
"Terima kasih karena sudah menjaga Zeline selama kalian terdampar di pulau asing, Gavin!"
"Zeline pasti banyak merepotkan-"
"Zeline gadis yang ceria dan menyenangkan, Om," Sergah Gavin menyela.
"Dia tak sedikitpun merengek atau menangis meskipun kami tersesat dan harus makan seadanya disana."
"Zeline bahkan selalu menghargai makanan apapun yang kami peroleh di pulau dan menikmatinya dengan lahap," cerita Gavin panjang lebar pada Papi Zayn yang langsung mengulas senyum tipis.
"Syukurlah kalau begitu."
"Zeline sebenarnya memang gadis yang ceria dan apa adanya. Hanya saja belakangan ini dia sedikit kacau setelah pria brengsek bernama-"
"Armando?" Gavin menyela dan Papi Zayn langsung mengernyit.
"Zeline sudah cerita?"
"Ya! Zeline sudah cerita semua tentang pacarnya yang brengsek yang katanya sudah menipunya habis-habisan," ujat Gavin dengan sedikit lebay.
"Lima tahun mereka berpacaran, lalu putus begitu saja karena Armando berkhianat dan menipu Zeline." Papi Zayn menghela nafas.
"Seharusnya Zeline sudah menikah dengan seorang pria baik yang mencintainya dan menerima dia apa adanya. Tapi entahlah."
"Zeline selalu saja menghindar atau mengalihkan pembicaraan setiap ada yang membahas tentang pernikahan." Papi Zayn ganti menerawang.
"Zeline pasti akan menemukan pria yang memang benar-benar mencintainya, Om Zayn!" Ucap Gavin positif thinking.
"Ya, semoga saja!" Papi Zayn mengangguk.
"Gavin pergi sekarang, Om Zayn! Kapalnya akan segera berangkat," pamit Gavin sekali lagi pada Papi Zayn, sebelum kemudian pemuda itu naik ke atas speedboat yang akan membawanya pulang ke rumah Ayah dan Bunda.
Sengaja Gavin tak berpamitan pada Zeline, karena mungkin gadis itu juga belum bangun sekarang.
"Bye, Sepupu! Semoga lain kali kita bisa bertemu lagi!" Gumam Gavin bersamaan dengan speedboat yang akhirnya melaju meninggalkan dermaga.
****
"Kita pulang hari ini, Pi?" Tanya Zeline seraya menikmati sarapannya. Zeline sesekali akan melempar pandangannya saat ada pelayan resort atau siapapun yang berlalu lalang di dekatnya. Zeline seperti sedang mencari seseorang.
"Papi ada urusan yang sebenarnya sudah terpending selama beberapa hari kemarin karena Papi harus kesini dan memastikan keadaanmu."
"Jadi,mau tak mau kita harus pulang sekarang," jawab Papi Zayn panjang lebar.
"Zeline juga banyak pekerjaan karena-" Zeline tak jadi melanjutkan kalimatnya saat gadis itu melihat seorang pria mengenakan kemeja pantai kuning cerah sedang berdiri membelakangi tempat Zeline duduk.
"Berbalik! Aku disini!"
"Ganggu aku!" Zeline bergumam sendiri masih sembari menatap pada pria berkemeja kuning cerah tadi.
"Zeline," tegur Papi Zayn karena Zeline yang malah memperhatikan ke arah lain saat diajak bicara serius.
"Eh, iya, Pi! Pekerjaan Zeline juga masih banyak-"
"Yeay!" Zeline sudah bersorak saat pria berkemeja kuning tadi berbalik, dan ternyata itu bukan Gavin melainkan hanya seorang wisatawan asing yang kulitnya sama-sama hitam seperti Gavin.
Sial!
__ADS_1
"Zeline, kau sedang bergumam apa?" Tegur Papi Zayn yang langsung membuat Zeline tergagap dan salah tingkah.
"Iya, Pi! Bagaimana tadi? Kita pulang hari ini?"
"Zeline akan cari souvenir dulu untuk Mami!" Zeline sudah bangkit dari duduknya sebelum Papi Zayn sempat menjawab.
"Zeline!"
"Bye! Nanti Zeline akan kembali tepat waktu sebelum speedboat berangkat!" Pamit Zeline seraya berseru dan meninggalkan Papi Zayn begitu saja. Ada apa sebenarnya dengan Zeline?
****
"Gavin!" Zeline mengetuk pintu pondok tempat Gavin menginap.
Ya, meskipun Zeline sempat tersasar di pulau ini beberapa hari yang lalu, tapi kalau jalan ke pondok Gavin, tentu saja Zeline masih ingat.
"Gavin, buka pintunya aku mau bicara!" Zeline mengetuk lebih keras dan mulai kesal sekarang saat akhirnya pintu dibuka dari dalam.
"Gavin-"
Zeline beringsut mundur dan tak jadi mengomel, saat gadis itu mendapati seorang gadis yang hanya mengenakan handuk berdiri di belakang pintu.
Apa?
Siapa gadis ini?
"Maaf, mencari siapa?" Tanya gadis itu pada Zeline yang langsung tergagap dan kehilangan kata-kata.
"Siapa, Sayang?" Tanya seseorang dari dalam pondok.
Tunggu!
Bukankah ini pondok tempat Gavin menginap, jadi pria di dalam itu pastilah Gavin, meskipun suaranya tak mirip.
"Nona, Halo! Kau mencari siapa?" Tanya gadis yang hanya berbalut handuk itu lagi pada Zeline.
"A-aku mencari pria yang menyewa pondok ini," jawab Zeline tergagap.
"Pacarku?" tanya gadis itu yang tentu saja langsung membuat Zeline kaget.
Pacar?
Gadis ini pacarnya Gavin begitu?
Tapi bukankah kata Gavin kemarin, dia masih jomblo?
"Sesama jomblo, harus saling mendukung!"
"Sayang, siapa yang datang? Kenapa lama sekali?" Tanya pria yang tadi hanya terdengar suaranya saja. Pria itu kini sudah menampakkan wujudnya, dan Zeline sangat yakin kalau itu bukan Gavin, kecuali Gavin memang sedang menyamar memakai topeng atau pria itu baru saja melakukan operasi plastik?
Tapi sejak kapan Gavin kepalanya botak dan kulitnya jadi putih bersih, serta wajahnya penuh brewok.
Baiklah!
Ini bukan Gavin!
"Kalian siapa? Kenapa berada di pondok teman saya?" Tanya Zeline akhirnya pada dua penghuni pondok tersebut.
__ADS_1
"Maaf, tapi kami baru menyewa pondok ini semalam, dan saat kami datang, pondok sudah kosong," terang si gadis, maksud Zeline si wanita berhanduk.
"Kosong? Apa maksudnya kosong?"
"Teman saya menyewa pondok ini beberapa hari yang lalu jadi tak mungkin-" suara Zeline tercekat saat mendadak Zeline ingat pada ucapan terakhir Gavin saat keluar dari kamarnya kemarin.
"Baiklah, aku pergi!"
"Selamat siang, Zeline!"
Tidak!
Gavin mengucapkan selamat siang dan bukan selamat tinggal! Jadi pasti Gavin belum pergi dari pulau ini!
Gavin juga belum pamit pada Zeline dan meminta tip-nya! Jadi tak mungkin pemuda menyebalkan itu sudah pergi begitu saja, kan?"
"Apa ada yang bisa kami bantu lagi, Nona?" Tanya si wanita berhanduk yang langsung membuat lamunan Zeline buyar.
"Tidak ada, terima kasih!"
"Maaf mengganggu waktu kalian, dan selamat pagi," pamit Zeline akhirnya seraya berbalik, lalu pergi dari pondok tersebut.
Kepala Zeline masih penuh dengan pertanyaan, dimana Gavin sekarang?
****
Zeline turun dari taksi yang mengantar ia dan Papi Zayn dari dermaga ke bandara kota. Gadis itu menyeret kopernya dengan raut wajah lesu, tanpa menunggu Papi Zayn yang masih membayar taksi.
"Zel!" Panggil Papi Zayn yang akhirnya berhasil menyusul langkah Zeline.
"Rumah Tante Vale dan Om Arga di kota ini juga. Hanya agak jauh dari bandara kota, karena rumah mereka dekat pesisir," cerita Papi Zayn yang hanya ditanggapi Zeline dengan raut datar.
"Papi bertemu Gavin pagi ini?" Tanya Zeline yang akhirnya tak tahan lagi untuk tak bertanya. Tapi misalkan Papi Zayn curiga, Zeline akan memakai alasan karena Gavin adalah sepupu Zeline, makanya Zeline merasa khawatir karena Gavin mendadak hilang dari pondoknya.
"Ya, Gavin menemui Papi dini hari menjelang subuh tadi. Dia pulang pagi-pagi karena kapal yang berangkat memang pagi-pagi sekali." Terang Papi Zayn yang langsung membuat Zeline menghentikan langkahnya.
"Jadi maksudnya, Gavin sudah menyeberang juga ke daratan dan sudah pulang?" Tanya Zeline dengan nada bicara yang meninggi.
"Iya, benar! Kenapa kau mendadak emosi begitu? Apa ada barangmu yang terbawa oleh Gavin? Nanti Papi akan menelepon Tante Vale agar barangmu dikirim lewat pos saja!"
"Kita sudah terlambat untuk check in! Ayo!" Ajak Papi Zayn tergesa seraya mengambil alih koper Zeline. Papi kandung Zeline itu segera berlari ke konter check in dan Zeline hanya mengekori sang papi sambil tak berhenti menggerutu serta memaki Gavin dalam hati.
Keterlaluan kamu, Gavin!
Kenapa pulang tanpa pamit seperti itu?
.
.
.
Makanya kalau lagi deket jangan digalakin melulu!
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1