
"Jadinya putri saya dimana sekarang?" Tanya Papi Zayn dengan nada bicara yang sudah tak terkendali.
Baru tadi pagi, Sakya nendapatkan informasi tentang hilangnya Zeline dan tour guide yang Zeline sewa. Sakya kemudian langsung memberitahu Papi Zayn,dan tanpa membuang waktu lagi, bapak dan anak itu langsung terbang ke resort tempat Zeline berlibur dan menginap.
"Sinyal darurat berasal dari salah satu pulau kosong dari gugus kepulauan." Seorang anggota tim penyelamat membentangkan sebuah peta di depan Sakya dan Papi Zayn. Tim penyelamat itu lalu menunjuk ke kumpulan beberapa pulau kecil yang letaknya lumayan jauh dari pulau terbesar yang ada di peta.
"Berdasarkan informasi, Zeline dan Gavin terlihat meninggalkan pulau E naik speedboat, satu jam jam sebelum badai. Jadi ada kemungkinan badai membawa mereka ke salah satu pulau kosong disini. Kami belum bisa memastikan di pulau yang mana, karena biza saja saat Gavin mengirim sinyal darurat, ia belum terdampar. Atau di kasus yang sudah-sudah, korban dan kapal yang mereka tumpangi kadang juga terdampar di pulau yang berbeda," terang petugas itu lagi yang langsung membuat Papi Zayn mengusap wajahnya dengan kasar.
"Operasi penyelamatan sudah dimulai tadi pagi, Pak Zayn! Dan kami akan menyusuri satu persatu pulau untuk mencari keberadaan Zeline dan Gavin," ujar petugas itu lagi berusaha menenangkan Papi Zayn.
Tapi bagaimana Papi Zayn bisa tenang, kalau putri sulung yang ia sayangi saat ini tak diketahui nasib dan keberadaannya?
Kemungkinan Zeline selamat juga masih fifty fifty karena saat badai menerjang, bisa saja Zeline jatuh ke laut, lalu tenggelam....
Ya ampun!
"Kau dimana, Zeline!" Papi Zayn memijit pangkal hidungnya yang mendadak pening.
"Kak Zeline bisa berenang, Pi! Jadi Kak Zeline pasti selamat dan hanya terdampar di salah satu pulau."
"Lagipula, Kak Zeline juga pasti memakai pelampung sesuai SOP!" Ujar Sakya panjang lebar berusaha menenangkan Papi Zayn.
"Kita akan ikut mencari Zeline-"
"Kita disini saja menunggu info, Pi! Tim penyelamat juga pasti qkan betusaha keras untuk menemukan Kak Zeline! Kita percayakan saja pada mereka yang ahli!" Nasehat Sakya mencoba bersikap bijak. Lagipula tidak ada yang tahu bagaimana kondisi di tengah laut.
Badai kadang bisa datang kapan saja tanpa diduga, dan Sakya maupun Papi Zayn hanya akan menjadi beban tim penyelamat, jika mereka memaksa untuk tetap ikut. Saat ini yang terbaik adalah tetap berada di resort ini sambil menunggu kabar dari tim penyelamat.
"Papi tak akan pulang, sampai Zeline ditemukan. Kau juga, Sakya!" Papi Zayn memperingatkqn Sakya yang langsung meringis dan garuk-garuk kepala.
"Emmmmm iya tentu saja, Pi! Hanya saja.." Ponsel Sakya tiba-tiba berdering nyaring.
"Gretha!" Tebak Papi Zayn yang sepertinya sudah sangat hafal.
"Sakya angkat telepon sebentar, Pi!" Pamit Sakya seraya sedikit menjauh dari Papi Zayn. Sakya kemudian men-tap tombol hijau di layar ponselnya saat sapaan manja Gretha langsung terdengar.
"Pak Dokter!"
"Iya, Sayang! Ada apa? Kau mau makan sesuatu?" Tanya Sakya to the point yang selalu melayang-layang saat mendengar sapaan manja Gretha.
Seharusnya Sakya mengajak Gretha kesini sekalian!
Kan bisa bulan madu lagi sekalian menunggu kabar tentang Kak Zeline!
"Pak Dokter kapan pulang? Gretha kangen!"
"Iya, kan baru sampai, Sayang! Pulangnya tunggu Kak Zeline ditemukan." Jawab Sakya sesabar mungkin.
"Kak Zeline kemana memang? Bukannya lagi liburan? Atau jangan-jangan liburan sambil cari suami? Makanya ngilang tiba-tiba."
"Hah! Kok kamu bisa mikir begitu?" Tanya Sakya heran sembari garuk-garuk kepala.
"Iya emangnya Kak Zeline kemana?"
"Aku juga nggak tahu! Ini lagi dicari sama tim penyelamat. Kemungkinannya sih terdampar di sebuah pulau." Jelas Sakya ikut-ikutan bingung.
"Wah! Terdampar di pulau kosong bareng seorang cowok kayak di film-film itu, ya, Pak Dokter! Pasti nanti jadi cinlok."
Sakya terkekeh dengan tebakan Gretha yang selalu mengaitkan apapun dengan film yang ia tonton.
"Semoga saja benar, ya! Biar Kak Zeline nggak jomblo-jomblo terus," ucap Sakya akhirnya mengiyakan saja tebakan asal-asalan Gretha tadi.
__ADS_1
"Iya, kalau jomblo-jomblo terus nanti lama-lama jadi jones! Jomblo ngenes."
Sakya kembali terkekeh dengan celetukan Gretha.
"Jadinya Pak Dokter pulang kapan? Aku boleh nyusul kesana sama Mami, nggak? Kan bosan di rumah."
"Jangan, Sayang! Kan kamu masih hamil muda. Aku takutnya kandungan kamu kenapa-kenapa. Kamu kalau bosan di rumah, shopping saja bareng Mami. Atau kalau kamu mau ke rumah Mom dan Dad kamu juga boleh. Sekalian main bersama Noah," ujar Sakya memberikan saran pada sang istri.
Noah adalah adik Gretha yang usianya terpaut tiga tahun lebih muda. Saat ini Noah masih duduk di kelas sebelas SMA. Berarti memang masih suka main, kan?
"Main? Bersama Noah? Dia sudah remaja sekarang, Sayang! Sudah sibuk dengan teman-teman tongkrongannya! Aku juga jadi kangen nongkrong bareng teman-teman."
"Besok nongkrong sama aku, ya! Jangan sedih, oke!" Hibur Sakya pada sang istri yang sebenarnya juga masih remaja.
Mimpi apa Sakya menikahi remaja kemarin sore itu? Tapi Gretha cantik, imut, dan lucu sih! Dan Sakya selalu terGretha-Gretha saat berada di dekat istrinya tersebut.
Terima kasih insiden mobil goyang yang akhirnya bisa membuat Sakya menikah dengan Gretha! Meskipun sebenarnya istrinya itu masih remaja dan Sakya sempat babak belur dihajar oleh Dad Matthew.
Hahahahaha!
"Jadi, Pak Dokter pulangnya masih lama?"
"Belum tahu, Gretha sayang! Pokokya begitu Kak Zeline ketemu! Aku akan langsung pulang!" Janji Sakya sedikit lebay.
"Oke! Janji, ya! Bye, Pak Dokter sayang!"
"Mmmuuuah!" Jawab Sakya seraya memonyongkan bibirnya.
"Pak Dokter!" Panggil Papi Zayn yang langsung membuat Sakya buru-buru mengembalikan bentuk bibirnya ke bentuk semula.
"Iya, gimana, Pi? Tim penyelamat sudah berangkat?" Tanya Sakya sedikit salting pada sang papi.
"Sudah sejak tadi!" Jawab Papi Zayn seraya menatao ke lautan lepas. Tampak jelas kekhawatiran di wajah pria paruh baya tersebut.
"Ayo makan dulu! Papi tetap harus sehat agar bisa terus memantau proses pencarian Kak Zeline!" Ajak Sakya selanjutnya pada Papi Zayn.
"Ya!" Jawab Papi Zayn, sebelum kemidian ayah dan anak itu masuk ke resort untuk makan.
****
Zeline masih duduk di sudut gubuk saat aroma ikan bakar menusuk-nusuk hidungnya dan membuat cacing di perut Zeline berdemo hebat. Mungkin sebentar lagi cacing-cacing ini akan mulai anarkis dan menjebol perut Zeline demi bisa menikmati ikan bakar yang kini sedang dibolak-balik oleh Gavin.
Sial!
Apa pria menyebalkan itu sengaja membolak-balik ikan agar aromanya menusuk-nusuk hidung Zeline?
"Zel! Ikan bakar sudah matang!" Panggil Gavin seperti sedang memanggil anak playground.
"Aku tak dengar!" Zeline memalingkan wajahnya dan pura-pura tak mau melihat ke arah Gavin.
Zeline sedang kesal pada pemuda menyebalkan itu karena masalah R dan E tadi.
Erdiba atau R Diba atau Erordiba? Terserah!
Zeline tak peduli!
"Zeline! Ikan bakarnya melambai-lambai minta di...."
"Hap!" Gavin memasukkan daging ikan yang baru matang ke dalam mulutnya sendiri. Pemuda itu langsung kelojotan karena kepanasan dan Zeline yang melihat adegan itu langsung tertawa terbahak-bahak.
"Sukurin! Semoga lidahmu melepuh dan kau tak bisa bawel lagi!" Ejek Zeline pada Gavin yang masih kelojotan dan mengipas-ngipas mulutnya sendiri.
__ADS_1
"Panas, Zel!" Keluh Gavin seraya menghampiri Zeline dan membawa ikan bakar yang sudah matang ke hadapan Zeline yang sudah kembali memalingkan wajahnya.
"Ayo makan! Aku dapat tiga ikan tadi," ajak Gavin selanjutnya pada Zeline.
"Lalu ini ada petatas bakar juga," Lanjut Gavin menunjuk ke umbi-umbian yang kulitnya berwarna hitam karena ikut Gavin bakar.
"Kau menyuruhku makan petasan? Kau mau membuat mulutku meledak dan terbakar?" Marah Zeline masih sambil memalingkan wajahnya.
"Petasan?" Gavin menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Petatas, Zel! Pe-ta-tas!" Lanjut Gavin menyebutkan nama umbi-umbian di depan mereka.
"Apa itu petatas?" Tanya Zeline akhirnya seraya memeriksa ke atas hamparan daun pisang yang ada di hadapannya.
Zeline menelisik satu persatu yang ada di atas daun pisang. Selain ikan bakar, ada umbi-umbian yang kulitnya sudah sangat hitam dan hampir mirip kulit Gavin yang gosong.
"Ini petatas!" Ungkap Gavin seraya menunjuk ke umbi-umbian gemuk yang gosong tadi.
"Lihat!" Gavin lalu membelah umbi tersebut dan langsung nampak isinya yang berwarna putih kekuningan.
"Itu ubi jalar!" Celetuk Zeline setelah tahu isi dari umbi yang disebut Gavin sebagai petasan tadi.
"Iya, itu nama nasionalnya! Kalau orang-orang di kepulauan ini menyebutnya petatas," jawab Gavin seraya terkekeh.
"Ayo makan! Agar perutmu berhenti berbunyi dan cacing-cacing peliharaanmu berhenti berdemo!" Ajak Gavin selanjutnya seraya memotong daging ikan lalu menyodorkannya ke depan bibir Zeline yang kini merengut.
"Buka mulut!"
"Aaaaaaaaa!" Gavin seperti sedang menyuapi balita saja!
"Aku bisa makan sendiri! Ketus Zeline seraya memotong sendiri ikan bakar di depannya.
"Auww, panas!" Zeline mengibaskan tangannya yang kepanasan.
"Sini aku tiupin!" Gavin meraih tangan Zeline yang tadi dikibaskan oleh gadis itu lalu meniupnya. Sedangkan Zeline masih tetap merengut dengan sikap labil Gavin yang kadang menyebalkan tapi kadang juga manis begini.
Dasar pemuda labil!
"Makan petatasnya juga! Biar semakin kenyang!" Gavin menyodorkan sepotong petatas tadi pada Zeline.
"Ubi jalar!" Zeline mengoreksi sebutan Gavin pada keluarga umbi-umbian tersebut.
"Petatas!" Gavin tetap keras kepala.
"Ubi jalar!"
"Petatas!"
"Ubi jalar!"
"Petatas!"
"Petatas, petatas, petatas!" Ucap Gavin berulang-ulang.
"Terserah!" Zeline memutar bola matanya dengan malas, lalu lanjut melahap ikan bakar dan petatas bakar di hadapannya. Setidaknya malam ini Zeline akan tidur nyenyak karena perutnya kenyang.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.