Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
MELEDAK


__ADS_3

"Kau egois!" Teriak Zeline pada Gavin sebelum kemudian gadis itu pergi meninggalkan Gavin.


"Zeline!" Panggil Gavin yang bergegas untuk mengejar Zeline.


"Zeline, tunggu!"


"Zeline!" Gavin secepat kilat meraih tangan Zeline yang sudah berlari ke halaman parkir.


"Dengarkan dulu penjelasanku!" ucap Gavin yang akhirnya berhasil mencekal tangan Zeline.


"Enggak!" Zeline menyentak tangan Gavin sekuat tenaga.


"Dengarkan dulu!"


"Enggak!" Gertak Zeline menarap tegas 0ada Gavin.


"Nggak usah lagi jelasin apa-apa!" Zeline masih berusaha menyentak tangan Gavin dan wajah gadis itu sudah merah padam dipenuhi oleh amarah.


"Sejak awal, kau memang tak pernah serius dengan hubungan ini!" Tuduh Zeline seraya menuding ke arah Gavin.


"Aku serius, Zel!" Bantah Gavin cepat.


"Tapi kita tidak pernah cocok sejak awal! Kita terlalu memaksakan hubungan ini!" Zeline menyeka airmatanya yang tiba-tiba sudah jatuh.


"Kita bahkan sama-sama keras kepala dan sama-sama tak mau mengalah!"


"Jadi apalagi yang kita harapkan dari hubungan bodoh ini?" Zeline tiba-tiba tertawa sendiri meskipun gadus otu mqsih berurai airmata.


"Kita hanya butuh waktu untuk memikirkan tentang jalan keluar-"


"Memikirkan sampai kapan?" Potong Zeline cepat.


"Tidak ada jalan keluar, tidak ada solusi, dan mungkin sebaiknya hubungan ini yang kita akhiri, Gavin!"


"Kau merasa nyaman hidup di pantai, bersama papan selancar, ombak, dan para klienmu, maka lakukan saja semuanya. Jalani seperti yang sudah-sudah!"


"Dan aku juga akan menjalani hidupku disini. Bekerja di kantor milik Papi dan menikmati hidupku. Kita sudahi saja hubungan kita, iadi kita tak perlu lagi meninggalkan hal yang memang sudah jadi kesenangan kita!" Tutur Zeline panjang lebar pada Gavin yang hanya membisu.


"Akan aku kembalikan-" Zelhendak melepaskan cincin pertunangannya, namun Gavin mencegah dengan cepat.


"Jangan melepasnya!"


"Memangnya kenapa?" Zeline terus berusaha melepaskan cincin Gavin,namun tak kunjung bisa karena sepertinya jari Zeline baru saja menggendut.


"Kenapa tidak bisa dilepas?" Marah Zeline pada Gavin yang hanya mengendikkan kedua bahunya.


"Mungkin efek dari kau yang baru saja makan-"


"Aku belum makan!" Sergah Zeline menyalak pada Gavin.


"Kau bisa makan dulu di dalam kalau begitu," Gavin memberikan saran.


"Aku tidak mau makan dan kita tadi sedang bertengkar! Jadi tidak usah sok-sokan merayuku!"


"Aku masih tetap pada pendirianku dan aku mau kita putus!"


"Titik!" Ucap Zeline penuh emosi dan berapi-api.


"Kau yakin?" Tanya Gavin sekali lagi.

__ADS_1


"Iya! Aku yakin!" Jawab Zeline setengah berteriak.


"Baiklah, kita putus. Kita tak jadi menikah! Kau senang sekarang?" Ucap Gavin yang langsung membuat Zeline terdiam untuk beberapa saat. Ada perasaan nyeri yang menyergap relung hati Zeline.


Zeline berusaha untuk melepaskan cincin Gavin sekali lagi.


"Jangan dipaksa!" Titah Gavin lembut.


"Nanti cincinnya pasti akan bisa dilepas jika kau sudah tak lagi emosi-" kalimat Gavin tak berlanjut saat akhirnya Zeline berhasil menanggalkan cincin dari jari manisnya.


"Aku kembalikan!" Zeline memberikan dengan kasar cincin Gavin pada sang empunya.


"Kak Zeline!"


"Kenapa Kak Zeline dan Abang Gavin putus?" Tanya Gretha yang terlihat kecewa dengan keputusan Zeline.


"Bukan urusanmu!" Jawab Zeline yang ganti menyalak pada sang adik ipar.


"Kau mau pulang bersamaku atau pulang sendiri?" Tanya Zeline selanjutnya pada Gretha yang kini merengut.


"Baiklah! Pulang naik taksi sana-"


"Gretha ikut Kak Zeline!" Sergah Gretha cepat seraya masuk duluan ke dalam mobil Zeline.


"Akan kusimpan cincinnya, barangkali kau berubah pikiran." Ucap Gavin yang langsung disahut penuh emosi oleh Zeline.


"Aku tak akan berubah pikiran dan aku tak akan menikah dengan pemuda yang memacariku hanya karena rasa iba!"


"Aku tak pernah seperti itu, Zel! Aku mencintaimu!"


"Aku benar-benar mencintaimu!" Gavin menepuk dadanya sendiri.


"Kau bahkan selalu bersikap egois!" Lanjut Zeline lagi seraya membuka pintu mobilnya.


"Silahkan kau cari gadis lain yang bersedia menjadi gadis pulau untuk kau ajak berjualan es kelapa muda dan ikan bakar! Karena aku akan tetap menjadi seorang nona direktur disini!" Pungkas Zeline sebelum kemudian gadis itu masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan keras, hingga Gretha terlonjak kaget.


"Pelan-pelan, Kak! Nanti pintunya copot bagaimana?"


"Diam!" Gertak Zeline pada sang adik ipar yang langsung merengut.


Zeline segera memakai sabuk pengaman, lalu melajukan mobilnya meninggalkan Rainer's Resto.


****


"Kenapa pulang lagi?" Tanya Bunda Vale heran saat Gavin baru turun dari mobil Ayah Arga. Tadi mendadak Gavin menelepon dan minta dijemput di airport. Padahal baru tadi pagi pemuda ini pamit pergi untuk memberikan kejutan pada Zeline.


"Zeline minta putus, Bund," jawab Gavin, sebelum pemuda itu berlari masuk ke dalam rumah, meninggalkan Bunda Vale dan Ayah Arga.


"Maksudnya putus?" Pertanyaan Bunda Vale hanya terbang tertiup angin.


"Aku rasa Gavin dan Zeline sedang bertengkar. Coba kau telepon Thalita untuk menanyakannya!" Saran Ayah Arga seraya merangkul sang istri.


Bunda Vale tak menunggu lagi dan segera ikut masuk ke rumah. Wanita paruh baya itu hebdak menelepon Mami Thalita. Namun baru sampai di pintu depan, Bunda Vale sudah berpapasan dengan Gavin yang sudah menenteng ransel serta papan selancarnya.


"Gavin, kau mau kemana lagi," tanya Bunda Vale menahan sang putra.


"Ke resort, Bujd! Ada wisatawan yang minta diajak berkeliling besok pagi." Jawab Gavin tak bersemangat.


"Ini sudah gelap!" Bunda Vale mengingatkan.

__ADS_1


"Iya, wisatawannya ingin pergi pagi-pagi besok, jadi Gavin akan berangkat sekarang," Ujar Gavin beralasan.


"Vale, biarkan saja!" Tukas Ayah Arga menengahi.


"Gavin pergi dulu, Ayah!" Pamit Gavin selanjutnya pada sang ayah.


"Hati-hati!"


Gavin hanya mengangguk samar, lalu pemuda itu segera macu motornya ke arah dermaga.


"Kqu tadi katanya mau menelepon Thalita?" Tanya Ayah Arga mengingatkan sang istri.


"Iya, ini aku baru mau masuk dan meneleponnya!" Bunda Vale menghela nafas, lalu masuk ke rumah dan segera menelepon Mami Thalita.


****


"Zeline tidak cerita apa-apa, Vale! Dan aku benar-benar tidak tahu."


"Nanti akan aku tanyakan pada Zeline sebenarnya ada masalah apa," janji Mami Thalita setelah mendengar cerita dari Bunda Vale.


"Jangan menghakiminya, dan tanyakan baik-baik!"


"Iya, aku mengerti. Nanti aku telepon lagi. Bye!" Pungkas Mami Thalita seraya menutup telepon. Saat itulah, Gretha tiba-tiba sudah menghampiri Mami Thalita dan duduk di dekat mami mertuanya tersebut.


"Kak Zeline dan Abang Gavin tadi putus, Mi!"


"Kak Zeline juga ngembaliin cincin pertunangannya pada Gavin," cerita Gretha dengan raut wajah sedih.


"Kamu tahu, Gre?"


"Iya, Mi!" Jawab Gretha seraya manggut-manggut.


"Ceritanya bagaimana?"


"Tadi du Rainer's Resto, Abang Gavin sedang ngobrol sama temannya, lalu Gretha dan Kak Zeline datang, dan Kak Zeline tahu-tahu langsung menghampiri Abang Gavin dan marah-marah. Intinya Kak Zeline itu kayak lelah begitu menjalani hubungan sama Abang Gavin dan merasa tak cocok. Trus Kak Zeline minta udahan aja."


"Gitu, Mi!" Cerita Gretha seraya memainkan kedua telunjuknya.


"Tidak cocok di bagian mana lagi?"


"Zeline, Zeline! Maunya gadis itu bagaimana?" Mami Thalita memijit pelipisnya sendiri yang mendadak terasa pening.


"Kalau dari perdebatan mereka, kayaknya gara-gara Abang Gavin menyuruh Kak Zeline pindah dan menjadi gadis pulau, lalu berjualan es kelapa dan ikan bakar. Jadi Kak Zeline nggak mau dan minta putus," ujar Gretha menerka-nerka.


"Hah?" Mami Thalita membelalak tak percaya dan merasa bingung serta tak paham. Wanita paruh baya itu lalu meraih gagang telepon dan kembali menelepon Bunda Vale untuk mengkonfirmasi informasi dari Gretha barusan.


Masa iya Gavin menyuruh Zeline berjualan es kelapa dan ikan bakar?


Yang benar saja!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2