
"Hai, Nona Direktur! Aku datang untuk menagih tip," ucap Gavin dengan raut wajah tanpa dosanya pada Zeline yang kini mematung.
"Haloo!! Kenapa malah melamun?" Gavin menjentikkan jarinya ke depan wajah Zeline yang masih mematung.
Sedang berlatih jadi medusa apa, ya?
"Kau sedang apa disini?" Tanya Zeline akhirnya dengan nada ketus.
"Menagih tip yang tempo hari lupa kau berikan," jawab Gavin sedikit modus. Karena sebenarnya Gavin punya tujuan lain.
Tujuan apakah itu?
Entahlah, Gavin masih mencari tahu!
"Tip apa? Kau saja susah membuatku tersesat di pulau antah berantah, lalu kau juga pergi begitu saja dari pulau tanpa pamit!"
"Lalu kau mau menagih tip apa? Mau tipndihan sampai gepeng dariku?" Cerocos Zeline panjang lebar dan tanpa jeda seraya menuding-nuding pada Gavin.
"Berani memang, mengajakku smack down disini?" Gavin menantang Zeline seraya memberikan kode tentang Sakya yang kini tengah menyaksikan perdebatan mereka berdua. Zeline langsung mendengus.
"Gavin!" Sapa Mami Thalita saat tahu yang datang adalah Gavin.
"Aunty Thali...."
"Ta!" Zeline menyahut cepat karena sepertinya pria di depannya itu amnesia dan tak ingat nama sang Mami. Nanti kalau tertukar, Zeline akan menuntutnya!
"Aunty Thalita!" Sapa Gavin sekali lagi seraya memeluk Mami Thalita tanpa sungkan.
"Wah, wah! Kalau papi lihat bisa hancur dunia persilatan!" Celetuk Sakya memancing.
"Sakya, jangan mulai! Gavin keponakan Mami!" Tegur Mami Thalita mengingatkan sang putra yang sudah mengeluarkan ponsel.
"Oh, Uncle Zayn cemburuan, ya?" Gavin terkikik dan akhirnya menjaga jarak dari Mami Thalita.
"Terima kasih karena sudah menjaga Zeline selama kalian terdampar di pulau-"
"Apanya yang menjaga, Mi!" Sela Zeline memotong.
"Dia sudah membuat Zeline digigit nyamuk raksasa dan kedinginan setiap malam!" Ujar Zeline panjang lebar membuat laporan serta keluhan.
"Aku sudah meminjamimu kemejaku, tapi kau malah merobeknya. Jadi bukan salahku kalau kau digigit nyamuk! Lenganmu menggiurkan," sergah Gavin yang kembali membahas tentang lengan uwow Zeline.
"Kan ada metodenya skin to skin, Kak! Kenapa tak dicoba?" Celetuk Sakya yang langsung berhadian delikan dari Mami Thalita.
"Sakya!"
"Iya, maaf, Mi! Hanya bercanda!" Sakya meringis dan jarinya membentuk huruf V.
__ADS_1
"Skin to skin? Maksudnya bagaimana, Pak Dokter? Kulit ketemu kulit?" Tanya Gretha yang terlihat bingung.
"Iya, bener, kayak kita kalau malam itu," bisik Sakya menjawab ke-kepo-an Gretha.
"Emang Kak Zeline dan bule negro itu pacaran, ya?" Tanya Gretha lagi yang langsung membuat Sakya tertawa terbahak-bahak.
"Apa kata kamu tadi, Gre?"
"Bule item manis! Maaf!" Gretha meringis pada Gavin yang turut mendengar celetukan Gretha barusan.
"Apanya yang item manis! Item gosong begitu!" Cibir Zeline menimpali.
"Ngomong-ngomong, kamu siapa, sih? Kok lucu?" Tanya Gavin berbasa-basi pada Gretha.
"Adiknya Sakya, ya?" Tanya Gavin lagi yang langsung membuat Sakya membelalak.
"Sembarangan! Ini istriku!" Ucap Sakya pamer.
"Hah? Kok masih kecil?" Tanya Gavin kaget.
"Iya, kan baru lulus SMA, Bang!" Jawab Gretha menjelaskan.
"Kok panggil Bang? Dia lebih muda dari aku, Sayang!" Protes Sakya merasa keberatan dengan panggilan Bang dari Gretha pada Gavin.
"Iya, tapi kan dia calon suaminya Kak Zeline, Pak Dokter! Jadi dia calon abang ipar kita!" Jelas Gretha yang langsung membuat Sakya manggut-manggut dan Mami Thalita tertawa kecil. Sedangkan Zeline malah langsung bersungut.
"Calon suami darimana, Greget! Sok tahu kamu!" Omel Zeline pada sang adik ipar.
"Iya, karena kelakuan kamu itu bikin aku geregetan!" Jawab Zeline yang langsung membuat Gretha semakin merengut. Adik ipar Zeline itu sontak langsung mengadu pada Sakya.
"Pak Dokter, lihat itu Kak Zeline," adu Gretha seraya merengut.
"Cup cup. Kamu cuma nge-gemesin, kok, Sayang! Nggak bikin geregetan," hibur Sakya seraya merangkul Gretha dengan lebay.
"Greget!" Gumam Zeline seraya bersedekap dan memutar bola mata.
"Zeline!" Tegur Mami Thalita pada sang putri yang terkadang usil.
"Zeline mau balik ke kantor. Ada meeting," tukas Zeline akhirnya.
"Tip untukku?" Tagih Gavin sekali lagi pada Zeline seraya menengadahkan tangan.
"Kau jauh-jauh kesini hanya untuk menagih tip? Kurang kerjaan sekali!" Cibir Zeline seraya mengeluarkan dompet dari dalam tasnya. Zeline lalu mengangsurkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Gavin sebagai tip.
"Kau sudah dapat tipmu, kan? Pulang sana!" Usir Zeline selanjutnya.
"Aku boleh menumpang? Aku tak bawa mobil soalnya," tanya Gavin sambil beralasan.
__ADS_1
"Kau tadi kesini bersama siapa memangnya, Vin?" Tanya Mami Thalita.
"Diantara Abang Ezra dan kak Joanna, Aunty! Tapi mereka langsung pergi ke rumah Dad-nya Kak Joanna," jawab Gavin.
"Kau punya uang, kan? Kau bisa naik taksi!" Jawab Zeline ketus.
"Jangan galak-galak kenapa, Kak! Kantor kak Zeline dan Rainer's Resto kan searah juga. Kasihlah tumpangan ke abang Gavin. Sekalian menjalin keakraban," sahut Sakya seraya terkekeh. Zeline langsung memutar bola matanya.
"Aku boleh menumpang, kan?" Tahya Gavin sekali lagi sedikit merayu Zeline.
"Tidak!" Jawab Zeline galak.
"Boleh!"
"Tidak! Kenapa kau keras kepala sekali?" Geram Zeline bersamaan dengan ponselnya yang berdering dari dalam tas.
"Aku sudah ditunggu," Zeline akhirnya meninggalkan semua orang dan buru-buru keluar dari rumah.
"Gavin pulang dulu, Aunty!" Pamit Gavin seraya mengekori Zeline dan ikut keluar dari rumah.
"Sudah kubilang, aku tak akan memberikanmu tumpangan. Kenapa kau itu keras kepala sekali?" Tuding Zeline saat ia akan masuk ke dalam mobil dan Gavin masih terus mengekorinya.
"Tapi kata Sakya, arah kantormu searah dengan Rainer's Resto! Aku hanya menumpang sampai Rainer's Resto dan aku tak akan mabuk di dalam mobilmu," janji Gavin seraya cengengesan. Pria itu bahkan sudah mendahului Zeline untuk masuk ke dalam mobil, meskipun Zeline menolak memberikannya tumpangan.
Dasar kurang ajar dan menyebalkan!
"Aku akan naik mobil yang lain!" Putus Zeline yang tak jadi masuk ke dalam mobil warna putih tersebut. Zeline ganti menghampiri mobionya yang warna hitam, dan Gavin juga langsung turun untuk menyusul Zeline.
"Mobil warna hitam! Bagus juga," celetuk Gavin yang sudah membuka pintu mobil. Namun lagi-lagi Zeline tak jadi masuk dan oindah lagi ke mobilnya yang berwarna merah.
"Ganti lagi? Mobilmu ada berapa sebenarnya?" Kekeh Gavin seraya menyusul Zeline menuju ke mobil warna merah. Saat itulah, mobil Papi Zayn terlihat memasuki halaman rumah.
"Gavin!" Sapa Papi Zayn yang langsung membuat Gavin tak jadi masuk ke dalam mobil Zeline, lalu buru-buru menghampiri Papi Zayn.
"Uncle! Baru pulang?" Tanya Gavin berbasa-basi. Semebtara Zeline yang akhirnya merasa bevas dari Gavin menyebalkan, langsung tancap gas dan pergi dari kediaman orang tuanya.
"Yah, ditinggal," gumam Gavin yang tak jadi satu mobil dengan Zeline.
"Sudah mau pulang memangnya? Kenapa buru-buru? Ayo ngobrol-ngobrol dulu di dalam!" Ajak Papi Zayn seraya merangkul Gavin dan mengajak pemuda itu untuk kembali masuk ke dalam rumah. Gavin akhirnya tak menolak dan pemuda itu kembali masuk ke dalam rumah Zeline.
.
.
.
Asam lambung kambuh. Dari semalam nggak bisa bangun nggak bisa ngapa-ngapain.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.