Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
MULAI AKRAB


__ADS_3

Hari beranjak gelap.


Zeline masih duduk meringkuk di dalam gubuk seraya memeluk lututnya sendiri. Gadis itu memperhatikan Gavin yang sejak tadi sibuk membuat api dengan batu.


Membuat api?


Dengan batu?


Gavin berasal dari jaman apa, coba?


Setahu Zeline, membuat api ya dari korek api. Mana bisa dari batu?


"Fuuh fuuh!" Gavin meniup-niup ranting yang sudah mulai mengeluarkan asap. Semoga setelah ini yang keluar bukan jin.


Eh, tapi boleh juga yang keluar jin. Agar Zeline bisa mrmbuat permohonan dan meminta pintu teleportasi untuk dia pulang ke rumah. Zeline mulai tak nyaman duduk di alam terbuka dalam kondisi gelap begini. Lengan Zeline sudah mulai digigit oleh nyamuk-nyamuk biadab!


"Voila!" Gavin bersorak senang saat akhirnya berhasil membuat api dari batu dan ranting.


Hebat juga, tour guide menyebalkan itu


"Aku hebat, kan?" Pamer Gavin seraya menepuk dadanya sendiri.


"Hanya membuat api! Semua anak pramuka juga bisa!" Cibir Zeline.


"Kau bisa?" Tanya Gavin menantang.


"Aku bukan anak pramuka! Jadi aku tidak bisa!" Zeline memitar bola mata dengan malas. Gadis itu lalu menggosok-gosok lengannya yang baru saja digigit oleh nyamuk raksasa sepertinya. Rasanya gatal sekali!


"Ish! Ini gara-gara kamu mengambil bajuku tadi! Sekarang aku digigitin nyamuk!" Omel Zeline pada Gavin sambil terus menggaruk-garuk lengannya.


"Kulitmu akan lecet semua jika kau menggaruknya dengan barbar begitu!" Gavin memperingatkan seraya menusukkan ranting kayu ke dalam mulut ikan, lalu tembus ke ekor.


Barbar!


Zeline juga heran dengan kreativitas Gavin yang tanpa batas. Mengemudikan speedboat bisa, berenang jago, membuat api dalam kondisi darurat bisa, lalu menangkap ikan juga bisa.


Apa pria ini memang hidupnya di alam liar atau jangan-jangan dia adalah seorang tarzan yang menyamar?


Auuuoooooww!!


Aroma ikan bakar mulai menusuk-nusuk hidung Zeline dan membuat cacing-cacing di perut Zeline berdemo hebat.


"Kruuuuk!"


Ya ampun! Sial! Dasar cacing-cacing tak pengertian!


Gavin terkekeh saat mendengar suara perut Zeline.


"Kau sudah lapar?" Tebak Gavin yang hanya membuat Zeline merengut.


"Hanya makan ikan! Mana bisa kenyang nanti?" Sergah Zeline seolah tak bersyukur.


"Hanya ikan." Gavin menirukan ucapan Zeline dengan nada lebay.


"Seharusnya, kau itu bersyukur! Ketimbang kita mati kelaparan di pulau asing?" Cerocos Gavin pada Zeline yang kembali menggaruk-garuk lengannya.


"Ish! Bajuku tadi kamu taruh dimana, Gavin? Aku tak tahan lagi digigiti nyamuk seperti ini!" Zeline sudah bangkit dari atas gubuk dan berkacak pinggang pada Gavin, meskipun langkah gadis itu harus terpincang-pibcang karena duri sialan yang menancap di tumitnya tadim


"Aku taruh di dekat pantai. Mungkin juga sudah basah karena air laut pasang." Gavin mengendikkan kedua bahunya.


"Ambilkan!" Perintah Zeline yang masih berkacak pinggang pada Gavin.


"Ambil sendiri! Aku sedang membakar ikan!" Gavin beralasan dan malah balik memerintah Zeline.


"Aku menyuruhmu! Kenapa kau malah balik menyuruhku? Ambilkan bajuku cepat!" Zeline berteriak pada Gavin saat tiba-tiba terdengar suara dari semak-semak.

__ADS_1


"Apa itu?" Tanya Zeline yang mulutnya langsung dibekap oleh Gavin.


"Sssttt!" Gavin memberikan kode pada Zeline agar diam. Gavin lalu sedikit menyeret Zeline untuk naik ke atas gubuk.


"Itu tadi-"


"Diam!" Gavin mendelik pada Zeline dan berbicara tanpa suara. Pria itu masih mendekap Zeline dan menyuruhku Zeline untuk diam serta tak banyak bergerak.


Sreeeet!


Terdengar suara lagi dari balik semak-semak.


Zeline yang ketakutan, memilih untuk memejamkan mata, lalu menyembunyikan wajahnya di pundak Gavin.


Sedikit bau asem!


Berapa hari Gavin tidak mandi?


Hoeek!


Zeline memencet hidungnya agar bau badan Gavin tak terlalu menyiksanya. Zeline masih dalam mode ketakutan dan membayangkan yang keluar dari semak-semak mungkin saja adalah harimau, singa, beruang.


Astaga!


Jangan hewan buas!


Sreet! Sreet!


Suara semakin dekat. Hingga tiba-tiba seekor hewan berbulu hitam melompat keluar dari semak-semak.


"Ya ampun!" Gavin berdecak seraya terkekeh saat melihat tupai yang mendekat ke arah api unggun.


"Apa? Kenapa kamu tertawa?" Tanya Zeline yang masih belum berani membuka mata.


"Apa?"


"Tupai, Zel! Kamu mau bersandar di pundakku sampai kapan? Enak, ya?" Celetuk Gavin yang langsung membuat Zeline refleks mendorong Gavin lalu gadis itu beringsut mundur dan menjauh dari Gavin. Sementara Gavin malah tergelak dengan Zeline yang kini salah tingkah.


"Sandar lagi disini!" Goda Gavin pada Zeline yang sudah merengut.


"Suka sekali mencari kesempatan dalam kesempitan!" Gerutu Zeline merasa kesal. Gavin tetap terkekeh dan akhirnya pria itu beranjak untuk memeriksa ikan bakar yang tadi ia tinggalkan.


"Sudah matang belum, Vin? Aku sudah mau pingsan ini!" Tagih Zeline dari atas gubuk.


"Turun sini kalau mau makan!" Gavin melambaikan tangannya ke arah Zeline yang kembali merengut.


"Yaudah, aku habiskan sendiri," ujar Gavin yang sydah mulai memotong daging ikan bakar lalu meniupnya.


"Aku juga mau, Vin!" Rengek Zeline manja.


"Turun ke sini makanya! Sekalian menghangatkan badan!" Gavin kembali melambaikan tangan ke arah Zeline.


Zeline akhirnya turun dan menghampiri Gavin. Gadis itu ikut duduk di atas batang kayu tepat di sebelah Gavin.


"Auww panas!" Ringis Zeline saat hendak memotong ikan di depannya.


"Yang bagian sini sudah agak dingin." Gavin akhirnya memotong daging ikan untuk Zeline, sekalian meniup dan menyuapkannya ke dalam mulut Zeline.


"Nggak pake bumbu, ya?" Komentar Zeline masih sambil mengunyah ikan yang tadi disuapkan oleh Gavin.


"Nggak!"


"Nggak ada yang jual bawang dan kunyit soalnya," kekeh Gavin yang kembali menyuapi Zeline.


"Aku bisa makan sendiri!" Zeline mengambil ikan dari tangan Gavin, lalu melahapnya.

__ADS_1


"Enak?" Tanya Gavin saat melihat Zeline yang begitu lahap menikmati ikan bakar.


"Lagi lapar! Jadi ya enak!" Jawab Zeline sambil kembali memisahkan daging ikan dari tulangnya.


"Tambah sambal dabu-dabu dan nasi hangat enak ini," komentar Zeline lagi masih sambil mengunyah.


"Lalu minumnya es kelapa muda, ya?" Timpal Gavin yang langsung membuat Zeline manggut-manggut.


"Cocok!" Sahut Zeline cepat. Gadis itu lanjut meneguk air minum.uang entah dibawa Gavin darimana tadi. Yang penting Zeline bisa minum!


"Udah kenyang?" Tanya Gavin saat mendengar Zeline bersendawa. Benar-benar tidak ada anggun-anggunnya sebagai seorang gadis!


"Ya!"


"Kenyang sekali!" Jawab Zeline yang akhirnya sudah bisa tersenyum. Gadis itu kembali bersendawa, lalu terkikik sendiri.


"Papi pasti mengomel jika tahu aku bersendawa keras," gumam Zeline yang masih terkikik.


"Anak papi?" Tebak Gavin sok tahu.


"Mana ada?" Sanggah Zeline cepat.


"Dekat dengan papi bukan berarti aku anak papi!" Sergah Zeline lagi beralasan.


"Mungkin itu juga alasan kau masih jomblo," celetuk Gavin berpendapat.


"Maksudnya?" Zeline mengernyit tak paham.


"Iya, para pria takut mendekatimu karena mungkin papimu over protektiv?" Gavin mengendikkan kedua bahunya.


"Sama sekali tidak ada hubungannya!"


"Papiku tidak pernah ikut campur perihal kisah asmaraku! Toh sebelumnya aku juga pacaran lima tahun-"


"Pacaran lima tahun?" Sergah Gavin memotong dengan cepat.


"Itu pacaran atau angsuran bank?" Gavin tertawa terbahak-bahak.


"Sialan! Kau meledekku lagi!" Zeline refleks menoyor kepala Gavin karena kesal.


"Aku tak bermaksud!" Gavin masih saja tertawa.


"Hanya bingung saja, kau pacaran lima tahun itu ngapain saja?" Lanjut Gavin lagi merasa kepo.


"Kami ngapain saja? Dia sudah menipuku mentah-mentah dan menguras semua uangku!" Curhat Zeline yang akhirnya mengeluarkan uneg-uneg di dalam hatinya.


"Bagaimana bisa?" Yanya Gavin semakin kepo. Pria itu juga sudah berhenti tertawa sekarang.


"Dia memanfaatkan aku! Memuji-muji aku setinggi langit dan selalu mengatakan aku cantik dengan postur gendutku ini hingga aku selalu mengurungkan niatku untuk diet-"


"Kau memang cantik meskipun size-mu plus," komentar Gavin yang tumben bahasanya sopan dan tak membawa-bawa buldozer ataupun gebuk maling


"Semua wanita itu cantik, terlepas dari apapun ukuran baju dan celana mereka!" Ujar Gavin lagi seraya menatap bersungguh-sungguh pada Zeline.


"Kau sedang menyindirku?" Ketus Zeline yang cara bicaranya terdengar tak bersahabat pada Gavin. Zeline lalu beranjak dan kembali masuk ke dalam gubuk, meskipun masih terpincang-pincang.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2