline melesat dan ponsel Gavin baru saja terjun bebas menghantam tembok lalu mendarat dengan tak mulus di atas lantai.
Ah, tapi siapa peduli!
Nanti kan bisa beli ponsel baru. Lagipula, ponsel itu juga sudah usang dan suaranya benar-benar tak merdu.
"Jam berapa ini, Zel?" Tanya Gavin yang matanya masih terpejam serta tangannya masih melingkar dan mendekap Zeline.
"Jam tujuh!" Jawab Zeline yang langsung membuat kedua mata Gavin membelalak lebar.
"Jam tujuh?" Gavin bangun secepat kilat, lalu menyambar jam di atas nakas untuk memastikan. Jam menunjukkan angka nol dan enam di kolom sebelah kanan, lalu angka satu dan dua di kolom sebelah kiri.
"Baru jam enam! Kenapa kau membuatku gelagapan?" Omel Gavin pada Zeline yang kini menguap. Zeline menutup mulutnya dengan telapak tangan meskipun tetap tak terlihat keanggunan di sana. Dan soal wajah bangun tidur Zeline, tentu saja Gavin sudah hafal! Mereka pernah tidur bersama dua malam di pulau kosong beberapa bulan silam.
"Baiklah, silahkan tidur lagi kalau begitu!" Ujar Zeline yang terlihat sedang mencari-cari sesuatu.
"Piyamaku semalam kau buang kemana, Vin?" Tanya Zeline akhirnya yangvtak menemukan piyamanya.
"Jadi, kau belum pakai baju?" Gavin dengan cepat menyibak selimut yang sejak tadi dipegangi oleh Zeline yang memang masih setengah naked.
"Aaaa!" Zeline menjerit saat tubuhnya bagian atas sudah terpampang dengan jelas karena selimutnya disibak paksa oleh Gavin.
"Ssssssttttt!!! Kenapa teriak-teriak!" Gavin dengan cepat membungkam mulut Zeline.
"Belum juga di apa-apain," kekeh Gavin lagi yang sudah menyingkirkan tangannya yang membungkam mulut Zeline, namun pria itu malah ganti membungkam mit Zeline memakai bibirnya.
"Gav-" kedua mata Zeline membelalak seperti semalam saat Gavin juga tiba-tiba menciumnya.
Ah, tapi persetan!
Zeline juga suka dicium oleh Gavin, jadi Zeline langsung menyambut kecupan selamat pagi dari Gavin dan pasangan suami istri itu sudah langsung berpagutan dengan panas.
"Kenapa tanganmu selalu diam di tempat saat kita berciuman?" Tanya Zeline setelah tautan bibirnya dengan bibir Zeline terlepas karena mereka sama-sama kehabisan nafas.
"Diam di tempat bagaimana maksudnya? Tanganku menangkup wajahmu begini agar ciuman kita tidak meleset. Memang seharusnya tanganku berada dimana?" Gavin balik bertanya bingung.
"Di tempat lain!" Jawab Zeline yang merasa malu untuk mengungkapkannya. Lagipula, masa iya, Gavin tidak mengerti.
"Tempat lain dimana? Bisakah kau menyebutkannya agar aku mengerti?" Tanya Gavin lagi yang entah benar-benar tak mengerti atau pria ini hanya sekedar ingin memancing Zeline.
"Ck! Seharusnya kau sudah tahu! Dia sudah terpampang di hadapanmu!" Jedua telunjuk Zeline membentuk tanda kutip saat menyebut kata dia.
"Yang ini?" Tanya Gavin seraya menangkup kedua gunung kembar Zeline.
"Ya! Atau di bokongku juga bisa! Atau dimana saja asal jangan hanya di satu tempat!" Cerocos Zeline yang akhirnya bicara blak-blakan.
"Kenapa harus begitu?" Tanya Gavin dengan raut wajah polos.
Astaga!
Kenapa jadi Zeline yang harus memberikan pelajaran ini pada Gavin?
"Karena itu yang dinamakan for*play! Pemanasan! Semua orang melakukannya sebelum bercinta!" Jelas Zeline panjang lebar metasa sedikit geregetan.
"Benarkah? Aku benar-benar tidak tahu karena ini kali pertama aku bercinta dengan seorang wanita. Tapi kenapa kau malah tahu banyak? Kau sudah pengalaman?"
Plak!
Zeline langsung mengeplak lengan Gavin dengan sekuat tenaga saat mendengar cecaran pertanyaan dari suaminya tersebut.
"Aauuuww! Kenapa malah memukulku? Aku kan hanya tanya!" Ringis Gavin mengusap-usap lengannya yang terasa panas karena keplakan keras Zeline barusan.
"Kau menuduhku sudah pengalaman! Tentu saja aku memukulmu! Kau pikir aku ini wanita gatal?" Geram Zeline mendelik-delik pada Gavin.
"Gatal? Kan tinggal digaruk. Mana yang gatal,aku garukin," tukas Gavin yang nalah mengajak Zeline berkelakar. Namun bukannya ikut tertawa, Zeline malah semakin menajamkan delikannya pada Gavin.
"Baiklah, aku minta maaf jika pertanyaanku menyinggungmu. Tapi aku hanya penasaran kenapa kau bisa tahu banyak?" Gavin mengendikkan bahunya dan raut penyesalan memang terlihat di wajah pria itu.
"Aku menontonnya di film!" Jawab Zeline blak-blakan.
"Film porn*?" Tanya Gavin menegaskan.
"Ya! Bukankah kalian kaum pria juga suka film seperti itu?" Zeline balik bertanya sekaligus menuduh Gavin.
"Emmmmm, aku belum pernah nonton malahan," jawab Gavin seraya meringis.
"Kata Bunda aku tak boleh melakukan hubungan suami istri dengan wanita yang bukan istriku. Ada benarnya sih menurutku. Kan namanya hubungan suami istri, berarti memang hanya boleh dilakukan oleh suami dan istri."
"Dan sekarang, kau istri aku suami. Jadi kita sudah boleh melakukannya," Cerocos Gavin panjang lebar yang malah terdengar seperti dongeng sejarah bagi Zeline.
__ADS_1
Ternyata suami Zeline ini masih murni dan perjaka ting ting!
"Tapi kau tahu caranya, kan?" Tanya Zeline memastikan.
"Cara apa? Berhubungan suami istri?" Gavin balik bertanya.
"Ya! Bukankah semua pria yang sudah dewasa tahu caranya karena pernah mengalaminya dalam mimpi," jawab Zeline lagi memastikan.
"Itu benar! Aku sudah pernah mengalaminya di dalam mimpi-"
"Kau melakukannya dengan siapa di dalam mimpimu?" Tanya Zeline memotong jawaban Gavin. Rasa cemburu mendadak membuncah di dada Zeline.
Kira-kira, umur berapa Gavin mendapatkan mimpi tak senonoh itu? Zeline mendadak jadi penasaran sekarang.
"Aku tidak tahu! Wajahnya tak terlihat!" Jawab Gavin bersungguh-sungguh.
Zeline masih memicing tak percaya.
"Aku berani bersumpah!" Gavin mengangkat satu tangannya.
"Lagipula, yang aku alami di mimpi itu hanya gerakan push up naik turun dan tak ada gerakan pemanasan seperti katamu tadi. Aku sepertinya juga tak mencium wanita asing di mimpiku saat itu," Gavin terlihat mengingat-ingat.
"Iya tidak usah diingat-ingat!" Zeline yang kesal langsung memukul Gavin dengan guling.
Yang benar saja! Apa Zeline sekarang sedang cemburu pada wanita asing yang hadir di mimpi basah Gavin?
Konyol!!
"Aku hanya mengingat-ingat caranya!" Sanggah Gavin beralasan.
"Sudah tahu sekarang?" Tanya Zeline ketus.
"Sudah! Tinggal masukin aja punyaku ke duren-mu! Lalu aku push up di atasmu! Selesai!" Jawab Gavin yang langsung membuat Zeline menepuk keningnya sendiri.
"Kenapa? Ada yang salah dengan cara yang aku sebutkan?" Tanya Gavin bingung.
"Tidak ada!" Zeline mengibaskan tangannya dan merasa malas untuk menjelaskan. Entah kenapa mimpi basah Gavin bisa kacau begitu! Atau jangan-jangan suami Zeline ini sedikit tak normal?
"Yaudah! Ayo kita langsung praktek!" Gavin tiba-tiba sudah menerjang Zeline yang benar-benar tak siap, hingga Zeline terjengkang ke belakang. Gavin lalu secepat kilat menurunkan celana Zeline serta underwear-nya sendiri hingga kemudian milik Gavin menyembul keluar dan membuat Zeline menelan salivanya.
"Sudah bangun! Lihat!" Ucap Gavin girang seraya memamerkan miliknya yang memang sudah tegak menantang.
Kenapa bisa begitu?
Kan belum pemanasan dan mereka tadi hanya berciuman, lalu berdebat hingga kepala Zeline nyaris botak.
"Selalu begini saat aku berada di dekatmu dan mendekapmu. Apalagi saat kita berciuman dengan panas seperti tadi," cerita Gavin yang hanya membiat Zeline manggut-manggut. Zeline bahkan bingung harus bereaksi bagaimana dengan kejujuran Gavin ini.
"Jadi, langsung aku masukkan ke...." Gavin melihat ke pangkal paha Zeline dan seperti mencari-cari sesuatu.
"Ini dimasukin kemana, Zel?" Tanya Gavin setelah memperhatikan milik Zeline yang kini sudah terpampang jelas di hadapannya.
"Tidak usah pura-pura polos begitu, Gavin! Kau pasti tahu harus masuk kemana!" Jawab Zeline sedikit geram.
"Kesini bukan, sih?" Gavin mengarahkan miliknya ke milik Zeline, namun di bibir bagian atas yang tertutupi oleh bulu-bulu halus.
"Hah! Kenapa disitu!" Cicit Zeline yang merasa kaget karena milik Gavin menabrak tulang kem*luannya.
"Eh, iya! Kok nabrak?" Gavin bergumam bingung. Namun Gavin tetap memaksa untuk mendorongnya, hingga Zeline menjerit.
"Kau salah masuk! Bukan di situ!" Geram Zeline sambil sesekali meringis karena milik Gavin yang malah disodok-sodokkan ke dalam milik Zeline yang sebenarnya adalah jalur untuk buang air kecil.
Yang benar saja!
Masa Gavin tidak tahu.
"Lalu yang mana? Yang bawah juga pasti bukan! Itu sepertinya knalpotmu untuk buang angin."
"Bruut!" Gavin menirukan suara kentut Zeline.
"Sialan!" Zeline memukul dada Gavin karena kesal diledek oleh suaminya tersebut.
"Jadi yang mana?" Tanya Gavin lagi pada Zeline.
"Hhhhhh!" Zeline mengusap wajahnya sendiri dan mendadak ingin garuk-garuk tembok kamar saja.
"Bagaimana kalau kau menonton video tutorialnya dulu?" Saran Zeline akhirnya yang sudah habis kesabaran untuk menjelaskan pada Gavin.
"Memang ada tutorialnya?" Tanya Gavin yang kedua matanya sudah membulat dengan lucu.
"Ada! Kemarilah!" Zeline memberikan kode pada Gavin agar berbaring di sebelahnya. Wanita itu lalu meraih ponselnya di atas nakas dan mulai mencari video yang ia maksud.
Zeline men-scroll layar ponselnya naik dan turun, saat Gavin tiba-tiba berceletuk.
"Itu bukannya film porn*? Kau mau mengajakku nonton film porn*? Tanya Gavin seraya merangkul Zeline.
"Ya! Kan kita sudah sama-sama dewasa dan sudah menikah juga! Jadi tak akan ada yang memarahi," jawab Zeline seraya terkekeh.
"Seharusnya kau kirimkan link-nya kemarin! Jadi aku bisa menontonnya dulu dan hari ini kita tinggal praktek," timpak Gavin yang malah menyalahkan Zeline.
"Ck! Kenapa kau tidak mencarinya sendiri lalu menontonnya?" Jawab Zeline geregetan.
"Aku nggak kepikiran kemarin gara-gara flu sialan itu! Lagipula, aku pikir malam pertama dan belah duren itu cuma masuk ke lubang, lalu push up!"
"Aku tidak tahu kalau serumit ini," tutur Gavin beralasan.
Terserah saja! Zeline sedang malas berkomentar.
"Ini! Kamu lihat!" Zeline memutar video berdurasi dua menit empat puluh lima detik yang ia temukan di aplikasi burung bercuit. Tadi Zeline mencari di aplikasi lain tapi tidak ada!
__ADS_1
"Harus seperti itu, ya?" Gumam Gavin yang matanya sudah melotot melihat pemandangan di ponsel Zeline.
"Itu namanya forepl*y!" Ucap Zeline lirih seraya memalingkan wajahnya dan enggan melihat video di layar ponselnya tersebut. Zeline sedikit tersentak, saat tangan Gavin ternyata sudah memainkan ujung gundukan kenyalnya yang sejak yadi Zeline tutupi pakai selimut. Zeline refleks menggeliat.
"Menyenangkan juga," bisik Gavin sebelum kemudian pria itu menggigit cuping telinga Zeline, hingga membuat Zeline jadi merem melek.
"Matikan videonya, Gavin!" Perintah Zeline selanjutnya pada Gavin.
"Sebentar belum selesai! Aku masih penasaran-" suara Gavin tercekat saat pria itu menyaksikan adegan di layar ponsel Zeline. Kedua mata Gavin juga sudah membulat sempurna, hingga wajah pria itu terlihat lucu.
"O...." Bibir Gavin sontak membulat.
"O apa?"
"Ternyata yang itu fungsinya untuk dijilat-jilat! Lihatlah!" Gavin meminta Zeline yang masih memalingkan wajahnya untuk melihat.
Zeline hanya melihatnya sekilas, lalu kembali memalingkan wajahnya.
"Jangan pernah melakukan yang itu!" Zeline memperingatkan Gavin dengan tegas.
"Kenapa? Katamu tadi aku harus belajar f*replay? Lagipula, milikmu tak segondrong yang di video dan juga milikmu lebih gemuk dan berisi," ujar Gavin yang benar-benar membuat Zeline kehilangan kata-kata.
Bisa-bisanya Gavin mengungkapkan hal tersebut secara gamblang dan blak-blakan.
"Tapi itu-" Zeline belum menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba Gavin sudah berpindah posisi.
"Gavin, kau mau apa?" Gertak Zeline saat Gavin tiba-tiba sudah menekuk kedua lututnya, lalu membuka lebar pangkal paha Zeline.
"Mempraktekkan yang tadi aku lihat di video!" Jawab Gavin yang langsung dengan cepat melahap milik Zeline di bawah sana hingga membuat Zeline membelalakkan kedua matanya.
"Gavin, jangan dite-" suara Zeline seketika menjadi tercekat saat ia merasakan lidah Gavin yang mulai menjelajah miliknya di bawah sana. Rasanya geli dan lebih banyak aneh. Zeline bahkan harus menggigit bibir bawahnya saat merasakan sebuah gelenyar aneh yang merambati setiap saraf di dalam tubuhnya.
Kedua tangan Zeline mer*mas sprei dan kakimua refleks menjepit kepala Gavin yang masih berada di tengah-tengah pangkal pahanya.
Dasar gila!
Tapi Zeline juga menikmatinya.
"Ehhhhhmmmm!" Zeline mengerang karena jilatan serta hisapan Gavin yang sepertinya begitu ahli.
"Aaarrrgh!" Zeline memekik kecil saat ia merasakan jari Gavin menerobos masuk ke dalam miliknya yang mungkin sudah basah.
"Yang ini lubangnya?" Tanya Gavin seraya menatap pada Zeline yang masih merem melek menikmati apa yang kini tengah dilakukan oleh Gavin.
"Emmmmhhhh!" Zeline mengerang sekali lagi saat Gavin menggerakkan jarinya perlahan.
"Aku masukin, ya!" Izin Gavin selanjutnya seraya mencabut jari telunjuknya, lalu pria itu ganti mengarahkan tongkatnya ke depan milik Zeline. Gavin menempelkan ujungnya terlebih dahulu, lalu perlahan tapi pasti, Gavin mulai mendorong miliknya agar masuk perlahan.
"Aaaarrrgh!" Zeline meringis saat milik Gavin baru masuk kepalanya saja.
"Ada apa? Sakit?" Tanya Gavin seraya menatap khawatir pada Zeline.
"Lanjutkan saja!" Perintah Zeline sambil sesekali meringis.
"Sempit sekali," gumam Gavin sambil kembali mendorong miliknya untuk masuk.
"Gavin!" Zeline merem*s kuat sprei hingga bentuknya sudah tak karuan dan wanita itu memejamkan matanya menahan rasa perih yang kini menjalari miliknya di bawah sana.
"Baru setengah yang masuk! Milikmu sempit sekali."
"Emmhhh! Emmmmhhhh!" Gavin terus menyentak masuk hingga kemudian ia merasakan kalau miliknya baru saja menabrak dan merobek sesuatu.
"Eh!" Gavin bergumam lalu diam sebentar. Pria itu menatap pada Zeline yang masih memejamkan kedua matanya. Ada butiran bening yang jatuh dari kedua sudut mata Zeline.
"Zeline," panggil Gavin lembut seraya mengusap wajah Zeline yang sudah memerah. Zeline membuka kedua matanya perlahan,lalu menatap Gavin dengan mata yang sydah berkaca-kaca.
"Kau menangis? Apa rasanya sakit sekali?" Tanya Gavin cemas dan Zeline langsung menggeleng.
"Hanya sedikit perih," jawab Zeline lirih.
"Apa sudah masuk semua?" Tanya Zeline lagi seraya menggenggam tangan Gavin yang masih berada di wajahnya.
"Baru tiga perempat. Tapi sepertinya sudah mentok. Aku menabrak sesuatu tadi." Lapor Gavin seraya mengendikkan kedua bahunya.
"Kau merobek selaput daraku!" Jawab Zeline sedikit kesal. Masa iya hal seperti itu Gavin juga tak paham!
"Benarkah? Kau masih perawan? Dan aku yang merobeknya?" Gavin tiba-tiba sudah ganti bersorak senang.
"Apa maksudnya bertanya seperti itu? Kau kira aku sudah jebol sebelum menikah denganmu? Dasar kurang ajar!!!" Geram Zeline yang sekarang benar-benar kesal pada Gavin.
"Aku tak mengatakan itu! Aku hanya tak menyangka saja akan langsung merobek keperawananmu hanya dengan sekali tusuk!"
"Juss!"Gavin menyentak sekali lagi hingga Zeline sedikit terlonjak.
"Aku rasa sudah masuk semua!" Ujar Gavin seraya melihat ke bawah atau tepatnya ke arah miliknya yang sudah hilang dan tenggelam karena dilahap oleh milik Zeline.
"Milikku sudah hilang kau makan!" Lapor Gavin sekali lagi.
"Mau lihat?" Tanya Gavin seraya menaik turunkan alisnya ke arah Zeline yang hanya bisa menepuk keningnya sendiri.
Mimpi apa, Zeline bisa punya suami ajaib bin aneh begini?
.
.
.
Beklah udah jebol ðĪŠð ð
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.