Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
CURHAT?


__ADS_3

"Dia seorang konten creator." Cerita Zeline sebelum gadis itu mengambil satu pisang lagi dari tandannya, lalu melahap buah itu dengan cepat.


"Lalu alasan kalian berpacaran selama lima tahun, hingga kau ditipu mentah-mentah?" Tanya Gavin lagi.


"Tadinya dia baru kuliah semester awal saat kami berkenalan-"


"Kau juga masih SMA, begitu?" Tebak Gavin yang langsung membuat Zeline tergelak.


"Aku sudah selesai wisuda saat itu!" jawab Zeline blak-blakan yang langsung membuat Gavin menganga.


"Usiamu sekarang berapa?" Tanya Gavin yang mendadak penasaran.


"Dua puluh sembilan tahun! Kenapa? Kaget? Tidak percaya? Ya! Aku seorang perawan tua!" Jawab Zeline bercerocos panjang kali lebar kali tinggi.


"Aku juga bosan dengan pertanyaan orang-orang yang terus saja menanyakan kapan kau dilamar! Kapan kau akan menikah? Kapan kau akan menyusul adikmu?" Zeline terus bercerocos seolah sedang menumpahkan semua uneg-unegnya pada Gavin. Persetan kalau setelah ini Gavin akan meledeknya. Zeline sedang butuh pelampiasan dan teman curhat!


"Kenapa tak balik bertanya, kapan kalian semua akan dipanggil Yang Maha Kuasa?" Celetuk Gavin yang entah mengapa bisa mirip, persis, plek ketiplek dengan apa yang selama ini Zeline pikirkan?


Aneh sekali!


Zeline tak menjawab celetukan Gavin, dan gadis itu kembali mengambil satu pisang yang matang dari tandan. Tumpukan kulit pisang di depan Zeline sudah lebih tinggi dari milik Gavin.


Terserah! Zeline tak peduli!


Zeline mudah lapar saat sedang kesal begini! Jadi mungkin satu tandan pisang ini akan Zeline habiskan sendiri!


"Memangnya ada patokan seseorang disebut sebagai perawan tua?" Tanya Gavin memecah keheningan diantara dirinya dan Zeline yang masih sibuk mengunyah pisang. Jangan tanya seberapa anggun Zeline memakan pisang-pisang itu karena sama sekali tak ada nilai keanggunan di sana!


Kupas, ambil, makan!


Begitu terus hingga nyaris setengah tandan pisang sudah berpindah ke perut Zeline.


Pipi gadis itu pasti akan bertambah chubby setelah ini!


"Mana aku tahu? Asal seorang gadis tak kunjung menikah, biasanya ia akan disebut perawan tua!" Jawab Zeline dengan nada ketus.


"Tapi kau belum terlihat tua!"


"Tadinya aku mengira kalau kita seumuran," ujar Gavin lagi seraya terkekeh.


"Usiamu berapa memangnya? Dua puluh lima? Dua puluh enam?"


"Dua puluh tiga tahun!" Jawab Gavin cepat yang langsung membuat Zeline batuk-batuk karena tersedak pisang.


"Wajahku terlihat tua memangnya?" Tanya Gavin lagi pada Zeline yang masih batuk-batuk.


"Sedikit!" Jawab Zeline setelah gadis itu meneguk air untuk menghilangkan para pisang yang menyangkut di tenggorokan.


"Kau masih kuliah berarti?" Tebak Zeline yang tak lagi lanjut makan pisang.


"Tinggal skripsi sebenarnya. Tapi aku sedang malas mengerjakannya, jadi aku memutuskan untuk menjadi tour guide dulu sembari menikmati hidup," jelas Gavin seraya melipat kedua tangannya ke belakang kepala, lalu pria itu bersandar pada salah satu tiang gubuk.

__ADS_1


"Ayah bundamu tak protes, kau asal-asalan begitu dengan pendidikanmu?" Tanya Zeline heran.


"Protes sedikit, tapi aku kan pandai beralasan," ujar Gavin dengan nada sombong.


"Cih! Dasar tukang nge-less!" Cibir Zeline seraya berdecih.


"Kau sendiri? Orang tuamu tidak memaksa untuk menjodohkanmu dengan anak sahabatnya seperti di film-film itu?" Gavin ganti bertanya pada Zeline seolah pemuda itu begitu kepo pada kehidupan Zeline.


"Mami tak pernah memaksa dan membebaskan aku untuk memilih pasangan hidupku sendiri, karena aku memang bukan bocah yang masih perlu dijodoh-jodohkan!"


"Kalau papi, sebenarnya sedikit cemas belakangan ini, terutama setelah aku putus dari Armando kere menyebalkan!" Cerita Zeline panjang lebar.


"Mereka tak mendesakmu untuk segera memberikan cucu? Biasanya kan orang tua memakai alasan itu!" Tanya Gavin lagi.


"Mereka akan mendapatkan cucu dari adikku yang sudah menikah. Jadi tak ada alasan bagi mereka untuk mendesakku," jawab Zeline santai.


"Tunggu! Adikmu sudah menikah?" Gavin menyela cerita Zeline.


"Ya!"


"Usianya tiga tahun lebih muda dariku dan dia sudah menikah beberapa bulan yang lalu! Lancang sekali dan benar-benar adik yang tidak pengertian!"


"Karena itulah aku minta kompensasi sebuah liburan kepadanya atas sikapnya yang tak pernah pengertian itu! Tapi sekarang, paket liburan darinya malah membuatku tersesat ke pulau antah barantah ini!" Cerocos Zeline panjang lebar mengungkapkan semua kekesalannya pada Sakya.


Apa sekarang Sakya tahu kalau Zeline hilang dan tersesat?


Palingan juga tak peduli!


"Lalu apa rencanamu setelah nanti kita keluar dari pulau ini dan membali ke peradaban?" Tanya Gavin lagi seraya menatap pada Zeline.


"Rencanaku? Kembali ke kantor tentu saja! Bergelut dengan berkas dan jadwal meeting yang padat!" Jawab Zeline dengan nada malas, seolah gadis itu merasa jenuh dengan kehidupannya.


"Dan juga menghadapi orang-orang yang akan kembali menanyaiku, kapan aku akan menikah? Kapan menyebar undangan?" Lanjut Zeline lagi dengan ekspresi wajah mencibir-cibir.


"Apa pekerjaanmu memangnya? Staff kantor?" Tanya Gavin lagi penasaran. Zeline sontak tergelak dengan pertanyaan lucu Gavin.


"Staff? Aku yang membayar mereka semua!" Jawab Zeline dengan nada pongah.


"Kau?" Gavin mengernyit dan hendak menebak.


"Apa menurutmu pekerjaanku?" Tanya Zeline memberikan kode pada Gavin agar menebak.


"CEO? Nona direktur?" Tebak Gavin mengira-ngira.


"Aku bekerja di perusahaan milik Opaku yang kemudian diwariskan ke Papiku-"


"Oh, ya ampun! Aku pikir kemarin itu kau hanya bercanda!" Gavin terkekeh dan pemuda itu menepuk keningnya sendiri.


"Wajah dan penampilanku tak meyakinkan, begitu? Atau aku terlihat seperti orang kere di matamu?" Cecar Zeline merasa tak senang dengan pertanyaan Gavin.


"Bukan seperti itu! Tapi Nona direktur kebanyakan akan menjaga image dan selalu berpenampilan wah!"

__ADS_1


"Baru kali ini aku melihat nona direktur yang membumi dan tampil apa adanya sepertimu!" Ujar Gavin panjang lebar seraya melempar pujian pada Zeline.


"Aku sedang berlibur dan aku suka menjadi diriku apa adanya! Kalau di kantor atau bertemu klien mungkin lain cerita," tukas Zeline mengemukakan alasannya. Tapi ini memang kali pertama Zeline mendapat pujian dari pria tentang penampilannya yang apa adanya dan menjadi diri sendiri.


Dulu, Armando saja selalu protes jika Zeline menjadi dirinya sendiri dan tak menjaga image!


Ck!


Mungkin karena Armando sialan itu memang tak pernah mencintai Zeline dan hanya memanfaatkan Zeline saja.


Lalu jika sekarang Gavin memuji Zeline, apa itu artinya Gavin mencintai Zeline?


Oh, astaga! Sebuah pertanyaan konyol!


"Tidak makan pisangnya lagi?" Tanya Gavin menyentak lamunan Zeline.


"Aku sudah kenyang!" Jawab Zeline seraya melepaskan bajunya, lalu memberikan benda itu pada Gavin.


"Pasanglah bendera lagi agar kita bisa segera keluar dari pulau ini!"


"Ayah bundamu mungkin khawatir padamu yang tak kunjung pulang," ujar Zeline menyuruh Gavin.


"Aku sudah biasa pergi selama berminggu-minggu. Jadi ayah Bundaku tak mungkin khawatir."


"Papi mamimu yang mungkin khawatir," Gavin menatap ke arah Zeline.


"Ya!"


"Tapi jika aku pulang, mereka hanya akan menanyai kapan aku menikah," Zeline berdecak kesal.


"Tidak usah terlalu diambil pusing!" Nasehat Gavin bijak.


"Biasanya, jodoh malah akan datang dengan cara yang tak disangka-sangka." Ujar Gavin lagi tetap dengan nafa sok bijaknya.


"Seperti kau yang menyebalkan itu yang mungkin saja adalah jodohku?" Kelakar Zeline seraya terkekeh dan Gavin langsung ikut terkekeh.


"Bisa jadi! Kau saja hobi menindihku dan sudah berani pegang-pegang milikku!" Sahut Gavin yang langsung membuat Zeline merengut.


"Ck! Suka sekali membahas hal itu! Mau aku tindih lagi sampai gepeng?" Ancam Zeline yang langsung membuat Gavin bangkit berdiri dengan cepat.


"Tidak, terima kasih! Aku mau pasang bendera!" Jawab Gavin seraya ngacir ke arah pantai seraya membawa baju Zeline.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2