Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
SMACK DOWN


__ADS_3

"Zel!"


Zeline yang sedang memoleskan lipstik ke bibirnya nyaris terjungkal dan mencoret wajahnya sendiri, saat Gavin tiba-tiba sudah memanggilnya seraya membuka pintu kamar.


Tanpa mengetuk, tanpa permisi!


Ya ampun!


Dia pikir sedang berada di gubuk di tengah pulau kosong?


"Sudah belum yang bersolek? Kenapa lama?" Tanya Gavin to the point seraya masuk ke kamar Zeline, lalu langsung mendaratkan bokongnya ke atas ranjang gadis itu. Dasar tidak sopan!


"Kau punya tangan untuk mengetuk pintu, kan? Kenapa tidak mengetuk pintu dulu dan langsung masuk ke kamar seorang gadis tanpa permisi tanpa basa-basi?" Omel Zeline bersungut-sungut pada Gavin.


"Bagaimana kalau aku sedang ganti baju atau sedang tak mengenakan baju?" Ujar Zeline lagi menyambung omelannya.


"Kau pasti mengunci pintu jika memang kau sedang ganti baju," seloroh Gavin seraya terkekeh.


"Ck! Sok tahu!" Gumam Zeline yang kembali fokus untuk memoleskan lipstik ke bibirnya.


"Udah, jangan menor-menor! Mau godain siapa, sih? Godain aku, ya?" Celetuk Gavin yang entah sejak kapan sudah berpindah ke samping Zeline dan ikut melihat ke dalam kaca.


"Percaya diri sekali!" Zeline berdecih dan lanjut mempertebal lipstik di bibirnya.


"Ck! Dibilang jangan tebal-tebal! Kenapa malah ditebalin begitu? Kayak habis disengat lebah," komentar Gavin lagi seraya memaksa untuk merebut lipstik Zeline dari tangan gadis itu.


"Gavin! Iiihhh!" Geram Zeline karena lipstiknya yang sedikit keluar dari jalur akibat direbut paksa oleh Gavin. Namun bukannya minta maaf, Gavin malah tergelak tanpa dosa dan tentu saja hal itu semakin membuat Zeline kesal.


Lagipula, manusia di rumah ini pada kemana?


Kenapa bisa-bisanya mereka membiarkan Gavin masuk ke kamar Zeline dan tak ada yang mencegah!


Bagaimana kalau setelah ini Gavin melakukan sesuatu pada Zeline?


Hah, sesuatu?


Sesuatu apa maksudnya?


Dua orang pria dan wanita, di dalam kamar, ada ranjang empuk dan ada kamar mandi lengkap dengan bathtube. Pasti akan terjadi sesuatu, kan?


"Kalau isi pikiranku hanya seputar hal-hal mesum dan soal pangkal paha, sudah dari kemarin aku membuka tanktop-mu itu!"


"Dorr!"


Zeline terlonjak kaget saat tiba-tiba Gavin mengagetkannya. Pria itu sontak tertawa terbahak-bahak.


"Kok malah melamun, sih?" Tanya Gavin heran seraya meraih tisu untuk membersihkan lipstik Zeline yang tadi keluar dari jalur.


"Aku bisa sendiri!" Zeline secepat kilat meraih tisu dari tangan Gavin.


"Lagian, kenapa kamu bisa masuk-masuk ke kamar aku, sih? Siapa yang nyuruh?" Cecar Zeline dengan nada bertanya yang sudah meninggi.


"Nggak ada yang nyuruh. Tapi di bawah sepi dan kau lama sekali dandannya. Jadi aku susul saja. Takutnya kau ketiduran saat sedang berendam," Gavin terkekeh dan Zeline hanya mendengus.


"Papi sama Mami-"


"Sudah pergi sejak tadi. Sakya dan Gretha juga sudah masuk ke kamar, mau nonton katanya," ujar Gavin menjawab pertanyaan Zeline yang belum selesai.


"Ini kalau Papi tahu kamu masuk-masuk ke kamar aku, bakal habis diomeli kamu!" Ucap Zeline dengan ekspresi wajah lebay pada Gavin.


"Kok bisa? Bukannya nanti ke depannya kamar ini juga bakal jadi kamar aku?" Tanya Gavin penuh percaya diri.


"Cih! Kamar kamu? Maksudnya?" Zeline menatap sinis pada Gavin yang malah terkekeh.


"Maksudnya, aku mau tidur di kamarmu malam ini. Kan, kata Uncle Zayn aku boleh menginap disini malam ini. Nanti kamu silahkan tidur di kamar lain!"


"Aku cobain bentar kasur kamu, ya!" Gavin tiba-tiba sudah merebahkan tubuhnya ke atas ranjang Zeline.


"Aaaahhh! Empuk sekali!" Komentar Gavin sambil memejamkan mata.


"Ck! Kau sudah memakai suit begitu, kenapa malah rebahan, sih!"

__ADS_1


"Bangun!" Perintah Zeline seraya menarik tangan Gavin agar bangun dari atas ranjangnya.


"Sebentar! Lima menit lagi! Aku mendadak ngantuk," tawar Gavin yang tetap enggan untuk bangun.


"Nggak ada lima menit lima menitan!"


"Bangun!" Perintah Zeline semakin galak seraya menarik tangan Gavin.


"Bangun, Gavin!" Paksa Zeline sambil terus berusaha untuk menarik Gavin. Padahal jelas-jelas tubuh Zeline lebih besar dari Gavin. Lalu kenapa menarik pria menyebalkan ini saja Zeline tak kuat?


"Tarik aku, Zel!" Gavin semakin merasa malas untuk bangun, hingga Zeline yang masih berusaha untuk menariknya bangun malah terjungkal ke depan dan menindih Gavin.


Bruuuk!


"Oh, ya ampun! Aku dapat rezeki nomplok lagi!" Gavin tergelak dan Zeline langsung mendengus berulang-ulang karena keusilan Gavin tersebut.


"Kamu sengaja, hah?" Gertak Zeline seraya mendelik pada Gavin yang masih ia tindih.


"Kalau iya kenapa? Kalau tidak kenapa? Kau suka menindihku juga saat di pulau kemarin, kan?"


"Itu karena kau menyebalkan!"


"Rasakan ini!" Zeline menindih Gavin semakin kuat hingga pria itu menjerit.


"Ini, rasakan!"


"Aaarrrgggh! Kau mau membuatku sakit pinggang, Zel?"


"Iya! Biar kau tahu rasa!" Ucap Zeline geregetan.


"Ampuuun!"


"Ini! Ini!" Zeline terus melakukan smack down pada Gavin tak peduli kalau kini ia sudah mengenakan gaun pesta dan Gavin yang juga sudah mengenakan suit lengkap.


"Kau akan merusak suit mewahku!" Teriak Gavin lebay.


"Biar saja! Ini bukan milikmu!" Cibir Zeline yang masih menindih Gavin.


"Ck! Dasar mesum!" Zeline buru-buru bangkit dari atas tubuh Gavin. Namun sial seribu sial, Zeline yang kurang waspada malah tak sengaja menginjak ujung gaunnya yang memang menjuntai hingga mata kaki. Alhasil, Zeline langsung hilang keseimbangan dan kembali jatuh ke pangkuan Gavin yang baru saja akan bangun.


"Waduuuh! Beruangku!" Jerit Gavin karena bokong Zeline yang jatuh dan menimpa tepat di tengah-tengah pangkal paha Gavin.


"Lebay! Kenapa bawa-bawa beruang?" Zeline yang masih geregetan memukul lengan Gavin yang kini setengah terduduk.


"Kau duduk tepat di atas tongkat sakti dan boneka beruangku," cicit Gavin yang langsung membuat Zeline melebarkan kedua bola matanya. Zeline yang sadar segera bangkit berdiri dan pura-pura merapikan gaunnya.


"Auuuuw! Linu!" Cicit Gavin lagi seraya mengusap-usap pangkal pahanya yang baru saja terkena smack down dari Zeline.


"Makanya, kalau ngomong itu jangan asal nyeplos!" Omel Zeline yang malah menyalahkan Gavin.


"Udah kena smack down, masih kena omel juga!" Rengut Gavin yang juga sudah ikut bangun.


"Ck! Suit-mu jadi kusut begini!"


"Kebanyakan tingkah kamunya!" Zeline mengomel sekali lagi saat melihat setelan jas yang dikenakan Gavin yang sudah tak karuan bentuknya.


"Udah nggak apa-apa! Tinggal di rapi-rapiin sedikit," ujar Gavin seraya membenarkan dasinya yang miring.


"Nggak apa-apa bagaimana? Kusut semua begini!" Komentar Zeline seraya memaksa untuk melepaskan jas yang Gavin kenakan.


"Kau mau apa? Menelanjangiku?" Tanya Gavin mulai berprasangka.


"Ish!" Zeline refleks menyentil kening Gavin.


"Bisa tidak isi otakmu ini tidak mesum melulu!"


"Ayo ikut!" Zeline menarik tangan Gavin untuk keluar dari kamar, setelah gadis itu melemparkan jas yang tadi dikenakan Gavin secara serampangan.


"Kok jasnya dibuang? Aku nggak perlu pakai jas?" Tanya Gavin bingung.


"Pakai, tapi bukan yang itu! Bentuknya sudah mirip jas gelandangan begitu! Untuk apa dipakai?" Jawab Zeline yang masih mencekal tangan Gavin, lalu mereka berdua berhenti di depan pintu kamar.

__ADS_1


Gavin tahu ini kamar siapa.


Tadi Sakya dan Gretha masuk ke dalam kamar ini. Jadi itu artinya, ini adalah kamar Sakya.


"Sakya!!" Zeline menggedor pintu dengan barbar sembari memanggil nama adik kesayangannya itu.


Gavin benar, kan?


Ini adalah kamar Sakya!


"Sakya! Buka pintunya!" Zeline berteriak lebih keras.


"Sakya!!!"


Gavin benar-benar harus meringis dan menyumpal telinganya dengan earplug saat mendengar teriakan Zeline yang terakhir pada Sakya.


"Apa, sih, Kak? Berisik?" Sakya akhirnya membuka pintu kamar, dan adik Zeline itu hanya mengenakan celana tanpa mengenakan baju.


Gavin jadi kepo, Sakya sedang apa di dalam bersama Gretha.


"Ambilkan jas yang baru untuk Gavin!" Perintah Zeline pada sang adik.


"Kan tadi sudah, Kak?" Sakya mengernyit bingung.


"Ambilkan saja yang baru lalu kau bisa lanjut main kuda-kudaan bersama Gretha!" Desis Zeline tajam yang sontak membuat Gavin terkikik.


"Main kuda-kudaan ternyata namanya," gumam Gavin menahan tawa.


"Ck! Memang jasnya yang tadi kenapa, sih?" Sakya bergumam heran seraya kembali masuk ke kamar dan menutup pintu kamar. Tak berselang lama, pintu kamar kembali dibuka, dan Sakya memberikan jas yang baru pada Zeline.


Tak ada ucapan apapun dari Sakya dan pria itu sudah langsung menutup pintu kamar tanpa basa-basi, lalu menguncinya.


"Pakai ini!" Zeline memberikan jas tadi pada Gavin dengan kasar.


"Pakaikan!" Pinta Gavin manja.


"Pakai sendiri kenapa?" Zeline menghentakkan satu kakinya, namun tangan gadis itu tetap memakaikan jas pada Gavin.


"Kita mau ke acara apa?" Tanya Gavin saat Zeline merapikan sekali lagi penampilan pria itu.


"Pernikahan," jawab Zeline dengan ekspresi wajah malas.


"Bagus, dong! Katanya, kalau kita mengambil sedikit bunga yang dibawa oleh pengantin lalu menyimpannya, nanti kita juga akan secepatnya menyusul untuk naik pelaminan," seloroh Gavin yang langsung membuat Zeline mengernyit.


"Kita?"


"Tamu undangan maksudnya! Kau bisa mencobanya nanti! Siapa tahu bulan depan kau juga akan langsung menyusul naik pelaminan!" Ujar Gavin memberikan saran.


"Naik pelaminan bersama siapa? Pacar saja tidak punya!" Zeline tersenyum sinis.


"Kemarin aku tawari jadi pacarku tidak mau," gumam Gavin yang langsung membuat Zeline menghentikan langkahnya dan menoleh pada pria itu.


"Apa katamu barusan?"


"Tidak ada! Ayo pergi dan kau yang menyetir! Aku tak tahu tempatnya!" Gavin sudah menarik tangan Zeline dan dua sepupu jauh sekali itu segera menuju ke salah satu mobil Zeline yang berwarna merah.


"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku akan naik mobil merah malam ini?"


"Warnanya senada dengan bajumu!" Jawab Gavin seraya meringis tanpa dosa. Zeline hanya memutar bola mata dan gadis itu segera melajukan mobil merahnya keluar dari kediaman Abraham.



.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2