Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
HAMILI AKU!


__ADS_3

"Yakin tidak mau membawa supir?" Tanya Mami Thalita sekali lagi, saat Gavin dan Zeline hendak berangkat. Mami kandung Zeline itu terlihat khawatir karena Gavin yang jalannya sedikit aneh pagi ini.


Kata Gavin, tadi dia kepleset di kamar mandi dan kaki serta punggungnya sedikit sakit. Makanya jalannya aneh.


Mungkin maksudnya kepleset cinta Zeline lalu lanjut kena smack down cinta dari Zeline yang rasanya benar-benar luar biasa!


"Tidak usah, Mi! Gavin bisa kok mengemudi sampai rumah Bunda," jawab Gavin bersungguh-sungguh.


"Nanti kami akan gantian mengemudi, Mi!" Timpal Zeline ikut-ikutan meyakinkan Mami Thalita.


"Baiklah, kalau begitu! Nanti langsung cari hotel atau penginapan kalau sudah lelah dan jangan memaksa untuk terus mengemudi jika memang sudah mengantuk," pesan Mami Thalita sekali lagi pada putri dan menantunya tersebut.


"Siap, Mi!" Jawab Gavin dan Zeline berbarengan. Setelah semua tas masuk ke dalam bagasi mobil, Gavin segera menutup pintu bagasi, lalu berpamitan sekali lagi pada Mami Thalita.


Tak berselang lama, mobil yang membawa Zeline dan Gavin sudah melaju pergi meninggalkan kedua Abraham.


"Kita mampir sebentar ke rumah Opa untuk pamitan, ya!" Usul Gavin setelah mobil melaju meninggalkan kediaman Abraham.


"Pamitan saja? Tidak mampir untuk yang lain?" Tanya Zeline seraya mengerling nakal pada Gavin.


"Yang lain apa? Minta makanan?" Tanya Gavin bingung.


"Bukan itu!" Zeline mencubit manja pinggang Gavin.


"Auuw! Geli, Sayang!" Gavin ganti mengacak rambut Zeline dengan satu tangannya. Tangan Gavin yang lain sedang fokus pada kemudi.


"Yang lain ini maksudnya!" Zeline tiba-tiba sudah meraih tangan Gavin yang tadi mengacak rambutnya, lalu Zeline mulai memasukkannya ke dalam mulut. Zeline seolah sedang memberikan kode pada Gavin.


Oh, astaga!


Kenapa isi kepala Zeline selalu hal-hal tentang ranjang dan bercinta?


"Seperti ini," ujar Zeline lagi yang kini sudah ganti mengulum jemari Gavin. Lalu juga menggerakkannya keluar dan masuk ke dalam mulut Zeline yang begitu hangat.


"Sayang, aku sedang mengemudi." Gavin mulai hilang konsentrasi sekarang.


"Menepi saja sebentar!" Ujar Zeline enteng.


"Ck! Rumah Opa hanya tinggal beberapa blok!"


"Lepaskan tanganku!" Pinta Gavin memohon. Gavin akan gila lama-lama jika setiap hari, setiap detik dan setiap waktu diperlakukan Zeline seperti ini. Bisa-bisa, Gavin dan Zeline hanya akan berada di atas ranjang sepanjang hari dan tak berhenti bercinta hingga pangkal paha mereka sama-sama lecet!


Ya ampun!


"Baiklah!" Zeline meraih tisu di atas dashboard untuk mengelap tangan Gavin, sebelum akhirnya wanita itu melepaskan tangan Gavin.


"Fiiuuh!" Gavin menghela nafas lega dan kembali berkonsentrasi pada jalan di depannya. Gavin dan Zeline akan mampir sebentar ke rumah Opa Theo sebelum lanjut pulang ke rumah Bunda Vale.


****


Setelah menempuh perjalanan dua hari satu malam, Zeline dan Gavin akan tuba di rumah kedua orang tua Gavin. Jangan tanya kenapa perjalanannya jadi selama itu! Zeline dan Gavin memamg mampir ke beberapa tempat wisata yang mereka lalui, dan mereka juga mampir menginap di hotel semalaman untuk istirahat.


Istirahat sambil bercinta tentu saja!

__ADS_1


Bukankah pengantin baru butuh asupan?


"Bunda!" Zeline langsung mrnghambur ke pelukan Bunda Vale, begitu istri Gavin itu keluar dari mobil.


"Mampir kemana saja? Kenapa sampai dua hari di jalan?" Tanya Bunda Vale seraya memindai Zeline dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Mampir kemana-mana, Bund! Kan sedang honeymoon!" Jawab Zeline dengan wajah ceria.


Sementara Gavin yang baru menyusul turun, berjalan dengan sedikit terseok dan ikut menghampiri Bunda Vale.


"Kamu kenapa, Vin? Kok jalannya pincang begitu?" Tanya Bunda Vale khawatir.


"Terlalu lama mengemudi sepertinya, Bund! Besok pulang Gavin akan naik pesawat saja," jawab Gavin yang lanjut menaiki tangga. Gavin ingin segera merebahkan tubuhnya yang terasa remuk redam ke atas kasurnya.


Tadi pagi sebelum keluar dari hotel, Zeline memang menunggangi Gavin selama dua jam lamanya. Dan sekarang, milik Gavin terasa pegal sekali. Belum lagi benih-benih ketampanan Gavin yang sepertinya juga sudah terkuras habis dan hanya tinggal ampasnya saja.


Bagaimana tak habis, jika semalaman Zeline tak mau berhenti hingga membuat Gavin berkali-kali mencapai pelepasan dan menyemburkan benih ketampanannya ke dalam rahim Zeline. Kalau semua benih Gavin jadi, kira-kira Zeline akan hamil kembar berapa, ya?


Ya ampun! Gavin tak bisa membayangkannya sekarang!


Mungkin ini juga efek dari Zeline yang telat nikah, hingga wanita itu jadi liar, begitu merasakan kenikmatan hubungan ranjang.


"Kamu istirahat juga ke dalam sana!" Titah Bunda Vale yang sudah selesai mekepas rindu pada Zeline. Gavin sendiri sudah tqk terlihat batang hidungnya karena sudah langsung menghilang ke dalam rumah.


"Ayah sedang di toko, ya, Bunda?" Tanya Zeline yang sejak datang tak melihat keberadaan ayah Arga.


"Ayah sedang ke kafe tadi."


"Besok rencananya kita akan sama-sama ke rumah Vaia dan suaminya untuk menengok bayi Vaia-"


"Laki-laki," jawab Bunda Vale dengan wajah berbinar. Sepertinya Bunda mertua Zeline ini bahagia sekali. Hal yang wajar sebenarnya mengingat ini adalah cucu pertama Bunda Vale dan Ayah Arga.


"Gretha juga bulan depan HPL-nya," cerita Zeline pada Bunda Vale.


"Kalau Joanna, kandungnya baru masuk empat bulan." Bunda Vale ikut-ikutan bercerita.


"Semoga setelah ini kamu juga akan secepatnya menyusul, ya!" lanjut Bunda Vale seraya mengusap perut Zeline yang saat ini hanya berisi makanan serta timbunan lemak.


"Aamiin!" Jawab Zeline yang langsung dengan cepat mengaminkan. Zeline memang berniat untuk kejar target hamil secepatnya, karena usianya yang beberapa bulan lagi sudah masuk kepala tiga.


Kalau perlu, setelah lahiran anak pertama, Zeline akan langsung promil anak kedua nanti. Itulah alasan lain Zeline selalu liar di atas ranjang hingga kadang Gavin terlihat kewalahan.


Tapi siapa peduli?


Zeline sudah terlanjut kecanduan dengan yang namanya hubungan ranjang dan Zeline juga ingin secepatnya dihamili oleh Gavin!


"Istirahat sana!" Titah Bunda Vale sekali lagi.


"Baik, Bunda!" Jawab Zeline yang langsung bergegas masuk ke rumah. Zeline langsung menuju ke kamar Gavin, dan saat wanita itu membuka pintu, Zeline langsung terperangah, karena kamar Gavin yabg kini penuh bunga-bunga dan sepertinya sengaja dihias oleh Bunda Vale untuk menyambut Zeline dan Gavin.


"Wow! Bunda perhatian sekali!" Gumam Zeline senang. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar, hingga kemudian pandangan Zeline terhenti di ranjang, dimana ada Gavin yang sedang berbaring telentang.


Zeline segera menutup pintu kamar dan menguncinya, lalu wanita itu juga melepaskan jaket dan bajunya yang lain dengan sedikit tergesa. Zeline yang kini hanya tinggal mengenakan bra serta underwear, langsung menghampiri Gavin yang masih berbaring telentang seraya memejamkan mata. Zeline tersenyum sendiri melihat wajah Gavin yang sepertinya sedang pura-pura tidur.

__ADS_1


Dan seolah tak ingin membuang waktu, Zeline langsung melompat naik ke atas ranjang atau lebih tepatnya ke atas Gavin yang sedang enak-enak tidur, hingga membuat Gavin menjerit keras karena kaget dan karena ia di smack down oleh Zeline.


"Waduuuh!!!" Jerit Gavin keras.


"Ck! Kenapa teriak-teriak?" Omel Zeline yang langsung membungkam mulut Gavin dengan telapak tangannya.


"Kau sedang apa, Zel? Kenapa tak pakai baju dan mendudukiku begini?" Tanya Gavin masih sambil meringis karena ditindih Zeline raksasa.


"Hamili aku!" Perintah Zeline seraya menarik kerah kaus Gavin.


"Apa?"


"Hamili aku, cepat!" Zeline mengulangi perintahnya.


"Hamili bagaimana? Tadi malam kita sudah bercinta sampai pagi sampai stok benih ketampananku habis!"


"Jadi bulan depan kau pasti sudah hamil!" Ujar Gavin dengan nada santai.


"Kau yakin sudah menembak di tempat yang benar?" Tanya Zeline yang masih mencengkeram kerah kaus Gavin.


"Iya, aku yakin! Lubangnya saja hanya ada satu! Bagaimana ceritanya aku bisa salah tembak!" jawab Gavin penuh keyakinan.


"Baiklah, aku percaya!" Tukas Zeline akhirnya.


"Silahkan turun kalau kau sudah percaya. Dan pakai bajumu agar tidak masuk angin!" Ujar Gavin selanjutnya seraya merem*s sedikit dada Zeline yang masih tertutup bra. Gavin mendadak merasa gemas.


"Ouuuh!"


Namun, bukannya turun, Zeline malah melenguh saat Gavin masih merem*s payud*ranya.


"Enak, Sayang!" Zeline membuka pengait branya dan langsung mengeluarkan bongkahan kenyal miliknya.


"Kenapa malah buka bra?" Tanya Gavin tak mengerti.


"Agar bisa kamu mainin!" Jawab Zeline dengan nada nakal menggoda.


"Ya ampun!" Gavin benar-benar ingin garuk-garuk tembok sekarang.


"Ada apa, memang? Kau tak suka?" Zeline sudah berubah merengut.


"Suka!" Sergah Gavin cepat. Tangan Gavin semakin intens merem*s dada Zeline.


"Aku menyukainya," Gavin sudah ganti melahap kedua gundukan Zeline yang kini menggantung dan terlihat semakin menggiurkan.


Dan yang selanjutnya terjadi adalah Gavin yang akhirnya tak jadi istirahat, karena ia sibuk membuat Zeline hamil.


Semoga bulan depan Zeline sudah benar-benar hamil!


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2