Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
IKUT


__ADS_3

Gavin merem*s kertas di atas meja yang sudah penuh oleh coretan yang lebih mirip pohon keluarga. Pemuda itu lalu mengambil satu kertas baru dan mulai menuliskan nama-nama anggota keluarganya di sana.


"Bunda dua saudara dengan Om Ben. Anak Bunda Kak Vaia, Bang Ezra, Gavin!"


"Anak Om Ben, Sava dan Bastian."


"Oke, aku nggak boleh nikah dengan Sava!" Gavin membuat tanda silang merah di samping nama Sava.


"Keluarga Halley." Gavin mulai menulis lagi.


"Anak Oma Belle ada empat. Oma Belle sepupunya Opa Theo. Hanya sepupu, kan? Bukan saudara satu ibu satu ayah!" Gavin bertanya lalu menjawab sendiri pertanyaannya.


"Berarti Uncle Liam, Aunty Anne, Aunty Thalia dan Aunty Thalita sepupu jauh Bunda dan Om Ben juga."


"Trus jadinya aku dan Zeline sepupu jauuuuh sekaliiiiii!" Gavin mengucapkan kata sekali dengan lebay.


"Apanya yang jauh sekali, Vin?" Tanya Kak Vaia yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Gavin, seraya mengusap perutnya yang sudah membulat. Kakak Gavin itu jadi seperti orang busung lapar.


"Ini apa? Kamu bikin pohon keluarga ya?" Tanya Kak Vaia lagi seraya mengambil kertas dari hadapan Gavin tadi.


"Entahlah, Kak! Gavin pusing!" Jawab Gavin seraya mengacak rambutnya sendiri.


"Ini salah, Vin!" Kak Vaia menunjuk ke nama Aunty Thalia dan Aunty Thalita yang Gavin tulis sebagai anak Oma Belle dan Opa Dev.


"Salah bagaimana?" Tanya Gavin bingung.


"Mama kandungnya Aunty Thalia dan Aunty Thalita itu Oma Clarissa, adiknya Oma Belle."


"Oh, ya? Trus Oma Clarissa kemana? Apa itu artinya Opa Dev punya dua istri?"


"Luar biasa!" Gavin berdecak lebay.


"Ngawur kamu!" Kak Vaia menoyor kepala Gavin yang malah cengengesan.


"Oma Cla meninggal saat melahirkan Aunty kembar, lalu Opa Dev menikah sama Oma Belle, gitu kata Opa Theo," cerita Kak Vaia yang langsung membuat Gavin manggut-manggut.


"Berarti hubungan darah Gavin dan Zeline sudah teramat sangat jauh, ya?" Gavin bergumam sendiri.


"Eh, tapi kalau Oma Belle adalah sepupu Opa Theo, berarti Oma Cla juga sepupu Opa Theo."


"Halah! Sama saja ternyata!" Gavin mengacak rambutnya sekali lagi.


"Ngomong apa sih, kamu?" Tanya Kak Vaia heran.


"Kak, aku boleh tanya, nggak?" Cerus Gavin tiba-tiba.


"Tanya aja!" Jawab Kak Vaia santai.


"Misalnya kalau kak Vaia menikah sama Sakya boleh apa, nggak?" Tanya Gavin yang langsung membuat Kak Vaia mengernyit.


"Sakya?"


"Sakya anaknya Aunty Thalita dan Uncle Zayn?" Tanya Kak Vaia memastikan.

__ADS_1


"Iya! Kan cuma misalnya!" Gavin mempertegas.


"Boleh! Tapi masalahnya kami sudah sama-sama menikah dan usia jiga beda jauh!"


"Kamu kok aneh-aneh, sih?" Kak Vaia geleng-geleng kepala.


"Kan cuma tanya." Gavin meringis.


"Kok tumben, kamu ingat pada Sakya? Biasanya kalau ditanya sepupu dari keluarga Halley siapa saja, jawabnya cuma Fairel dan Keano!" Kak Vaia kembali heran.


"Ih, kata siapa? Sepupu dari keluarga Halley kan ada Sakya dan Zeline juga!" Ujar Gavin membantah tudingan sang kakak.


"Trus, yang anaknya Aunty Thalia?" Tanya Kak Vaia memancing.


"Si kembar!" Jawab Gavin cepat yang aslinya memang tidak tahu. Zeline tak memberitahu kemarin!


"Iya namanya siapa?" Tanya Kak Vaia lagi.


"Entah? Rana dan Rani mungkin," jawab Gavin ngawur yang sontak berhadiah toyoran dari Kak Vaia.


"Salah!"


"Trus siapa, Kak?" Gantian Gavin yang memancing.


"Ryan dan Lea! Makanya kalau ada arisan keluarga itu ikut! Jangan papan selancar aja dielus-elus!" Omel Kak Vaia.


"Iya nanti kalau udah punya istri gantian istrinya yang dielus-elus, Kak! Kayak suami Kak Vaia kalau pulang itu," Celetuk Gavin seraya terkekeh.


"Ngelus-elus perut Kak Vaia melulu!" Sambung Gavin lagi meledek sang kakak.


"Masih kecil juga!" Kak Vaia mengacak rambut sang adik.


"Udah gede ini, Kak! Udah dua puluh tiga tahun! Dianggap kecil melulu mentang-mentang bungsu!" Protes Gavin merasa tak terima.


"Kak Vaia!" Panggil Abang Ezra yang entah sejak kapan datang.


"Disini, Zra! Di ruang makan!" Seru Kak Vaia pada adiknya tersebut.


"Kak-"


"Eh, Vin! Udah pulang?" Sapa Kak Ezra yang sepertinya kaget melihat Gavin di rumah. Secara Gavin memang jarang di rumah.


"Udah! Kak Jojo mana, Bang? Sendirian aja?" Gavin membalas sapaan dari abangnya tersebut, lalu dua anak laki-laki di keluarga Diba tersebut melakukan tos.


"Joanna di mobil! Aku kesini mau mengambil titipan Ayah buat dibawa ke rumah Opa," ujar Kak Ezra menyampaikan tujuannya.


"Oh, iya. Aku lupa," Kak Vaia hendak mengambil titipan yang dimaksud saat Ezra mencegah dengan cepat.


"Biar Ezra ambil sendiri, Kak! Dimana?"


"Di laci dekat sofa," jawab Kak Vaia memberitahu.


"Abang Ezra mau ke rumah Opa kapan memang?" Tanya Gavin kepo seraya mengekori sang abang.

__ADS_1


"Sekarang! Ini udah mau ke bandara kota," jawab Ezra yang sudah membuka laci dan mengambil sebuah tas dari dalam laci.


"Yah, nggak naik mobil saja, Bang? Gavin mau ikut," tanya Gavin menawar.


"Tumben mau ke rumah Opa, Vin?" Celetuk Kak Vaia yang turut mendengar permintaan Gavin.


"Mau minta maaf, Kak! Soalnya kemarin nggak datang di acara arisan keluarga," alasan Gavin seraya meringis. Padahal yang sebenarnya adalah, ada tujuan lain yang hendak Gavin lakukan.


"Yaudah naik pesawat saja biar cepat! Capek kalau harus naik mobil! Besok juga aku dan Joanna harus langsung balik." Tukas Ezra yang keberatan dengan usulan Gavin untuk naik mobil.


"Nanti beli tiket dadakan nggak apa-apa, Vin! Penerbangan ke sana kan jarang penuh juga," ujar Kak Vaia ikut menimpali.


"Tapi masalahnya, kalau Gavin mabuk dan hoek hoek bagaimana, Kak?" Tanya Gavin seraya menahan malu.


Memalukan memang!


Padahal naik kapal berjam-jam Gavin bisa tahan,tapi kalau naik pesawat entahlah! Rasanya sudah seperti ibu hamil ngidam.


"Payah kamu, Vin! Masa naik pesawat mabok melulu!" Cibir Ezra pada sang adik.


"Namanya juga bawaan bayi, Bang!" Gavin beralasan.


"Udah! Tinggal bawa kresek dan kantong muntah, apa susahnya!" Kak Vaia memberikan solusi.


"Atau kamu nyetir sendiri saja ke rumah Opa. Aku dan Joanna mau naik pesawat," timpal Abang Ezra memberikan solusi lain. Dasar abang kurang pengertian!


"Capeklah, Bang!" Gavin garuk kepala.


"Baru pulang juga dari pulau, udah di suruh nyetir sepuluh jam!" Gerutu Gavin lagi.


"Yaudah, ikut naik pesawat sana! Opa dan Oma juga udah kangen berat sama kamu, Vin! Kemarin aja nanyain kenapa Gavin tidak ada, kenapa Gavin tidak datang!" Cerocos Kak Vaia memberitahu Gavin.


"Cucu item manisnya nggak ada, jadi dicariin," timpal Ezra seraya terkekeh.


"Ck!" Gavin masih garuk-garuk kepala dan menimbang-nimbang.


"Buruan! Keburu ketinggalan pesawat nanti, Vin!" Desak Ezra pada sang adik.


"Iya, baiklah! Gavin ambil ransel sebentar!" Putus Gavin akhirnya seraya melesat ke arah kamarnya dengan cepat.


Demi menemui gadis tukang kentut itu, Gavin akan naik pesawat dan bermabuk-mabuk ria!


"Tunggu aku, Zel!!"


.


.


.


Suami Vaia nggak aku sebut dulu disini biar nggak spoiler. Mudah-mudahan cerita Vaia udah bisa rilis bulan depan karena sebenarnya, draftnya udah jadi dari awal tahun 🙈 malah kepending sama cerita lain hahahaha.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2