
Duaarrr!!
Zeline terlonjak saat mendengar suara petir yang menggelegar dari atas langit. Gadis itu semakin merapatkan pelukan pada lututnya sendiri, lalu menggosok-gosok lengannya yang sedikit basah karena terkena cipratan air hujan.
Meskipun tadi Gavin sudah memasang tambahan atap darurat dari daun-daun kelapa,namun air hujan tetap saja tampias dan mengenai tubuh Zeline karena angin malam ini yang bertiup lumayan kencang.
Padahal sore tadi langit masih cerah, dan Zeline juga masih bisa melihat sunset di garis pantai. Lalu kenapa menjelang tengah malam, tiba-tiba datang hujan badai begini?
"Zel, agak kesini!" Gavin memberikan kode pada Zeline agar bergeser lagi ke tengah gubuk atau lebih tepatnya ke dekat Gavin.
"Nggak! Kamu mau cari kesempatan pasti!" Tolak Zeline disertai tuduhan ketus pada pria menyebalkan di depannya tersebut.
"Kesempatan apa maksudnya? Aku nyuruh kamu kesini, biar kamu nggak basah," Kilah Gavin memberikan alasan.
Duaaarrr!
Petir kembali menggelegar. Zeline refleks terlonjak karena kaget. Kilat juga berulang kali terlihat di langit malam yang gelap.
"Sini!" Perintah Gavin sekali lagi.
"Dingin!" Keluh Zeline seraya menggosok-gosok lengannya yang terus saja basah terkena tampias air hujan.
Ck!
Ini semua karena orang bodoh yang membangun gubuk ini tapi dindingnya tidak menutup sampai atas. Kalau hujan, airnya kan tetap bisa masuk dan membuat basah!
"Kenapa kamu tadi nggak ambil bajuku yang kamu jadiin bendera, sih?" Tanya Zeline yang sekarang ganti menyalahkan Gavin.
Begitulah wanita!
Semua hal selalu salah di matanya!
Mungkin sebaiknya semua hal dipindah ke hidung atau bokongnya saja biar nggak salah-salah lagi!
"Iya mana aku tahu kalau mau ada hujan badai. Aku ambilin sekarang?" Tawar Gavin berbasa-basi.
Lagipula, siapa juga yang mau menerjang hujan badai malam-malam hanya untuk mengambil baju Nona direktur yang mungkin juga sudah basah kuyup itu!
"Nggak usah! Palingan juga sudah basah kuyup!" Tolak Zeline yang pas sekali dengan pemikiran Gavin.
"Pakai kemeja aku mau?" Tawar Gavin seraya menyodorkan kemejanya yang tadi pagi dirobek oleh Zelin memakai kekuatan lengannya yang sebesar pemukul bola baseball.
Uwoooow!
Buat mukul kepala maling cocok ini!
Malingnya akan langsung pingsan, gegar otak, kejang-kejang, dan mungkin diakhiri dengan amnesia!
"Udah robek! Bagaimana mau dipakai?" Komentar Zeline seraya merengut.
"Bukan aku yang membuatnya sobek," gumam Gavin sedikit menyindir Zeline.
"Ck! Kau pakai saja sendiri!" Zeline melempar balik kemeja Gavin pada sang empunya. Gadis itu lalu menggosok-gosok lagi lengannya yang sudah kembali basah.
"Hujan! Udahan turunnya!" Gerutu Zeline seraya mendongakkan kepalanya ke langit. Dan seketika, gerutuan Zeline langsung dijawab dengan kilat serta petir dari langit. Gadis itu kembali terlonjak dan Gavin malah terkekeh tanpa dosa.
Dasar menyebalkan!
"Hujan itu kan berkah! Tidak baik menggerutu seperti itu, Zel!" Nasehat Gavin sok bijak.
"Iya, berkah kalau aku tak sedang berada di gubuk setengah jadi begini! Aku kan kedinginan!" Keluh Zeline lagi disertai omelan pada Gavin.
__ADS_1
"Kau tahu, Zeline! Ada satu cara untuk membuat tubuh hangat saat hujan badai begini!" Cetus Gavin tiba-tiba yang langsung membuat Zeline memicing curiga.
"Cara apa?" Zeline masih memicing curiga pada Gavin.
"Bukan bermaksud tak sopan, ya! Tapi nama metodenya memang skin to skin," jawab Gavin yang langsung membuat Zeline bersedekap dan mendelik pada pemuda itu.
"Kau akan menyuruhku membuka baju, lalu berpelukan denganmu yang juga tak memakai baju, begitu?" Tebak Zeline dengan nada bicara yang sudah naik tujuh oktaf, mengalahkan suara hujan yang jatuh menimpa bumi.
"Seharusnya memang begitu! Tapi berhubung aku bukan pria mesum,jadi kita lakukan tetap dengan berpakaian saja bagaimana?" Tawar Gavin sok alim yang benar-benar membuat Zeline ingin menjambak rambut pemuda di depannya tersebut.
"Bukan pria mesum tapi mengajak berpelukan!"
"Bilang saja mau mencari kesempatan dalam kesempitan!"
Duaaarrr!
"Aaaaaaaaa!" Zeline menjerit dan refleks melompat ke pangkuan Gavin,hingga membuat Gavin yang tak siap nyaris terjengkang ke belakang. Tapi suara petir yang barusan memang terasa dekat dan kencang sekali hingga membuat Zeline refleks menjerit.
"Kakiku!" Ringis Gavin karena kakinya tertindih oleh bokong padat berisi Zeline yang mungkin beratnya setara satu karung beras cap raja panda.
"Eh!" Zeline buru-buru bangkit dari pangkuan Gavin, lalu kembali duduk dengan menjaga jarak dari pemuda menyebalkan itu.
"Cari kesempatan sekali!" Gumam Zeline pura-pura menggerutu demi menutupi rasa malunya.
Kan Gavin tadi sudah bilang, kalau wanita selalu benar dan pria selalu salah dimata para wanita!
Besok Gavin akan pindah saja ke lubang hidung Zeline saja agar tak terus-terusan disalahkan!
"Padahal kau sendiri yang tadi melompat ke pangkuanku dan mencari-cari kesempatan!" Cibir Gavin pada Zeline.
"Aku hanya kaget karena aku pikir petirnya menyambar di atas kepalaku!" Sergah Zeline yang balik menyalak pada Gavin untuk mencari alasan dan pembenaran.
Wanita selalu benar!
Terserah, Zel! Terserah!
"Ck! Lantainya semakin basah lagi!" Keluh Zeline saat gadis itu kembali ke tempatnya semula yang ternyata sudah basah sekali.
"Sudah kubilang untuk duduk di tengah sini!"
"Ngeyel!" Sahut Gavin seraya menepuk ruang kosong di sampingnya yang memang masih kering.
"Berikan kemejamu tadi!" Zeline menengadahkan tangannya ke arah Gavin.
"Mau kamu pakai apa?" Gantian Gavin yang bertanya curiga.
"Buat ngelap lantai, lah!"
"Lagipula, itu kemeja kan kemarin juga kamu pakai ngelap-ngelap!" Cerocos Zeline mencari alasan.
"Tapi kan langsung aku cuci!" Sergah Gavin ikut beralasan.
"Iya nanti langsung aku cuci juga setelah aku pakai ngelap lantai! Aku udah ngantuk dan mau tidur!" ujar Zeline yang kembali memaksa Gavin agar memberikan kemejanya.
"Sia-sia saja kamu lap yang di pojokan. Nggak lama juga pasti basah lagi!" Cibir Gavin meragukan niatan Zeline.
"Kan tinggal aku lap lagi!" Zeline masih keukeuh dengan idenya.
"Kemejanya udah basah! Yang ada lantainya semakin basah! Memangnya kamu mau tidur basah-basahan? Nanti demam, masuk angin, bagaimana?" Cecar Gavin yang langsung membuat Zeline merengut.
"Sok tahu!" Gumam Zeline menggerutu.
__ADS_1
"Sudah tidur disini! Mau pakai paha aku sebagai bantal juga boleh!" Gavin memberikan tawaran menggiurkan.
Ya, meskipun body Gavin tak sebesar dan selebar Zeline, tapi paha Gavin lumayan juga kalau dijadiin bantal. Kecuali "boneka beruang" yang nyempil di tengah-tengah kedua paha Gavin itu!
Ck!
Zeline rasanya ingin bersembunyi di dalam goa hantu kalau ingat dirinya yang pernah memegang tongkat sakti Gavin.
Memalukan!!
"Cih! Nanti kamu cari-cari kesempatan kalau aku tiduran di paha kamu lagi!" Zeline berdecih dan pura-pura jual mahal.
"Cari kesempatan bagaimana? Jelas-jelas kemarin itu kamu yang cari-cari boneka beruang di pangkal paha aku," sergah Gavin yang balik meledek Zeline.
"Mulai! Kayaknya semangat sekali membahas tentang boneka beruang!" Gerutu Zeline mulai kesal.
"Para pria itu, dimana-mana memang sama! Isi pikirannya tak jauh-jauh dari pangkal paha!" Cerocos Zeline lagi mengungkapkan penilaiannya pada kaum adam.
"Nggak semua!" Sergah Gavin menyanggah.
"Kalau isi pikiranku seperti yang kau omongkan barusan, sudah dari kemarin aku membuka tanktop-mu itu!" Ucapan Gavin langsung membuat Zeline membelalakkan kedua matanya. Tangan gadis itu juga sudah langsung menyilang di depan dada, seolah sedang menutupi apapun yang kini bisa dilihat oleh Gavin.
Sial!
"Hoaaaam!" Gavin menguap lebar tanpa menutup mulut.
"Tutup itu mulutnya!" Komentar Zeline yang hanya dibalas Gavin dengan cibiran.
"Aku mau tidur!" Gavin sudah mengambil posisi berbaring di tengah-tengah gubuk.
"Kau tidak tidur, Zel?" Tanya Gavin yang sama sekali tak dijawab oleh Zeline. Gadis itu juga hanya bersedekap sekarangbdan pura-pura memalingkan wajahnya dari Gavin.
"Yaudah! Selamat begadang, karena aku akan bobok nyenyak malam ini," Gavin sudah berganti posisi menjadi berbaring meringkuk. Tak butuh waktu lama, kedua mata pemuda itu sudah terpejam.
Sementara Zeline masih di posisinya semula dan kini menatap kesal pada Gavin.
"Bagaimana aku mau tidur, kalau perutku sekarang mules!"
"Dasar petatas sialan!" Gerutu Zeline menyalahkan petatas bakar yang tadi ia makan bersama Gavin sebagai menu makan malam.
"Duh!" Zeline memegangi perutnya yang semakin mulas dan gadis itu mendadak ingin buang angin sekarang.
"Hei, Tour Guide menyebalkan! Kau sudah tidur, kan?" Zeline mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah Gavin untuk memastikan.
"Baiklah! Aku akan melakukannya tanpa suara," gumam Zeline seraya mengangkat sedikit bokongnya, llau melepaskan gumpalan angin yang sejak tadi ia tahan.
Benar-benar tanpa suara, namun baunya seketika langsung menguar dan menusuk-nusuk hidung Gavin yang sebenarnya belum benar-benar terlelap.
Oh, sial!
Apa ini jawaban atas pepatah kentut yang Gavin dengungkan tempo hari?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1