Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
URING-URINGAN


__ADS_3

Waktu berjalan lambat.


Zeline meletakkan penanya dengan kasar ke atas meja, lalu gadis itu melihat kalender duduk yang ada di atas mejanya.


"Baru dua minggu? Kenapa sudah terasa seperti dua abad?" Gerutu Zeline setelah menghitung-hitung berapa lama ia dan Gavin sudah menjalin hubungan LDR.


"Kenapa juga kemarin aku harus setuju dengan hubungan LDR bodoh ini?" Zeline kembali menggerutu, lalu gadis itu melihat ke layar ponselnya, berharap ada prsan dari Gavin atau mungkin sebuah panggilan tak terjawab.


Tapi tidak ada!


Baru sekitar satu jam yang lalu Gavin menelepon dan mengatakan kalau ia ada bimbingan hari ini di kampus dan mungkin akan sibuk sampai sore setelahnya.


Terserah!


Zeline beralih ke telepon internal di atas meja kerjanya. Gadis itu menghubungi Nona namun tidak diangkat. Kemana sekretaris Zeline itu? Diculik oleh Ryan?


Zeline juga tak keberatan kalau Gavin menculiknya. Tapi Gavin masih sibuk dengan skripsinya sekarang dan Zeline merana sendiri disini.


Zeline akhirnya terpaksa mengangkat bokongnya sendiri dan keluar dari ruangan untuk menghampiri Nona. Namun saat Zeline tiba di meja sekretarisnya itu, Nona tak berada dj tempat dan entah gadis itu pergi kemana.


"Nona!" Panggil Zeline seraya memeriksa pantry.


Kosong!


"Nona-"


"Hoek!"


Zeline samar-samar mendengar suara Nona yang sepertinya sedang muntah-muntah di toilet.


Wah wah wah! Mencurigakan sekali ini!


"Nona!" Zeline mengetuk pintu toilet, dan tak berselang lama, Nona keluar dengan wajah pucat.


"Iya, Nona Zeline! Maaf." Ucap Nona terbata


"Kau kenapa? Muntah-muntah?" Tanya Zeline yang sudah siap menghubungi Ryan. Sepertinya sepupu Zeline itu harus memberikan penjelasan kenapa Nona muntah-muntah padahal hari masih pagi. Jangan bilang kalau Ryan sudah investasi saham di rahim Nona.


Zeline akan lapor ke Uncle Daniel dan Aunty Thalia nanti. Habis kau, Ryan!


"Tadi pagi sepertinya salah makan, Nona Zeline," ucap Nona yang kembali terlihat mual. Gadis itu masuk lagi ke dalam toilet untuk menguras isi perutnya.


Bagus sekali!


Sebaiknya Zeline memang menghubungi Ryan sekarang!


"Halo, Zel! Ada apa?"


"Pacarmu muntah-muntah di kantor!" Lapor Zeline pada Ryan.


"Nona sakit?"


"Hamil mungkin," Zeline sedikit berbisik.


"Sudah nyicil berapa kali kalian? Aku laporkan ke Uncle Daniel-"


"Sembarangan!"


"Aku dan Nona belum pernah ngapa-ngapain! Sah saja belum!" Suara Ryan terdengar bersungut-sungut di ujung telepon.


"Yakin? Lalu kenapa ini Nona muntah-muntah di pagi hari?" Zeline masih sangsi.


"Pasti sakit! Aku ke sana sekarang!" Telepon terputus tanpa ada basa-basi dari Ryan. Dasar sepupu kurang ajar!


Nona sudah keluar lagi dari dalam toilet, dan akhirnya Zeline menyuruh sekretarisnya itu untuk istirahat saja. Zeline juga membawakan Nona segelas air hangat dari pantry karena wajah Nona pucat sekali.


"Maaf, Nona Zeline!" Ucap Nona sungkan.


"Tidak apa! Aku bisa mengurus jadwalku sendiri. Nanti Ryan akan segera datang dan membawamu periksa. Aku sudah meneleponnya tadi." Ucap Zeline panjang lebar pada Nona.


"Terima kasih, Nona Zeline!"

__ADS_1


"Ya!"


"Anda ada meeting sepuluh menit lagi, Nona Zeline." Nona mengingatkan.


"Iya aku tahu dan aku ingat!"


"Sudah istirahat saja dan aku akan menyiapkan sendiri apa-apa yang harus aku bawa," Zeline mengedarkan pandangannya ke meja kerja Nona dan mencari-cari sesuatu.


"Map warna hijau, Nona Zeline!"


"Iya!" Jawab Zeline ketus seraya menyambar map berwarna hijau. Meskipun sakit, Nona ternyata masih sempat menyiapkan berkas-berkas untuk meeting.


Sekretaris se-efektif Nona harus Zeline lepaskan sebentar lagi karena dia akan menikah dengan Ryan.


Ck!


Dimana lagi Zeline mencari sekretaris seperti Nona setelah ini.


Menyebalkan!


Kenapa bukan Ryan saja yang mencari istri lain dan jangan Nona, sekretaris Zeline.


Astaga! Ini benar-benar memusingkan!


Semoga pernikahan Nona dan Ryan masih tahun depan atau tahun depannya lagi. Setidaknya sampai Zeline mendapat sekretaris pengganti yang sesuai.


"Ting!"


Suar lift membuyarkan lamunan Zeline. Ryan langsung keluar dari lift sesaat setelah pintu terbuka. Pria itu bahkan hampir menabrak Zeline yang sekak tadi hanya berdiri diam dan menunggu lift terbuka.


"Nona mana?"


"Sedang istirahat, dan aku harus meeting!"


"Aku akan melaporkanmu pada Uncle Daniel dan Aunty Thalia!" Zeline menuding sekali lagi pada Ryan, sebelum gadis itu masuk ke dalam lift dan menutup pintunya.


****


"Ck! Menyebalkan! Menyebalkan!" Zeline terus saja menggerutu hingga gadis itu masuk ke dalam ruang kerjanya. Nona masih belum kembali dari rumah sakit. Dan Zeline juga belum jadi melapor pada Uncle Daniel karena tadi Zelone masih sibuk meeting, lalu setelahnya, Zeline juga harus berkeliling ke beberapa divisi.


Astaga! Zeline sibuk sekali hari ini dan saat dia sedang butuh teman bicara kenapa ponsel Gavin menyebalkan itu malah tidak aktif!.


Ck!


Kau sedang apa sebenarnya, Gavin?


Sedang apa?


Zeline membanting penanya ke atas meja saking emosinya. Gadis itu juga menjambak rambutnya sendiri karena merasa kesal.


Entah kesal pada siapa, Zeline juga tidak tahu!


Kriing!


Ponsel Zeline berdering nyaring saat gadis itu masih merasa kesal. Secepat kilat, Zeline langsung mengangkat telepon dan mengira kalau itu adalah Gavin.


"Halo, Gavin! Kau kemana-"


"Gavin! Aku Ryan!"


"Ryan?" Zeline mengernyit.


"Baiklah, pelankan suaramu agar telingaku tak tuli!" Zeline langsung mengomel pada sepupunya tersebut.


"Perasaan yang barusan berteriak kau, bukan aku!"


"Sudahlah! Ada apa menelepon?" Zeline menyalak pada sang sepupu.


"Nona dirawat karena ternyata dia keracunan makanan. Pantas saja muntah-muntah terus."


"Yakin, dia tidak sedang hamil?" Zeline masih saja berprasangka.

__ADS_1


"Hamil dengan siapa maksudmu? Kami saja belum melakukan apa-apa!"


"Oh. Aku kira sudah mencicil!" Zeline sedikit menyindir Ryan.


"Sialan! Papi akan langsung menggantungku kalau aku pakai acara mencicil."


Zeline kembali terkekeh.


"Jadi Nona dirawat sampai kapan?"


"Sampai pulih."


"Astaga! Aku boleh pinjam sekretarismu?" Tanya Zeline yang mendadak otaknya sedikit buntu sekarang.


"Mau barter?"


"Barter apa maksudnya?" Zelin mengernyit tak paham.


"Sekretarisku dan Nona. Bagaimana kalau kita barter saja!"


"Tidak! Aku hanya pinjam sementara sampai Nona pulih!' Tolak Zeline yang kembali menyalak pada Ryan.


"Sayang sekali! Sekretarisku yang terbaik padahal."


"Ck! Aku akan mencari sekretaris pengganti lain dan aku tak akan minta tolong pada sepupu menyebalkan sepertimu!" Zeline bersungut-sungut pada Ryan.


"Baiklah! Selamat mencari! Mungkin Gavin mau jadi sekretarismu." Terdengar kekehan Ryan di ujung telepon.


"Dia sedang pingsan tertimbun tumpukan materi skripsi!" Curhat Zeline yang mendadak kembali merasa kesal.


"Oke, Bye! Selamat mencari sekretaris baru!"


"Sialan!" Maki Zeline sebelum telepon terputus. Zeline kembali menjambak rambutnya sendiri karena kesal.


"Aku akan pulang saja untuk makan siang!" Putus Zeline akhirnya yang merasa suntuk berada di kantor.


****


"Aduh!" Zeline baru saja akan masuk ke rumah, saat gadis itu malah tersandung keset yang ada di depan pintu.


"Ish! Ini keset kenapa juga ada di depan pintu!" Zeline yang geram langsung menendang keset itu sekuat tenaga. Keset seketika langsung melayang tinggi dan terbang entah kemana.


"Menyebalkan!" Maki Zeline kesal seraya berbalik dan gadis itu ganti menabrak lursi teras.


"Ini kursi kenapa juga?" Zeline kembali merasa geram dan gadis itu ganti menendang kursi teras yang tak berdosa hingga salah satu kaki kursi patah.


"Astaga, Zeline!" Mami Thalita yang baru keluar dari rumah langsung teroerangah melihat tingkah barbar sang putri.


"Salahkan kursi bodoh itu! Ada orang mau lewat, bukannya minggir malah menabrakkan diri!" Gerutu Zeline seraya melempar tasnya serampangan. Gadis itu lalu pergi ke dapur untuk minum dan mengambil makanan.


"Kau sedang ada tamu bulanan, Zel?" Tanya Mami Thalita yang sudah menyusul ke dapur.


"Baru selesai beberapa hari yang lalu." Jawab Zeline seraya menggigit roti tawar isi selai coklat dalam gigitan besar.


"Pelan-pelan makannya! Nanti kamu tersedak, Zel!"


"Kamu kok emosian begitu kenapa? Gavin sibuk?" Tanya Mami Thalita menyelidik.


"Tidak usah membahasnya!" Jawab Zeline dengan mulut penuh makanan.


"Mungkin dia sudah menikah dengan skripsinya sekarang!" Lanjut Zeline lagi masih kesal.


Mami Thalita hanya tertawa kecil dan akhirnya, mami kandung Zeline itu meninggalkan sang putri di dapur.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2