
"Aaaaaaah! Akhirnya...." Zeline mendes*h lega setelah akhirnya gadis itu melepaskan gumpalan angin yang sejak tadi ia tahan. Gavin yang masih berbaring seraya meringkuk,langsung menggosok-gosok hidungnya yang baru saja tertusuk oleh bau nikmat yang dikeluarkan oleh Zeline.
"Kau tadi makan petatas berapa banyak, Zel?" Tanya Gavin tiba-tiba yang langsung membuat Zeline yang baru saja bernafas lega menjadi kaget dan salah tingkah.
"Eh, apa? Kau bertanya apa?" Tanya Zeline tergagap.
"Kau tadi makan petatas berapa banyak? Kok perutmu sudah bunyi lagi aku dengar," Tanya Gavin sekali lagi tanpa menyebut aroma kentut Zeline.
Seharusnya Gavin tampung saja aromanya, lalu Gavin jadikan hadiah untuk Zeline. Agar gadis itu ikut menikmati juga!
"Masa, sih? Aku nggak merasa lapar, kok!" Jawab Zeline sedikit heran.
"Masa? Trus yang barusan suara apa? Yang suaranya seperti tikus kejepit?" Tanya Gavin lagi yang langsung membuat Zeline membelalakkan kedua matanya.
"Suara apa?" Zeline balik bertanya dan pura-pura beg*.
"Suara disertai aroma nikmat." Gavin menggosok hidungnya lagi dan Zeline kembali salah tingkah.
"Aku tidak tahu!" Zeline masih tak mengaku dan sekarang gadis itu bersedekap.
"Kau pernah dengar sebuah pepatah, Zel?" Tanya Gavin sskali lagi.
"Pepatah apa?" Tanya Zeline masih tanpa mengubah posisinya.
"Begini bunyi pepatahnya." Gavin berdehem sejenak, lalu pria itu bangun dan kembali duduk.
Padahal tadi sudah mengeluh ngantuk dan laporan mau tidur. Dasar labil!
"Orang yang suka kentut di depan pasangannya, biasanya adalah orang yang jujur," ujar Gavin mengungkapkan pepatah yang membuat Zeline menganga.
Pepatah konyol darimana itu?
"Tapi aku lihat kau tak jujur dan tak mengaku-"
"Kau bukan pasanganku!" Sergah Zeline memotong dengan cepat.
"Jadi?" Gavin masih menunggu pengakuan dari Zeline.
"Baiklah! Aku tadi memang kentut karena perutku sedikit mulas gara-gara petatas bakar yang kau berikan untuk makan malam tadi!"
"Lagipula, aku pikir kau sudah tidur nyenyak dan aromanya juga tak terlalu mengganggu," sergah Zeline panjang lebar masih tetap sambil mencari pembenaran.
Namanya juga wanita!
"Terima kasih karena sudah jujur," ucap Gavin akhirnya seraya menahan tawa.
"Kau sendiri juga tidak jujur! Belum tidur, tapi pura-pura sudah tidur!" Zeline masih lanjut menyalahkan Gavin.
"Iya, aku berpikir, kalau aku sudah pura-pura tidur, kau juga akan langsung ikut tidur. Karena Bunda dulu selalu melakukan hal itu, jika aku atau Kak Vaia, atau Abang Ezra tak kunjung tidur," jelas Gavin panjang lebar membeberkan alasannya.
"Siapa tadi? Kak Vaia dan...."
"Abang Ezra! Mereka kakak-kakakku. Aku kan bungsu di rumah," cerita Gavin pamer.
"Namanya seperti tak asing," Zeline bergumam dan mencoba mengingat-ingat. Tapi gadis itu benar-benar lupa.
Ah, tapi kadang nama bisa sama tapi orangnya berbeda. Jadi mungkin ini hanya kebetulan.
"Jadi kau tiga bersaudara?" Tanya Zeline lagi mulai penasaran dengan kehidupan Gavin.
"Ya!"
__ADS_1
"Kau sendiri, punya kakak juga? Atau abang mungkin?" Gavin balik bertanya pada Zeline dan sepertinya pemuda itu lupa tentang usia Zeline yang hampir menyentuh kepala tiga.
"Tidak ada kakak!"
"Aku punyanya adik yang menyebalkan dan tidak pengertian, yang sekarang sudah membuatku terdampar di pulau antah barantah ini!" Lanjut Zeline dengan nada bicara yang sudah berapi-api. Gavin hanya terkekeh mendengar cerita Zeline tersebut, saat kemudian kembali tercium aroma yang serupa dengan aroma sebelumnya yang yadi menusuk-nusuk hidung Gavin.
"Maaf! Tapi ini salahmu yang memberikan aku petasan bakar!" Ujar Zeline yang tetap saja menyalahkan Gavin.
Ya, ya, ya!
Wanita selalu saja benar!
"Petatas! Bukan petasan!" Gavin mengoreksi.
"Iya, itu!"
"Mau aku temani ke semak-semak?" Tawar Gavin selanjutnya yang langsung membuat Zeline mengernyit.
"Mau apa ke semak-semak?" Tanya Zeline kembali curiga pada Gavin.
"Menuntaskan panggilan alammu." Raut wajah Gavin benar-benar tanpa dosa sekarang.
"Kau kentut terus dari tadi, jadi aku pikir kau mungkin ingin BAB sekarang. Mumpung hujannya juga sudah agak reda," tawar Gavin seraya menunjuk ke luar gubuk. Hujan badai memang sudah mulai reda dan sekarang hanya tinggal gerimis saja.
"Ck! Aku tidak ingin BAB sekarang! Lagipula, BAB di semak-semak, nanti kalau ada ular bagaimana?" Cerocos Zeline yang langsung menolak tawaran Gavin.
"Tidak baik menahan-nahan. Nanti aku carikan semak-semak yang aman," Gavin masih bersikeras menawarkan.
"Aku bilang tidak ya tidak!" Jawab Zeline tegas.
"Lalu kenapa dari tadi kentut terus?" Tanya Gavin seraya kembali menahan tawa. Gavin baru tahu, meskipun Zeline gadis yang cantik, tapi aroma kentutnya tetap saja tak sedap.
Konyol sekali!
"Itu karena petasan-"
"Petatas!" Koreksi Gavin memotong.
"Iya! Itu karena ubi jalar bakar yang kau berikan tadi! Kenapa hal seperti itu saja harus tanya! Memangnya kau tak terkentut-kentut juga sejak tadi?" Cerocos Zeline yang sukses membuat Gavin tergelak.
"Mmmmm aku hanya makan sedikit petatasnya tadi. Kau itu yang habis banyak!" Ujar Gavin mengingatkan.
"Ck! Bukankah kau sendiri yang menyuruhku makan banyak tadi? Dasar labil!" Ketus Zeline yang tetap saja menyalahkan Gavin.
Ya!
Gavin memang selalu salah dan Zeline selalu benar!
"Hoaaaam!" Zeline menguap dan buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Tidur disini! Jangan di tempat yang basah! Nanti kau masuk angin, aku juga yang repot!"
"Di pulau ini belum ada apotik dan rumah sakit!" Titah Gavin seraya menepuk ruang kosong di sampingnya.
"Kau akan cari kesempatan tidak?" Zeline masih memicing curiga pada Gavin.
"Tidak akan!" Gavin mengibaskan sedikit kemejanya, lalu membentangkan benda itu ke hadapan Zeline.
"Mau apa?" Zeline beringsut mundur sekaligus berprasangka buruk.
"Menutup belahan dadamu yang hampir tersembul keluar!" Gavin dengan cepat menutupkan kemejanya ke dada Zeline yang memang hanya tertutup tanktop. Zeline sempat mematung dengan tindakan sederhana Gavin tersebut.
__ADS_1
"Kau bisa tidur sekarang kalau menang sudah mengantuk. Atau mau aku antar ke semak-semak dulu sebelum tidur?" Tawar Gavin sekali lagi yang langsung membuat Zeline merengut.
"Aku akan tidur!" Zeline akhirnya berbaring di dekat Gavin, namun gadis itu memunggungi Gavin yang masih terus memperhatikan Zeline seraya tersenyum. Zeline menggunakan tangannya sebagai bantal seperti malam sebelumnya.
"Nanti tanganmu kesemutan kalau seperti itu," komentar Gavin yang sama sekali tak ditanggapi oleh Zeline.
Zeline berusaha memejamkan matanya. Sementara Gavin sudah ikut merebahkan tubuhnya di samping Zeline yang masih memunggunginya.
"Zel!" Panggil Gavin seraya memiringkan tubuhnya dan menghadap ke arah Zeline.
"Zel, aku kasih bantal ini," ujar Gavin lagi seraya merentangkan tangannya ke atas kepala Zeline.
"Zeline!"
"Nanti kamu gr*pe-gr*pe!" Zelin masih berprasangka.
"Grep*-gr*pe pakai apa? Tanganku yang satu aku pakai buat bantalku sendiri," tukas Gavin memberitahu. Zeline segera berbalik untuk memastikan. Dan ternyata memang benar. Tangan kiri Gavin ia lipat sebagai bantal untuk kepalanya sendiri, sementara tangan kanan Gavin sudah terentang dan siap menopang kepala Zeline.
"Bener, nggak apa-apa?" Tanya Zeline masih ragu.
"Nggak apa-apa!" Jawab Gavin bersungguh-sungguh.
Zeline akhirnya meletakkan kepalanya le atas lengan Gavin yang lumayan kekar juga. Rajin fitness mungkin, tour guide menyebalkan ini.
"Ketekmu bau asem," komentar Zeline saat tak sengaja mencium aroma yang menguar dari ketiak Gavin.
"Daripada kamu bau kentut," Gavin balik meledek Zeline yang sontak langsung berhadiah pukulan di dada dari Zeline.
"Sialan! Mau aku tindih lagi sampai gepeng!" Ancam Zeline yang kalah cepat dengan gerakan Gavin yang sudah menjepit Zeline di ketiaknya hingga gadis itu meronta-ronta.
"Aku jepit duluan kamu sebelum nindih aku!"
"Gavin!" Zeline meronta dan kelojotan saat Gavin terus memaksanya untuk menghirup aroma asem dari ketek Gavin.
Benar-benar tour guide kurang ajar!
"Gavin, lepaskan aku!"
"Sialan kamu!" Zeline tak berhenti mengomel saat akhirnya Gavin melepaskan gadis itu dari jepitan ketiak maut Gavin.
Sial, sial, sial!
"Enak?" Ledek Gavin yang langsung membuat Zeline bersungut-sungut.
"Awas, kamu!" Zeline menuding geram pada Gavin sebelum kemudian wanita itu berbalik dan memunggungi Gavin. Zeline akhirnya tidur dengan memakai tangannya sendiri sebagai bantal.
Ya ya ya!
Tawaran sok manis Gavin tadi ternyata hanya tawaran palsu yang menyesatkan.
Dasar Gavin sialan! Menyebalkan!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1