Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
PULAU ASING


__ADS_3

"Ssstt!"


"Zeline!" Gavin mengguncang tubuh Zeline yang masih tergeletak di atas pasir pantai.


"Zeline!" Panggil Gavin sekali lagi karena Zeline yang tak kunjung membuka matanya. Jangan bilang kalau gadis yang mengaku sebagai bos di kantornya ini sudah mati!


Oh, tidak!


"Zeline! Bangunlah!" Gavin mengguncang tubuh Zeline sekali lagi, lalu pemuda itu juga memeriksa nafas Zeline. Gavin bahkan meletakkan kepalanya di dada Zeline demi mendengarkan detak jantung gadis itu. Apa masih ada atau sudah hanyut terbawa ombak?


Deg! Deg!


Baru juga Gavin mendengar detak jantung Zeline dua kali, kepala Gavin sudah terasa melayang bersamaan dengan tubuhnya yang tersungkur ke atas pasir pantai. Langsung terdengar umpatan serta makian dari Zeline.


"Dasar brengsek! Kau sedang cari-cari kesempatan, hah?" Maki Zeline yang sudah bangun dan duduk. Gadis itu juga berkacak pinggang pada Gavin yang masih tersungkur.


"Bluuuurrrb!" Gavin akhirnya bangun seraya menyemburkan pasir yang memenuhi mulutnya. Perasaan Gavin sial sekali hari ini. Sudah speedboat diterjang ombak, sekarang malah tersungkur ke atas pasir karena ingin menyelamatkan seorang gadis.


"Aku sedang memastikan apa kau masih hidup atau sudah...." Gavin membuat garis horizontal di lehernya, lalu lidah pemuda itu keluar dan kepalanya sedikit miring ke kiri. Ekspresi wajah Gavin benar-benar mirip zombie sekarang.


"Brengsek! Aku masih hidup!" Seru Zeline geregetan seraya melempar segenggam pasir ke arah Zeline.


"Dan aku tak akan memberikanmu tip karena kau hampir membuatku tenggelam!" Lanjut Zeline lagi mengancam Gavin.


"Kenapa menyalahkan aku? Ombak besar dan badai itu diluar kendaliku! Aku bukan pawang hujan, pawang badai, ataupun pawang ombak!" Sergah Gavin merasa tak terima.


"Tapi seharusnya kau bisa memprediksinya!" Zeline tetap keras kepala.


"Kau pikir aku peramal cuaca? Kenapa juga kau tadi tak melihat berita sebelum kita pergi agar kau bisa memberitahuku kalau akan ada badai di tengah laut!" Gavin balik menyalahkan Zeline.


"Kenapa kau malah menyalahkan aku?" Zeline kembali melempar segenggam pasir ke arah Gavin.


"Kau juga menyalahkan aku sejak tadi!" Gavin membalas perbuatan Zelin dan balik melemparkan segenggam pasir ke arah gadis itu.


"Kenapa kau melempari aku pasir!" Zeline melempar segenggam pasir lagi ke arah Gavin.


"Kau itu yang mulai duluan!"


"Iih! Rasakan ini! Rasakan! Rasakan!" Zeline semakin membabi buta saat melemparkan pasir ke arah Gavin dan kini dua orang tersebut sudah sama-sama bermandikan pasir pantai.


"Kau menyebalkan!" Maki Zeline yang masih merasa kesal pada Gavin. Gadis itu lalu bangkit berdiri dan mengeluarkan pasir-pasir yang ikut masuk ke dalam bajunya. Gavin yang melihat hal tersebut sontak tergelak.


"Ada apa? Pasirnya masuk ke sela-sela?" Ledek Gavin semakin tergelak.

__ADS_1


"Kau meledekku!" Zeline refleks menerjang Gavin, lalu menindih pemuda itu dengan barbar hingga Gavin memekik keras.


"Aaarrgh! Punggungku!" Ringis Gavin yang sekarang ganti membuat Zeline tertawa puas.


"Enak, kan?"


"Rasakan ini! Rasakan!" Zeline semakin barbar menindih Gavin hingga pemuda itu tak berhenti mengaduh.


"Zeline! Ampuun!"


"Aku minta maaf!" Teriak Gavin memohon ampun.


"Punggungku patah," keluh Gavin lagi seraya meringis. Zeline yang merasa iba akhirnya turuh dari atas tubuh Gavin dan berhenti menindih pemuda tersebut.


Zeline sudah bangkit berdiri dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat mereka berada.


"Kau tahu kita di pulau apa?" Tanya Zeline yang sedikit merasa aneh pada pulau ini. Tak ada satupun rumah sepanjang mata melihat dan tak ada manusia juga di sekitar pantai.


Seperti Pantai mati atau pantai tanpa penghuni.


Atau jangan-jangan.....


"Aku tidak tahu!" Jawab Gavin yang sudah bangkit berdiri, namun masih saja memegangi pinggang serta punggungnya.


"Aku tak tahu!" Jawab Gavin lagi.


"Bisakan kau menjawab dengan jawaban lain selain tidak tahu?" Sergah Zeline yang kembali emosi pada Gavin.


"Aku benar-benar tidak tahu! Lalu aku harus menjawab apa?" Jawab Gavin ikut-ikutan merasa kesal. Kesal pada Zeline yang bawel dan kesal karena Zeline baru saja menindihnya dengan barbar hingga punggung Gavin sakit sekali.


"Tapi kau tour guide di kepulauan ini! Jadi seharusnya kau hafal nama-nama pulau di gugus kepulauan ini!" Zeline kembali merasa geregetan pada Gavin.


"Beberapa pulau yang tak berpenghuni memang belum diberi nama. Mungkin kau bisa memberikan nama pulau Zeline pada pulau ini!" Cerocos Gavin memberikan ide pada Zeline.


"Maksudnya tak berpenghuni? Tak ada manusia di pulau ini?" Cecar Zeline yang mendadak heboh dan lebay.


"Tentu saja ada! Kau manusia dan aku juga manusia! Bagaimana kau bisa lupa?" Sahut Gavin seraya geleng-geleng kepala.


"Manusia selain kita maksudku!" Geram Zeline pada Gavin.


"Aku tidak tahu kalau soal itu. Mungkin kita bisa mencari tahu ke sisi lain pulau." Gavin kembali memberikan ide dan Zeline hanya berdecak.


"Lalu speedboat-mu di mana? Tas dan semua barangku ada di atas speedboat bodohmu itu-"

__ADS_1


"Hey!" Gavin memotong kalimat Zeline seraya menuding pada gadis itu.


"Jangan menyebut speedboat-ku bodoh!" Gavin memperingatkan Zeline.


"Speedboat-mu dimana?" Zeline mengulangi pertanyaannya setelah gadis itu menghentakkan kakinya berulang kali karena merasa kesal.


"Aku tidak tahu," Gavin mengendikkan bahu tanpa dosa.


"Tidak tahu? Lalu bagaimana kita akan pulang, Gavin?" Zeline merasa semakin sebal, geregetan, geram, kesal, sekaligus jengkel pada Gavin. Ingin rasanya Zeline menendang pemuda menyebalkan di depannya ini dari pulau. Lalu Zeline akan tinggal sendirian disini.


Oh, tidak!


"Bagaimana kita akan pulang? Kita tak mungkin selamanya terjebak di pulau ini, kan?" Zeline bertanya sekali lagi pada Gavin dan gadis itu mulai parno tak jelas.


"Bagaimana kita akan pulang? Tentu saja kita harus menunggu ada kapal atau helikopter yang lewat, lalu kita bisa membuat tanda SOS besar agar kita diselamatkan," ujar Gavin panjang lebar memaparkan pada Zeline yang langsung melongo.


"Kalau tidak ada helikopter atau kapal yang lewat bagaimana?" Tanya Zeline yang sepertinya tingkat ke-parno-annya memang setinggi bintang di angkasa.


"Ya, berarti takdir kita memang tinggal di pulau ini. Mungkin kita bisa membuat peradaban baru disini. Kita menikah lalu berkembang biak dan mencetak populasi baru," Cerocos Gavin panjang lebar yang langsung membuat Zeline menganga tak percaya.


"Kita? Menikah? Sepertinya kau sedang mabuk karena terlalu banyak menelan air laut!" Zeline memutar bola matanya dengan malas. Gavin sontak tertawa terbahak-bahak dengan penolakan Zeline yang blak-blakan tersebut.


"Apa yang lucu? Kenapa tertawa seperti orang gila begitu?" Gertak Zeline yang mulai kesal pada Gavin.


"Kau!" Jawab Gavin yang masih saja tergelak.


"Aku? Lucu? Kau pikir aku badut, hah?" Zeline sontak kembali menerjang Gavin dan menindih pemuda itu dengan barbar.


"Dasar tour guide menyebalkan tak tahu diri!"


Bugh! Bugh!


"Auuuw! Punggungku!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2