Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
SAMA-SAMA KERAS KEPALA


__ADS_3

"Sini!" Gavin menepuk lengannya dan meminta Zeline untuk meletakkan kepalanya di sana.


"Bentar, kok tiba-tiba aku pengen...." Zeline memejamkan kedua matanya lalu mengangkat sedikit bokongnya.


"Hmmmmh! Mulai!" Gerutu Gavin saat akhirnya terdengar suara tikus terjepit dari bokong Zeline.


Sudah biasa!


"Kan aku hanya jujur!" Ujar Zeline mencari pembenaran.


"Salahmu juga yang cerita ke Bunda Vale tentang petatas bakar itu! Aku kan jadu makan petatas lagi siang tadi dan sekarang aku terkentut-kentut!" Cerocos Zeline lagi yang kini sudah merebahkan tubuhnya di samping Gavin, serta tak lupa gadis itu juga memakai lengan Gavin sebagai bantal.


"Iya, iya! Aku yang salah!" Jawab Gavin merasa pasrah. Gavin sedikit menarik Zeline agar mendekat ke arahnya.


"Nggak usah dekat-dekat! Ketekmu masih bau asem-"


"Gavin!" Jerit Zeline saat tiba-tiba Gavin sudah menjepit kepala Zeline di bawah ketiaknya.


Sialan si Gavin! Selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan begini.


"Bau asem bau asem! Tapi kamu suka, kan? Suka, kan?" Gavin terus nenjeit Zeline yang kini meronta-ronta.


"Ish! Keterlaluan kamu, Vin!"


"Nanti aku pingsan bagaimana?" Omel Zeline seraya bersungut-sungut pada Gavin.


"Tinggal aku kasih nafas buatan! Aku kan ahlonya memberikan nafas buatan!" Gavin menepuk dadanya sendiri dengan sombong.


"Gombal!" Zeline sudah berhasil lepas dari jepitan ketiak mau Gavin. Kini gadis itu ganti memakai perut Gavin sebagai bantal.


"Cari boneka beruang, Zel?" Goda Gavin seraya terkekeh.


"Sembarangan! Ngarep banget, sih!" Cibir Zeline yang akhirnya tak jadi berbaring dan memilih untuk duduk saja di samping Gavin yang masih berbaring di atas tikar piknik yang tadi memang Gavin gelar di halaman belakang toko.


Zeline meraih satu bungkus snack, lalu membukanya.


"Coba tebak, bintang di langit malam ini ada berapa?" Gavin sudah ikut duduk dan merangkulkan lengannya ke pundak Zeline.


"Ada banyak dan tak terhitung! Lagipula, orang kurang kerjaan mana yang mau menghitung jumlah bintang di angkasa?" Jawab Zeline sembari bercerocos.


"Aku ajari cara menghitung bintang, mau?"


"Nggak!" Tolak Zeline cepat.


"Gampang, kok! Nggak serumit pekerjaanmu di kantor," kekeh Gavin yang tangannya tiba-tiba sudah menggenggam tangan Zeline, lalu mengarahkannya ke langit.


"Kita buat dulu garis batas."


"Kamu suka bentuk apa? Hati?" Gavin menggambar garis semu di udara dengan tangan Zeline dan membuat bentuk hati.


"Kenapa harus bentuk hati?" Tanya Zeline tak mengerti.


"Agar hati kita berdua selalu tertaut," jawab Gavin kembali menggombal.


"Gombal sekali!" Zeline tertawa renyah, lalu Gavin mulai menunjukkan cara menghitung bintang pada Zeline.

__ADS_1


"Satu, dua, tiga. Hitung dari atas ke bawah dari kanan ke kiri," Gavin memberikan arahan.


"Biar apa? Kenapa tidak dari bawah ke atas saja?" Tanya Zeline kritis.


"Kau lebih suka di bawah?"


"Maksudnya?" Zeline merasa ini tak benar. Kenapa malah melantur begini?


"Iya kalau smack down itu kan kau suka di atas, jadi kita hitung dari atas ke bawah."


"Kenapa bawa-bawa smack down, sih!" Zeline mencubit perut Gavin.


"Mulai tingkah barbarnya!" Komentar Gavin yang langsung membuat Zeline merengut.


"Mau ngajakin smack down disini?" Tawar Gavin tang langsung membuat Zeline menggeleng.


"Katanya mau ngitung bintang?"


"Eh, iya! Sudah sampai berapa tadi?" Gavin kembali fokus ke langit.


"Tiga!" Jawab Zeline.


"Tiga puluh? Atau tiga ratus?" Tanya Gavin mengernyit.


"Tiga saja! Baru satu, dua, trus tiga!" Jelas Zeline sedikit geregetan.


"Masa, sih?"


"Berarti lanjut empat, lima!"


"Ck! Lama!" Zeline menampik tangab Gavin, lalu menyandarkan kepalanya di pundak pria itu.


"Hitung aja jumlah rambutku biar nggak ribet!" Zeline memberikan ide.


"Baiklah! Aku hitung, ya!" Gavin mengambil segenggam rambut Zeline, lalu mengendus aromanya.


"Wangi!" Puji Gavin.


"Memang nanti setelah menikah, kita akan tinggal disini?" Tanya Zeline yang masih menyandarkan kepalanya di pundak Gavin.


"Iya!"


"Kenapa tidak tinggal di rumah Mami dan Papi saja? Kau kan bisa mencari pekerjaan di sana!" Ujar Zeline yang sebenarnya sedikit keberatan jika harus tinggal di kota pesisir ini.


Bukan karena Zeline tidak suka tinggal disini. Tapi ini tentang pekerjaan Zeline yang sudah menetap di kantor Abraham Group. Zeline tak bisaenimggalkan pekerjaannya begitu saja!


"Kau tidak suka tinggal disini?" Tanya Gavin berprasangka.


"Bukan begitu!" Sanggah Zeline cepat.


"Aku suka tinggal disini, Gavin! Tapi alu juga tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaanku di kantor." Sambung Zeline lagi beralasan.


"Iya berarti kamu memang tidak mau tinggal disini." Pendapat Gavin bersikeras.


"Aku mau tinggal disini, tapi untuk sekedar berlibur saja!"

__ADS_1


"Kau kan bisa mencari pekerjaan di sana. Bantu-bantu di Rainer's Resto misalnya, atau bekerja di Halley Development. Atau bekerja di perusahaan Papi juga tak masalah!" Zeline ikut-ikutan bersikeras.


"Tapi aku maunya, kamu pindah kesini setelah kita menikah dan kamu nggak usah jadi Nona direktur lagi-"


"Tidak bisa begitu, Gavin! Siapa yang akan membantu Papi, jika aku tak lagi bekerja?"


"Kan ada Sakya!" Gavin memberikan solusi.


"Sakya itu dokter! Dan dia tak ada passion di bidang bisnis! Dia juga tidak akan mau masuk ke dunia bisnis!" Zeline membeberkan banyak alasan


"Suruh dia belajar!"


"Tidak bisa begitu!" Zeline tetap bersikeras.


"Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaanku disini! Aku menyukai pekerjaanku sebagai tour guide sekaligus instruktur surfing!" Gavin ikut-ikutan keras kepala.


"Kita LDR saja bagaimana? Seminggu sekali aku akan mengunjungimu!" Usul Gavin memberikan solusi. Zeline sontak berdecak.


"Menikah tapi LDR?"


"Iya mau bagaimana lagi? Kau tak mau mengalah-"


"Kenapa harus aku yang mengalah? Kenapa bukan kamu saja?" Zeline bersungut pada Gavin.


"Kan lebih bagus hidup disini! Kembali ke alam! Menyatu dengan alam!"


"Ketimbang hidup di kota metropolitan dan pikiran suntuk dengan pekerjaan kantor!"pendapat Gavin seraya mengendikkan kedua bahunya.


"Aku tak pernah merasa suntuk dengan pekerjaanku! Aku selalu menikmatinya!"


"Dan kita masih bisa pulang kesini nantinya saat weekend! Menyatu dengan alam, menjajal ombak!" Ujar Zeline panjang lebar yang juga tetap kekeh dengan pendapatnya.


"Hanya saat weekend? Pasti menjemukan!" Pendapat Gavin mencibir.


"Belum juga dicoba!"


"Aku tak akan mencobanya!" Ujar Gavin tetap keras kepala.


"Terserah! Aku juga tak memaksa!" Zeline bersedekap dan memalingkan wajahnya dari Gavin.


"Kita LDR saja! Aku rasa itu sudah jadi solusi yang paling pas!" Usul Gavin sekali lagi.


"Atau kita tidak usah menikah saja!" Timpal Zeline merasa kesal.


"Hei, jangan begitu, Zel! Kita tetap akan menikah!" Gavin sudah merangkul pundak Zeline lagi dan mencoba merayu gadis itu.


"Lalu untuk apa kita menikah jika kita saja masih keras kepala dan mementingkan ego masing-masing?" Sergah Zeline menatap tak paham pada Gavin.


"Kita jalani dulu! Nanti seiring berjalan waktu pasti akan ada solusinya, oke!" Ujar Gavin seraya menarik Zeline ke dalam dekapannya. Zeline tak menjawab, dan gadis itu nemilih untuk menyamankan dirinya di dalam dekapan Gavin.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2