Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
IDE ZELINE


__ADS_3

"Ketidakcocokan dalam hubungan itu hal biasa dan sangat bisa diatasi, asalkan ada komunikasi dan sikap saling mengerti."


"Jika yang kau utamakan hanya egomu sendiri, dan kau minta orang lain untuk selalu mengerti serta memahamimu, tapi kau tidak bersikap sebaliknya, maka sampai kapanpun kau tak akan menemukan pasangan yang cocok!"


"Akan selalu ada celah Ketidakcocokan dan bisa-bisa kau tak akan menikah!"


"Gavin mungkin juga akan jengah, jika kau terus-terusan menuntutnya untuk memahami kau, padahal kau saja tak pernah memahami pemuda itu!"


"Kenapa jadi bawa-bawa Gavin? Zeline kan nggak ada hubungan apa-apa lagi dengan Gavin, Mi!" Rengut Zeline.


"Iya, untuk status mungkin kalian bukan lagi tunangan atau pasangan kekasih! Tapi mami lihat, hati kamu belum move on dari Gavin."


"Hah? Mami sok tahu!" Sanggah Zeline seraya beranjak dan pergi meninggalkakn Mami Thalita yang hanya geleng-geleng kepala.


"Jadi sekarang, aku yang harus mengalah dan memahami pemuda labil itu?" Zeline bermonolog sendiri serelah obrolannya dengan Mami Thalita beberapa hari yang lalu, kembali berkelebat di benaknya.


"Ish!" Zeline mendengus kesal, lalu gadis itu menyambar tasnya di atas meja dan keluar dari ruang kerja. Zeline akan menemui Papi Zayn dulu di ruangannya, sebelum gadis itu pulang. Semoga Papi kesayangan Zeline itu juga belum pulang.


"Selamat sore, Nona Zeline!" Sapa Nona saat Zeline lewat di depan mejanya. Sisah ada Ryan yang menunggui Nona yang sedang membereskan beberapa berkas.


Sepupu Zeline itu memang jadi semakin lengket pada Nona, setelaha acara lamaran mereka bulan lalu. Dan sekarang, mereka berdua sedang menyiapkan acara pernikahan.


Hanya tinggal menghitung hari sampai Nona resign sebagai sekretaris Zeline. Dan Zeline sama sekali belum menemukan pengganti Nona hingga detik ini.


Ck!


Hati dan pikiran Zeline benar-benar sedang kacau sekarang, atau lebih tepatnya sejak Zeline memutuskan pertunangannya dengan Gavin, lalu pria itu yang seperti tak ada niat sedikitpun untuk memperbaiki hubungan mereka berdua!


Gavin bahkan tak pernah lagi menghubungi atau sekedar menanyakan kabar Zeline! Dasar pemuda kurang ajar!


Tapi bagaimana juga Gavin akan menghubungi Zeline, jika nomor Gavin saja masih Zeline blokir hingga detik ini.


Baiklah! Zeline yang lupa!


Dan Zeline juga tak butuh ditanyai Gavin tentang bagaimana kabarnya saat ini, karena kabar Zeline masih sama saja!


Masih jomblo dan galau!


"Sudah mau pulang, Zel?" Ryan ikut-ikutan bertanya pada Zeline yang sudah menenteng tasnya.


"Kata siapa aku mau pulang! Aku hanya ingin bertemu Papi dan jam kerja Nona belum selesai!" Zeline menuding sekaligus memperingatkan sepupunya tersebut.


"Baiklah, aku akan menunggu sampai jam kerja Nona selesai. Hanya tinggal lima belas menit lagi," ujar Ryan setelah pria itu memeriksa arlojinya.


"Ck! Apa kau itu tak ada pekerjaan di Halley Development? Kenapa setiap hari kau selalu saja datang kesini untuk menemui Nona?" Tanya Zeline dengan nqda bersungut atau mungkin nona direktur itu sedang cemburu sekarang?


"Pekerjaanku selalu aku selesaikan tepat waktu, jadi aku selalu ada waktu lebih untuk menjemput Nona!" Jawab Ryan pamer.


"Cih! Pamer atau kau sedang menyindirku?" Cibir Zeline sebelum kemudian gadis itu berlalu dan masuk ke dalam lift.


****


"Jadi, kenapa kita tidak membangun resort atau hotel juga di pesisir, Pi?" Tanya Zeline setelah gadis itu memaparkan pada sang papi tentang masih banyaknya lahan kosong serta potensi bisnis menjanjikan di pesisir dejat rumah Tante Vale.


Atau dekat rumah Gavin maksudnya!

__ADS_1


Iya, itu!


Bukankah kata Mami Thalita, Zeline harus mengalah dan sedikit menekan egonya?


Jadi Zeline akan membangun hotel di sana agar Gavin bisa melihat kalau bisnis dunia perhotelan lebih menjanjikan ketimbang hanya menjadi tour guide atau instruktur surfing.


Pekerjaan macam apa itu?


"Kenapa mendadak kau punya ide itu?" Tanya Papi Zayn penuh selidik.


"Iya seperti yang Zeline katakan tadi di awal, kalau potensi wisata di sana itu menjanjikan, Pi!"


"Dan saat ini, baru ada satu resort yang pelayanannya kurang bermutu menurut Zeline!" Papar Zeline dengan nada sinis yang membuat Papi Zayn menahan tawa.


"Bukan karena kau ingin dekat dengan seseorang, jika kita membangun hotel atau resort di sana?" Tanya Papi Zayn penuh selidik.


"Dekat dengan siapa maksud Papi? Zeline bukan pengawas lapangan, jadi misalnya ada pembangunan hotel Abraham Group disana, belum tentu juga Zeline akan kesana!" Jawab Zeline bersedekap sekaligus beralasan.


"Baiklah, untuk sementara idemu akan papi tampung dan nanti akan papi bicarakan dengan pemegang saham lain saat rapat," tukas Papy Zayn yang langsung membuat Zeline mendengus.


"Itu masih lama sekali, Pi! Kenapa bukan Papi saja yang mengambil keputusan. Pemegang saham terbesar kan Papi!"


"Keluarga Arthur hanya punya sepersekian bagiannya, jadi tidak perlu juga meminta pendapat mereka!" Zeline berucap sinis.


"Tidak bisa begitu, Zeline! Olivia, Alicia, Riley serta Aunty Audrey mereka semua juga punya hak mengambil keputusan." Tukas Papi Zayn bijak.


"Dan jangan lupakan Uncle Alvin! Dia juga punya saham di Abraham Group!" Imbuh Papi Zayn lagi.


"Riley? Yang benar saja, Pi! Dia masih bocah!" Zeline berdecak tak percaya.


"Dia kesayangannya Uncle Kyle meskipun masih bocah," papi Zayn mengingatkan Zeline seraya tertawa kecil.


"Minggu depan?" Zeline membelalakkan kedua matanya.


"Papi kira kau sudah tahu." Papi Zayn mengernyit pada sang putri.


"Nona tidak bilang! Keterlaluan sekali gadis itu!" Zeline menyambar tasnya lalu keluar dari ruangan Papi Zayn dengan emosi yang meluap-luap.


"Zeline, kau mau kemana?" Tanya Papi Zayn berseru.


"Minta penjelasan pada Nona dan Ryan!" Jawab Zeline balik berseru.


"Astaga, gadis ini!" Papi Zayn memijit pelipisnya sendiri sebelum kemudian pria paruh baya itu mengikuti sang putri dan menuju ke lantai di atasnya.


"Nona!" Pintu lift baru saja terbuka, saat Zeline melihat Nona yang sudah berada di dalam lift bersama Ryan.


"Ryan! Tahan lift-nya!" Seru papi Zayn dari kejauhan yang langsung membuat Ryan sigap menahan pintu lift dan menunggu hingga Papi Zayn ikut masuk ke dalam lift.


"Maaf, Nona Zeline! Tapi pekerjaan saya sudah selesai dan ini sudah hampir jam setengah lima," Nona menunjukkan arlojinya pada Zeline.


"Bukan itu!" Zeline menyalak dan Nona refleks terkejut hingga gadis itu beringsut mundur serta berlindung pada Ryan.


Memangnya Nona pikir Zeoine akan menggigitnya? Zeline hanya menyalak dan tak menggigit!


"Zeline!" Tegur Papi Zayn pada sang putri yangvkerap emosian belakangan ini. Efek dari status jomblo Zeline semakin mengkhawatirkan memang.

__ADS_1


"Kalian berdua!" Zeline menuding geregetan pada Ryan dan Nona.


"Kenapa tak memberitahuku kakau akan menikah dua minggu lagi?" Tanya Zeline masih emosi.


"Aku pikir kau sudah tahu! Kami sudah mengumumkan di acarq pertunangan kami." Sergah Ryan cepat mencari pembelaan.


"Ryan benar, Zeline! Uncle Daniel sydah mengumumkan saat acara pertunangan sebulan lalu."


"Perasaan waktu itu kau datang, kenapa bisa tak tahu?" Papi Zayn menatap heran pada sang putri. Lift sudah sampai di lantqi bawah, namun Zeline malah menekannya lagi agar lift kembali naik ke lantai atas. Bahkan karyawan lain yang hendak menggunakan lift juga dilarang naik oleh Zeline.


"Mungkin dia sedang melamun, Uncle!" Celetuk Ryan sok tahu yang langsung membuat Zeline merengut.


"Sok tahu!" Zeline hendak menoyor kepala sepupunya tersebut namun Ryan berhasil menghindar dengan cepat, dan sekarang Ryan malah merangkul Nona dengan mesra seolah sedang pamer pada Zeline.


Dasar menyebalkan!


"Lalu kapan kau akan resign, Nona?" Tanya Zeline akhirnya pada Nona seraya bersedekap.


"Akhir minggu ini, Nona Zeline!"


"Tapi saya akan menyelesaikan semua tanggung jawab saya sebelum resign," janji Nona pada Zeline.


"Menikahnya kan masih dua minggu lagi, kenapa harus buru-buru resign," gumam Zeline menggerutu.


"Nona juga perlu perawatan sebelum menikah, Nona Zeline! Tolong jangan egois dan surat pengunduran diri Nona akan ada di atas mejamu akhir pekan nanti!" Bukan Nona, melainkan Ryan yang menjawab penuh geregetan.


"Ck!" Zeline hanya berdecak bersamaan dengan lift yang sudah tiba lagi di lobi kantor.


Zeline menghela nafas, lalu keluar dari lift tanpa berbasa-basi pada Nona, Ryan, maupun Papi Zayn.


"Maaf jika Ryan lancang, Uncle! Tapi sebaiknya Uncle mencarikan pasangan untuk Zeline agar gadis itu berhenti uring-uringan!" Ujar Ryan memberikan masukan pada Papi Zayn.


"Terima kasih saran baikmu, Ryan!"


"Dan maaf atas sikap berlebihan Zeline tadi," tukas Papi Zayn seraya menepuk punggung Ryan.


"Tidak masalah, Uncle! Kami merasa maklum, kok!" Jawab Ryan santai.


"Uncle pulang duluan, ya! Selamat sore!"


"Selamat sore, Pak Zayn!"


"Selamat Sore, Uncle!" Jawab Ryan dan Nona berbarengan.


"Panggil saja Uncle mulai sekarang!" Ujar Ryan serayq merangkul pundak Nona.


"Masih sungkan," Nona beralasan.


Ryan hanya terkekeh dan pasangan calon pengantin itu segera meninggalkan lobi kantor Abraham Group.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2