
"Mmmuah!!" Zeline mengecup bibir Gavin dan sedikit bergelayut pada suaminya itu sebelum masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Nanti aku ke ruanganmu, Sayang!" Ucap Gavin sembari memegangi punggungnya yang masih sedikit nyeri.
Barbar sekali kelakuan Zeline pagi tadi. Sudah body sebohay kontainer, bisa-bisanya dia melompat dan hendak minta gendong pada Gavin.
"Nanti kalau berat badanmu turun sepuluh kilo, aku gendong dari lantai satu ke lantai dua!" Gerutu Gavin pada pintu ruangan Zeline yang sudah tertutup.
Tapi kapan juga berat badan Zeline akan turun, jika Gavin saja melarang istrinya itu untuk diet?
Ah, sudahlah, ini memang membingungkan!
Gavin akhirnya duduk di kursi kerjanya masih sambil meringis. Pria itu segera menghidupkan layar komputer di hadapannya dan mulai melakukan pekerjaannya sebagai sekretaris merangkap asisten pribadi serta asisten ranjang Zeline.
Yeah!
Gavin yang multitasking!
****
"Halo, Mi! Ada apa? Greget jadi melahirkan?" Cecar Zeline setelah mengangkat telepon dari Mami Thalita.
"Gretha!"
"Iya, Gretha! Dia sudah melahirkan?" Tanya Zeline sekali lagi setelah memperbaiki panggilannya pada Gretha.
"Sudah! Bayinya perempuan!"
"Syukurlah!" Zeline langsung mengucap syukur setelah mendengar kabar bahagia ini.
"Kau dimana sekarang? Tidak menjenguk Gretha dan keponakanmu?"
"Zeline masih di kantor, Mi! Ada meeting pagi. Nanti saat makan siang saja Zeline akan kesana bersama Gavin," jawab Zeline cepat.
"Baiklah! Tapi ngomong-ngomong, kau sudah ada kabar baik belum?"
"Kabar baik?" Zeline mengernyit dan sedikit bingung.
"Ini sudah satu bulan sejak pernikahanmu dengan Gavin, Zel! Kau belum dapat tamu bulanan, kan?"
"Eh, iya!"
"Zeline belum dapat tamu, Mi!" Jawab Zeline yang sudah sangat antusias.
"Nanti langsung beli testpack saja, Zel! Langsung di test! Mana tahu sudah positif!"
"Iya, Mi! Nanti Zeline test secepatnya!" Jawab Zeline penuh semangat seraya mengusap perutnya sendiri.
Ah, Zeline juga sudah penasaran!
Semoga Zeline benar-benar sudah hamil sekarang!
Ceklek!
Pintu ruangan Zeline dibuka dari luar, dan Gavin langsung masuk ke dalam ruangan istrinya tersebut.
"Sudah dulu, ya, Mi! Zeline harus segera meeting!" Pamit Zeline akhirnya pada Mami Thalita.
"Iya! Jangan lupa pesan mami tadi!"
"Siap!" Zeline mematikan ponselnya dan segera menghambur ke pelukan Gavin.
"Sayang, aku hamil!" Lapor Zeline dengan wajah yang sudah sumringah.
"Benarkah? Sudah dicek?" Tanya Gavin memastikan.
"Belum, sih! Tapi aku udah telat beberapa hari kayaknya!" Zeline masih bergelayut pada Gavin.
"Trus katamu kemarin, kamu sudah nembak banyak di dalam. Jadi pasti aku hamil, dong!" Ujar Zeline penuh percaya diri.
__ADS_1
"Iya, sih! Tapi sebaiknya ditest dulu, oke!" Saran Gavin seraya membenarkan rambut Gavin.
"Cium!" Zeline sudah mengalungkan lengannya ke leher Gavin serta memonyongkan bibirnya.
"Mmmuuah!" Gavin mengecup bibir Zeline cukup lama.
"Lagi, Sayang!" Zeline tiba-tiba sudah ganti menangkup wajah Gavin, lalu meraup bibir Gavin dan mengajaknya berpagutan lumayan lama.
"Ada meeting, Zel!" Gavin mengingatkan sang istri.
"Iya! Aku ingat!" Jawab Zeline sebelum wanita itu kembali mencium Gavin.
"Zeline!" Gavin terpaksa menghentikan kelakuan bucin Zeline tersebut.
Benar-benar bucin tahap akut!
"Nanti lanjut setelah meeting!" Bisik Zeline dengan nada nakal pada Gavin.
"Iya! Sekarang ayo ke ruang meeting karena yang lain sudah menunggu," ajak Gavin yang harus kembali merapikan rambut Zeline.
"Ayo!" Zeline sudah menggamit lengan Gavin, dan pasangan suami istri itu keluar beriringan dari ruang kerja Zeline.
****
"Ck!" Zeline melempar dengan kesal, lima buah testpack bergaris satu pada Gavin.
"Masih negatif!" Ujar Zeline bersedekap frustasi.
Gavin memperhatikan satu persatu testpack yang tadi dilempar oleh Zeline, lalu mengumpulkannya dengan rapi. Pria itu kemudian bangkit berdiri untuk mendekap Zeline yang masih cemberut.
"Kamu gimana, sih? Kenapa menghamili aku aja nggak bisa!" Omel Zeline selanjutnya pada Gavin.
"Iya mungkin belum rezeki kita, Zel!" Ujar Gavin beralasan.
"Tapi kemarin Gretha dan Sakya itu sekali melakukan langsung jadi!"
"Kenapa? Kenapa?" Zeline menarik kerah kemeja Gavin dengan sejuta kesal.
"Iya namanya belum rezeki, mau diapain lagi!" Jawab Gavin yang alasannya tetap sama dengan di awal tadi. Tidak kreatif sekali membuat alasan!
"Udah, nggak usah terlalu dipikirin, kenapa? Nanti kita usaha lebih keras lagi, oke!" Gavin sudah kembali mendekap Zeline dan berusaha menghibur istrinya tersebut.
"Aku nggak usah nengokin bayinya Gretha kalau begitu!" Ujar Zeline seraya menyentak dekapan Gavin. Istri Gavin itu lalu masuk ke dalam ruangannya dan meninggalkan Gavin.
"Kok begitu?" Tanya Gavin yang sudah menyusul Zeline ke dalam ruangannya.
"Biar nggak ditanya sudah hamil apa belum!" Jawab Zeline frustasi. Wanita itu memalingkan wajahnya dari Gavin dan masih bersedekap.
"Tapi bayi Gretha kan keponakan kita, Zel! Masa iya kita nggak nengokin?" Gavin sudah kembali mendekap Zeline dan membujuk istrinya tersebut.
"Nanti kalau ada yang tanya kan tinggal dijawab belum. Sekalian kita minta doa agar disegerakan," ujar Gavin lagi memberikan saran positif.
"Ya!" Gavin sudah menyusupkan kepalanya di leher Zeline dan masih berusaha membujuk istrinya. Pertanyaan kapan nikah dan kapan hamil memang selalu menjadi pertanyaan sensitif.
"Atau nanti biar aku saja yang menjawab kalau ada yang bertanya. Kau pura-pura tak dengar saja!" Bujuk Gavin sekali lagi pada Zeline yang tetap merengut.
"Zel!" Gavin mengeratkan dekapannya pada Zeline yang tiba-tiba malah berurai airmata.
Selama sebulan menikah dengan Zeline, sepertinya ini kali pertama Zeline menangis.
Eh, kali kedua seingat Gavin. Kali pertama kan saat mereka belah duren itu!
"Ada apa?" Tanya Gavin lembut yang langsung membimbing Zeline untuk duduk di sofa. Namun bukannya duduk di sofa, Zeline malah memilih untuk duduk di pangkuan Gavin.
Baiklah! Terserah!
Sesuka hati Zeline saja!
"Apa karena aku nikahnya telat, makanya sekarang aku juga jadi susah hamil?" Tanya Zeline dengan airmata yang sudah membanjiri wajahnya.
__ADS_1
"Tidak ada hubungannya!" Jawab Gavin cepat. Gavin meraih tisu untuk menghapus airmata Zeline yang tak berhenti berlinang.
"Kenapa juga kamu itu datangnya ke hidupku harus telat! Kenapa tidak lima tahun yang lalu saja kamu datang menemui aku dan langsung menikahi aku?" Cecar Zeline menyalahkan sekaligus memukul-mukul dada Gavin.
Tetap saja Gavin yang salah sekarang!
Sudah nasib! Terima saja!
"Aku baru lulus SMA lima tahun lalu! Memangnya kau mau menikah dengan bocah ingusan yang baru lulus SMA?" Gavin sedikit mengajak Zeline berkelakar.
"Dan lagi, masalah kehamilan itu setiap orang jalannya memang berbeda, Zel!"
"Tak perlulah membandingkan diri kita dengan orang lain! Apalagi sampai membuat frustasi begini!"
"Enjoy dan nikmati saja!" Nasehat Gavin panjang lebar masih sambil menyeka sisa-sisa airmata Zeline.
"Jika bulan ini kamu belum hamil, mungkin bulan depan hamilnya. Atau bulan depannya lagi! Kita cukup berusaha dan berdoa, lalu serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa!" Ujar Gavin lagi yang ternyata bisa sebijak ini. Zeline pikir suaminya ini masih bocah!
"Kita promil ke dokter, yuk!" Cetus Zeline tiba-tiba yang langsung menbuat Gavin terkekeh.
"Sepertinya belum saatnya!"
"Pasangan pengantin baru tak harus langsung hamil, kok!"
"Itu dulu Kak Joanna juga ada jeda beberapa bulan dari dia menikah sampai akhirnya hamil," ujar Gavin memberitahu Zeline.
"Jadi tak usahlah buru-buru!" Nasehat Gavin lagi seraya mendekap Zeline yang masih berada di pangkuannya. Meskipun paha Gavin rasanya sudah hampir meleyot sekarang!
"Kita nikmati saja dulu prosesnya, oke!" Lanjut Gavin seraya mengecup pipi Zeline.
"Nikmati prosesnya?" Zeline tiba-tiba sudah menatap aneh pada Gavin.
"Iya! Nikmati prosesnya-" Gavin tak jadi melanjutkan kalimatnya saat kedua tangan Zeline sudah melingkar di lehernya.
"Maksud aku bukan sekarang, Sa-" Zeline tiba-tiba sudah meraup bibir Gavin dan memberikan pagutan panasnya. Gavin tentu saja langsung membalas dan tak membuang kesempatan.
"Sayang!"
"Ayo kita nikmati satu ronde dulu!" Ajak Zeline merayu.
"Tapi kita harus menjenguk bayi Gretha, Zel!" Ujar Gavin beralasan.
"Ck!"
"Berikan satu ronde atau kita tak usah menjenguk bayi Gretha!" Zeline mengancam sekaligus mendelik pada Gavin.
"Iya, baiklah," Gavin hanya bisa mendes*h pasrah sekarang.
"Aku kunci pintu ruanganmu dulu," Izin Gavin seraya mengendikkan dagunya ke arah pintu.
"Oke!" Zeline langsung turun dari pangkuan Gavin dengan cepat, lalu membuka blazernya. Menyisakan dalaman dress tanpa lengan berwarna abu-abu.
"Sudah?" Tanya Zeline yang sudah memeluk Gavin dari belakang.
"Iya, sudah!" Jawab Gavin seraya berputar, lalu menangkup wajah Zeline. Namun Zeline yang agresif malah langsung melancarkan pagutan panasnya pada Gavin, seraya tangan Zeline bergerak untuk melepaskan kancing kemeja Gavin.
Ya ya ya!
Setidaknya Zeline sudah tak ngambek dan frustasi lagi sekarang!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1