
"Nona Zeline, ada kiriman makan siang untuk anda!" Lapor Nona saat Zeline hendak keluar dan makan siang di rumah.
"Lagi? Siapa yang mengirim?" Tanya Zeline seraya membolak-balik bungkus makanan bertanda Rainer's Resto di depannya. Sudah beberapa hari ini ada yang mengirimkan makan siang untuk Zeline dan logonya selalu dari Rainer's Resto.
Masa iya Opa Theo yang mengirim? Atau Om Ben? Tante Ayunda? Sava? Bastian?
Dua nama terakhir sepertinya mustahil!
Zeline bahkan jarang sekali bertemu dengan putra kembar Om Ben dan Tante Ayunda itu!
"Saya kurang tahu, Nona! Tadi diantar oleh security," ujar Nona menjawab pertanyaan Zeline.
Zeline hanya menghela nafas dan akhirnya membawa bungkusan makanan tadi ke dalam ruangannya.
"Kau jadi resign hari ini?" Tanya Zeline yang kembali melongokkan kepalanya keluar dari ruangan.
"Iya, jadi, Nona Zeline! Saya masih menyusun jadwal anda untuk minggu depan," jawab Nona yang kembali membuat Zeline menghela nafas. Zeline tak menjawab lagi, dan gadis itu kembali masuk ke dalam ruangan untuk menikmati makan siang yang dikirimkan oleh orang asing.
Terima kasih orang asing!
****
Waktu yang biasanya berjalan dengan lambat, hari ini seperti dipercepat oleh sesuatu.
Jam digital di atas meja Zeline sudah menunjukkan pukul tiga sore, saat terdengar ketukan pintu dari luar.
Ya ya ya!
Zeline sudah bisa menebak itu siapa!
"Masuk, Nona!" Ucap Zeline tak bersemangat.
Apa kabar sekretaris baru untuk Zeline?
Haruskah Zeline merampas sekretaris Ryan saja sebagai kompensasi atas resign-nya Nona?
"Selamat sore, Nona Zeline!" Sapa Nona bersamaan dengan pintu ruangan yang sudah terbuka. Nona langsung masuk ke dalam ruang kerja Zeline seraya membawa amplop putih di tangannya.
"Sore!"
"Ryan sudah menjemputmu?" Tanya Zeline berbasa-basi.
"Ryan belum datang, Nona!" Jawab Nona yang sudah menyodorkan amplop putih tadi pada Zeline.
Zeline menerima surat resign tersebut dengan setengah hati, lalu membuka dan membaca sebentar isinya.
"Maaf, jika selama saya menjadi sekretaris Nona Zeline, banyak kata-kata atau perbuatan saya yang menyinggung hati Nona Zeline," ucap Nona dengan sepenuh hati.
"Kau merasa senang atau tertekan selama menjadi sekretarisku?" Tanya Zeline sedikit berbasa-basi.
"Lebih banyak merasa senang, Nona Zeline! Karena anda atasan yang baik dan selalu pengertian," jawab Nona seraya tersenyum. Zeline mengangguk dan gadis itu kemudian bangkit berdiri untuk memeluk Nona.
"Aku juga minta maaf, jika selama ini sudah sering cerewet, memarahimu, atau menyuruhmu melakukan hal-hal yang aneh."
"Aku sebenarnya masih tidak rela kau resign menjadi sekretarisku. Tapi apa mau dikata, kau punya hak penuh atas kariermu, dan semoga pernikahanmu dengan Ryan nanti berjalan lancar!" Ucap Zeline panjang lebar masih sambil memeluk Nona.
"Nanti Pak Zayn akan membawa sekretaris baru untuk anda, Nona Zeline," ujar Nona memberitahu Zeline.
"Benarkah? Bagaimana kau bisa tahu?" Zeline sudah melepaskan pelukannya pada Nona.
__ADS_1
"Ryan yang memberitahu," jawab Nona.
"Lalu kenapa papi malah tak cerita dari kemarin?" Zeline bergumam sendiri dan merasa bingung.
"Semoga nanti Nona Zeline akan lebih cocok lagi dengan sekretaris yang baru, dan semoga Nona Zeline juga akan secepatnya bertemu jodoh Nona Zeline, lalu menyusul menikah," ucap Nona memberikan doa terbaiknya untuk Zeline.
"Aamiin!" Jawab Zeline langsung mengaminkan.
"Nona, kau sudah selesai berpamitan?" Tanya Ryan yang rupanya sudah datang.
Ck!
Mengganggu moment perpisahan Zeline dan Nona saja!
"Hampir," jawab Nona sedikit meringis.
"Kau akan menikah dengan Ryan, lalu kita akan jadi sepupu setelah ini," Zeline merengkuh kedua pundak Nona.
"Iya, Nona!"
"Itu namamu!" Zeline mengingatkan Nona.
"Eh, iya, Nona Zeline!" Ulang Nona mengoreksi.
"Tidak! Berhentilah memanggilku Nona mulai sekarang! Kita adalah sepupu!" Pinta Zeline selanjutnya pada Nona.
"Lalu saya harus memanggil anda apa, Nona Zeline?" Tanya Nona bingung.
"Ck! Sudah kubilang untuk berhenti memanggilku Nona!"
"Panggil saja Zeline! Seperti kau memanggil Ryan atau Lea!" Jawab Zeline dengan nada tegas.
"Eh, iya, Nona Zeline!" Jawab Nona tergagap.
"Astaga! Zeline saja!"
"Ze dan Line! Jadi Zeline!" Ujar Zeline dengan nada tegas.
"Baiklah, Ze-" Nona terlihat ragu-ragu.
"Line!" Zeline melanjutkan dengan gemas.
"Ryan! Ajari dia!" Zeline mulai kesal sekarang dan Ryan hanya terkekeh. Sepupu Zeline itu lalu mendekat ke arah dua gadis di depannya, dan tangannya sigap merangkul Nona.
Ya ya ya!
Kapan Zeline akan dirangkul oleh seorang pria?
"Panggil saja Zeline!"
"Zel, Zel, Zel, Line Line, Line!"
"Zeline!" Gampang, kan!" Ryan mengajari Nona dengan sedikit lebay.
"Zeline!" Ucap Nona akhirnya meskipun masih ragu-ragu.
"Nah! Itu bisa!" Seru Zeline dan Ryan berbarengan.
"Coba ulangi lagi!" Perintah Zeline pada Nona.
__ADS_1
"Zeline, Zeline, Zeline."
"Maaf, saya lancang, Nona Zeline!" Ucap Nona cepat yang langsung memhuat Zeline menepuk keningnya sendiri dan Ryan malah tertawa tanpa dosa.
"Dia hanya belum terbiasa, Zel! Nanti akan aku ajari," janji Ryan pada Zeline yang hanya memutar bola matanya.
"Dan sekretaris barumu sudah ada di loby depan tadi. Mungkin sebentar lagi Uncle Zayn akan membawanya kemari," ujar Ryan lagi memberitahu Zeline.
"Terserah!" Hawab Zeline malas seraya duduk di kursi kerjanya.
"Saya sudah boleh pulang, Nona Zeline?" Tanya Nona pada Zeline yang langsung mendelik ke arahnya.
"Boleh, asalkan kau berhenti memanggilku Nona atau uang pesangonmu tidak akan aku transfer!" Zeline mengancam Nona.
"Hah?" Nona langsung menganga.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan! Ayo pulang!" Ajak Ryan seraya merangkul Nona dan mengajaknya keluar dari ruangan Zeline.
"Jangan lupa untuk mengajarinya, Ryan!" Seru Zeline mengingatkan sang sepupu.
"Siap! Akan kulakukan!" Jawab Ryan bersamaan dengan pintu ruangan Zeline yang sudah kembali tertutup.
Zeline menghela nafas, dan memainkan pena di tangannya, saat kemudian pintu ruangannya kembali dibuka dari luar.
"Nona sudah pamitan, Zel?" Tanya papi Zayn pada Zeline yang terlihat tak bersemangat. Dan Zeline juga tak melihat sekretaris baru yang kata Nona dan Ryan akan dibawa Papi Zayn sore ini.
"Sudah, Pi!"
"Kata Nona, Papi sudah mencarikan sekretaris baru untuk Zeline?" Tanya Zeline akhirnya to the point.
"Iya! Dia ada di luar." Jawab Papi Zayn seraya membuka kembali pintu ruangan Zeline dan memberikan kode pada seseorang di luar untuk masuk ke dalam.
"Tapi kenapa papi tidak cerita ke Zeline sejak kemarin mengenai sekretaris baru itu?" Tanya Zeline yang sudah bangkit dari duduknya. Gadis itu bersedekap pada sang papi dan merasa penasaran dengan rupa sekretaris barunya.
"Papi ingin memberikanmu kejutan."
"Bukan begitu, Gavin?" Papi Zayn menggeser sedikit posisinya saat sekretaris baru yang tadi dipanggil oleh pria paruh baya itu masuk ke dalam ruang kerja Zeline.
Senyuman lebar menyebalkan itu!
Lalu wajah hitam manis serupa brownies yang sekarang sedikit memudar.
Lah! Itu Gavin?
Tapi kenapa Gavin memakai kemeja ala kantoran dan ada di ruangan Zeline?
"Perkenalkan sekretaris sekaligus asisten barumu, Zeline! Gavin Rainer Diba!" Ucap Papi Zayn selanjutnya yang langsung membuat Zeline menganga tak percaya.
"Apa papi sedang bercanda?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1