
Zeline bersendawa setelah gadis itu menghabiskan semua makanan yang tadi dipesan oleh Gavin. Hampir semua makanan yang ada di daftar menu Rainer's Resto, Gavin pesan untuk Zeline dan juga untuk Gavin sendiri. Dan kini mereka berdua sudah sama-sama kenyang.
"Sudah jam sembilan," ujar Gavin setelah melihat jam di tangannya.
"Kenapa memang?" Tanya Zeline sebelum gadis itu menyesap minuman di gelasnya hingga tandas.
"Kau harus segera pulang!"
"Ayo!" Gavin yang sudah duluan bangun, menarik tangan Zeline agar ikut bangun juga.
"Aku akan pulang sendiri! Daripada bolak-balik!" Ujar Zeline seraya mengambil tasnya.
"Bolak-balik bagaimana?" Tanya Gavin bingung.
"Lah iya, aku harus nganterin kamu ke rumah Opa Theo, trus pulang ke rumahku sendiri-"
"Kau lupa?" Gavin menyela kalimat Zeline.
"Lupa apa?"
"Aku menginap di rumahmu malam ini. Besok Ayah dan Bunda akan mampir menjemputku sebelum ke airport," terang Gavin yang langsung membuat Zeline merengut.
"Kau benar-benar berangkat besok? Kenapa tak diundur jadi lusa?" Zeline menawar dan tetap merengut.
"Masih kangen, ya?" Gavin sudah merangkul genit pundak Zeline.
"Nggak, kok!" Kilah Zeline yang tetap saja jual mahal.
"Nggak apa? Nggak salah?" Kekeh Gavin seraya merogoh ke dalam tas Zeline yang tersampir di pundak gadis itu.
"Hei! Kau cari apa? Mau merampokku!" Zeline refleks memukul tangan Gavin.
"Kunci mobil!"
"Sudah malam, biar aku yang mengemudi," ujar Gavin seraya menunjukkan kunci mobil Zeline yang sudah berhasil ia ambil dari dalam tas.
"Kau bisa mengemudi?" Tanya Zeline ragu.
"Bisalah! Kau yang jadi penunjuk arahnya," Gavin membukakan pintu mobil untuk Zeline, lalu menutupnya kembali setelah Zeline masuk dan duduk.
"Awas jangan nabrak!" Zeline memperingatkan Gavin yang sudah menyusul masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Aku yakin mobilmu sudah diasuransikan-"
"Gavin!" Zeline langsung mencubit lengan Gavin.
"Sakit! Kau barbar sekali!" Gavin mengacak rambut Zeline, lalu pemuda itu segera melajukan mobil Zeline meninggalkan Rainer's Resto.
Tak ada obrolan sepanjang perjalanan karena Zeline yang seharusnya menjadi penunjuk arah untuk Gavin malah sudah terkantuk-kantuk. Sepertinya gadis itu terlalu kekenyangan, makanya mengantuk.
Gavin akhirnya harus mengingat-ingat sendiri jalan ke rumah Zeline. Untunglah jalannya mudah diingat, sehingga Gavin tak perlu tersesat seperti Zeline saat kemarin di pulau.
Ah, mungkin seharusnya Gavin tadi pura-pura mengajak Zeline tersesat dulu agar mereka bisa berduaan lebih lama di dalam mobil.
Gavin membelokkan mobil Zeline masuk ke kediaman Abraham yang sudah terlihat sepi. Setelah memarkirkan mobil Zeline di depan garasi, Gavin segera membangunkan Zeline perlahan.
"Zel!" Gavin menepuk-nepuk pipi chubby Zeline, lalu tersenyum sendiri.
"Ini bakpao kenapa semakin bulat? Aku lahap juga lama-lama!" Gavin mencubit gemas pipi Zelin yang kenyal dan chubby.
"Gigit sedikit boleh mungkin, ya," gumam Gavin yang sudah ganti mengusap-usap pipi Zeline.
Gavin melihat ke sekeliling terlebih dahulu sebelum pria itu melancarkan aksinya dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Zeline yang masih terlelap.
Eh, ini mau gigit pipi Zeline, atau cium pipi Zeline, ya?
Dua-duanya tak masalah sepertinya!
Cium dulu baru gigit.
Gavin semakin mendekatkan bibirnya ke wajah Zeline, dan saat bibir Gavin hanya tinggal beberapa mili lagi dari pipi chubby Zeline, kedua mata gadis itu tiba-tiba malah sudah membelalak lebar.
__ADS_1
Apa?
Zeline bangun?
"Kau sedang apa, Vin?" Zeline dengan cepat menangkup bibir Gavin yang sudah monyong-monyong tak jelas.
"Apa, sih ini?" Gertak Zeline dengan nada galak pada Gavin.
"Apa? Tapi ada nyamuk di pipimu! Jadi mau aku usir nyamuknya," ujar Gavin beralasan.
"Ngusir nyamuk pakai bibir? Baru tahu!" Cibir Zeline yang langsung membuat Gavin terkekeh.
"Katanya lebih manjur ketimbang pakai tangan yang mungkin saja akan membuatmu kaget," Gavin masih punya seribu alasan.
"Ck! Teori darimana itu?"
"Dari Gavin!" Jawab Gavin seraya tertawa renyah. Gavin dan Zeline menyudahi obrolan mereka dan akhirnya turun dari mobil.
"Kau tadi tersesat atau tersasar? Aku kan ketiduran dan tak ada yang menjadi penunjuk jalan." Tanya Zeline selanjutnya pada Gavin.
"Tersasar," jawab Gavin berbohong.
"Benarkah? Tersasar kemana?" Ekspresi wajah Zeline langsung berubah khawatir.
"Ke hatimu," jawab Gavin seraya tergelak yang tentu saja langsung mekbuat Zeline mendengus.
"Ck! Aku tanya serius juga!" Omel Zeline kesal.
"Iya aku juga serius. Kan aku udah nyasar ke hatimu!" Gavin masih saja tergelak.
"Mau makan lagi?" Tanya Gavin saat ia mengekori Zeline yang malah masuk ke dalam dapur.
"Ambil minum! Lagipula, perutku sudah kenyang sekali, kenapa masih saja mau makan," jawab Zeline bersungut. Gadis itu mengambil sebotol air dingin, lalu meneguknya. Dan Gavin juga mengikuti apa yang dilakukan oleh Zeline.
"Jadi nginep?" Tanya Zeline yang sudah selesai minum.
"Ya! Kau sudah ngantuk belum?" Gavin balik bertanya pada Zeline.
"Tadi kan udah tidur di mobil."
"Jangan berisik! Sudah malam!" Zeline mengingatkan Gavin.
"Oke! Kau duluan!" Gavin mengacungkan ibu jarinya ke arah Zeline, lalu dua sejoli itu lanjut bermain billiard hingga tengah malam.
****
"Terima kasih, Nona!" Ucap Zeline pada Nona yang baru saja mengantarkan segelas es kopi ke ruangannya.
"Sama-sama, Nona Zeline! Saya permisi!" Pamit Nona seraya undur diri, lalu keluar dari ruangan Zeline.
Zeline menyesap es kopinya, lalu melihat ke arloji di tangannya.
"Kok Gavin belum ngabarin, ya?"
"Masa iya belum sampai," Zeline bergumam sendiri, lalu menghubungi nomor Gavin.
Cukup lama sampai akhirnya telepon diangkat.
"Halo!" Suara Gavin terdengar serak diujung telepon.
"Kau dimana?" Tanya Zeline tonthe point pada sang tunangan.
"Di kamar. Baru bangun!"
"Sudah sampai berarti? Lalu kenapa tidak menelepon atau memberi kabar? Sudah lupa kalau punya tunangan?" Cecar Zeline bersungut-sungut pada Gavin.
Tak berselang lama, ada panggilan video call dari Gavin. Zeline mengangkatnya, namun gadis itu malah mengarahkan kamera ke tempat lain dan bukan ke wajahnya.
"Zel! Kau dimana? Kok hitam layarnya?" Tanya Gavin tak mengerti.
Zeline masih tak menjawab, dan gadis itu hanya memperhatikan Gavin yang terlihat menguap berulang kali.
__ADS_1
"Maaf, kalau tadi aku tak langsung meneleponmu. Aku mabuk dan jetlag. Jadi sampai rumah Bunda memberiku obat dan menyuruhku langsung tidur. Eh, bablas," terang Gavin mencoba memberikan pengertian pada Zeline.
"Zel!" Panggil Gavin lagj karena Zeline masih belum menampakkan wajahnya.
"Zeline."
"Trus sekarang bagaimana? Sudah enakan atau masih mabuk?" Zeline akhirnya buka suara dan melontarkan pertanyaan pada Gavin.
"Wajah kamu mana, Zel? Kenapa suara saja?"
"Nongol sini!" Perintah Gavin.
"Nggak usah! Orang aku marah sama kamu!" Jawab Zeline ketus.
"Marah kenapa? Aku minta maaf!" Gavin memohon.
"Baiklah aku maafkan kalau skripsimu sudah selesai!" Zeline mengajukan syarat.
"Astaga! Aku saja belum buka laptop dan baru bangun. Bagaimana mau selesai skripsiku?" Gavin terkekeh dan Zeline langsung berdecak.
"Kan! Kamu malas-malasan!"
"Bukan malas-malasan, Zel! Aku memang baru sampai tadi dan masih jetlag! Besok udah mulai aku kerjakan," janji Gavin pada Zeline.
"Benar besok! Awas kalau kamu masih main-main!" Zeline memperingatkan Gavin dengan tegas.
"Iya, Sayang! Iya!" Jawab Gavin lumayan genit.
"Genit!" Cibir Zeline.
"Tapi kamu suka, kan?" Goda Gavin dan Zeline hanya menipiskan bibirnya lalu mengulas senyum segaris saja.
"Ngomong-ngomong, kau sedang dimana itu?" Tanya Zeline mengalihkan pembicaraan.
"Di kamarku! Atau harus kusebut sebagai kamar kita berdua!" Jawab Gavin cengengesan.
"Pasti kayak kapal pecah juga! Sebelas dua belas dengan kamarmu di gubuk waktu itu!" Tebak Zeline yang malah membuat Gavin tergelak.
"Nggaklah! Yang disini lebih rapi! Kan ada Bunda yang setiap hari beresin. Kamarnya jarang aku tempati juga," Gavin menyugar rambutnya, lalu pemuda itu juga menguap.
"Sudah tidur masih ngantuk?" Komentar Zeline sinis.
"Ngantuk dikit. Kan tadi malam aku tidak tidur! Kau itu yang tidur di pangkuanku sampai pagi," ujar Gavin kembali beralasan sekaligus mengingatkan Zeline tentang apa yang terjadi semalam. Setelah bermain billiard, Zeline memang langsung berbaring di sofa, dan Gavin sok-sokan memangku kepala gadis itu. Hingga akhirnya, Zeline sama sekali tak mau pindah dari pangkuan Gavin hingga dinihari. Paha Gavin rasanya benar-benar pegal karena memangku kepala Zeline semalaman.
"Tidur tinggal tidur juga! Apa susahnya? Banyak alasan!" Cibir Zeline seraya menyesap kopinya. Zeline ikut-ikutan menguap gara-gara melihat Gavin menguap tadi.
Kok bisa, ya!
"Hahahaha! Kau ngantuk juga?" Gavin ganti meledek Zeline.
"Mana ada!" Kilah Zeline cepat.
"Baiklah, aku percaya!" Gavin terkekeh
Tok tok tok!
Terdengar ketukan di pintu ruang kerja Zeline.
Zeline terpaksa mengakhiri video call-nya bersama Gavin. Meskipun sebenarnya Zeline masih rindu pada Gavin.
Aneh juga kalau dipikir-pikir.
Padahal tadi pagi sudah pelukan lama, tapi sekarang sudah kangen lagi.
Apa seperti ini yang namanya orang kasmaran?
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.