
Beep! Beep! Beep!
Zeline yang baru tiba di rumah, menekan klakson mobil dengan barbar hanya karena sopir Papi Zayn salah memarkirkan mobil.
Beep! Beep! Beep!
Zeline terus menekan klakson mobilnya kuat-kuat, hingga Mami Thalita, Papi Zayn, Sakya dan Gretha beehamburan keluar dari rumah karena mengira ada trus kontainer yang mungkin tersesqt ke halaman rumah mereka.
"Singkirkan mobil itu! Aku mau parkir!" Zeline berteriak pada security dan sopir yang tergopoh-gopoh menghampirinya.
Beep! Beep!
Dan Zeline kembali menekan klakson.
"Zeline!" Teriak Mami Thalita memberikan kode pada Zeline agar berhenti menekan klakson secara barbar.
"Kak Zeline berisik!" Sakya sudah menghampiri Zeline dan meminta kakaknya itu untuk keluar dari mobil.
"Pindahkan mobil Papi! Itu tempat parkirku!" Bukannya keluar dari mobil, Zeline malah memerintah Sakya sambil tangannya terus menekan klakson mobil.
"Kan bisa parkir di sebelahnya! Minggir! Sakya parkirin kalau tidak bisa!" Jawab Sakya yang balik memerintah sang kakak.
"Tidak!"
"Kamu pindahin sekarang!"
Beep! Beep!
Zeline menekan klakson semakin keras, hingga semua anggota keluarganya menutup telinga.
Sopir akhirnya memindahkan mobil Papi Zayn, dan setelah itu, barulah Zeline berhenti berulah.
"Lebay! Seperti kurang jatah saja!" Cibir Sakya yang langsung membuat Zeline naik pitam.
"Apa katamu barusan?" Zeline mendelik pada Sakya.
"Kak Zeline kurang jatah!" Jawab Sakya berani.
"Kurang ajar!" Zeline langsung menoyor kepala sang adik.
"Aduh! Sakit, Kak!" Keluh Sakya seraya mengusap-usap kepalanya sendiri.
"Syukurin!" Zeline tersenyum puas.
"Tiketnya aku buang aja kalau begitu!" Ujar Sakya yang tiba-tiba sudah menunjukkan sebuah tiket pada Zeline.
"Hah, tiket apaan itu?" Zeline dengan cepat merebut tiket yang berada di tangan Sakya.
"Tiket untuk ke rumah Abang Gavin, biar Kak Zeline nggak mencak-mencak terus! Udah seneng sekarang?" Jawab Sakya lebay.
"Padahal kan beli tiket sendiri juga bisa, kenapa harus nunggu Sakya belikan," gerutu Sakya lagi pada Zeline yang masoh diam.
"Yang nyuruh beli tiket siapa, memang?" Tanya Zeline pada Sakya.
"Mami!" Jawab Sakya to the point.
"Mami?"
Zeline tak menunggu lagi dan segera menghampiri Mami Thalita yang sudah kembali masuk ke rumah setelah tadi sedikit jantungan karena klakson tanpa henti dari Zeline.
"Mi!"
"Ada apa, Zel? Sudah yang uring-uringan?" Tanya Mami Thalita seeaya geleng-geleng kepala.
"Ini maksudnya apa?" Zeline menunjukkan tiket dari Sakya tadi pada Mami Thalita.
"Iya biar kamu main ke rumah calon mertua kamu. Biar kamu bisa ketemu Gavin dan nggak uring-uringan lagi."
"Beberapa hari ini mami lihat kok, semua yang ada di depan kamu selalu salah."
"Keset salah, kursi salah, mobil salah, kata Nona kamu juga uring-uringan di kantor," Cerocos mami Thalita yang langsung membuat Zeline menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bawaan mau dapat tamu bulanan aja, Mi!" Ujar Zeline beralasan.
"Jangan bohong! Kan kamu sendiri yang bilang, kalau baru selesai dapat tamu bulanan. Berarti ada hal lain, dong!"
"Iyakah? Hehehe!" Zeline tertawa aneh.
__ADS_1
"Bilang aja kangen sama Bang Gavin!" Seru Sakya yang langsung berhadiah toyoran dari Zeline.
"Diam, Bocah!" Gertak Zeline geregetan.
"Kak Zeline itu yang kayak bocah! Sakya kan udah mau jadi bapak sebentar lagi," Sakya menepuk dadanya sendiri dengan sombong.
Zeline tak menanggapi dan hanya berdecak.
"Udah, kamu buruan berkemas sana! Besok berangkat pagi-pagi biar diantar Sakya-"
"Ogah, Mi! Suruh pergi sama sopir. Sakya besok ada praktek pagi," sergah Sakya beralasan.
"Kan bisa sekalian antar kakak kamu ke airport, Sak!"
"Iya, Sak! Sak semen!" Zeline menimpali dan kembali merasa geregetan.
"Sak semen! Fix, Sakya nggak akan antar!"
"Pergi saja sendiri!" Pungkas Sakya seraya meninggalkan Mami Thalita dan juga Zeline.
"Dasar bocah!" Cibir Zeline yang kembali melihat tiket di tangannya.
Akhirnya....
Zeline akan menemui pemuda menyebalkan bernama Gavin itu!
Besok pasti dia kaget karena Zeline tiba-tiba sudah muncul di rumahnya.
****
Zeline menyeret kopernya keluar dari bandara kota, saat dua orang yang sepertinya memang sudah menunggu kedatangannya melambaikan tangan ke arah Zeline. Mereka adalah Ezra dan Joanna.
"Ketemu lagi!" Zeline segera menyapa sepupu sekaligus calon abang dan kakak iparnya tersebut.
"Udah kangen berat sama Gavin, Zel?" Tanya Kak Joanna sedikit menggoda.
"Enggak juga, Kak!"
"Kan kesini mau main ke rumah Tante Vale," jawqb Zeline beralasan. Padahal yang sebenarnya, jangan ditanya!
"Gavin malah tidak tahu kamu mau datang hari ini." Jawab Abang Ezra.
"Tadi juga kayaknya dia ke kampus lagj karena bimbingannya yang kemarin belum selesai." Sambung Kak Joanna yang sedikit membuat Zeline kecewa.
"Tapi tenang saja! Nanti agak siangan Gavin pasti udah balik dari kampus, Zel!" Ujar Kak Joanna lagi menenangkan. Zeline hanya mengangguk, dan tiga orang itupun segera meninggalkan bandara, menuju ke rumah keluarga Diba.
"Kalau Kak Jo dan Abang Ezra, tinggalnya dimana? Di rumah Tante Vale dan Om Arga juga?" Tanya Zeline membuka obrolan di dalam mobil.
"Enggak!" Jawab Joanna dan Ezra kompak.
"Kami tinggal di kafe," ujar Abang Ezra menjelaskan.
"Yang cabang Rainer's Resto itu, ya?" Tanya Zeline menebak-nebak.
"Tepat! Gavin udah cerita, ya?" Abang Ezra balik bertanya.
"Iya, udah, Bang!"
Mobil terus melaju melewati jalan yang berkelok. Jarak bandara ke rumah Tante Vale lumayan jauh juga. Mungkin karena rumah Tante Vale yang berada di pesisir.
"Tapi kata Gavin, kamu pernah liburan ke kota ini, Zel?" Gantian Kak Joanna yang bertanya.
"Iya yang pas Zeline ketemu Gavin itu, Kak! Tapi Zeline emang cuma dari airport trus langsung ke dermaga buat nyeberang ke pulau." Jelas Zeline.
"Oh, berarti memang hanya singgah," ujar Kak Joanna.
Hampir empat puluh menit perjalanan menuju ke rumah Gavin yang akhirnya sudah tampak di depan mata.
"Sudah sampai!" Ucap Abang Ezra.
"Ini rumahnya, Bang?" Tanya Zeline sedikit tak percaya.
"Nggak sebesar dan semewah rumah kamu, Zel! Kaget, ya?" Tanya Abang Ezra seraya tertawa kecil.
"Enggak juga, sih!" Zeline membuka pintu mobil dan segera keluar. Tak berselang lama, Bunda Vale sudah keluar untuk menyambut Zeline.
"Selamat datang!" Sambut Bunda Vale yang langsung memeluk Zeline.
__ADS_1
"Sendirian?" Tanya Bunda Vale.
"Iya, Tante! Mami dan Papi titip salam," jawab Zeline seraya tersenyum. Zeline masih menatap kagum pada rumah panggung di belakang Bunda Vale.
Ada pohon dengan ayunan kayu di depan rumah tersebut, dan suasananya benar-benar khas seperti rumah tepi pantai.
Pantas saja Gavin jadi anak pantai sejati!
Sejak kecil tinggalnya sudah di rumah seperti ini!
"Rumahnya sederhana, Zel! Tapi semoga kamu betah, ya!"
"Gavin dari lahir sampai sekarang ya disini tinggalnya," terang Bunda Vale sembari mengajak Zeline berkeliling.
"Bagus rumahnya, Tante!" Puji Zeline yang masih asyik melihat-lihat rumah Gavin.
"Gavin sudah pergi, Bund?" Tanya Abang Ezra setelah meletakkan koper Zeline ke teras.
"Sudah tadi!" Jawab Bunda Vale.
"Ezra dan Joanna langsung pulang, ya, Bund!" Pamit Ezra selanjutnya.
"Iya!"
"Terima kasih udah jemput aku, Bang!" Seru Zeline pada abang kandung Gavin tersebut.
"Sama-sama!"
"Bye!"
"Bye, Zel! Nanti mampir ke kafe!" Seru Kak Joanna yang tak turun dari mobil.
"Oke!" Zeline mengacungkan jempolnya ke arah kakak ipar Gavin tersebut.
"Tante di rumah sendirian? Om Arga kemana?" Tanya Zeline yang sejak tadi tak melihat keberadaan Ayah kandung Gavin tersebut.
"Di toko!" Bunda Vale menunjuk ke toko di seberang jalan.
"Oh, itu tokomya Om Arga, ya?" Kekeh Zeline yang baru tahu.
"Iya, itu toko milik keluarga. Gavin kadang juga bantu-bantu di sana kalau senggang. Meskipun anak itu jarang senggang," Bunda Vale tertawa kecil.
"Kalau ada waktu nganggur, paling ya ngelus-elus papan selancarnya atau menjajal ombak. Begitulah!" Bunda Vale geleng-geleng kepala, dan kini ia dan Zeline sudah tiba di depan sebuah kamar.
"Kamu istirahat saja dulu, Zel!" Ujar Bunda Vale selanjutnya pada Zeline seraya membuka pintu kamar tadi.
"Ini?"
"Kamar Gavin."
"Nanti malam Gavin biar tidur di sofa atau di toko. Nggak apa-apa, kan?" Ujar Bunda Vale yang langsung membuat Zeline menggeleng.
"Istirahat dulu saja! Sembari menunggu Gavin pulang nanti," ujar Bunda Vale sekali lagi sebelum wanita paruh baya itu menutup pintu dan meninggalkan Zeline di dalam kamar Gavin.
Zeline segera meraih salah satu dari tumpukan buku di atas meja yang sepertinya adalah buku-buku Gavin.
"Loh, Gavin kuliah jurusan manajemen bisnis? Aku pikir jurusan pariwisata," Zeline mengernyit dan sedikit heran
"Nggak nyambung sekali!" Gumam Zeline lagi seraya geleng-geleng kepala. Zeline lalu lanjut merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur Gavin dan meraih guling yang ada di sana.
"Bau keteknya Gavin!" Gumam Zeline setelah mengendus aroma guling di pelukannya tersebut.
"Tapi enak juga!" Zeline kembali mencari-cari.
"Kok ngangenin, ya?" Gumam Zeline lagi yang tak mau berhenti mengendus aroma khas Gavin di guling tersebut.
.
.
.
TerGavin-Gavin.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1