Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
KAGET


__ADS_3

Gavin memacu motornya dan meninggalkan kampus dengan wajah sumringah.


Bagaimana tak sumringah, kalau tak ada revisi untuk beberapa bab skripsi yang sudah selesai Gavin susun.


Hahahaha!


Ternyata otak Gavin masih encer juga meskipun ia sudah mengabaikan skripsinya berbulan-bulan. Gavin hanya malas kemarin-kemarin.


"Lihat ombak sebentar bolehlah! Kan skripsinya lancar jaya!" Gavin bergumam sendiri sebelum kemudian pemuda itu membelokkan motornya ke jalan yang menuju ke arah pantai. Gavin juga bersenandung kecil sembari menikmati angin yang mulai menampar-nampar wajahnya.


Setelah mengendarai motor selama sepuluh menit, Gavin akhirnya tiba di kawasan pantai.


"Wow! Ombak bagus!" Sorak Gavin penuh semangat.


Setelah menitipkan barang-barangnya di tempat salah satu yemannya, Gavin segera menenteng papan selancar le tengah laut, menyongsong ombak yang datang bergulung-gulung.


"Yess! Ayo kita bersenang-senang!"


****


Zeline mengetuk-ngetuk arloji di tangannya untuk memastikan kalau arloji tersebut tidak sedang rusak.


"Kenapa Gavin masih belum pulang? Kemana perginya pemuda sinting menyebalkan itu?" Gerutu Zeline seraya memangku guling Gavin. Sejak tadi Zeline memang belum memejamkan mata dan gadis itu hanya duduk, lalu ganti berbaring, lalu ganti duduk lagi.


Ck!


Membosankan ternyata!


Zeline mencoba menelepon Gavin sekali lagi. Telepon masuk tapi tak diangkat.


Masa iya bimbingan selama ini? Aneh sekali!


"Zel!" Panggil Bunda Vale dari luar kamar.


"Zel, kamu sudah bangun?" Panggil Bunda Vale sekali lagi.


"Eh, iya, Bunda!" Jawab Zeline yang bergegas bangun dan membuka pintu.


"Iya, Bunda!"


"Eh, tante maksudnya," Koreksi Zeline yang keceplosan memanggil Bunda pada Bunda Vale.


"Bunda saja!" Bunda Vale mengulas senyum dan mengusap kepala Zeline.


"Ayo makan!" Ajak Bunda Vale selanjutnya.


"Gavin belum pulang, Bunda?" Tanya Zeline sedikit celingukan.


"Belum. Mungkin sebentar lagi," ujar Bunda Vale. Zeline hanya mengangguk dan segera mengekori Bunda Vale ke ruang makan. Sudah ada ayah Arga di ruang makan.


"Bunda yang masak?" Tanya Zeline saat kedua netranya memindai aneka makanan di atas meja.


"Iya! Semoga kamu suka, ya! Kata Gavin kamu paling suka ikan bakar sama petatas rebus," kekeh Bunda Vale menunjukkan makanan yang baru saja ia sebut.


Lah!


Bisa-bisanya Gavin cerita ke Bunda Vale tentang makanan yang membuat Zeline trauma itu. Atau Gavin mau Zeline hadiahi kentut lagi malam ini?


"Ternyata Zeline sukanya makanan yang merakyat, ya!" Puji ayah Arga yang ikut terkekeh saat tahu makanan kesukaan Zeline.


"Hehe, kalau makanan Zeline doyan semua, Yah! Nggak pilih-pilih, kok!" Tukas Zeline seraya meringis. Zeline mengambil satu potong ubi rebus dari piring, lalu menggigitnya.


Setidaknya yang ini tidak gosong seperti yang dimasak Gavin waktu itu. Dan yang ini juga sudah dikupas, serta dipotong-potong. Mirip potato wedges.

__ADS_1


Bunda Vale memang yang paling pengertian!


"Enak, Zel?" Tanya Ayah Arga.


"Enak, Yah!" Jawab Zeline yang kembali mengambil sepotong petatas wedges.


"Makan yang banyak!" Ujar Bunda Vale seraya mengusap pundak Zeline. Mereka bertiga melanjutkan makan siang sembari mengobrol akrab.


****


Matahari sudah hampir terbenam, dan Gavin masih belum menampakkan batang hidungnya. Zeline benar-benar ingin mengamuk sekarang karena ia jenuh menunggu Gavin yang tak kunjung pulang.


Hhhhh!


Kau kemana, Gavin?


Saat Zeline keluar dari kamar dan hendak bertanya lagi pada Bunda Vale, terdengar suara motor yang mendekat ke arah rumah.


Zeline bergegas ke pintu depan untuk mengintip siapa yang datang. Dan benar saja....


"Baru pulang, Vin? Kok basah-basahan begitu?" Tanya Bunda Vale seraya menegur sang putra.


"Ombak sedang bagus, Bund! Jadi tadi manpir ke pantai sebentar." Ujar Gavin beralasan.


"Sebentar tapi sampai sore! Skripsi bagaimana?" Gantian Ayah Arga yang menginterogasi sang putra.


"Gampang itu, Yah! Orang tadi pas konsultasi nggak ada yang harus revisi! Gavin masih pinter ternyata," jawab Gavin sombong.


"Pinter, tapi males!" Bunda Vale mengacak gemas rambut sang putra. Sementara Zeline hanya menahan tawa melihat Gavin yang masih bercengkerama dengan kedua orangtuanya.


"Kok sepi, Bund?" Tanya,Gavin selanjutnya pada Bunda Vale. Sepertinya Bunda kandung Gavin itu memang sengaja tak memberitahu keberadaan Zeline di dalam rumah.


"Lah maunya bagaimana? Vaia kan ikut suaminya. Pulang juga mungkin masih lusa. Ezra dan Joanna di kafe." Tukas Bunda Vale uang malah membuat Gavin terkekeh.


"Skripsi diselesaikan dulu, baru mikirin nikah!" Ayah Arga mengingatkan sang putra.


"Iya, Yah! Ini lagi proses pengerjaan skripsi!" Gavin menanggalkan kausnua yang sudah setengah basah.


"Gavin mau mandi!" Ujar Gavin selanjutnya seraya menyambar tasnya, lalu masuk ke rumah. Gavin langsung masuk ke kamarnya untuk menyimpan tas. Pemuda itu membuka pintu kamar, lalu meletakkan tasnya serampangan dan sedikit mengabaikan seseorang yang berbaring miring di atas tempat tidurnya dengan posisi membelakangi pintu masuk


Gavin kembali keluar dan menutup pintu. Namun kemudian Gavin sedikit berpikir tentang seseorang yang ada di kamarnya barusan.


"Ayah dan Bunda kan di luar tadi. Kak Vaia belum pulang dan Abang Ezra di kafe."


"Lalu yang barusan tidur siapa?" Gavin langsung berpikir keras dan akhirnya memutuskan untuk masuk lagi ke dalam kamar.


Gavin mengendap-endap sambil mendekat perlahan ke tempat tidurnya. Pria itu memperhatikan dengan seksama seseorang yang kini berbaring membelakangi dirinya.


"Hei! Kau siapa?" Gavin menarik ujung selimutnya dan hendak menarik benda itu, namun kalah cepat dari orang asing yang ternyata adalah....


"Ba!" Gertak Zeline menggertak Gavin yang langsung terlonjak.


"Hah? Zeline!" Gavin langsung bersorak dan hendak memeluk Zeline. Namun gadis itu malah sudah dengan cepat menghindar.


"Mau apa?" Gertak Zeline galak.


"Peluk kamu lah! Kan kita sudah tunangan," Gavin menaik turunkan alisnya dengan genit.


"Ogah!" Tolak Zeline yang langsung jual mahal seperti biasa.


'Kapan datang? Kok nggak ngabarin?" Tanya Gavin lagi yang wajahnya sudah terlihat berseri-seri.


"Ponsel kamu itu! Dari kemarin nggak bisa ditelepon!" Sungut Zeline kesal.

__ADS_1


"Dulu aja sok-sokan bilang, nanti kita video call kalau LDR, ya!"


"Baru juga dua minggu udah nggak bisa dihubungi ponselnya! Kamu rendam ke tengah laut?" Omel Zeline bersungut-sungut pada Gavin.


"Iya!" Gavin tertawa terbahak-bahak.


"Aku sibuk sama skripsi, Sayang!" Gavin mencoba memberikan pengertian pada Zeline namun tetap sambil tergelak.


"Coba lihat! Sudah sampai mana skripsimu? Jangan bilang masih judul terus!" Zeline sudah mengambil tas Gavin, lalu mengeluarkan laptop pemuda itu dan menyalakannya.


"Zeline dan Gavin! Itu passwordnya!" Ujar Gavin memberitahu Zeline yang baru saja akan bertanya.


Ck!


Dasar norak!


Zeline mengetikkan password dan tak butuh waktu lama, Zeline sudah mulai memeriksa skripsi Gavin yang babnya hampir rampung.


Hebat juga ternyata Gavin.


Baru dua minggu dan sudah mengerjakan sebanyak ini!


"Sudah sidaknya?" Tanya Gavin yang masih memainkan rambut Zeline.


"Sudah!" Zeline menyimpan kembali laptop Gavin.


"Mandi sana! Bau asem!" Perintah Zeline seraya memencet hidungnya sendiri.


"Wangi, kok! Coba cium!" Gavin mendekatkan ketiaknya yang terpampang nyata ke hadapan Zeline.


"Gavin, apa sih!" Zeline baru saja akan menghindar dan kabur, saat Gavin tiba-tiba sudah menariknya dan memaksa Zeline agar menghirup aroma ketiak Gavin.


Sialan!


"Wangi, kan? Wangi, wangi!" Gavin terus memaksa Zeline untuk mencium ketiaknya, sekalipun gadis itu berontak dan meronta-ronta sekarang.


"Gavin!" Zeline memukul-mukul dada Gavin dengan barbar dan Gavin juga tak tinggal diam. Pemuda itu semakin erat menjepit wajah Zeline di bawah ketiaknya sambil tertawa terbahak-bahak.


"Baumu asem!" Komentar Zeline yang masih meronta-ronta.


"Asem asem begini calon suamimu, lho!" Kekeh Gavin tanpa dosa.


"Gavin udah! Lepasin aku, iiih!"


"Aku smack down kamu!" Zeline kembali meronta dan mendorong Gavin sekuat tenaga. Gavin yang kurang siap sudah jatuh telentang dan Zeline tanpa aba-aba langsung menindih pemuda itu sampai Gavin menjerit keras.


"Waduuuhhh! Aku tertimpa truk kontainer!"


"Sialan!" Zeline langsung memukuli dada Gavin dengan barbar karena pria itu menyebutnya trus kontainer.


Dasar Gavin menyebalkan!


.


.


.


Besok pas MP jangan tantrum begini, ya!


🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2