
"Mami!"
"Papi!" Gavin berteriak-teriak saat pria itu keluar dari kamar mandi sembari menggendong Zeline.
Hah?
"Gavin, turunkan aku! Nanti aku jatuh!" Zeline memukul-mukul dada Gavin karena khawatir kalau-kalau Gavin akan merasa keberatan dengan berat badan Zeline, lalu gendongannya meleset, dan Zeline jatuh.
"Kau tidak akan jatuh!" Ucap Gavin yakin.
"Mami! Papi!" Gavin kembali berteriak-teriak seperti orang gila.
"Mami, Papi! Zeline akhirnya hamil!"
"Gavin, pelan-pelan!" Mami Thalita dan Papi Zayn langsung panik saat melihat Gavin yang masih menggendong Zeline sembari berteriak seperti orang gila.
"Zeline hamil, Mi!"
"Zeline hamil!" Gavin mendudukkan Zeline dengan hati-hati ke atas sofa tepat di samping Mami Thalita. Nafas Gavin langsung ngos-ngosan setelahnya.
"Jadi, Kak Zeline beneran hamil?" Tanya Sakya memastikan dan Gavin langsung menunjukkan testpack dua garis yang sejak tadi ia genggam.
"Iya! Lihat ini!"
"Lihat! Lihat!" Gavin memamerkan testpack adi pada semua orang masih dengan ekspresi girang dan lebay.
"Pasti karena injakan Gretha tadi! Langsung jadi dan ternyata manjur juga, ya," celetuk Gretha yang langsung membuat semua orang menatap aneh pada menqntu perempuan di keluarga Abraham tersebut.
"Kenapa, sih?" Tanya Gretha bingung karena semua orang menatapnya dengan aneh.
"Kayaknya nggak ada hubungannya, deh, Greget!" Ucap Zeline yang akhirnya buka suara.
"Injakan kamu tadi itu nggak bikin aku hamil! Tapi bikin jempol aku cantengan!" Sambung Zeline lagi dengan nada suara yang mulai naik
"Mana sakit banget!" Imbuh Zeline lagi menatap ketus pada Gretha.
"Iya, Gretha minta maaf, Kak!" Cicit Gretha berekspresi kekanakan.
"Sudah! Sudah!" Mami Thalita menengahi perdebatan Zeline dan Gretha.
"Yang terpenting sekarang adalah selamat untuk Zeline dan Gavin!" Lanjut Mami Thalita lagi seraya memeluk Zeline dengan erat.
"Selamat, ya, Sayang! Sehat terus sampai lahiran," ujar Mami Thalita yang sudah ganti mengusap perut Zeline.
"Selamat,Kak Zeline!" Gretha ikut-ikutan menghampiri Zeline dan hebdak memeluk kakak iparnya tersebut, saat Zeline langsung dengan tegas memperingatkan,
"Awas! Jangan injak kakiku lagi!"
"Enggak! Orang cuma mau peluk!" Cebik Gretha seraya memainkan kedua telunjuknya.
"Yaudah, sini!" Zeline memberikan kode pada Gretha agar mendekat dan istri Sakya tersebut langsung memeluk Zeline dengan erat.
"Selamat ya, Kak! Mudah-mudahan kembar juga, ya!" Ucap Gretha yang langsung diaminkan oleh semua keluarga Abraham.
"Eh, tapi ngomong-ngomong, apa bisa kembar? Kan Zeline bukan anak kembar dan Gavin juga bukan anak kembar?" Tanya Gavin menatap bingung pada semua orang.
Sakya refleks menepuk keningnya sendiri dengan kepikunan Gavin.
"Tapi kan Mami kembar, Bang! Masa lupa!" Ujar Sakya merasa geregetan.
__ADS_1
"Eh, iya! Kembarannya Aunty Thalia, ya!" Gavin menepuk keningnya sendiri sembari terkekeh. Sementara Zeline hanya memutar bila mata dengan kepikunan Gavin yang semakin menjadi.
****
Gavin menggeliat, saat mendengar suara alarm yang memang selalu ia pasang agar tak terlambat bangun. Namun pagi ini, Gavin sedikit susah bergerak karena seperti ada yang mengganjal dan menggelendoti ketiaknya.
Pasti bukan Zeline!
Istri Gavin itu kan alergi pada aroma ketiak Gavin!
Gavin membuka sedikit matanya untuk memastikan dan pria itu benar-benar terkejut saat melihat Zeline yang tidur seraya mengendus aroma ketiak Gavin.
Oh iya, Gavin lupa!
Zeline kan memang tergila-gila pada aroma ketiak Gavin sejak istrinya itu hamil.
"Selamat pagi, Sayang!" Ucap Gavin akhirnya seraya mengusap perut Zeline.
"Kita ke dokter hari ini, ya!" Ucap Gavin lagi masih mengusap perut Zeline.
"Zel!" Gavin lanjut membangunkan Zeline yang tumben malas-malasan pagi ini.
"Zeline!" Gavin mengguncang lembut tubuh Zeline.
"Hmmm!"
"Mana?" Zeline meraba-raba tubuh Gavin lalu mengendus lagi aroma ketiak suaminya itu.
"Zel! Kau ke kantor tidak hari ini?" Tanya Gavin mulai gemas pada Zeline.
"Buka kausmu!" Bukannya menjawab pertanyaan Gavin, Zeline malah memerintah Gavin dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ini sudah pagi, Zel! Kau mau ke kantor-" Gavin tak jadi melanjutkan kalimatnya karena Zeline tiba-tiba sudah menyusupkan kepalanya ke dalam kaus Gavin.
Ya ampun!
"Hhhhhhh! Enak sekali baunya!"gumam Zeline yang kini menyembunyikan kepalanya di dalam kaus Gavin sembari mengendus aroma ketiak Gavin.
Baiklah, terserah!
Dulu saja selalu hoek-hoek dan sok-sokan alergi!
Sekarang malah bucin akut pada ketiak Gavin begini!
"Zeline, sudah! Aku mau ke kantor-"
"Belum!" Sergah Zeline manja.
"Aku mau ke kantor!" Cicit Gavin sedikit menggeliat larena Zeline yang sekarang malah menciumi ketiaknya.
Ya ampun!
Geli sekali!
"Jam berapa memang?" Tanya Zeline masih tak mengubah posisinya.
"Jam enam lebih!" Jawab Gavin.
"Kita ada meeting pagi," sambung Gavin lahir mengingatkan Zeline.
__ADS_1
"Baiklah!"
"Gendong dan mandikan aku!" Zeline memeluk Gavin seperti sedang memeluk guling.
"Keluar dulu dari kausku!" Titah Gavin yang balik mendekap Zeline.
Ya ampun!
Posisi apa ini sebenarnya?
"Lepaskan saja kausmu!" Zeline balik memerintah. Gavin akhir menghela nafas dan melepaskan kausnya.
"Ayo mandi!" Ajak Gavin setelah pria itu melempar kausnya.
"Gendong!"
"Mandiin!
"Sabunin!" Jawab Zeline dengan nada manja.
"Nggak sekalian kawinin, hamilin," sahut Gavin sedikit gemas.
"Kan udah hamil!" Zeline mendongakkan kepalanya dan menatap manja pada Gavin.
"Iya!" Tangan Gavin sudah kembali mengusap perut Zeline.
"Sehat-sehat dan jangan manja seperti Mommy-mu, Sayang!" Pesan Gavin pada sang calon anak yang mungkin besarnya baru sebesar biji kacang hijau
"Ck! Siapa yang manja, sih?" Zeline semakin bergelayut pada Gavin.
"Kamu!" Gavin mencolek hidung Zeline. Istri Gavin itu langsung berdecak.
"Jadi mandiin aku, nggak?" Tagih Zeline karena sejak tadi Gavin dan dirinya tak kunjung beranjak dari atas ranjang.
"Lepasin dulu pelukan kamu! Bagaimana aku mau bangun kalau kamu gelendotin terus begini!" Cerocos Gavin yang langsung membuat Zeline mengerucutkan bibirnya. Zeline akhirnya melepaskan pelukannya pada Gavin meskipun masih setengah ikhlas.
"Gendong!" Zeline mengulurkan kedua tangannya ke arah Gavin.
"Nggak kuat, Sayang!" Gavin beralasan.
"Bohong! Tadi malam aja kuat!" Sergah Zeline tak percaya.
"Iya, tapi setelahnyq qku sakit pinggang," ujar Gavin seraya meringis. Zeline langsung merengut lagi.
"Baiklah! Aku peregangan sebentar!" Ucap Gavin akhirnya yang paling tidak bisa melihat Zeline merengut.
"Gendong belakang saja, ya!" Ujar Gavin lgi mengajukan syarat dan Zeline hanya mengangguk.
Setelah sedikit meregangkan otot-ototnya, Gavin akhirnya menggendong Zeline ke kamar mandi.
"Nanti aku mau sarapan bubur ayam, Sayang!"
"Iya, nanti aku beliin!" Jawab Gavin sebelum kemudian pria itu menutup pintu kamar mandi dan lanjut memandikqn Zeline sekalian dia juga mandi.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.