Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
LAGI!


__ADS_3

"Tenggelam, muncul lagi, tenggelam."


"Muncul lagi!"


"Tenggelam!" Gavin berhenti sejenak dari gerakan push up-nya. Nafas pria itu terengah-engah dan wajahnya sudah banjir oleh keringat.


"Apa AC-nya mati? Kenapa kamarmu jadi panas begini?" Tanya Gavin pada Zeline yang masih terlihat merem melek.


"Kenapa berhenti?" Bukannya menjawab pertanyaan Gavin, Zeline malah balik bertanya pada suaminya tersebut.


"Capek ternyata. Dan aku kepanasan juga. Apa AC-nya mati?" Gavin mengulangi pertanyaannya.


"Tidak!" Jawab Zeline setelah memeriksa memakai remote.


"Sudah aku turunkan suhunya. Masih panas?" Tanya Zeline pada Gavin yang langsung memejamkan mata karena menikmati udara dingin yang berhembus dari AC.


"Sejuuk!"


"Cepat bergerak lagi!" Perintah Zeline seraya mencengkeram lengan Gavin.


"Kawin capek ternyata, ya!" Celetuk Gavin seraya kembali bergerak naik dan yirun di atas Zeline.


"Enak, kok!" Pendapat Zeline yang sepertinya keceplosan. Wanita itu cepat-cepat membungkam bibirnya sendiri dan mendadak merasa malu pada Gavin.


"Benar enak?" Tanya Gavin yang sudah mendekatkan wajahnya pada wajah Zeline.


"Nggak tahu!" Zeline yang sudah kepalang malu, menutupi wajahnya dengan telapak tangan.


"Iya yang kamu rasakan apa sekarang? Enak atau capek?" Tanya Gavin yang sudah berubah jadi penasaran.


"Nggak capek! Cuma geli, sedikit ngganjel, dan...."


"Dan apa? Dan enak?" Tebak Gavin sok tahu.


"Kau juga terlihat keenakan!" Sergah Zeline pura-pura kesal.


"Lebih banyak capek tapi. Lihat, aku berkeringat!" Gavin mengusap keringat di keningnya memakai punggung tangan, lalu memberikan punggung tangan beserta keringat tadi pada Zeline.


Maksudnya apa, coba?


"Setidaknya, kau tak perlu lagi olahraga sekarang, karena bercinta setara dengan berlari selama tiga puluh menit di treadmill!" Ujar Zeline memberikan informasi pada Gavin.


"Aku kan memang sedang olahraga."


"Lihat! Aku push up di atasmu," tutur Gavin yang kembali bergerak seperti orang push up.


Sepertinya ini berlebihan.


"Kenapa harus sambil push up? Bukannya tinggal bergerak turun naik, ya?" Tanya Zeline heran.


"Iyakah? Naik turun bagaimana? Bisa kau mempraktekkannya, agar bisa kucoba?" Cecar Gavin yang langsung membuat Zeline memutar bola matanya.


"Berarti aku harus di atas kalau begitu," ujar Zeline selanjutnya.


"Baiklah! Ayo berguling!" Ajak Gavin yang sudah kembali berhenti bergerak.


"Lepaskan dulu milikmu!" Perintah Zeline.


"Tidak usah dilepas! Langsung berguling saja!" Gavin berusaha mengangkat tubuh Zeline dan mengajaknya untuk berguling, namun sepertinya Gavin tak kuat. Dasar payah!


"Tidak kuat?" Ledek Zeline pada sang suami.


"Kau bohay sekali," kekeh Gavin seraya berusaha sekali lagi. Wajah Gavin sampai merah padam tapi masih tak kuat ternyata. Benar-benar payah!


"Ck! Dasar payah!" Cibir Zeline yang kemudian langsung merangkul punggung Gavin. Dan hanya dengan satu hentakan, posisi mereka sudah berganti menjadi Gavin di bawah dan Zeline diatas.


"Masih masuk, kan?" Tanya Gavin memastikan seraya melirik ke pangkal pahanya dan pangkal paha Zeline.


"Masih," gumam Gavin selanjutnya seraya merentangkan kedua tangannya ke samping.


"Oh, aku tertindih-" Gavin tak jadi melanjutkan kalimatnya saat delikan dari Zeline sudah mengintimidasinya dari atas.


"Aku tertindih istriku yang bohay!!" Ujar Gavin seraya meringis tanpa dosa ke arah Zeline. Tak lupa, Gavin juga mendekap Zeline dan bersikap sok mesra.


"Istriku Sayang!" Rayu Gavin seraya menyusupkan wajahnya di antara kedua gundukan kenyal Zeline. Lalu pria itu juga menggosok-gosokkan wajahnya di sana, entah apa maksudnya.


Tapi hal konyol itu malah sukses membuat Zeline menggeliat karena merasa geli.

__ADS_1


"Gavin, kau sedang apa?" Tanya Zeline yang sekali lagi merasa heran pada tingkah absurd Gavin.


"Hhhhh! Aroma pay*daramu enak sekali," jawab Gavin sembari matanya merem melek.


Aneh sekali!


"Tadi katanya mau mengajari bergerak turun naik turun naik? Jadi bagaimana?" Tanya Gavin yang sudah selesai menggosok-gosokkan wajahnya di dada Zeline.


"Iya tinggal turun naik saja!" Jawab Zeline yang mendadak merasa malu saat akan mempraktekkannya di depan Gavin.


Tapi sudah terlanjur basah juga. Orang Zeline juga sudah berada di atasnya Gavin sekarang.


"Iya bagaimana? Coba kamu praktekkan?" Raut wajah Gavin sudah berubah penasaran sekarang.


Tapi Gavin memang benar-benar penasaran!


"Seperti ini!" Jawab Zeline akhirnya sembari menggerakkan bokongnya turun dan naik.


"Coba kamu sambil jongkok, Sayang! Biar nancepnya lebih dalam!" Usul Gavin seraya membantu Zeline untuk bangun dan jongkok di atasnya.


"Bagaimana, sih?" Tanya Zeline bingung.


"Awas, pelan-pelan! Nanti lepas!" Gavin memegangi kedua tangan Zeline sembari mengarahkan Zeline agar jongkok di atasnya. Milik Gavin dan milik Zeline masih di posisi menyatu dan sinar matahari pagi juga mulai mengintip dari jendela kamar Zeline.


Astaga!


Zeline bahkan baru ingat kalau hari sudah pagi.


Jadi, apa ini yang dinamakan serangan fajar?


"Jongkok begini? Kalau aku kentut bagaimana?" Tanya Zeline yang kini sudah jongkok atau lebih tepatnya duduk di atas panggul Gavin. Milik Zeline dan milik Gavin tentu saja tetap menyatu dengan apik seolah tak bisa lagi dipisahkan satu dengan lainnya.


Lah, gancet dong berarti!


Horor sekali!


"Sudah resiko memang menikah dengan wanita tukang kentut," jawab Gavin sok pasrah.


"Bentar-bentar!" Zeline diam untuk beberapa saat, sebelum kemudian terdengar suara mirip anak tikus kejepit pintu kamar mandi.


Bruuuut!


Sepertinya ini bukan lagi anak tikus. Tapi moyangnya tikus yang kegencet.


Suaranya luar biasa! Jadi baunya pasti juga luar biasa!


"Pergi! Pergi!" Gavin mengibaskan tangannya dengan lebay untuk mengusir aroma khas yang tercium di seantero kamar.


"Aku hanya jujur! Jangan ngambek, ya!" Rayu Zeline seraya mencubit pipi Gavin dengan sok gemas.


"Kapan memang aku pernah ngambek dengan kentutmu," jawab Gavin sombong.


"Kamu itu yang selalu mencak-mencak mencium aroma ketiakku!" Ujar Gavin lagi membongkar kelakuan Zeline.


"Ck! Aroma ketiakmu aneh! Meskipun sedikit membuat candu-" Zeline cepat-cepat membungkam mulutnya sendiri karena keceplosan.


"Eh!" Zeline tak berhenti merutuk dalam hati.


"Apa katamu tadi? Bikin candu, ya?" Gavin yang rupanya sudah terlanjut mendengar pengakuan Zeline, langsung mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya dan memamerkan ketiaknya yang penuh dengan bulu ketiak yang sedikit keriting.


Mungkin akan terlihat lebih aesthetic jika di-rebonding, lalu dicat watna pelangi!


"Cium, nih! Bikin candu, kan?" Gavin menaik turunkan alisnya ke arah Zeline dengan lebay.


"Ck! Tak perlu berlebihan begitu juga, kali!" Cibir Zeline pura-pura kesal.


"Cepat bergerak! Kenapa diam saja?" Perintah Gavin selanjutnya pada Zeline yang memang hanya dian sejak tadi dan duduk di atas milik Gavin yang masih tenggelam di dalam milik Zeline.


"Ck! Kenapa jadi aku yang harus bergerak?" Gerutu Zeline seraya menaik turunkan bokongnya. Namun baru dua kali Zeline melakukannya, Zeline sudah merasakan gelenyar aneh karena milik Gavin yang sepertinya menyentuh titik paling sensitif di dalam milik Zeline.


"Kenapa diam lagi?" Tanya Gavin bingung. Namun bukannya menjawab, Zeline malah memejamkan matanya sembari menggigit bibir bagian bawah.


"Emmmhhh!" Zeline menghentak naik dan turun sembari merem melek.


"Zeline!" Gavin semakin mengernyit tak mengerti.


"Kau merasakannya, kan?" Tanya Zeline yang kembali menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


"Ya!"


"Aku merasa terjepit dan...." Gavin memejamkan kedua matanya dan mencoba mencari tahu apa yang barusan dimaksud oleh Zeline.


Namun Gavin tetap tak paham, karena kini yang Gavin rasakan hanya kenikmatan seperti sebelumnya tadi, saat Zeline kembali bergerak dengan lebih intens.


"Ini menyenangkan!" Ujar Zeline yang semakin bersemangat untuk bergerak hingga Gavin sedikit kewalahan untuk mengimbangi pergerakan Zeline yang mendadak berubah agresif.


Tapi menarik juga!


Gavin seolah tak membuang kesempatan untuk memainkan gundukan milik Zeline yang kini menggantung di atas wajahnya.


"Oooh! Kenyal sekali seperti squishy!" Gumam Gavin yang semakin merasa gemas pada gundukan kenyal Zeline tersebut. Sedangkan pergerakan Zeline sudah semakin tak terkendali dan racauan yang keluar dari mulut Zeline juga sudah terdengar beragam. Gavin sampai sulit untuk memaparkan.


"Gavin!" Zeline tiba-tiba sudah berhenti bergerqk dan kedua tangan wanita itu mencengkeram dada Gavin sekarang.


"Ada apa? Kenapa berhenti? Aku sudah hampir sampai!" Protes Gavin yang terpaksa menggoyang-goyangkan sendiri bokongnya karena sudah kepalang tanggung.


"Berhenti!" Zeline memukul-mukul dada Gavin.


"Ada apa?" Tanya Gavin bingung.


"Aku berasa ingin pipis," cicit Zeline seraya meringis.


"Itu kau ingin keluar! Ayo kita keluar bersama-sama!" Gavin sudah meangkup wajah Zeline dan meyakinkan istrinya tersebut.


"Kau yakin aku tidak akan ngompol nanti?" Tanya Zeline ragu.


"Tidak! Lepaskan saja dan cepat bergerak lagi!" Gavin memberikan aba-aba sebelum kemudian pria itu ******* bibir Zeline.


Zeline yang awalnya terjejut, langsung dengan cepat membalas pagutan Gavin, sambil kembali bergerak naik dan turun. Nafas Zeline dan Gavin sama-sama berpacu dalam pagutan panas mereka saat akhirnya kedua tubuh itu sama-sama mengejang dan mencapai pelepasannya.


Gavin menekan kepala Zeline dan memperdalam pagutannya, seolah sedang melepaskan sisa-susa hasrat dalam dirinya.


Akhirnya, setelah hampir dua jam mereka bertempur dan berdebat, mereka bisa sama-sama mencapai pelepasan.


"Huh! Leganya!" Gumam Gavin seraya membuang nafas setelah tautan bibirnya dan bibir Zeline sama-sama terlepas.


"Rasanya menyenangkan!" Ucal Zeline yang sudah menyandarkan kepalanya di dada Gavin.


"Ya! Menyenangkan sekali!" Timpal Gavin yang juga sudah mendekap dan menciumi puncak kepala Zeline.


"I love you, Zeline!" Gumam Gavin lagi yang kembali mengecup puncak jepala Zeline yang masih bersandar di dadanya.


"I love you too!" Balas Zeline yang sudah dengan cepat mengangkat wajahnya, dan menatap Gavin dengan wajah yang begitu sumringah.


"Lepaskan dan ayo kita mandi," ajak Gavin seraya mengendikkan dagunya ke arah miliknya dan milik Zeline yang masih saja menyatu.


"Kenapa buru-buru! Ayo lanjut ronde kedua!" Ajak Zeline yang sudah menangkup wajah Gavin, lalu mengecup bibir Gavin sekilas.


"Ronde kedua?" Kedua mata Gavin sudah membelalak.


"Ya! Rasanya menyenangkan!" Zeline terlihat begitu bersemangat.


"Tapi ini sudah pagi, Zel!" Gavin mengingatkan Zeline.


"Ini hari Minggu dan kita tak ke kantor!" Zeline menghentakkan bokongnya lumayan keras hingga membuat Gavin terlonjak.


Sial!


"Aku merasakan milikmu sudah bangun lagi!" Zeline berucap nakal pada Gavin.


"Iya, itu karena kau terus menjepitnya!" Ujar Gavin beralasan.


"Ck! Bilang saja kau masih mau!" Zeline menghentak sekali lagi dan Gavin benar-benar tak berkutik sekarang.


Dan yang selanjutnya terjadi, Gavin hanya bisa pasrah sekaligus menikmati apa yang dilakukan oleh Zeline.


Lagipula, sejak kapan Zeline berubah agresif begini?


Bukannya tadi malam istri Gavin ini sok jual mahal?


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2