Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
SURPRIZE!!


__ADS_3

Gavin keluar dari toilet bandara dengan wajah yang sudah pucat pasi. Pemuda itu menghampiri Abang Ezra dan Kak Joanna yang sudah menunggunya.


"Sudah ngalahin ibu hamil ngidam kamu, Vin!" Ledek Kak Joanna yang langsung membuat Gavin mendengus.


Begini amat perjuangan untuk bertemu gadis tukang kentut itu!


Lagipula, kenapa juga Gavin niat sekali untuk menemui Zeline?


Oh, iya!


Zeline belum memberinya tip kemarin.


Baiklah, itu alasan yang bagus!


Dan mungkin Gavin akan ke rumah Zeline nanti untuk melayangkan tuntutan tentang Zeline yang kemarin seenak jidatnya mengganti nama Gavin jadi Gavin Erordiba.


Kurang ajar sekali!


Yang eror siapa yang dapat nama Erordiba siapa!


"Minum ini!" Abang Ezra memberikan sebotol air mineral pada Gavin.


"Nanti pulang, Gavin akan naik mobil saja, Bang!"ucap Gavin bersungut pada Ezra.


"Mobil siapa yang mau kamu curi?" Kekeh Ezra.


"Mobil Om Ben atau mobil Opa kan bisa! Kalau tidak bisa, pinjam mobil keluarga Halley juga pasti boleh." Ucap Gavin penuh percaya diri.


Atau mobilnya Zeline!


Dia kan gadis sultan! Jadi mobilnya pasti berjejer di garasi. Kira-kira nanti Gavin pakai alasan apa untuk meminjam mobil pada Zeline, ya?


Sebagai kompensasi atas mabuknya Gavin?


Atau kompensasi karena Zeline yang kerap mengajak Gavin smack down?


"Keluarga Halley nggak akan ada yang ngenalin kamu, Vin! Kamu aja nggak pernah nongol pas arisan keluarga!" Cibir Kak Joanna.


"Betul itu!" Timpal Abang Ezra seraya merangkul sang istri.


Cih!


Iya, iya yang sudah pada punya istri!


Gavin akan merangkul tiang listrik saja!


"Udah, ayo ke rumah Opa!" Ajak Ezra selanjutnya pada Gavin dan Joanna.


"Naik taksi kan, Bang?" Tanya Gavin yang masih trauma naik pesawat.


"Naik odong-odong, Vin!" Sahut Kak Joanna yang langsung disambut gelak tawa dari Abang Ezra. Sementara Gavin hanya merengut dan mengekori pasangan suami istri di depannya tesebut.


Menyebalkan!


****


"Sedang apa kau disini, Ryan?" Tegur Zeline saat mendapati sepupunya itu yang sedang mengobrol akrab bersama Sekretaris Nona.


Mencurigakan sekali!


Secara, kantor Ryan kan di Halley Development!


Lalu sedang apa dia di kantor keluarga Abraham?


Jadi mata-mata?


"Menemui sekretarismu," jawab Ryan atau Azzaryan Andreas seraya merapikan rambut sekretaris Nona tanpa malu-malu.


Apa dia sedang pamer hubungannya dengan sekretaris Nona?


"Kalian berpacaran?" Zeline mengernyit curiga.


"Iya!"


"Tidak!"


Ryan dan Nona menjawab bersamaan tapi dengan jawaban berbeda. Mengingatkan Zeline pada sesuatu yang terjadi beberapa hari lalu di resort.


"Apa sudah terjadi something di antara kalian berdua selama di pulau?" Tanya Sakya penuh selidik pada Zeline dan Gavin.


"Ya!"


"Tidak!"


Jawab Gavin dan Zeline berbarengan namun dengan jawaban yang berbeda.


"Apanya yang iya? Tidak terjadi apa-apa di antara kita!"


"Memang tak terjadi apa-apa! Pede sekali dia menjawab iya!" Zeline bergumam sendiri saat mengingat interogasi dari Sakya Sak Semen tempo hari padanya dan pada Gavin.


"Apanya yang tidak terjadi apa-apa?" Azzaryan mengernyit heran pada Zeline yang menggerutu sendiri. Rupanya sepupu Zeline itu mendengar gumaman Zeline barusan.


"Bukan apa-apa!" Zeline bersedekap dan pura-pura menatap tak senang pada Azzaryan dan sekretaris Nona.

__ADS_1


"Jadi kalian pacaran?" Zeline bertanya sekali lagi.


"Iya!" Kali ini hanya Azzaryan yang menjawab dengan tegas dan lugas.


"Congrats!" Ucap Zeline dengan nada sinis.


"Tapi peraturan di perusahaan ini adalah, dilarang berpacaran di area kantor. Jadi silahkan kau pergi dari sini dan kembali ke kantormu sendiri sana di Halley Development!" Usir Zeline dengan nada galak dan geregetan.


"Pergi kau!"


"Pergi!" Usir Zeline galak seraya mendorong-dorong Azzaryan agar menjauh dari meja kerja Nona.


"Zel, Zel!"


"Ini kamu kenapa, sih?" Protes Azzaryan merasa tak paham dengan Zeline yang mendadak seperti orang kerasukan.


Kerasukan reog penunggu pulau apa, ya?


"Aku sedang menegakkan aturan di kantorku! Jadi cepat kau pulang ke Halley Development sana dan jangan coba-coba mengganggu sekretarisku lagi!" Usir Zeline semakin galak dan mungkin sekarang kepala nona direktur itu sudah keluar tanduk.


"Tapi sejak kapan kamu jadi galak dan lebay begini?" Tanya Azzaryan lagi yang terus didorong mundur oleh Zeline menuju ke arah lift. Sementara Nona hanya melongo melihat kelakuan bos dan pacarnya tersebut.


"Sejak kau suka mengganggu sekretarisku!"


"Kau sudah melanggar peraturan di kantorku! Pergi sekarang atau aku akan memanggil security untuk menendang bokongmu!" Ancam Zeline seraya menuding-nuding pada Azzaryan.


"Iya, iya! Aku pergi!"


"Tidak usah lebay dan galak gitu juga ngusirnya! Dasar aneh!" Cibir Azzaryan yang kembali membuat Zeline bertanduk.


"Apa kau bilang?"


"Kau aneh!" Cibir Azzaryan sekali lagi yang langsung membuat Zeline mengambil ancang-ancang untuk mengeplak pundak sepupunya itu. Namun pintu lift sudah tertutup dengan cepat dan Zeline terlambat melakukan aksinya.


Dasar kurang ajar!


Ternyata dimana-mana, pria itu memang menyebalkan!


Tidak Sakya, Gavin, sekarang Azzaryan! Semuanya menyebalkan!


Zeline kembali berjalan ke meja kerja Nona dengan langkah dan wajah bersungut.


"Maaf, Nona Zeline!" Ucap Nona takut-takut.


"Sejak kapan kau pacaran dengan Ryan?" Tanya Zeline seraya menatap tajam pada Nona.


"Sejak...."


"Sejak enam bulan yang lalu, Nona Zeline!" Jawab Nona akhirnya.


"Apa?" Zeline langsung memasang raut wajah tak percaya.


"Pengkhianat!" Tuding Zeline selanjutnya pada Nona yang langsung membelalakkan kedua matanya.


Apa maksudnya pengkhianat? Memangnya Nona pacarnya Zeline? Atau Azzaryan pacar Zeline selama ini? Tapi bukankah mereka sepupu?


"Aku pikir, kita sepemahaman dan kau akan menemaniku menjadi jomblo!" Zeline menatap kecewa pada Nona.


Astaga!


Masa iya Nona harus ikut jadi perawan tua seperti Zeline?


"Maaf, Nona Zeline! Saya benar-benar tak bermaksud-"


"Tak bermaksud tapi kau sudah melakukannya!"


"Yasudah! Selamat berpacaran dengan Ryan menyebalkan itu!" Pungkas Zeline seraya melangkah dengan kesal menuju ke ruangannya.


"Semoga Nona Zeline juga akan secepatnya bertemu dengan jodoh Nona Zeline!" Ucap sekretaris Nona tiba-tiba yang langsung membuat Zeline menghentikan langkahnya sejenak lalu Zeline menoleh ke arah sekretarisnya tersebut.


"Nona Zeline gadis yang baik! Jadi Nona Zeline pasti juga akan mendapatkan pria terbaik yang akan mencintai dan menyayangi Nona Zeline sepenuh hati," ucap Sekretaris Nona bersungguh-sungguh.


"Aamiin!" Gumam Zeline lirih.


"Kesini dan ambil semua makanan yang ada di ruanganku, Nona! Bagikan saja pada para karyawan. Aku sudah tak lapar dan aku mau pulang," ujar Zeline selanjutnya memberikan perintah pada sang Sekretaris.


"Anda ada meeting pukul dua, Nona!" Sekretaris Nona mengingatkan.


"Iya, nanti aku akan kembali jam dua! Sekarang aku mau pulang dulu!" Jawab Zeline ketus. Gadis itu sudah masuk ke ruangannya dan membanting pintu. Sekretaris Nona buru-buru ikut masuk ke ruangan Zeline dan membereskan semua makanan yang tadi sudah ia susun.


****


"Jodohkan saja, Mi!" Usul Sakya sekali lagi setelah pria itu bercerita panjang lebar pada Mami Thalita perihal Zeline yang terdampar di pulau kosong bersama Gavin.


"Tidak! Mami tidak mau memaksa Zeline!"


"Kalaupun memang terjadi sesuatu di antara Zeline dan Gavin, biarkan saja semuanya mengalir dengan alami dan tak perlu kita jodoh-jodohkan apalah!" Pendapat Mami Thalita yang tetap pada pendiriannya.


"Lalu mau menunggu sampai kapan, Mi?"


"Kak Zeline keburu jadi perawan tu-"


"Aduh!" Sakya memekik saat telinganya terasa hampir putus karena dijewer oleh seseorang.

__ADS_1


"Ngomong apa kamu, hah? Dasar adik kurang ajar!" Zeline lanjut memelintir telinga Sakya hingga adiknya itu menjerit.


"Mami! Telinga Sakya putus!"


"Hahahaha! Belum putus, kok, Pak Dokter!" Celetuk Gretha yang malah tertawa melihat sang suami dijewer oleh Zeline.


"Zeline, sudah!" Mami Thalita yang akhirnya melerai Zeline dan Sakya.


"Aduuuh! Sakit, Kak!" Rengek Sakya setelah Zeline melepaskan telinganya.


"Ngomong perawan tua lagi! Aku tendang kamu nanti sampai ke pulau kosong yang kemarin!" Gertak Zeline bersungut pada Sakya.


"Tendang berdua bersama Gretha tak masalah, Kak! Biar kami bisa honeymoon sekalian babymoon," celetuk Sakya menantang. Adik Zeline itu juga sudah merangkul Gretha dengan lebay, lalu mengusap-usap juga perut Gretha yang sudah mulai terlihat bentuknya.


Badan mungil, perut buncit!


Sudah seperti bocah busung lapar!


"Masih sakit, Pak Dokter?" Tanya Gretha seraya mengusap-usap telinga Sakya.


"Sakit sekali, Sayang!" Jawab Sakya lebay.


"Obatin, dong!" Rengek Sakya selanjutnya.


"Lebay!" Cibir Zeline yang sudah duduk bersama mami Thalita.


"Biarin!" Sahut Sakya yang sudah menarik Gretha untuk bangkit berdiri. Pasutri lebay itupun masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Zeline serta mami Thalita di halaman belakang.


"Sakya tadi lapor apa, Mi?" Tanya Zeline setelah Sakya dan Gretha pergi.


"Loh! Mami kira kamu sudah dengar." Mami Thalita malah terkekeh.


"Lapor apa, Mi?" Tanya Zeline sekali lagi.


"Kata Sakya, kamu ada something sama Gavin selama terdampar di pulau asing," cerita Mami Thalita akhirnya yang langsung dibantah oleh Zeline.


"Mana ada! Sakya hanya ngarang itu, Mi!"


"Sok tahu!" Ujar Zeline dengan wajah bersungut.


"Jadi, tak terjadi apa-apa?" Nada bertanya Mami Thalita sedikit menggoda.


"Enggaklah!" Sergah Zeline cepat seraya bersedekap dan memalingkan wajahnya.


"Tapi kan kalian berdua saja di pulau. Kata papi kamu, Gavin juga muji-muji kamu sebelum pamit pulang," cerita Mami Thalita lagi yang sontak membuat Zeline kaget.


Hah?


Gavin memuji-muji Zeline?


Kapan?


Apa pemuda itu mabuk?


"Kata Gavin, kamu nggak manja, nggak merengek dan sama sekali nggak nangis meskipun kalian tersesat dan hanya makan seadanya," cerita Mami Thalita lagi.


Cih!


Bisa saja si Gavin itu cari muka di depan Papi Zayn!


Mukanya pasti hilang selama di pulau!


"Gavin sepertinya tertarik padamu, Zel!" Ucap Mami Thalita lagi yang langsung mengingatkan Zeline pada tawaran Gavin tempo hari.


"Sayang sekali! Padahal aku hanya ingin menyelamatkanmu dari pertanyaan yang selalu menghantuimu di pertemuan keluarga besar!"


"Kau memang cantik meskipun size-mu plus, karena semua wanita itu cantik, terlepas dari apapun ukuran baju dan celana mereka!"


"Dan baru kali ini aku melihat nona direktur yang membumi dan tampil apa adanya sepertimu!"


Senyuman manis Gavin kembali berkelebat di benak Zeline.


Ya ampun!


Zeline kenapa?


"Jadi, Mami mau bertanya sekali lagi. Apa kau yakin tidak terjadi something antara kau dan Gavin?" Mami Thalita bertanya sekali lagi pada Zeline yang tak langsung membantah. Gadis itu diam untuk beberapa saat, saat tiba-tiba terdengar seruan Sakya dari dalam rumah.


"Kak Zeline! Lihat siapa yang datang mencarimu!"


"Siapa?" Tanya Zeline tergagap. Gadis itu tak menjawab pertanyaan Mami Thalita dan bergegas masuk untuk melihat siapa yang datang. Dan Zeline seketika mematung saat melihat pria menyebalkan itu berdiri di ruang tamu rumahnya dengan raut wajah tanpa dosa seperti biasa.


"Hai, Nona Direktur! Aku datang untuk menagih tip!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2