Telat Nikah (Zeline & Gavin)

Telat Nikah (Zeline & Gavin)
CEO ATAU PESELANCAR?


__ADS_3

Zeline bersendawa lumayan keras setelah Gavin selesai menyuapinya dengan ikan bakar.


"Udah kenyang?" Tanya Gavin yang masih mencari-cari sisa daging yang menempel di tulang-tulang ikan. Bukan karena Gavin tak punya uang untuk membeli ikan bakar lagi yang dagingnya lebih banyak, tapi sensasi mencari-cari sisa daging ikan di antara tulang belulang ini yang terasa mengasyikkan. Belum lagi bumbu ikan bakarnya yang selalu membuat ketagihan.


"Udah kenyang!" Zeline mengusap perutnya yang sudah sangat besar sampai tak ada kata-kata untuk menggambarkannya lagi.


Usia kandungan Zeline memang sudah masuk usia delapan jalan sembilan bulan. Dan berat kedua calon bayin Zeline juga sudah menyentuh tiga kilo. Jadi kalau dijumlah, saat ini Zeline sedang membawa dua bayi seberat enam kilo, belum ditambah plasentanya setengah kilo.


Huh!


Pantas saja Zeline sering engap dan tidak bisa lagi duduk tegak apalagi memotong kuku kakinya sendiri


Melihat ujung jari kaki saja Zeline sudah tidak bisa melakukan. Dan satu hal yang sudah sangat Zeline rindukan sekarang adalah tengkurap. Zeline bahkan sudah lupa kapan terakhir kali ia tengkurap dan melakukan smack down pada Gavin.


"Habis ini gendong aku ke kamar, ya, Sayang!" Pinta Zeline manja seraya mengulurkan kedua tangannya ke arah Gavin.


"Gendong kamu?" Gavin sontak melotot horor ke arah Zeline.


"Kan aku sekarang kurusan," ujar Zeline beralasan.


"Iya benar kamu kurusan sekarang. Tapi perut kamu kan nggak kurus! Nanti aku jadinya gendong tiga orang kalau aku gendong kamu," Cerocos Gavin beralasan.


"Ck! Pasti kuatlah! Badan kamu sudah mulai berisi sekarang!" Rayu Zeline seraya mengusap lengan Gavin yang selalu membuat Zeline tergavin-gavin. Lengan dengan otot yang terbentuk sempurna karena Gavin rajin olahraga.


Meskipun kebanyakan olahraganya adalah olahraga push up di atas ranjang, tapi itu kan olahraga juga!


"Iya, iya! Aku beresin ini dulu!" Jawab Gavin yang akhirnya mengiyakan permintaan Zeline. Gavin segera membereskan sisa-sisa ikan yang tadi ia makan bersama Zeline beserta gelas dan piringnya. Tak lupa Gavin juga mencuci tangan memakai sabun agar tangannya tak lagi bau ikan.


"Hoaaaaam!" Zeline sudah menguap saat Gavin kembali menghampirinya.


Ya,begitulah kondisi ibu hamil tua. Sedikit sedikit lapar, dan setelah kenyang malah mengantuk.


"Yeay! Digendong!" Zeline bersorak senang dan sudah mengulurkan kedua tangannya ke arah Gavin.


"Coba dulu, ya! Nanti kalau aku nggak kuat jangan ngambek!" Gavin mengajukan syarat seraya mencolek hidung Zeline.


"Ck! Harus kuat, dong!" Cebik Zeline yang sudah ganti mengalungkan lengannya di leher Gavin.


"Ayo!" Zeline memberikan aba-aba pada Gavin.


"Emmmmmmmhhhhh!" Gavin sekuat tenaga berusaha mengangkat tubuh Zeline yang sekarang beratnya tinggal enam puluh lima kilo.


Kok tetap nggak kuat, ya?


"Emmmmmmhhhhhhh!" Gavin berusaha lebih kuat lagi hingga akhirnya sesuatu yang tidak diinginkan tiba-tiba meletus dari knalpot Gavin.


Bruuuuruut!!


"Eh!" Gavin sontak meringis dan Zeline langsung mencebik.


"Kok kamu malah kentut, Sayang!"


"Nih, aku bales!" Zeline balik mengeluarkan kentut mautnya untuk Gavin.


Ya, ya, ya!


Perang kentut dimulai!


"Iya, Sayang! Terima kasih buat kentut cintanya!" Gavin mengacak rambut Zeline dengan gemas.


Untung Gavin cinta sekali pada istrinya ini!


Kalau orang lain yang mengentutinya dengan keras begini, sudah pasti akan langsung Gavin maki-maki!


"Jadi kamu kuat nggak gendong aku?" Tanya Zeline memastikan.


"Enggak! Kan bomnya udah sampai meletus, berarti nggak kuat dong!" Jawab Gavin beralasan.


"Payah!" Cibir Zeline yang hanya membuat Gavin terkekeh tanpa dosa.


"Bantuin aku bangun kalau begitu!" Zeline kembali mengulurkan lengannya ke arah Gavin.


"Siap!" Jawab Gavin cepat yang langsung sekuat tenaga menarik tubuh Zeline agar bangkit berdiri.


Tepat saat Zeline akhirnya bisa berdiri, wanita itu merasakan ada yang pecah di bagian bawah perutnya.


Pyok!!


Zeline diam sebentar lalu bertanya Gavin.


"Sayang, kamu dengar suara barusan tadi tidak?"


"Suara apa?" Gavin balik bertanya pada Zeline dan pria itu terlihat bingung.


"Kayak balon pecah. Pyok, gitu!" Ujar Zeline yang semakin membuat Gavin mengernyit. Gavin kemudian berjongkok untuk memeriksa ke bawah perut Zeline, dan alangkah terkejutnya Gavin saat mendapati rembesan air di kedua kaki Zeline.


"Sayang, ada yang keluar dari jalan lahir kamu!" Lapor Gavin seraya bangkit berdiri lagi dan menatap pada Zeline.


"Ketuban pecah!" Ucap Zeline dan Gavin berbarengan.


"Bunda!!!" Gavin segera berlari keluar rumah dan memanggil Bunda Vale yang sedang menjaga toko.


"Bundaaa!!!" Panggil Gavin lagi keras-keras.


"Ada apa, Gavin? Kenapa berteriak-teriak?" Tanya Bunda Vale yang tergopoh-gopoh menghampiri Gavin.


"Ketuban Zeline pecah, Bunda!" Lapor Gavin cepat.


"Lalu sekarang Zeline dimana? Cepat kamu siapkan mobil, kita bawa Zeline ke klinik bersalin!" Perintah Vale.


"Siap, Bunda!" Jawab Gavin yang langsung berlari ke halaman untuk menyiapkan mobil. Sementara Bunda Vale langsung masuk ke dalam rumah untuk melihat Zeline yang sekarang duduk di sofa.


"Bunda, air ketubannya tidak berhenti keluar!" Ujar Zeline panik.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" Bunda Vale memapah Zeline perlahan saat Gavin sudah kembali dari menyiapkan mobil.


Gavin ikut memapah Zeline menuju ke mobil. Namun saat baru sampai di teras, Zeline sudah meringis sembari mencengkeram erat pundak Gavin.


"Gavin, Gavin!"

__ADS_1


"Zeline kenapa, Bund?" Tanya Gavin bingung.


"Kontraksinya datang, Bunda rasa." Jawab Bunda Vale yang langsung membimbing Zeline untuk menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan.


"Sudah pergi," gumam Zeline yang sudah sedikit mengendurkan cengkeramannya pada pundak Gavin.


"Baiklah, ayo lanjut ke klinik!" Ajak Gavin yang sudah kembali memapah Zeline bersama Bunda Vale menuju ke mobil.


Setelah semua siap, dan Zeline juga sudah berbaring di jok belakang sembari dipangku Bunda Vale, Gavin segera melajukan mobil ayah Arga tersebut menuju ke klinik bersalin.


****


"Aku lapar, Sayang!" Keluh Zeline yang sejak tadi terus meringis menahan kontraksi yang datang dan pergi.


"Mau makan apa lagi? Kau sudah makan banyak tadi!" Ujar Gavin mengingatkan Zeline yang tangannya sigap meraih lontong isi yang dibawa oleh Bunda Vale. Tidak tahu juga Bunda Vale tadi membeli makanan dimana. Ada banyak jenis dan Zeline sudah menghabiskan hampir separuhnya.


"Enak lontongnya!" Komentar Zeline sembari tak berhenti mengunyah.


"Rasa sakit selalu membuatku cepat lapar, Sayang!" Sambung Zeline lagi dengan mulut penuh lontong.


"Aku mau minum trus ambilkan tahu baksonya!" Titah Zeline selanjutnya pada Gavin yang sigap membantu Zeline untuk minum. Gavin lalu ganti mengambilkan tahu bakso untuk Zeline setelah sedikit menggigitnya.


"Kenapa kamu gigit?" Protes Zeline seraya mencebik pada Gavin.


"Ngicipin doang!" Kilah Gavin beralasan.


Zeline masih mencebik saat kontraksi kembali datang.


"Aduh aduh!" Zeline meringis dan segera memberikan tahu bakso tadi pada Gavin.


"Sakit, ya, Sayang?" Tanya Gavin yang sudah mengusap-usap perut Zeline.


"Aku mau nungging aja! Sakit sekali!" Zeline memukuli Gavin demi meluapkan rasa sakitnya.


"Sabar, ya!"


"Yang sakit punggung aku bagian bawah!" Zeline memukul tangan Gavin yang malah mengusap-usap perutnya. Tidak membantu sama sekali!


"Eh, salah, ya!" Gavin langsung ganti mengusap punggung Zeline bagian bawah saat Zeline semakin bergerak gelisah.


"Saya cek lagi pembukaannya, ya, Bu!" Izin dokter yang akan menangani proses persalinan Zeline.


"Kenapa masih harus dicek, Dok? Ini bayinya udah mau keluar!"


"Emmmmmmmmhhhh!" Zeline mengejan satu kali dan benar saja, bayi pertama Zeline sudah langsung keluar hingga dokter yang baru akan mengecek pembukaan kaget.


"Oweeek!" Tangis bayi langsung menggema dan para perawat langsung berhamburan masuk untuk ikut membantu.


"Sekarang satu lagi, Bu!" Dokter memberikan aba-aba saat Zeline merasakan hidungnya yang mendadak gatal.


"Saya boleh bersin dulu, Dok?" Izin Zeline seraya menggosok hidungnya.


"Boleh, silahkan!"


"Haaatchi!"


Bruut!


Gavin nyaris tertawa terbahak-bahak saat bersin Zeline yang diiringi suara kentut malah membuat bayi kedua mereka lahir sekalian.


Semoga dokter yang menangani Zeline tak pingsan setelah ini karena terkena kentut maut Zeline.


"Eh, maaf, Dok! Refleks!" Ringis Zeline pada Dokter karena merasa tak enak hati.


"Tidak apa, Bu! Hal biasa!"


"Kadang yang keluar bersama ampasnya juga ada," gurau dokter yang sontak membuat Zeline dan Gavin membelalak.


Keluar bersama ampas?


Maksudnya melahirkan sekalian BAB?


Multitasking berarti!


"Selamat bayinya laki-laki semua!" Ucap perawat yang sudah sekesai membersihlan bayi Gavin dan Zeline. Perawat lalu meletakkan kedua bayi laki-laki tersebut di dada Zeline.


"Ululululu! Dua Gavin junior!" Zeline menatap gemas pada kedua bayinya. Pun dengan Gavin yang terlihat berbinar bahagia hingga mata pria itu tampan berkaca-kaca.


"Kok kamu nangis, Sayang?" Tanya Zeline yang melohat mata berkaca-kaca Gavin.


"Enggak! Kamu itu yang nangis!" Gavin membalikkan kata-kata Zeline.


"Aku kan nangis bahagia!" Ujar Zeline beralasan.


"Sama, aku juga nangis bahagia karena akhirnya kita sudah jadi orang tua!"


"Mmmmuuuah!" Gavin mengecup kening Zeline lama sekali .


"Terima kasih untuk semua perjuanganmu, Sayang!" Ucap Gavin tulus.


Zeline hanya tersenyum dan mengangguk. Ssdangkan Gavin mengintip ke bagian bawah tubuh Zeline yang masih dijahit oleh dokter.


Namun Zeline sepertinya tak merasa kesakitan karena wanita itu masih berekspresi santai dan malah mentowel-towel pipi kedua bayinya.


"Sayang!" Gavin kembali menghampiri Zeline.


"Hmmm. Apa?"


"Itu milik kamu nggak sakit? Lagi dijahit sama dokter, mana jarumnya sampai melengkung," cerita Gavin yang langsung membuat Zeline mengernyit.


"Iya jarum untuk menjahit robekan persalinan memang melengkung sejak dulu, Sayang!"


"Kamu gimana, sih!" Zeline balik mengomeli Gavin.


"Iyakah? Tapi emang nggak sakit?" Tanya Gavin penasaran.


"Enggak. Cuma kayak ditusuk-tusuk pake ujung jarum saja." Jawab Zeline santai.


"Lebih sakit pas kontraksi tadi," sambung Zeline lagi.

__ADS_1


"Wow! Padahal nggak dibius, ya?" Gavin berdecak kagum.


"Nanti habis ini bisa hamilin kamu lagi, dong!" Gavin mengerling nakal pada Zeline.


"Hah, mau langsung?" Zeline membulatkan kedua bola matanya.


"Iya kemarin katanya kamu mau!" Gavin mengingatkan Zeline tentang persetujuan wanita itu kemarin.


"Iya, sih! Terserah kamu aja, deh!" Ucap Zeline pasrah akhirnya.


"Yess!" Gavin langsung bersorak senang.


"Eh, tapi aku punya syarat!" Cetus Zeline tiba-tiba.


"Syarat apa?" Tanya Gavin menatap serius pada Zeline.


"Aku mau resign dari Abraham Group! Aku mau jadi ibu rumah tangga saja yang merawat anak-anak!" Jawab Zeline mengungkapkan keinginannya.


"Oke!"


"Aku juga udah siap gantiin kamu sebagai tuan direktur Gavin!" Ujar Gavin yang langsung mengiyakan permintaan Zeline.


"Tapi nanti semua gaji kamu masuknya di rekening aku!" Celetuk Zeline seraya terkikik.


"Tentu saja, Sayang! Semuanya buat kamu!" Gavin mengecup kening Zeline lagi.


"I love you!" Ucap Gavin selanjutnya pada Zeline.


"I love you too!" Balas Zeline.


"I love you juga dua jagoan kecil!" Ucap Gavin pada si kembar.


"Xavier dan Xabian!" Bisik Zeline memberitahu nama si kembar pada Gavin.


"Siapa?"


"Xavier dan Xabian!" Ucap Zeline lebih keras.


"Pakai S?" Tanya Gavin memastikan.


"Bukan! Pakai X lah!" Sergah Zeline cepat.


"Lah! Nanti pas sekolah absennya di belakamg, dong!" Gavin garuk-garuk kepala.


"Ya biarin! Aku pas sekolah juga absennya paling belakang!" Jawab Zeline tak mau dibantah.


"Pokoknya nama si kembar Xavier dan Xabian!" Ucap Zeline sekali lagi dengan nada tegas.


"Iya, iya! Trus panggilannya siapa? Xavi dan Xabi?" Tanya Gavin.


"Iya! Kamu gantian mikir buat nama belakang mereka!" Titah Zeline pada Gavin.


"Sudah ada!" Jawab Gavin cepat.


"Siapa?"


"Zevino!"


"Zeline dan Gavin disingkat jadi Zevino!" Ujar Gavin menerangkan asal usul nama belakang untuk bayi kembarnya.


"Zeline dan Gavin jadi Zevin. O nya dapat darimana?" Tanya Zeline penuh selidik.


"Iya O nya tambahan saja, Sayang! Biar nggak aneh!


"Apa mau Zeviner?" Tawar Gavin memberikan pilihan lain.


"Apa itu Zeviner? Aneh sekali!" Komentar Zeline.


"Iya makanya Zevino saja! Kita jadikan itu sebagai nama keluarga!" Cetus Gavin mengungkapkan ide cemerlangnya.


"Oke?"


"Oke!" Zeline langsung mengangguk setuju.


"Xavi dan Xabi! Calon peselancar hebat masa depan!" Celetuk Gavin selanjutnya.


"Apaan calon peselancar? Mereka calon CEO!" Sergah Zeline cepat.


"Peselancar!" Gavin tetap keras kepala.


"CEO!" Zeline tak kalah keras kepala.


"Peselancar! Sama tour guide!"


"CEO! Pokoknya CEO!"


"Peselancar!"


"CEO!"


*************TAMAT*************


Iya,nanti jadi CEO merangkap peselancar, ya! 🤣


Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua reader yang sudah membaca karya ini sampai tamat. Mohon maaf jika masih banyak typo bertebaran, serta kata-kata yang kurang pantas dan berkenan.


Terima kasih juga untuk semua reader yang memberikan like, komen,vote, hadiah, serta dukungan yang tak terhingga.


Cerita Gavin dan Zeline aku akhiri sampai disini, ya!


Maaf kalau updatenya lelet.


Sampai jumpa di karya selanjutnya yang kebetulan juga sudah rilis dari tanggal 1.


Ada :


💜 Randu-Azzalea di "Pengganti Calon Suami Azzalea"


💜 Bintang-Vaia-Syiela di "Istri Rahasia Bintang"

__ADS_1


Jangan lupa mampir.


Bye 💜💜


__ADS_2