
[Hai, Sakya! Apa pemuda menyebalkan bernama Gavin itu sudah pulang?]
Hapus!
[Kau masih di rumah, Sakya? Ada siapa saja di rumah sekarang?]
Hapus lagi!
"Ish! Kenapa juga aku harus khawatir? Aku kan pulang ke rumahku sendiri?" Zeline menggerutu setelah gadis itu meletakkan ponselnya ke atas meja dan tak jadi mengirim pesan pada Sakya.
Zeline melirik jam di atas meja yang sudah menunjukkan pukul empat lewat sedikit. Tak mungkin juga, Gavin akan selama itu di rumahnya. Tadi pasti pria itu hanya basa-basi pada Papi Zayn dan langsung pulang setelahnya. Jadi, apa yang harus kau khawatirkan, Zeline?
Langsung pulang saja, dan jika Gavin masih ada....
Bukankah itu kabar bagus? Kau jadi bisa melihat wajah menyebalkan pemuda itu lagi!
Zeline langsung menggeleng-gelengkan kepalanya dan merasa ada yang salah dengan pemikirannya barusan.
Jelas-jelas Zeline sebal pada pemuda bernama Gavin itu! Lalu kenapa melihat wajahnya adalah kabar bagus? Yang ada itu kabar buruk! Kabar yang sangat-sangat buruk!
Zeline akhirnya bangkit dari kursi kerjanya, lalu menyambar tas dan keluar dari ruangannya. Namun baru saja Zeline membuka pintu ruangannya, gadis itu harus kembali naik darah karena melihat Ryan yang sudah ada di kantornya lagi dan sekarang sedang mengajak Nona mengobrol.
"Hai, Zel! Belum pulang?" Sapa Ryan tanpa dosa pada Zeline yang langsung mendengus dan memasang wajah kesal.
"Kau sedang apa disini? Bukankah sudah kubilang kalau-"
"Jam kantor sudah berakhir sepuluh menit yang lalu," potong Ryan seraya menunjukkan arlojinya pada Zeline. Jam memang sudah menunjukkan pukul empat lebih sepuluh menit.
"Jam kantor Nona belum berakhir, jika aku belum pulang! Jadi silahkan kau pergi dari sini!" Usir Zeline seraya menuding pada Ryan.
"Oh, ayolah! Jangan jadi bos yang kejam begitu?"
"Lagipula, kau juga sudah mau pulang sekarang! Jadi itu artinya jam kerja Nona sudah berakhir!" Ujar Ryan beralasan.
"Kata siapa aku mau pulang? Aku belum mau pulang dan itu artinya jam kerja Nona belum berakhir!"
"Nona!" Panggil Zeline seraya mendelik pada Nona.
"Iya, Nona Zeline!" Jawab Nona yang bergegas berdiri dan menghampiri Zeline.
"Kau akan menyuruh Nona kerja rodi, Zel?" Tanya Ryan menatap tak percaya pada sang sepupu.
"Ya! Kenapa? Kau keberatan? Kau saja bukan siapa-siapa!" Cibir Zeline pada Ryan.
"Aku akan melaporkanmu pada Uncle Zayn!" Ancam Ryan yang langsung membuat Zeline mendelik ke arah sepupunya tersebut.
"Jangan coba-coba! Nona karyawanku, jadi sudah menjadi hakku untuk menyuruhnya lembur atau tidak!" Sergah Zeline memberitahu Ryan tentang kekuasaannya di perusahaan milik keluarga Abraham ini.
"Tapi ngomong-ngomong, bukankah kau dapat undangan ke acara malam ini?" Tanya Ryan yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
"Undangan?" Zeline mengernyit bingung.
"Undangan ke sebuah acara perusahaan." Ryan memberikan clue.
"Oh, perkawinan dua perusahaan itu maksudmu? Aku tak akan datang!" Tukas Zeline seraya bersedekap.
"Yakin? Memangnya Uncle Zayn-" Kalimat Ryan belum selesai saat ponsel Zeline tiba-tiba berdering. Zeline segera memberikan kode pada sepupunya itu untuk diam, dan gadis itupun mengangkat telepon.
"Halo, Pi!"
"Zel, kenapa belum pulang? Kau ada undangan ke acara malam ini. Kau tidak lupa, kan?"
"Ck!" Zeline berdecak dan menghentakkan satu kakinya karena kesal pada sang Papi yang ternyata ingat dengan undangan yang tadi siang diberikan oleh Nona.
"Zel!"
"Iya, Pi! Iya!"
__ADS_1
"Ini Zeline sudah mau pulang!" Tukas Zeline akhirnya seraya meninggalkan Ryan yang sudah tersenyum penuh kemenangan. Dasar sepupu menyebalkan!
"Cepatlah pulang kalau begitu!"
"Tapi ngomong-ngomong, Ga....." Zeline tak jadi melanjutkan kalimatnya dan gadis itu membungkam mulutnya sendiri.
"Ga apa?"
"Tidak jadi, Pi! Zeline pulang sekarang, Bye!" Pungkas Zeline seraya menutup telepon dari Papi Zayn.
****
"Yess!" Gavin bersorak saat ia berhasil memasukkan satu bola terakhir ke dalam lubang.
"Kereen!" Puji Gretha yang sejak tadi menyaksikan pertandingan billyard antara Gavin melawan Sakya.
"Kok kamu muji-muji Abang Gavin, Sayang? Aku nggak kamu semangatin?" Protes Sakya karena sang istri yang ternyata malah mendukung Gavin.
"Iya, iya, Pak Dokter!"
"Aku dukung Pak dokter juga, kok!" Gretha sudah bangkit berdiri dan merangkul pinggang Sakya dari belakang sekaligus membujuk agar suaminya itu tidak ngambek.
"Eheem! Mau main bilyard atau mau pamer kemesraan, sih?" Tanya Gavin pada pasangan di depannya tersebut.
"Dua-duanya, Abang Gavin! Nanti Abang Gavin praktek juga sama Kak Zeline, ya! Bentar lagi Kak Zeline pasti sampai-"
"Ada yang menyebut-nyebut namaku?" Seru Zeline dari ruang depan. Panjang umur juga Nona direktur itu! Baru diomongin sudah nongol saja di rumah.
"Disini, Kak Zel! Kita lagi main billyard!" Seru Gretha pada sang kakak ipar.
"Kita? Siapa saja memangnya-"
"Astaga!" Zeline memekik kaget saat melihat seorang bule hitam manis atau lebih tepatnya hitam gosong sedang memegang tongkat billyard.
Penting bukan tongkat sakti, ya!
"Ada apa, Kak? Seperti melihat hantu saja?" Tanya Sakya heran. Zeline tak menjawab dan gadis itu hanya berdecak. Tapi dalam hati Zeline sedikit lega karena Gavin ternyata belum pulang dari rumahnya.
Lho!
Maksudnya, Zeline merasa kesal karena Gavin yang masih belum pulang juga sejak tadi.
"Hai, Nona Direktur! Sudah selesai yang meeting?" Gavin ikut-ikutan menyapa dan berbasa-basi pada Zeline.
"Sedang apa kau disini? Main tapi tidak tahu waktu!" Gertak Zeline sok galak pada Gavin.
"Kata siapa tak tahu waktu? Aku tahu, kok! Sekarang sudah pukul setengah lima lebih sepuluh menit," ujar Gavin seraya mengambil bola-bola billyard, lalu menyusunnya kembali ke atas meja.
"Mau melawan Abang Gavin, Kak? Dia jago bermain billyard, lho!" Tawar Sakya seraya mengangsurkan tongkat billyard pada Zeline.
"Sejago apa memangnya? Paling juga asal sodok saja!" Jawab Zeline merasa sangsi.
"Asal sodok," Gretha terkikik dengan bahasa aneh Zeline.
"Apanya yang lucu, Greget? Kan benar namanya sodok! Seperti ini!" Zeline menyodok satu bola ke kumpulan bola berbentuk segitiga yang tadi ditata oleh Gavin.
"Pak Dokter! Kak Zeline manggil Greget lagi," adu Gretha manja pada Sakya yang langsung membuat Zeline memutar bola mata.
Dasar manja!
"Kau jago juga!" Puji Gavin setelah Zeline memasukkan dua bola ke dalam lubang.
"Kak Zeline memang yang paling jago di rumah, Bang!" Ujar Sakya memberitahu Gavin.
"Benarkah?" Gantian Gavin yang merasa sangsi.
"Kenapa? Tak percaya?" Zeline menatap ketus pada Gavin, lalu yang selanjutnya terdengar hanyalah suara tongkat billyard menabrak bola atau suara dua bola yang saling beradu.
__ADS_1
Zeline dan Gavin saling melawan, hingga bola di atas meja habis tak bersisa.
"Keren, keren!" Gavin bertepuk tangan dengan lebay ke arah Zeline. Sedangkan Sakya dan Gretha malah sudah tak terlihat di ruangan tersebut. Tapi jika mendengar gelak tawa Gretha dari ruang keluarga, sepertinya pasutri lebay itu baru saja pindah ke ruang keluarga, meninggalkan Zeline dan Gavin berdua saja.
"Pulang sana!" Usir Zeline selanjutnya pada Gavin.
"Siapa?" Tanya Gavin pura-pura tak paham.
"Kau! Memangnya siapa lagi?" Jawab Zeline merasa geregetan.
"Mmmmmm, Uncle Zayn belum menyuruhku pulang," Gavin beralasan seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Uncle Zayn juga menyuruhku menginap malahan. Karena aku kan lama tak berkunjung," lanjut Gavin menambahkan alasan.
Zeline refleks menepuk keningnya sendiri dan merasa geregetan pada Gavin.
"Itu hanya basa-basi, Gavin!"
"Benarkah?" Gavin terkekeh tanpa dosa.
"Padahal aku tak keberatan menginap disini malam ini," lanjut Gavin lagi masih terkekeh.
"Cari-cari kesempatan!" Cibir Zeline pada pemuda di depannya tersebut.
"Kata siapa? Aku kan hanya sedang menjalin keakraban dengan semua keluarga besar Halley," kilah Gavin kembali beralasan.
"Kau bisa ganti berkunjung ke rumah Uncle Liam, Aunty Anne, atau ke rumah Ryan yang menyebalkan itu kalau begitu! Mereka semua juga keluarga Halley!" Cerocos Zeline panjang lebar.
"Ya, besok aku akan mengunjungi keluarga Halley yang lain. Tapi khusus malam ini, aku akan disini dulu karena mungkin saja kau masih merindukanku," ucap Gavin penuh percaya diri yang langsung membuat Zeline menganga tak percaya.
Percaya diru sekali pemuda di depan Zeline ini!
Lagipula, siapa juga yang rindu padanya? Dasar geer!
"Zeline, kau sudah pulang?" Pertanyaan dari Papi Zayn menjeda perdebatan di antara Zeline dan Gavin.
"Sudah, Pi!"
"Zeline mau mandi, berendam dan bersiap ke acara!" Tukas Zeline lagi yang merasa malas untul lanjut berdebat dengan Gavin. Bisa stress Zeline nanti jika berdebat dengan pemuda yang tak tahu diri ini!
"Bagus. Papi dan Mami juga akan ke acara lain malam ini. Jadi nanti kau pergi bersama Gavin saja malam ini, agar ada yang menjagamu," ujar Papi Zayn yang langsung membuat Zeline menghentikan langkahnya dan menatap tak percaya pada sang papi.
"Zeline pergi bersama Gavin? Apa papi sedang bercanda?"
"Papi tidak bercanda. Gavin juga sudah setuju tadi," jawab Papi Zayn diiringi dengan senyum penuh kenrnangan dari Gavin.
Apa maksudnya coba.
"Bukan begitu, Gavin? Kau tudak keberatan menemani Zeline malam ini, kan?" Papi Zayn kembali bertanya pada Gavin agar Zeline percaya.
"Sama sekali tidak, Uncle!" Jawab Gavin santai.
"Hhhhh!" Zeline mengacak rambutnya sendiri lalu gadis itu menaiki tangga dan menuju ke kamarnya di lantai dua.
"Sakya! Pinjamkan satu suit-mu untuk Gavin!" Samar-samar Zeline masih mendengar ucapan Papi Zayn pada Sakya.
"Siap, Papi!"
Apa ini sebuah konspirasi?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.