
"Hoaaam!" Gavin sudah menguap lebar, meskipun acara resepsi pernikahannya dengan Zeline baru saja dimulai.
"Apa acaranya sudah selesai, Zel? Aku ngantuk sekali!" Tanya Gavin yang kembali menguap lebar.
"Tutupi mulutmu saat menguap, Gavin! Nanti kalau tersedak lalat lewat, bagaimana?" Zeline refleks menutupkan telapak tangannya ke mulut Gavin yang menguap lebar.
"Hoaaaaayam goreng!"
"Nyam nyam!" Gavin melahap tangan Zeline yang terang saja langsung membuat wanita yang beberapa jam lalu sudah sah menjadi istri Gavin itu buru-buru menarik tangannya.
"Apa, sih!" Zeline memukul lengan Gavin.
"Aku ngantuk, Zel! Obatmu tadi membuatku ngantuk," keluh Gavin yang kini sudah ganti menyandarkan kepalanya di pundak Zeline.
"Iya aku lan sudah bilang minumnya nanti malam sebelum tidur! Malah langsung kamu tenggak!"
"Ngantuklah!" Omel Zeline yang langsung membuat Gavin merengut.
"Aku bersin-bersin terus soalnya. Setelah minum aku langsung berhenti bersin. Tapi sekarang aku ngantuk!"
"Lihat! Mataku tinggal setengah watt," Gavin menunjukkan matanya yang setengah merem pada Zeline dan ekspresi wajah pria itu begitu lebay.
"Ck! Lalu kau mau bagaimana? Acaranya baru saja dimulai dan bahkan kita belum berdansa!" Zeline kembali mengomeli Gavin.
"Dansanya boleh pakai gaya melantai tidak! Mataku tak bisa dibuka ini!"
"Berikan aku vitamin agar mataku bisa dibuka kalau begitu!" Pinta Gavin seraya memonyongkan bibirnya ke arah Zeline.
"Vitamin apa? Kenapa monyong-monyong begitu?" Tanya Zeline heran.
"Vitamin C. Mmmuah mmuah!" Gavin semakin memonyongkan bibirnya pada Zeline.
"Ck! Dasar omes!" Zeline refleks membungkam bibir Gavin dengan tangannya.
"Omes siapa? Aku kan Gavin!" Sergah Gavin merasa tak terima. Zeline benar-benar ingin tertawa terbahak-bahak sekarang.
"Omes itu otak mesum! Sama kayak isi otak kamu!" Zeline menyentil kening Gavin hingga suami Zeline itu kembali merengut.
"Ck! Kirain mantan kamu," gumam Gavin yang langsung membuat Zeline ternganga.
"Sembarangan!" Zeline memukul lengan Gavin sekali lagi.
"Hoaaaaayam goreng!" Gavin kembali menguap lebar.
"Ck! Masih ngantuk ternyata! Kirain udah hilang ngantuknya!" Decak Zeline yang masih menutupi mulut Gavin yang terbuka lebar akibat menguap.
"Belum tidur! Bagaimana mau hilang kantuknya? Ini resepsi udahan aja kenapa, sih? Aku mau tidur!" Gavin berseru entah pada siapa. Gavin sudah sangat mengantuk sekarang.
"Mau tidur atau mau belah duren, Vin?" Tanya Abang Ezra yang rupanya mendengar seruan Gavin barusan.
"Yang bawa duren siapa memangnya, Bang? Gavin nggak suka duren!"
"Kenapa nggak bawa pisang atau kelapa muda saja, sih?" Cerocos Gavin yang sepertinya mulai hilang kesadaran. Cerocosannya saja sudah melantur kemana-mana begini.
"Lah! Masih polos ternyata ni anak!" Kak Joanna yang berdiri di samping Abang Ezra sontak bergumam dan menahan tawa.
__ADS_1
"Nggak mungkin! Ini pasti lagi mabok atau-"
"Ngantuk dia, Bang! Overdosis obat flu," Ujar Zeline menyela tebakan Abang Ezra.
"Wah, payah! Nggak jadi belah duren nanti, Vin!" Celetuk Kak Joanna yang malah membuat Gavin menguap lebar.
"Tutupi, Gavin!" Geram Zeline geregetan. Dan sekali lagi, Zeline juga yang harus menutup mulut Gavin agar tak kemasukan lalat.
"Kenapa dari tadi pada ngomongin duren, sih, Zel? Aku lan ngantuk dan butuh kasur sekarang. Juga bantal, guling." Gavin sudah kembali menyandarkan kepalanya di pundak Zeline.
"Ini bantal aku, ya?" Racau Gavin seraya meraba-raba dada Zeline. Terang saja hal itu langsung berhadiah keplakan dari Zeline.
"Ngawur! Ini Zeline, bukan kasur apalagi bantal!" Sungut Zeline merasa kesal.
"Oh, sama-sama empuk soalnya," ujar Gavin dengan raut tanpa dosa yang langsung membuat Zeline menghentakkan satu kakinya karena kesal.
"Gavin!"
"Hmmmm!" Gavin yang sudah benar-benar ngantuk, tak mau lagi mengangkat kepalanya dan sepertinya sudah nyaman dengan pundak empuk Zeline.
"Udah, kamu ajak ke kamar sana, Zel!" Saran Abang Ezra yang merasa,jasihan pada Gavin yang sepertinya sudah benar-benar teler.
"Iya, benar! Gavin sepertinya sudah ngantuk berat sekali!" Timpal Kak Joanna.
"Tapi kan acaranya baru mulai, Kak-"
"Zeline, Gavin kenapa?" Tajya Bunda Vale yang tiba-tiba sudah menghampiri Zeline dan Gavin. Mami Thalita juga mengekor di belakang bunda mertua Zeline tersebut.
"Mabok obat flu, Bund!" Ujar Abang Ezra membantu menjelaskan.
"Loh! Bunda nggak kasih obat flu tadi pada Gavin. Ini obatnya masih bunda simpan," Bunda Vale menunjukkan obat flu yang masih berada di dalam clutch-nya.
"Tadi saat ganti baju, Gavin tak berhenti bersin-bersin! Jadi Zeline berikan dan Gavin malah meminum semuanya. Langsung telerlah!" Cerita Zeline yang langsung membuat Abang Ezra dan Kak Joanna menahan tawa.
"Gavin, Gavin!" Bunda Vale menjewer telinga Gavin, namun tak ada reaksi apapun dari pria itu. Sepertinya Gavin sudah tertidur sekarang.
"Sudah tidur sepertinya, Va!" Ujar Mami Thalita memberitahu sang besan.
"Trus ini bagaimana, Mi? Mana acara belum selesai?" Tanya Zeline bingung.
"Bangun, Vin! Ayo potong kue!" Zeline lanjut mengguncang tubuh Gavin yang masih bersandar nyaman di pundaknya.
"Gavin!"
"Siapa yang ulang tahun? Selamat ulang tahun! Selamat ulang tahun!" Gavin kembali meracau dan semua orang refleks menepuk kening masing-masing.
"Gavin!" Zeline yang sudah sangat geregetan akhirnya mencubit keras lengan Gavin hingga, suaminya itu menjerit kaget dan kedua matanya seketika langsung terbuka lebar.
"Aduuuhh!"
"Kenapa aku dicubit-cubit, Zel?" Protes Gavin yang akhirnya bangun juga.
"Sudah bangun dan sudah tidak mengantuk, kan?" Tanya Zeline dengan nada sinis.
"Masih sedikit-"
__ADS_1
"Hoaaaayam goreng!" Gavin lagi-lagi kembali menguap.
"Ish! Tutupin mulut kamu, Vin! Nanti aku kesedot masuk ke dalam bagaimana?" Gerutu Zeline yang sontak membuat semuanya tergelak termasuk Gavin.
"Bisa memang?" Tanya Gavin penasaran.
"Coba, coba!" Gavin kembali membuka mulutnya dan hendak menghisap Zeline, namun tangan Zeline sudah terlebih dahulu bergerak untuk menoyor kepala Gavin.
"Minum dulu, Vin! Biar nggak ngantuk lagi!" Abang Ezra menyodorkan segelas minuman pada Gavin.
"Yang ngantuk siapa memangnya, Bang?" Sanggah Gavin pura-pura amnesia.
"Hhh! Pura-pura pikun!" Zeline memutar bola matanya dengan malas.
"Acara dansa sudah dimulai, Zel! Ayo!" Gavin bangkit berdiri debgan cepat dan langsung menarik tangan Zeline, lalu membawanya ke tengah-tengah ruangan. Para tamu undangan juga mulai berdansa dengan pasangan masing-masing serta mengikuti alunan musik.
"Udah nggak ngantuk?" Tanya Zeline pada Gavin untuk memastikan.
"Masih sedikit. Nanti selesai acara aku mau langsung tidur," tekad Gavin yang langsung membuat Zeline mendes*h sedikit kecewa.
"Sebaiknya memang begitu! Aku juga lelah dan ingin langsung tidur!" Ujar Zeline sedikit tak ikhlas.
Masa iya malam pertama langsung tidur! Tidak ada drama apa begitu?
"Baiklah! Nanti kita tidur satu kamar, kan?" Tanya Gavin memastikan.
"Tidak! Kau tidur di rumah Opa Theo dan aku akan tidur di rumah Mami!" Jawab Zeline sedikit geregetan.
"Kenapa begitu? Kan kita sudah suami istri? Kamarmu sepertinya juga sudah di dekor untuk tidur kita berdua?" Tanya Gavin bingung yang tentu saja hal itu langsung membuat Zeline menggeram kesal.
"Itu kamu tahu! Kenapa masih bertanya?" Geram Zeline yang malah membuat Gavin tergelak tanpa dosa.
"Gitu aja marah!" Gavin mencolek hidung Zeline dengan genit.
"Nanti aku peluk pas tidur biar nggak marah lagi, ya!"
"Seperti ini!" Gavin langsung menarik tubuh Zeline dan mendekapnya dengan erat.
"I love you, Zeline!" Ucap Gavin masih sambil mendekap erat tubuh Zeline.
"I love you too!" Jawab Zeline lirih yang langsung membuat Gavin meringis.
"Apa? Yang keras!"
"I love you too!" Ulang Zeline lebih keras, dan Gavin langsung menciumi wajah Zeline dengan bertubi-tubi setelahnya.
Astaga!
Dasar Gavin gila!
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.