Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
LAMARAN?


__ADS_3

"Hai, Sayang! Sudah selesai yang meeting?" Sapa Ryan pada Nona yang baru datang bersama Zeline. Tadi Nona memang mendampingi Zeline untuk meeting bersama divisi pemasaran.


"Jam makan siang masih tiga puluh menit lagi, Ryan! Kau sedang apa disini?" Tanya Zeline merasa geram pada sepupunya tersebut.


"Aku akan melaporkanmu pada Uncle Liam, karena kelayapan saat jam kerja!" Zeline sudah membuka layar ponsel yang sejak tadi ia genggam dan bersiap menelepon Uncle Liam, namun ucapan Ryan langsung membuat Zeline mengurungkan niatnya.


"Aku sudah minta izin pada Uncle Liam dan Fairel!"


"Lagipula, Uncle Liam sedang honeymoon di luar kota bersama Aunty Yumi. Jadi sia-sia saja kau meneleponnya," ujar Ryan lagi memberitahu Zeline.


"Ck! Honeymoon! Mau membuat adik lagi untuk Reina?" Gumam Zeline yang langsung membuat Ryan terkekeh.


"Bisa jadi!"


"Ayo makan siang dulu, Sayang! Aku sudah membawa makanan," ajak Ryan selanjutnya pada Nona.


"Sayang sayang-"


"Aku memanggil Sayang pada Nona, bukan padamu! Pede sekali!" Sergah Ryan memotong kalimat Zeline sekalian mencibir.


"Iya, aku juga tahu! Siapa juga yang sudi jadi sayangmu! Tapi peraturan disini adalah dilarang pacaran di area kantor!" Zeline kembali mengingatkan peraturan kantornya pada Ryan dengan bahasa berapi-api.


"Ini sudah jam istirahat, Nona Zeline!" Ryan menunjukkan arlojinya pada Zeline.


"Ck!"


"Silahkan pergi makan siang di luar!" Usir Ryan selanjutnya pada Zeline.


"Sialan! Aku nona direktur disini! Kenapa kau malah mengusirku dari kantorku sendiri?" Geram Zeline pada Ryan yang hanya terkekeh tanpa dosa. Zeline menghentakkan satu kakinya karena kesal, saat ponsel gadis itu berdering.


"Halo, Mi!" Sambut Zeline setelah mengangkat telepon dari Mami Thalita.


"Kau masih meeting, Zel?"


"Sudah selesai, Mi! Ini Zeline sudah mau pulang." Jawab Zeline masih sambil mendelik ada Ryan.


"Baiklah! Mami kira kau lupa dengan pesan mami." Terdengar kekehan Mami Thalita dari ujung telepon.


"Tidak, Mi! Zeline belum pikun!" Jawab Zeline lagi yang kini sudah berjalan ke arah lift.


"Iya, iya! Hati-hati mengemudi dan tak perlu ngebut, ya!"


"Iya, Mi! Bye!"


"Bye!"

__ADS_1


Zeline menyimpan kembali ppnselnya dannhendak masuk ke lift yang pintunya baru saja terbuka, saat Ryan berseru pada gadis itu.


"Zel!"


"Apalagi? Silahkan pacaran sepuasmu dengan Nona! Aku mau pulang!" Jawab Zeline penuh emosi.


Entahlah!


Sejak kejadian semalam tentang Gavin yang tak peka, Zeline bawaannya ingin marah-marah pada semua orang dan mungkin Zeline juga ingin makan orang sekarang.


"Hei, kau sudah memikirkan tawaranku kemarin tentang bertukar sekretaris?" Tanya Ryan yang langsung membuat Zeline kembali berbalik dan tak jadi masuk ke dalam lift. Asap merah seolah sudah keluar dari hidung dan telinga Zeline sekarang.


"Sudah ku bilang, kalau aku tak akan menukar Nona dengan sekretarismu yang mana saja! Aku tak tertarik!" Zeline memperingatkan Ryan seraya menuding pada sepupunya tersebut.


"Kau harus mencari sekretaris baru kalau begitu, karena nanti setelah aku dan Nona menikah, aku akan menyuruh Nona untuk resign dari kantormu-"


"Memangnya kapan kalian mau menikah?" Tanya Zeline menyela.


"Masih belum ditentukan harinya," Ryan tertawa kecil.


"Tapi yang jelas, tahun ini kami menikah," sambung Ryan lagi seolah sedang pamer.


"Nona akan terap jadi sekretarisku sekalipun kalian sudah menikah nanti!" Ujar Zeline keras kepala.


"Tidak bisa begitu! Aku suaminya Nona dan punya hak penuh untuk mengizinkannya bekerja atau tidak!"


"Aku tak kejam dan tak egois! Aku akan memenuhi semua kebutuhan Nona. Jadi kenapa ia harus bekerja? Kalaupun Nona masih ingin bekerja, doa akan jadi sekretarisku, bukan lagi sekretarismu!" Cerocos Ryan panjang lebar yang langsung membuat Zeline terdiam tanpa bisa membalas lagi.


"Curang sekali!" Geram Zeline yang hari ini benar-benar dibuat kesal oleh semua orang.


Semua orang akan menikah.


Semua orang sudah punya pacar.


Dan hanya Zeline disini yang sejak kemarin di PHP oleh pemuda tanggung cengengesan!


"Hei, bukankah kau harus segera pulang? Tadi Aunty Thalita-"


"Aku ingat!" Zeline menyalak pada Ryan dan berbalik lagi ke arah lift. Gadis itu masuk ke dalam lift dengan cepat tanpa pamit tanpa basa-basi pada Ryan maupun Nona.


Zeline sedang marah pada Sekretaris dan sepupunya tersebut!


****


Setelah berjibaku selama dua puluh lima menit dengan aspal hitam serta kendaraan yang padat merayap, Zeline akhirnya tiba di kediaman Abraham. Gadis itu memarkirkan mobil di depan teras dan langsung turun masih dengan emosi yang memenuhi kepalanya.

__ADS_1


"Kok sepertinya ada tamu?" Gumam Zeline saat memasuki teras dan mendengar suara beberapa orang dari ruang tamu rumahnya.


"Halah! Paling juga tamunya Mami atau Papi!" Gumam Zeline lagi yang akhirnya memutar ke samping dan memilih masuk lewat pintu samping agar tak mengganggu perbincangan kedua orang tuanya dengan tamu yang mungkin adalah klien penting.


"Dor!"


Jantung Zeline nyaris melompat keluar dari rongganya, saat Gavin tiba-tiba muncul dari pintu samping dan mengagetkannya.


"Kau lagi! Sedang apa disini?" Zeline bersedekap dan pura-pura memalingkan wajahnya dari Gavin.


Meskipun dalam hati Zeline juga merasa lega karena ternyata Gavin memang baik-baik saja dan sudah busa kelayapan ke rumahnya lagi. Tapi semalam pemuda ini pulang naik apa kira-kira? Benar-benar jalan kaki, atau dia naik taksi?


"Menunggumu pulang! Kenapa lama?" Tanya Gavin seraya membenarkan rambut Zeline.


"Apa, sih!" Zeline sedikit menyentak tangan Gavin yang tiba-tiba sudah lancang membenarkan rambutnya.


"Hanya membenarkan rambut! Kau juga sudah gr*pe-gr*pe milikku sampai kemana-mana," ujar Gavin mengingatkan kembali tentang adegan di gubuk kala mereka tersesat di pulau.


Dasar pria sialan! Selalu saja membawa-bawa insiden itu! Padahal Zeline kan tak tahu dan tak sengaja melakukannya!


"Ck! Aku tak sengaja yang itu! Jadi tak usah dibahas lagi!" Zeline menuding pada Gavin.


"Baiklah! Ayo masuk!" Ajak Gavin selanjutnya seraya menarik tangan Zeline.


"Eh, eh. Kita mau kemana, Gavin!" Tanya Zeline seraya berusaha untuk melepaskan tangannya dari cekalan tangan Gavin.


"Sudah! Pokoknya ikut saja!" Jawab Gavin santai sambil terus menarik Zeline ke arah ruang tamu kediaman Abraham.


"Sedang ada tamu, Gavin!" Zeline memperingatkan Gavin dengan tegas.


"Iya, aku tahu! Tamunya penting sekali malahan," Jawab Gavin seraya terkekeh.


Tamu penting sekali?


Maksudnya apa?


Semua pertanyaan yang memenuhi kepala Zeline seolah menemukan jawaban, saay gadis itu dan Gavin sampai di ruang tamu dan Zeline melihat semua anggota keluarganya serta semua anggota keluarga Gavin sudah berkumpul di sana.


Apa sedang ada acara lamaran?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2