
Zeline menatap pada Gavin yang terlihat begitu ahli meliuk-liuk bersama papan selancar nya di atas ombak. Sesekali Zeline akan tertawa kecil saat melihat tingkah Gavin yang kadang sengaja menjatuhkan diri ke dalam ombak bersama papan selancarnya.
"Sayang!" Gavin berlari menghampiri Zeline tetap sambil menenteng papan selancar warna biru kesayangannya.
"Ck! Aku tidak mau!" Tolak Zeline sebelum Gavin mengajaknya untuk berselancar.
"Belum diajak udah bilang nggak mau!" Gavin mendekap manja Zeline yang hanya tertawa kecil.
"Ayo renang di pantai kalau begitu!" Ajak Gavin masih sambil mendekap Zeline.
"Gendong!" Zeline berputar dan merangkulkan kedua lengannya dengan manja ke leher Gavin.
"Yah! Kalau nggak kuat bagaimana?" Gavin melepaskan tali pengikat papan selancar di kakinya, lalu beeusaha sekuat tenaga untuk menggendong Zeline.
"Emmmmmhhhhhhh!" Wajah Gavin sudah merah padam sekarang.
"Ck! Masih nggak kuat!" Cibir Zeline pada Gavin yang ternyata masih tak kuat mengangkat tubuhnya.
"Kuat, kok!" Kilah Gavin yang kembali berusaha.
"Emmmmmmmhhhh!"
Bruuut
"Ya ampun!" Gavin langsung diam dan meringis saat tiba-tiba terdengar suara nyaring dari bokongnya, saat Gavin masih berusaha menggendong Zeline.
"Apa itu tadi, Yang?" Tanya Zeline mengernyit ke arah Gavin.
"Simulasi!" Jawab Gavin seraya meringis.
"Simulasi apa?" Tanya Zeline semakin bingung.
"Simulasi-"
Bruuuut!
Kembali terdengar suara nyaring dibarengi ekspresi aneh Gavin.
"Gavin!" Zeline refleks memukul dada Gavin saat akhirnya wanita itu sadar kalau barusan adalah suara kentut Gavin.
Dasar tidak sopan!
"Enak ternyata, Sayang!"
Bruut! Bruut!
Bruut bruut bruut!
Gavin tak berhenti terkentut-kentut di depan Zeline.
"Gavin!" Zeline sontak memukuli dada Gavin saking gemasnya dan Gavin malah tertawa terbahak-bahak sekarang.
"Nggak ada baunya, kok!" Sergah Gavin mencari alasan.
"Mau dengar lagi?" Tawar Gavin yang hendak mengarahkan bokongnya ke arah Zeline, namun dengan cepat ditampik oleh Zeline.
"Nggak mau!"
"Kentutmu bau!" Omel Zeline pada Gavin.
"Kentutmu juga bau tapi aku tak protes," ujar Gavin yang sudah merangkul Zeline sekarang.
"Ck! Jadi ceritanya sekarang sedang balas dendam?" Sungut Zeline tak senang.
"Enggak! Itu tadi benar-benar refleks," kilah Gavin cepat.
__ADS_1
"Kayaknya gara-gara aku mau ngangkat kamu sampai ngeden-ngeden tadi. Makanya jadi terkentut-kentut!" Lanjut Gavin lagi berteori sekaligus beralasan.
Dasar Gavin!
"Alasan terus!" Zeline mengusapkan tangannya ke wajah Gavin.
"Mmmuah!" Dan Gavin dengan cepat menahan tangan Zeline, lalu mengecupnya.
"Mmmuah! Mmuah! Mmmmuah!" Gavin lanjut menciumi tangan Zeline dengan lebay.
"Mulai!" Gumam Zeline seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling pantai yang cukup ramai.
"Kenapa?" Tanya Gavin pura-pura kepo.
"Pulang, yuk!" Ajak Zeline yangvsydah menggamit lengan Gavin dan menyandarkan kepalanya ke pundak Gavin.
"Pulang, trus masuk kamar," tebak Gavin yang seolah sudah paham pada kode dari Zeline.
"Ck!"
"Gara-gara kamu tadi!" Zeline langsung menyalahkan Gavin.
Ya, ya, ya!
Ingat selalu pada prinsip lama kalau wanita selalu benar, Gavin!
Jadi kalau wanita salah, kembali ke peraturan nomor satu!
"Naik speedboat sebentar, yuk! Kita cari kamar di pulau seberang!" Ajak Gavin seraya berbisik pada Zeline. Tak lupa, Gavin juga menggigit kecil cuping telinga Zeline hingga sukses membuat wanita itu menggelinjang.
"Gavin!" Des*h Zeline tertahan.
"Ayo!" Ajak Gavin yang sudah bangkit berdiri. Zeline akhirnya ikut berdiri dan mengikuti langkah Gavin masih sambil digandeng oleh Gavin. Pasangan suami istri itu langsung menuju ke dermaga yang tak jauh dari pantai.
Tak sulit untuk Gavin menyewa speedboat karena ia punya banyak kenalan di dermaga. Tak butuh waktu lama, dan speedboat yang membawa Gavin dan Zeline sudah meninggalkan dermaga, menuju ke lautan lepas.
"Ya!"
"Jangan menggodaku dulu karena aku sedang fokus mengemudi!" Ujar Gavin mengingatkan Zeline.
"Aku gelitiki!" Zeline sedikit menggelitik perut Gavin.
"Zeline!"
"Apa pulaunya masih jauh, suamiku?" Tanya Zeline yang kembali mendekap Gavin dan menyandarkan kepalanya di punggung suaminya tersebut.
"Lumayan!"
"Kau bisa duduk dulu-"
"Atau memelukmu begini sampai di pulau!" Potong Zeline yang langsung membuat Gavin tergelak.
"Andai dulu pas tersesat di pulau kosong kita udah nikah begini, pasti enak, ya!"
"Enak kenapa?"
"Bisa eheem eheem di setiap sudut pulau!"
"Atau bagaimana kalau kita ke pulau cinta kita itu lagi!" Tawar Gavin yang langsung di tolak oleh Zeline.
"Jangan aneh-aneh!"
"Aneh-aneh kenapa? Misalnya kita terdampar lagi kan status udah suami istri juga!"
"Udah bebas!" Ujar Gavin lebay.
__ADS_1
"Ck! Tapi aku tak mau jika harus bercinta di tempat keras atau di atas pasir!"
"Nanti kalau pasirnya ikut masuk bagaimana?" Omel Zeline yang langsung membuat Gavin tertawa terbahak-bahak.
"Nanti anak kita jadi hobi ke pantai kalau pasirnya ikut masuk," jawab Gavin asal.
"Belum juga hamil," gumam Zeline sendu.
"Nanti malam aku hamili!" Gavin mengusap sebentar lengan Zeline yang masih melingkar di pinggangnya.
"Pokoknya aku hamili sampai kau hamil! Garansi diulang sampai jadi kalau bulan depan belum berhasil," ujar Gavin panjang lebar yang sukses membuat Zeline tertawa kecil.
"Modus sekali!" Cibir Zeline seraya mencubit perut Gavin.
"Auuw!"
"Aku kok baru ingat kalau aku tidak bawa baju!" Ujar Gavin seraya terkekeh.
"Aku juga cuma pakai baju renang ini!" Timpal Zeline seraya memamerkan tubuh bohay-nya yang memang hanya terbalut baju renang dan kain pantai di bagian bawah.
"Bagus dong! Nanti sampai di pulau tinggal aku terjang!" Gavin mengerling nakal pada Zeline.
"Mesum!" Zeline kembali mendekap Gavin bersamaan dengan speedboat yang akhirnya sampau di dermaga pulau.
****
"Darimana?" Tanya Bunda Vale, saat Gavin dan Zeline tiba di rumah. Hari sydah beranjak siang dan pasangan suami istri itu memang tak pulang sejak kemarin sore.
"Ke pulau, Bund!" Jawab Zeline yang langsung memeluk Bunda Vale.
"Ckckck! Yang baru honeymoon lagi! Pulang-pulang rambut masih basah!" Celetuk Kak Joanna yang baru keluar dari rumah.
"Kak Joanna mau kemana?" Tanya Zeline yang sudah ganti menghampiri istri Abang Ezra tersebut.
"Ke kafe!" Jawab Kak Joanna.
"Mau ikut ke kafe?" Tawar Abang Ezra yang juga sudah keluar dari rumah.
"Capek, Bang! Mau istirahat!" Jawab Gavin seraya meregangkan otot-ototnya.
"Lembur semalaman, ya?" Tebak Abang Ezra seraya terkekeh. Zeline, Gavin, dan Bunda Vale ikut terkekeh.
"Teus kalian pulang kapan? Sore ini atau besok pagi?" Tanya Kak Joanna selanjutnya.
"Malam ini, Kak!" Jawab Zeline.
"Bunda jadi ke rumah Opa?" Tanya Ezra pada Bunda Vale.
"Bunda mau ke rumah Opa? Nanti bareng aja sekalian, Bund!" Zeline kembali memeluk Bunda mertuanya tersebut.
"Iya, rencananya juga begitu," jawab Bunda Vale.
"Ayah ikut juga, Bund?" Gantian Gavin yang bertanya.
"Enggak! Ayah masih banyak urusan," jawab Bunda Vale.
"Yah! LDR sama ayah, dong!" Seloroh Gavin yang langsung membuat semuanya tertawa.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.