
Tik tok tik tok tik tok
Waktu serasa berjalan lambat saat Gavin menunggu Zeline menjawab iya atau mengatakan, "Ya, aku mau, Gavin!"
Lalu Gavin akan balik berkata, " Mau aja atau mau banget?"
"Mau banget, lah! Aku mau jadi pacar, rh selingkuhan, eh teman pelaminan, eh istri maksudnya!"
"Mau banget! Mau banget!"
"Hihihi, lucu juga!" Gavin terkikik sendiri membayangkan Zeline melakukan semua yang kini ada di otak dan pikirannya.
"Kenapa malah tertawa?" Tanya Zeline yang langsung membuat lamunan Gavin buyar.
"Tidak kenapa-kenapa."
"Kau mau, kan?" Tanya Gavin sekali lagi pada Zeline yang kini menatapnya dengan tajam.
"Mau apa?" Zeline balik bertanya dan gadis itu sudah melepaskan lengannya dari leher Gavin. Zeline juga mundur dua langkah dari Gavin seolah sedang menjaga jarak.
"Mau naik pelaminan bersamaku?" Jawab Gavin dengan wajah cengengesan khas Gavin.
"Naik pelaminan bukan sebuah lelucon, Gavin!"
"Dasar bocah!" Omel Zeline seraya berbalik, lalu pergi dari hadapan Gavin yang kini ganti melongo.
"Memang yang bilang lelucon siapa? Aku kan tanya serius," Gavin menggaruk kepalanya yang tak gatal, sebelum akhirnya pria itu ikut pergi meninggalkan tempat acara. Setelah bertanya ke beberapa orang, Gavin akhirnya berhasil menemukan Zeline yang sekarang sedang duduk sendiri di dekat kolam renang masih sambil mendekap bunga yang tadi dilempar oleh pengantin.
"Zel, ngapain di sini? Mau renang malam-malam?" Tanya Gavin yang masih sempat-sempatnya berkelakar. Zeline tak menjawab dan gadis itu langsung mengubah posisi duduknya jadi membelakangi Gavin. Zeline sepertinya sedang malas melihat wajah Gavin.
Salah Gavin apa?
Gavin tadi kan hanya bertanya apa Zeline mau menikah dengannya atau tidak. Misalnya Zeline tidak mau, kan tinggal bilang tidak mau!
Kenapa sikap wanita selalu saja rumit dan sulit ditebak?
"Zel!"
Gavin melepaskan jasnya, lalu menutupkan benda tersebut ke dada Zeline yang berbelahan. Selain untuk mengamankan mata nakal Gavin, fungsi lainnya adalah mencegah Zeline masuk angin.
"Aku tadi hanya bertanya. Kenapa kamu marah, sih?" Tanya Gavin tak paham.
Zeline tak menjawab dan gadis itu masih memalingkan wajahnya dari Gavin.
"Misalnya kamu tidak mau, ya kan tinggal bilang tidak mau," ujar Gavin lagi yang kali ini sedikit direspon Zeline dengan hentakan kaki, namun gadis itu masih tak mau melihat Gavin.
"Atau kau mau kita pacaran dulu," ujar Gavin lagi memberikan ide. Dan ternyata, ide dari Gavin itu malah langsung membuat Zeline bereaksi meskipun reaksinya adalah sebuah delikan tajam pada Gavin.
"Apa kau bilang tadi?"
"Kita pacaran dulu."
"Anggap saja sebagai proses penjajakan dan saling mengenal!" Jawab Gavin yang masih sempat-sempatnya tertawa kecil.
"Lalu selama kita pacaran itu mau ngapain?" Tanya Zeline lagi.
"Ya saling mengenal dan mengerti satu sama lain. Kita bisa ngobrol, lalu kau bisa datang ke kotaku dan kita bisa jalan-jalan ke pantai nanti. Atau keliling pulau," papar Gavin mengungkapkan rencana di kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa harus aku yang datang ke kotamu? Kenapa bukan kau saja yang datang kesini?" Tanya Zeline lagi menatap tak paham pada Gavin.
"Iya, nanti aku juga main-main kesini kalau sedang tidak ada pekerjaan!" Jawab Gavin yang selalu punya solusi.
"Itu artinya kita akan LDR selama pacaran, begitu? Lalu nanti jika kita menikah kita akan lanjut LDM juga, begitu?" Cecar Zeline memperjelas dan Gavin terdiam untuk beberapa saat.
"Iya, kan pekerjaanku di pesisir. Atau kau bisa berhenti jadi nona direktur disini, lalu ikut pindah bersamaku dan mungkin kita bisa membangun bisnis resort di kepulauan," ujar Gavin mencetuskan sebuah ide.
"Kau bangun sendiri saja resort-mu, karena aku tak akan meninggalkan pekerjaanku di sini!" Zeline memberikan dengan kasar bunga yang sejak tadi ia dekap pada Gavin, lalu gadis itu bangkit berdiri dan hendak meninggalkan Gavin. Namun secepat kilat, Gavin meraih tangan Zeline.
"Zel, dengarkan aku dulu!"
"Sudahlah, Vin!" Zeline menyentak tangan Gavin dan mendadak merasa insecure pada Gavin yang jauuuuh lebih muda darinya dari segi usia.
Tentu saja jauh lebih muda!
Secara selisih usia mereka saja enam tahun!
"Lupakan saja tentang apa yang terjadi di antara kita di pulau waktu itu! Anggap saja tak pernah terjadi apa-apa." Suara Zeline tercekat di tenggorokan.
Kenapa rasanya sulit sekali untuk menyangkal?
"Yakin tak terjadi apa-apa?" Tanya Gavin memancing.
"Memang tak terjadi apa-apa!" Sergah Zeline cepat dengan suara yang sudah meninggi.
"Lagipula, kau itu masih muda dan labil! Jadi kita tak akan bisa saling mengimbangi, misalnya kita memutuskan untuk hidup bersama atau-"
"Kita bahkan belum mencoba untuk menjalaninya. Kenapa kau sudah pesimis begitu?" Sela Gavin memotong kalimat Zeline.
"Aku serius, oke! Aku tadi bahkan sudah melamarmu, tapi kau itu yang ragu-ragu!" Ujar Gavin yang malah balik menyalahkan Zeline.
"Serius katamu?" Zeline tertawa sinis, lalu gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Gavin yang masih merasa bingung salahnya dimana.
"Maunya apa sebenarnya?" Gavin mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi, lalu pria itu menyusul Zeline dan ikut turun ke lantai bawah.
Namun saat Gavin tiba di depan gedung, mobil Zeline malah sudah melaju pergi dan gadis itu sama sekali tak menunggu Gavin.
"Baiklah! Sekarang yang kekanakan siapa?" Teriak Gavin semakin frustasi.
"Dasar gadis tukang kentut!"
"Untuk apa juga aku mabuk-mabukan kesini jika ujungnya hanya seperti ini?" Gavin yang merasa kesal, akhirnya meluapkan kekesalannya dengan menendang kaleng yang kebetulan ia temukan di atas trotoar.
Setelah berjalan lumayan jauh dari lokasi acara, Gavin akhirnya memutuskan untuk naik taksi dan pulang saja ke Rainer's Resto.
****
Zeline menatap pada antrean mobil di depannya, lalu gadis itu sedikit merapatkan jas yang membalut tubuhnya. Jas yang tadi sempat dikenakan oleh Gavin sebelumnya kemudian Gavin memakaikannya pada Zeline.
Zeline mengendus sejenak aroma di jas yang sebenarnya adalah milik Sakya tersebut seolah sedang mencari-cari aroma khas Gavin disana.
"Tidak ada!" Gumam Zeline yang sesaat merasa menyesal karena tadi menolak lamaran Gavin.
Tapi siapa juga yang mau dilamar hanya dengan sebuah ucapan tanpa ada cincin atau minimal kalung begitu! Gavin juga terlihat cengengesan dan sepertinya tak serius!
Dan pria itu juga sama sekali tak peka dengan kode dari Zeline!
__ADS_1
Ck! Dasar pria!
Pikiran mereka sebenarnya berisi apa selain pangkal paha dan belahan dada?
Masa iya membawa cincin untuk melamar juga tak kepikiran?
"Menyebalkan!" Zeline menggerutu sendiri.
Antrean kendaraan di depan Zeline mulai bergerak. Lalu Zeline mendadak ingat pada Gavin yang mungkin sekarang sedang lontang-lantung di depan gedung karena Zeline meninggalkannya.
"Halah! Dia kan sudah besar! Pasti juga tahu caranya naik taksi ke Rainer's Resto!" Zeline kembali menggerutu dan meyakinkan dirinya sendiri kalau Gavin pasti juga sudah pulang sendiri.
Zeline terus melajukan mobilnya namun hatinya tetap saja merasa tak tenang karena ia sudah meninggalkan Gavin.
"Ish!" Zeline menepikan mobilnya, lalu gadis itu memukul-mukul roda kemudi mobilnya.
"Baiklah, aku akan kembali tapi hanya untuk memastikan kalau Gavin yang tak peka itu sudah pulang sendiri dan aku tak perlu mengantarnya lagi!" Zeline berteriak frustasi di dalam mobilnya, sebelum akhirnya gadis itu putar balik dan kembali ke gedung pertemuan.
Zeline langsung bertanya deretan petugas valet parking service di lokasi acara tentang keberadaan Gavin. Dan salah satu dari mereka memberikan info pada Zeline, kalau Gavin sudah pergi meninggalkan gedung dengan berjalan kaki.
Hah, berjalan kaki?
Yang benar saja!
Pria itu mau jalan santai ke Rainer's Resto yang jaraknya lima belas kilo dari gedung ini?
Sinting!
Zeline akhirnya memutuskan untuk mengemudi perlahan sambil menyapukan pandangannya ke trotoar dan mencari tahu, Gavin sudah sampai dimana.
Zeline terus saja menyusuri meter demi meter trotoar jalan, namun tak ada sama sekali tanda-tanda keberadaan Gavin.
Ck!
Hilang kemana pemuda itu?
Masa iya diculik?
Zeline yang tak kunjung menemukan jejak Gavin, akhirnya memutuskan untuk pulang dan tak mau memikirkan Gavin lagi.
Terserah!
Toh Gavin bukan bocah kemarin sore!
Pria itu juga pasti tahu apa yang harus ia lakukan jika tersesat.
"Aku akan pulang!" Pungkas Zeline seraya menginjak pedal gas, lalu melajukan mobil merahnya ke kediaman Abraham
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1