Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
KURUS?


__ADS_3

"Besok saja kembalinya, Sayang!" Rengek Zeline seraya bergelayut pada Gavin. Sudah lebih dari satu jam Zeline merengek dan melarang Gavin untuk pergi. Padahal Gavin harus secepatnya pulang karena sudah satu pekan lebih ia dan Zeline berada di rumah Bunda. Pekerjaan kantor pasti juga banyak yang terbengkalai sekarang.


Meskipun Papi Zayn mengatakan kalau ia sudah meng-handle sebagian, tetap saja Gavin merasa tak enak hati jika ia terus-terusan merepotkan papi mertuanya tersebut.


Perihal Zeline yang ngidam berat dan tak sanggup lagi pergi ke kantor sebenarnya bukan masalah besar karena Gavin sudah siap menggantikan semua pekerjaan Zeline di kantor. Tapi jika Gavin harus ikut-ikutan tak pergi ke kantor, bisa-bisa perusahaan gulung tikar nanti karena tak ada yang meng-handle!


"Kamu pulang aja bareng aku makanya, Sayang! Nanti bulan deoan kita ke rumah Bunda lagi," bujuk Gavin sekali lagi pada Zeline.


Sejak mereka tiba, Zeline memang berkata pada Gavin kalau ia mendadak ingin tinggal di rumah Bunda saja karena dekat dengan pantai.


Ya, tak terhitung lagi berapa banyak Gavin dan Zeline pergi ke pantai sepekan kemarin. Pagi-pagi saat membuka mata saja, Zeline sudah langsung mengajak Gavin ke pantai. Lalu saat sore, mereka akan ke pantai lagi untuk melihat matahari terbenam.


Astaga!


Padahal dulu Zeline selalu mencak-mencak saat Gavin mengajaknya tinggal di pantai dan jadi anak pantai saja. Tapi sekarang setelah hamil, Zeline nlmalah jadi tergila-gila pada pantai. Sama seperti Zeline yang dulu juga alergi pada ketiak Gavin, tapi sekarang wanita itu malah tergila-gila pada ketiak Gavin.


"Nggak mau!" Jawab Zeline tegas.


"Kamu nggak lihat? Aku sehat-sehat selama disini nggak pernah mual nggak pernah muntah,bisa makan apa aja yang aku mau!"


"Sedangkan kalau aku tinggal di rumah mami, aku itu mual dan muntah terus sepanjang hari sampai aku itu capek, Sayang!"


"Kamu sih nggak ngrasain bagaimana tersiksanya aku pas mual sama muntah! Makanya kamu ngajakin aku pulang lagi ke rumah Mami!" Omel Zeline panjang lebar pada Gavin seraya bersungut-sungut.


"Iya, aku juga ngrasain, Sayang! Aku juga nggak nafsu makan kalau lihat kamu mual dan muntah. Aku itu juga kasihan sama kamu," jawab Gavin seraya mengusap-usap punggung Zeline dengan penuh kesabaran.


Ya, ya, ya!


Selain sabar dan pengertian, memangnya Gavin bisa apa lagi?


Bukankah yang membuat Zeline hamil adalah Gavin sendiri?


"Pokoknya, aku mau tinggal di rumah Bunda sampai nanti aku lahiran!" Ucqp Zeline tegas seoalh tak mau dibantah.


"Iya, tidak masalah jika kamu mau tinggal disini, Sayang! Bunda juga pasti akan dengan senang hati merawat dan menjagamu," tukas Gavin cepat.


"Cuma yang jadi masalah, aku punya tanggung jawab pekerjaan di kantor. Tak mungkin juga aku melimpahkan semuanya ke papi Zayn!"


"Nanti kalau Papi Zayn kelelahan kan kasihan juga!" Tutur Gavin berusaha memberikan pengertian pada Zeline.


"Trus kamu mau pulang dan ninggalin aku disini, begitu?"


"Tega kamu!" Zeline mencebik sedih.


"Nanti malam-malam kalau aku nggak bisa tidur karena nggak ada ketek kamu bagaimana?" Cebik Zeline lagi.


"Iya, trus aku harus bagaimana? Masa iya aku harus membelah diri jadi dua? Mau mindahin kantor Abraham Group kesini juga aku nggak kuat," ujar Gavin bertanya-tanya sekaligus sedikit mengajak Zeline untuk berkelakar.


Namun Zeline sana sekali tak tertawa dan wanita itu hanya menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak Gavin.


Ck! Kebiasaan!


"Mana aku juga udah ketinggalan pesawat," ujar Gavin lagi seraya melihat ke arloji di tangannya.


"Yaudah! Pulang sana!" Zeline mendorong kasar tubuh Gavin dan wanita itu langsung bersedekap sambil merengut.


"Kamu memang nggak pernah sayang ke aku dan ke calon anak-anak kita!" Tuduh Zeline lagi masih sambil merengut hingga mungkin Gavin bisa menguncir bibir Zeline memakai karet gelang sekarang.


Gemas sekali!


"Aku sayang sama kamu, Sayang!" Gavin cepat-cepat mendekap dan memeluk Zeline, sekalipun istrinya itu meronta dan menolak.


"Aku itu sayang banget sama kamu dan juga anak-anak kita!"


"Makanya sekarang aku haris kerja dan menabung, biar nanti pas anak-anak udah lahit aku bisa beliin mereka baju, popok, dan demua kebutuhan mereka," terang Gavin yang kembali mencoba memberikan pengertian pada Zeline.


"Uang aku masih banyak dan pasti lebih dari cukup kalau dipakai buat beli baju mereka nanti," ujar Zeline seraya mengusap perutnya sendiri.

__ADS_1


"Lalu biaya sekolah dan pendidikan mereka ke depannya bagaimana?" Gavin mengingatkan Zeline yang langsung menatap ke arah Gavin. Zeline seolah sudah kehabisan alasan.


"Sekarang begini saja. Kamu mau tinggal disini sampai lahiran, oke tidak masalah!"


"Tapi tolong izinkan aku pulang dan menyelesaikan pekerjaan serta tanggung jawabku di kantor dari hari Senin sampai Jum'at! Nanti Sabtu Minggu aku bakal kesini buat jenguk kamu,peluk kamu, ajak kamu jalan-jalan," tutur Gavin panjang lebar membujuk Zeline dengan selrmbut mungkin.


"Kesininya tidak bisa Jum'at malam saja?" Zeline melakukan negosiasi.


"Baiklah, Jum'at sore pulang dari kantor aku akan langsung ke airport, lalu terbang ke sini!"


"Kau senang?" Ujar Gavin menyetujui negosiasi Zeline dan istri Gavin itu langsung mengulas senyum seraya menghambur ke pelukan Gavin.


"Trus nanti kalau aku mau tidur kamu nggak ada bagaimana? Aku cium ketiak siapa?" Tanya Zeline yang masih berada di pelukan Gavin.


"Nanti kamu bisa cium-cium kaus yang bekas aku pakai." Ujar Gavin yang selalu punya solusi!


"Oke!" Zeline kembali mengendus-endus ketiak Gavin.


"Ini jadinya kamu pulang besok, kan?" Tanya Zeline memastikan.


"Masih ada satu penerbangan terakhir nanti jam delapan malam," jawab Gavin yang langsung membuat Zeline merengut.


"Baiklah, aku naik penerbangan pertama besok pagi!"


"Malam ini aku bakal peluk kamu semalaman agar kamu tudak sedih lagi!" Gavinencolek gemas hidung Zeline dan istri Gavin itu langsung tersebylebar dengan sikap penuh pengertian dari Gavin.


"Yeay!" Sorak Zeline senang.


****


Bulan berganti.


Zeline masih betah tinggal di rumah Bunda Vale dan Gavin tetap setia bolak-balik saat weekend demi hisa memberikan perhatian pada Zeline yang kinj perutnya sudah semakin terlihat membulat.


"Tendang lagi, Sayang!" Ucap Gavin seraya mengusap-usap perut Zeline. Gavin juga meletakkan kepalanya di pangkuan Zeline agar bisa mendengar pergerqkan calon anak-anaknya.


"Udah! Capek mereka kamu sirih nendang melulu!" Ucap Zeline yang mulutnya masih sibuk mengunyah kue-kue yang tadi dibawakan oleh Gavin yang memang baru tiba.


"Besok kita ke dokter, ya! Aku sudah tak sabar ingin tahu jenis kelaminnya," ujar Gavin seraya mentowel pipi Zeline yang sekarang lebih tirus.


Tak hanya di bagian pipi. Tapi lengan dan kaki Zeline juga seolah jadi kecil. Hanya perut Zeline saja yang membesar seperti ibu hamil pada umumnya.


"Bunda perhatikan, Zeline jadi kurus belakangan ini! Bunda khawatir kalau selama Zeline disini dia itu mengalami tekanan batin," ucap Bunda Vale pada Gavin saat ia baru tiba tadi.


"Bunda dan ayah marah-marah pada Zeline memangnya?" Tanya Gavin penuh selidik.


"Tidak pernah!" Sanggah Bunda Vale cepat.


"Apa saja yang ingin Zeline lakukan,kami tak pernah melarang. Soal makan juga sebisa mungkin ayah dan bunda menuruti apa saja kemauan Zeline," ujar Bunda Vale lagi.


"Trus, Zeline makannya banyak tidak, Bund?"


"Banyak! Dan sama seperti biasa Zeline makan. Segala camilan di toko juga sering dia makan sembari menjaga toko," terang Bunda Vale lagi.


"Mungkin hanya perasaannya Bunda dan efek dari perut Zeline yang semakin membesar, makanya sekarang Zeline terlihat kurus," ucap Gavin berpendapat.


"Besok kau bawa ke dokter untuk memastikan, ya! Zeline tidak mau ke dokter bersama ayah dan bunda soalnya," pesan Bunda Vale.


"Siap, Bund!"


"Sayang! Sakit!" Keluh Zeline karena Gavin yang mencubiti pipinya sejak tadi.


"Eh, maaf, maaf!" Gavin cepat-cepat bangun dan memeriksa pipi Zeline yang tadi ia cubit.


"Sakit, ya, Sayang?" Gavin mengusap-usap pipi Zeline.


"Sakit sekali!" Cebik Zeline lebay.

__ADS_1


"Mmmuuuah!" Gavin mencium pipi Zeline


"Masih sakit?" Tanya Gavin lagi. Dan Zeline mengangguk seraya mencebik. Gavin akhirnya kembali mencium pipi Zeline.


"Terus! Sampai nggak sakit!" Titah Zeline yang sepertinya mulai keenakan dicium oleh Gavin. Eh, tapi Gavin juga menikmati mencium Zeline seperti ini.


"Sayang, aku boleh tanya sesuatu, nggak?" Tanya Gavin disela-sela ia mencium Zeline.


"Tanya apa?"


"Kamu banyak pikiran belakangan ini?" Tanya Gavin sedikit khawatir. Gavin kembali memindai tubuh Zeline yang memang lebih kurus seperti yang dikatakan Bunda Vale.


"Enggak!" Jawqb Zeline yakin.


"Kamu sedih karena kita LDR-an?" Tanya Gavin lagi.


"Enggak juga! Aku bahagia disini, Sayang! Karena ayah dan Bunda itu manjain aku banget!"


"Aku mau makan apa aja pasti dimasqkin atau dibeliin.


"Dan ayah itu selalu menemani aku jalan-jalan setiap pagi!" Cerita Zeline begitu antusias.


"Oh, ya? Hebat sekali! Aku saja yang anak kandungnya tak pernah dimanja seperti itu," gumam Gavin merasa iri.


"Puk puk puk! Kasihan!" Zeline mencibit gemas pipi Gavin seraya tergelak.


"Jadi benar ya kamu nggak tekanan batin, nggak banyak pikiran, nggak sedih-seduh juga-"


"Aku bahagia sekali disini, Sayang!" Sela Zeline cepat.


"Lalu kenapa tubuhmu menyusut dan kau jadi kurus? Hanya perutmu yang membesar, Sayang!" Tanya Gavin yang langsung membuat Zeline terdiam untuk beberapa saat.


"Masa, sih?" Zeline bangkit dari duduknya lalu berdiri di depan kaca full badan dan memutar-mutar tubuhnya di depan kaca.


"Ada benarnya, sih! Baju-baju aku banyak yang terasa longgar belakangan ini. Dan lengan aku juga sedikit mengecil," Zeline memeriksa lengannya yang dulu seperti gebuk maling. Tapi sekarang bentuknya sudah seperti punya orang kebanyakan.


"Aku kan lagi hamil, Sayang? Kok aku jadi kurus, ya?" Zeline bertanya bingung pada Gavin.


"Nah itu! Bunda juga bingung, makanya Bunda minta aku mewawancarai kamu, apa kamu banyak pikiran atau tekanan batin disini-"


"Aku sama sekali nggak mikirin apa-apa, Sayang!" Sela Zeline yakin.


"Makan aku juga masih banyak, kok!" Sambung Zeline lagi.


"Besok kita tanyakan ke dokter, ya!" Ucap Gavin akhirnya seraya mendekap Zeline dan mengusap perut Zeline.


"Kedua anak kita baik-baik saja, kan, Sayang? Kok aku khawatir, ya?" Tanya Zeline mulai parno.


"Kalau dilihat dari bentuk perut kamu, sepertinya baik-baik saja!"


"Semoga memang benar!" Ucap Gavin penuh harap seraya mengecup puncak kepala Zeline.


.


.


.


Orang hamil jadi kurus emang ada, Thor?


Ada!


Ini pengalaman pribadi.


Aku awal hamil 73kg. Pas mau lahiran bb tinggal 63kg. Padahal pikiran netral dan nggak tekanan batin sama sekali.


Sampai diomelin sama dokter karena takut bbj-nya juga kecil. Tapi alhamdulillah bb bayinya pas lahir pas 3kg. Jadi yang kurus cuma emaknya. Bayinya tetap tumbuh sesuai usia.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2