Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
KEMEJA


__ADS_3

"Kak-"


"Sakya! Kamu itu kalau nggak niat nyariin aku tiket liburan ya nggak usah nyariin!"


"Sok-sokan booking-in kamar di resort, tapi pas tengah malam aku datang,kamar penuh! Malam-malam aku kqyak gelandangan!" Zeline langsung bercerocos panjang lebar sebelum Sakya sempat menyelesaikan sapaannya.


"Iya, Sakya minta maaf, Kak! Sakya juga baru terima pesannya tadi. Trus uangnya tiba-tiba di refund. Semalaman Sakya nggak buka ponsel."


"Iyalah nggak buka ponsel! Pasti sibuk main kuda-kudaan sama Gretha!"cibir Zeline tetap dengan nada ketus. Langsung terdengar kekehan Sakya dari ujung telepon.


"Trus sekarang kak Zeline nginep dimana? Udah dapat resort pengganti? Tadi Sakya langsung konfirmasi dan katanya pihak resort sudah memberikan kakak kamar di resort kedua."


"Iya! Tapi letaknya di pulau yang berbeda. Tengah malam terpaksa naik speedboat. Masih bagus aku nggak masuk angin!" Zeline kembali bercerocos pada sang adik. Gadis itu melempar pandangannya ke laut yang biru dengan ombak bergulung-gulung. Terlihat beberapa peselancar sedang bermain di atas ombqk dengan begitu lihai.


Wow! Menarik sekali!


"Kan jadi dapat pengalaman baru, Kak!"


"Ck! Udah ah! Aku mau keliling pulau dulu mumpung dapat fasilitas tour guide gratis dari resort," pungkas Zeline yang langsung mematikan telepon dari Sakya begitu saja. Zeline segera mengambil sunglasses dan topi pantainya, lalu keluar dari kamar resort. Gadis itu akan melihat para peselancar tadi di pantai sebelum pergi bersama tour guide yang tadi menemuinya, Gavin!


Namanya seperti tidak asing dan Zeline seperti pernah mendengarnya.


Tapi dimana?


Entahlah! Zeline tak ingat!


****


"Sekarang jam berapa?" Tanya Gavin pada seorang rekannya,masih dengan tubuh yang basah. Pria itu juga membawa papan selancar di tangan kanannya.


"Jam setengah sepuluh. Kau ada janji dengan seseorang?"


"Yap! Aku akan bersiap-siap dulu-" Gavin tak melanjutkan kalimatnya saat ia melihat Zeline dengan kaca mata hitam serta topi pantainya sedang berdiri di bibir pantai seraya melohat para peselancar yang sedang menjajal ombak. Gavin bergegas menghampiri gadis tersebut.


"Zeline!" Panggil Gavin yang langsung membuat Zeline menoleh ke kanan lalu ke kiri lalu le kanan lagi. Sudah seperti ayam habis ditempeleng saja!


"Oh, hai!" Zeline akhirnya membuka kaca mata hitamnya saat melihat Gavin dan menyadari kalau yang tadi memanggilnya adalah pemuda dengan papan selancar tersebut.


"Kau, kenapa bawa-bawa papan selancar? Bisa memakainya memang?" Tanya Zeline penasaran.


"Ya! Aku juga melatih beberapa wisatawan yang ingin belajar berselancar. Kau mau mendaftar?" Tawar Gavin entah sedang pamer atau sedang promosi.


"Tidak! Terima kasih!" Tolak Zeline cepat.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, kau jadi mengantarku berkeliling, kan?" Tanya Zeline selanjutnya pada Gavin yang masih terkekeh. Apa juga yang lucu?


"Ya! Aku akan ganti baju sebentar," tukas Gavin seraya meninggalkan Zeline yang kembali memakai kacamata hitamnya. Zeline mengekori Gavin yang entah akan kemana.


"Kau tinggal di pulau ini?" Tanya Zeline yang langsung membuat Gavin menghentikan langkah secara tiba-tiba hingga Zeline menubruk ujung papan selancar Gavin.


"Aduh!" Zeline mengaduh.


"Kenapa?" Tanya Gavin heran.


"Nyalakan hazard saat berhenti tiba-tiba!" Omel Zeline pada Gavin yang langsung mengernyit.


"Papan selancar tak punya hazard!" Gavin meletakkan telunjuknya di kening dan mekbuat satu garis miring, pertanda pemida itu sedang memberikan kode sinting pada Zeline.


Sialan!


"Kau mengejekku?" Tanya Zeline dengan nada galak pada Gavin.


"Siapa? Aku? Sama sekali tidak!" Kilah Gavin cepat.


"Tadi kau tanya apa?" Gavin mengalihkan pembicaraan.


"Kau tinggal di pulau ini?" Zeline mengulangi pertanyaannya.


Gavin kembali melanjutkan langkahnya masih sambil membawa papan selancar bermotif pantai serta matahari sunset. Dan Zeline tetap mengekori pemuda tersebut hingga akhirnya Gavin masuk ke sebuah pondok di dekat pantai.


"Kau kenapa mengekoriku? Mau melihatku ganti baju?" Tanya Gavin setelah pemuda itu meletakkan papan selancarnya.


"Tidak!" Sanggah Zeline cepat. Gadis itu lalu bersedekap.


"Aku kan sedang menunggumu, yang katanya tadi mau menjadi tour guide dan mengajakku berkeliling," ujar Zeline lagi memberikan alasan.


"Kau bisa menungguku di pantai, atau kau bisa membeli minuman dulu!" Gavin menunjuk ke deretan kedai minuman di sepanjang pantai. Ada berbagai jenis minuman yang ditawarkan namun paling banyak tetap saja kelapa muda.


"Nanti aku pasti mencari dan menjemputmu! Jadi tak perlu khawatir aku akan mangkir atau kabur!" Cerocos Gavin lagi yang hanya membuat Zeline berdecak. Wanita itu akhirnya balik kanan dan pergi ke salah satu kedai penjual kelapa muda.


"Dasar gadis aneh!" Gumam Gavin sebelum pemuda itu masuk ke dalam pondoknya untuk membersihkan diri sekaligus berganti baju.


****


Zeline masih menyesap jes kelapa mudanya, sembari melihat ombak laut yang bergulung-gulung serta beberapa peselancar yang masih asyik menjajal ombak, saat seorang pemuda berkulit eksotis yang mengenakan kemeja pantai warna kuning cerah berjalan menghampirinya.


Astaga!

__ADS_1


Apa pemuda menyebalkan itu tak punya kemeja warna lain?


Kenapa harus kuning cerah di siang yang silau begini?


Mau membuat Zeline sakit mata?


"Sudah selesai minum kelapa mudanya?" Sapa Gavin seraya melepaskan kacamata hitamnya. Sudah kulit hitam masih pakai kacamata hitam tapi bajunya kuning cerah!


Maksudnya apa, coba?


"Kau tidak punya kemeja pantai warna lain?" Tanya Zeline to the point.


"Warna lain? Apa yang ini warnanya kurang cerah?" Gavin balik bertanya pada Zeline seraya memamerkan kemeja noraknya.


"Amat sangat cerah hingga membuat mataku nyaris buta!" Jawab Zeline geregetan.


"Bagus! Jadi nanti saat kita terpisah, kau akan bisa dengan mudah menemukan aku," ujar Gavin seraya tergelak.


"Jadi itu alasanmu memakai kemeja warna cerah?" Tanya Zeline tak paham.


"Tepat! Beberapa wisatawan menyukainya karena mereka jadi mudah menemukan aku. Dan sejauh ini yang protes baru kau," Gavin menunjuk ke arah Zeline.


"Ck! Karena aku tak suka warna kuning! Itu mengingatkan aku pada sesuatu!" Zeline kembali bersedekap kesal.


"Sesuatu? Pisang? Kau alergi pada pisang?" Cecar Gavin sok tahu yang langsung membuat Zeline memutar bola matanya.


"Lepaskan kemeja norakmu itu!" Perintah Zeline akhirnya pada Gavin.


"Tidak! Aku menyukainya. Kenapa harus dilepaskan?" Jawab Gavin keras kepala.


"Lepaskan atau aku yang akan memaksa untuk melepaskannya!" Zeline yang hendak menghampiri Gavin untuk melepaskan kemeja sialan pemuda itu, malah tersandung dan gadis itu langsung tersungkur ke depan hingga menubruk Gavin dan mereka akhirnya jatuh bersamaan dengan posisi Zeline yang menindih Gavin.


"Ouuuhhh! Aku tertimpa buldozer!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2