
"Masih pegel, Zel!" Keluh Gavin seraya membenarkan celananya, karena posisi tongkat saktinya yan sedikit keluar jalur.
"Mau aku pijitin lagi?" Tawar Zeline yang tangannya sudah dengan cepat menangkup milik Gavin.
"Tidak!" Tolak Gavin cepat.
"Aku sudah sangat kelaparan, dan sebaiknya kita makan dulu!" Ujar Gavin lagi yang sudah secepat kilat melesat ke arah pintu kamar, meninggalkan Zeline yang kini merengut.
"Nanti malam kita lembur lagi, ya, Sayang!"
"Honey, Bunny, Sweety!" Rayu Zeline mesra dan setengah berseru.
"Start jam tujuh!" Imbuh Zeline lagi.
Gavin sontak menatap pada istrimya yang mendadak jadi bucin akut itu, lalu pria itu mengusap wajahnya sendiri dan akhirnya mengangguk pasrah.
"Iya!" Jawab Gavin pelan dan Zeline langsung secepat kilat menghampiri Gavin, lalu memeluk sang suami dengan lebay.
"Ayo makan dulu!"
"Mau aku suapi?" Tawar Zeline seraya membuka pintu kamar. Zeline dan Gavin akhirnya keluar dari kamar berbarengan, dan Zeline tak lepas menggamit lengan Gavin yang sekali lagi hanya bisa pasrah.
Mimpi apa Gavin punya istri agresif begini?
Bukan mimpi juga, toh ini bagian dari doa Gavin, agar Zeline tak lagi jual mahal. Tapi begitu dikabulin, kenapa malah jadi separah ini?
Meskipun Gavin menikmati,tapi Gavin lebih banyak kewalahan sampai-sampai milik Gavin terasa pegal karena sepanjang pagi tadi, Zeline tak mau berhenti bercinta.
Benar-benar dilema!
"Sayang, mau aku suapi?" Tanya Zeline sekali lagi pada Gavin yang malah melamun.
"Aku bisa makan sendiri! Kamu mau aku suapi?" Gavin balik bertanya sekaligus membenarkan rambut Zeline dan menyelipkannya ke belakang telinga.
"Mau!" Jawab Zeline antusias.
Yah, padahal Gavin tadi hanya basa-basi. Ternyata Zeline langsung mau. Tak apalah!
"Baiklah! Ayo kita makan!" Ajak Gavin selanjutnya sebelum mereka berdua menuruni tangga.
"Pengantin barunya baru bangun," ledek Sakya saat Gavin dan Zeline menuruni tangga masih dengan bergandengan tangan.
Biar kelihatan kalau sudah punya pasangan dan bukan lagi jomblo ngenes!
"Kok rambutnya nggak basah?" Celetuk Gretha yang langsung membuat Zeline memutar bola mata.
"Ada alat bernama hair dryer yang fungsinya untuk mengeringkan rambut, Greget!" Jawab Zeline sedikit geram.
"Berarti emang udah belah duren!" Seloroh Gretha lebay seraya memukul lengan Sakya.
"Ssstttt!!! Pelan-pelan, Sayang!" Sakya dengan cepat menenangkan Gretha yang masih saja pecicilan padahal HPL tinggal sebulan lagi. Perut istri Sakya itu juga sudah sebesar semangka sekarang, tapi kelakuannya kadang masih saja membuat mengelus dada.
Dasar bocah!!
"Eh, iya lupa," ringis Gretha yang sudah kembali duduk dengan tenang. Sakya lalu mengusap-usap perut Gretha seolah sedang pamer pada Zeline dan Gavin.
Ck! Dasar lebay!
"Sudah bangun, Zel? Sarapan dulu!" Ucap Mami Thalita yang baru keluar dari kamar disusul oleh Papi Zayn.
Lah, Papi dan Mami Zeline itu juga baru bangun?
Mencurigakan!
"Iya ini juga mau sarapan, Mi! Sudah kelaparan!" Jawab Gavin jujur seraya menarik Zeline agar secepatnya pergi ke ruang makan. Cacing-cacing Gavin sudah berdemo hebat di dalam perut dan sebaiknya Gavin cepat makan sebelum cacing-cacingnya berubah anarki lalu melakukan kudeta!
"Sampai kelaparan. Kira-kira berapa ronde, ya, Pak Dokter?" Gretha berbisik-bisik pada Sakya.
__ADS_1
"Tidak berhenti dari semalam mungkin. Seperti kita dulu."
"Besok lagi stok makanan di kamar, Kak! Biar Abang Gavin tidak kelaparan begitu!" Celetuk Sakya sedikit berseru pada Zeline yang langsung mendengus.
"Berisik!" Jawab Zeline ketus.
"Sudah, ayo makan!" Ajak Gavin pada Zeline yang malah sibuk menggerutu. Gavin sudah membalik piring Zeline, lalu mengisinya dengan nasi. Pun dengan piring Gavin sendiri yang juga hebdak Gavin isi dengan nasi, namun malah dicegah oleh Zeline.
"Sepiring berdua saja, Sayang! Katanya mau nyuapin aku," tagih Zeline seraya menahan tangan Gavin yang akan mengisikan nasi ke piringnya sendiri.
"Baiklah, sepiring berdua. Berarti porsinya harus ditambah." Gavin segera menambahkan dia centong nasi ke piring Zeline.
"Banyak sekali! Seperti porsi kuli," komentar Zeline.
"Aku kelaparan sekali, Sayang! Kau menggempurku dari pagi dan cacingku sudah mengamuk di dalam!" Gavin menunjuk ke arah perutnya sendiri yang sontak membuat Zeline tertawa kecil.
"Kau itu yang menusukku berkali-kali!" Zeline berbisik dan mencubit Gavin dengan manja.
Ck!
Lama-lama jadi mirip Gretha si Nona direktur ini!
"Makan dulu,nanti aku tusuk lagi!" Ujar Gavin seraya menyodorkan satu sendok nasi lengkap dengan sayur dan lauknya ke depan mulut Zeline.
Zeline tak membuang waktu dan langsung melahap makanan yang disodorkan oleh Gavin tersebut. Wanita itu lalu senyum-senyum saat melihat Gavin yang lanjut menyuap makanan untuk dirinya sendiri sebanyak dua sendok. Gavin terlihat lahap sekali saat makan dan Zeline mendadak merasa gemas pada suaminya tersebut.
Eh!
Kok Zeline jadi bucin akut begini, ya?
****
"Kak! Duduk sini, deh! Sakya punya hadiah untuk Kak Zeline dan Abang Gavin!" panggil Sakya saat Zeline dan Gavin sudah selesai sarapan yang amat sangat terlambat.
"Hadiah apa?" Tanya Zeline yang akhirnya menarik Gavin untuk ikut duduk di sofa. Tak berselang lama, Mami Thadan Papi Zayn ikut bergabung juga bersama mereka.
"Tiket untuk pulang," ujar Sakya seraya menyodorkan amplop pada Zeline. Sepertinya selain menjadi Dokter Orthopedi, Sakya juga berprofesi sebagai agen tiket. Setiap memberikan hadiah untuk Zeline, isinya selalu saja tiket!
"Ke rumah Abang Gavin lah!" Jawab Gretha seraya tergelak.
"Besok pagi? Kenapa sepuluh hari?" Tanya Zeline setelah memeriksa tiket di dalam amplop.
"Agar kalian bisa sekalian bulan madu," bukan Sakya, melainkan Papi Zayn yang menjawab.
"Lalu pekerjaan di kantor bagaimana, Pi?" Tanya Gavin tak enak hati. Sejak bekerja sebagai asisten sekaligus sekretaris Zeline, cuti lebih dari tiga hari, menurut Gavin sudah sangat lama, dan itu sangat bisa membuat kacau jadwal-jadwal Zeline.
"Papi yang akan meng-handle semuanya!" Jawab Papi Zayn santai.
"Nikmati saja honeymoon kalian," timpal Mami Thalita.
"Trus nanti pulang, bawa oleh-oleh cucu untuk Mami dan Papi!" Ujar Gretha ikut-ikutan menimpali.
"Aaamiin!" Semuanya langsung mengaminkan dengan keras.
"Baiklah! Terima kasih tiketnya!" Ucap Zeline seraya tersenyum pada semua anggota keluarganya.
"Emmmm, aku boleh usul, nggak, Sayang?" Bisik Gavin pada Zeline yang langsung mengernyit.
"Usul apa?"
"Kita pulang naik mobil saja, ya! Nanti aku yang mengemudi," usul Gavin yang seperti tak mau naik pesawat.
"Memang kenapa? Kan Sakya sudah membelika tiket-" Zeline tak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa, Kak?" Tanya Sakya penasaran.
"Ya! Naik mobil saja, ya!" Bujuk Gavin pada Zeline.
__ADS_1
"Memangnya kau masih mabuk kalau naik pesawat, Gavin?" Tanya Papi Zayn yang paling tanggap.
"Masih, Pi!" Jawab Gavin menahan malu seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ck! Cuma empat puluh lima menit! Kan bisa kamu tahan, Sayang!" Ujar Zeline yang merasa keberatan dengan usul Gavin.
"Nggak bisa! Baru masuk saja sudah mual!" Ujar Gavin beralasan.
"Tapi kalau naik mobil itu, kita artinya buang-buang waktu dua belas sampai lima belas jam di jalan! Nggak efektif!" Zeline ikut-ikutan beralasan.
"Nanti kamu minum obat antimabuk sudah!" Ujar Zeline lagi memberikan saran untuk Gavin.
"Nggak mempan!" Sergah Gavin cepat.
"Sudah berkali-kali dicoba, ujung-ujungnya tetap hoek!" Sambung Gavin lagi beralasan.
"Ck!" Zeline bersedekap dan merengut.
"Nanti kita bisa sambil mampir ke tempat-tempat wisata yang kita lalui kalau naik mobil, ya!" Bujuk Gavin sekali lagi pada Zeline.
"Tapi itu lama sekali!"
"Tidak akan berasa lama! Kan kita pergi berdua!" Gavin masih berusaha meyakinkan Zeline.
"Ck! Baiklah!" Putus Zeline yang akhirnya mengalah dan mengembalika tiket di tangannya pada Sakya.
"Yah, tahu gitu Sakya tak usah repot-repot pesan tiket, Pi!" Ujar Sakya mendes*h kecewa.
"Tiketnya nggak kepake juga!" Sambung Sakya lagi.
"Kita saja yang honeymoon, Pak Dokter!" Celetuk Gretha tiba-tiba.
"Ide ba-"
"Sakya!" Tegur Papi Zayn dan Mami Thalita berbarengan.
"Kandungan Gretha tinggal nunggu HPL, kok malah mau bepergian! Nanti kalau Gretha melahirkan di dalam pesawat bagaimana?" Omel Mami Thalita pada sang putra yang sontak mengundang tawa Zeline dan Gavin.
"Iya, Mi! Iya! Sakya ingat, kok!" jawab Sakya sedikit merengut.
"Trus ini tiketnya buat siapa? Mami dan Papi?" Tanya Sakya yang masih mengacungkan tiket di tangannya.
"Papi sibuk di kantor menggantikan Zeline dan Gavin." Papi Zayn beralasan.
"Aku tahu buat siapa!" Cetis Gretha tiba-tiba.
"Buat siapa?" Tanya semuanya kompak.
"Buat Mom dan Dad! Ayo ke rumah Mom dan Dad dan kita berikan tiketnya! Besok Mom dan Dad anniversary pernikahan yang ke sembilan belas tahun!" Ajak Gretha penuh semangat pada Sakya.
"Iya, Sayang! Iya! Pelan-pelan!" Sakya mengingatkan Gretha yang kembali pecicilan, lalu suami istri itu sudah menghilang masuk ke dalam kamar.
"Lah, bukannya Gretha bentar lagi ultah ke sembilan belas tahun? Bagaimana ceritanya, Mom dan Dad-nya baru anniv ke sembilan belas juga?" Zeline bergumam seraya menatap pada Mami Thalita dan Papi Zayn.
"Sssttt! Tidak usah dibahas!" Nasehat Mami Thalita berusaha bersikap bijak.
"The power of mencicil!" Bisik Gavin yang sukses membuat Zeline tertawa kecil.
.
.
.
.
Ghibah!
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.