
"Zel!" Panggil Gavin seraya meraih tangan Zeline yang hendak naik tangga ke kamarnya.
"Ada apa? Kau tidak ikut ayah bundamu pulang?" Tanya Zeline karena tadi Bunda Vale, Ayah Arga, Abang Ezra dan juga Kak Joanna sudah pamit pulang setelah makan siang bersama.
"Aku menginap disini malam ini," ujar Gavin seraya menaik turunkan alisnya pada Zeline.
"Penting jangan tidur di kamarku!" Zeline sudah ganti bersedekap pada Gavin.
"Oh, aku kira kau ingin aku temani. Kan kita sudah tunangan." Kekeh Gavin yang seolah sedang mengingatkan Zeline tentang status mereka berdua.
"Baru juga tunangan!" Zeline mendorong dada Gavin dan sedikit kesal.
"Urusin skripsi dulu sana!" Sergah Zeline lagi masih kesal.
"Janji nggak kangen kalau nanti aku sibuk ngerjain skripsi, ya?" Goda Gavin pada Zeline.
"Dih! Siapa juga yang kangen sama pria pecicilan sepertimu!" Rengut Zeline yang masih tetap jual mahal.
"Hei, sama calon suami nggak boleh gitu!" Gavin mengacak rambut Zeline yang langsung disentak oleh Zeline.
"Kusut rambut aku!"
"Nanti aku bantu sisirin! Mau disisir pakai sisir tangan, sisir sikat, sisir biasa, atau sisir kutu?" Tanya Gavin yang langsung membuat Zeline mendengus.
"Sialan! Memangnya aku kutuan!" Sungut Zeline pada Gavin yang langsung terkekeh.
Zeline lanjut naik ke lantai dua dan Gavin masih setia mengekori gadis itu.
"Kau mau kemana?" Tanya Zeline yang kembali menghentikan langkahnya.
"Mengikutimu. Kan kita belum ngobrol sejak tadi," jawab Gavin beralasan.
"Memangnya mau ngobrol apalagi?" Tanya Zeline seraya menghentakkan satu kakinya.
"Apa saja! Kan katanya kau mau lebih mengenal aku! Jadi, ya kau bisa tanya apa saja dan aku akan menjawabnya nanti."
"Kita mau saling mengenal dimana? Di kamarmu? Atau dimana? Kita jalan-jalan keluar, yuk! Anak kota kalau jalan-jalan kemana, sih?" Tanya Gavin bercerocos tanpa jeda yang membuat Zeline seketika ngos-ngosan.
Lah, aneh!
Gavin yang nyerocos tapi Zeline yang ngos-ngosan. Memangnya paru-paru mereka jadi satu, ya?
"Aku sedang malas keluar," jawab Zeline yang sudah kembali melanjutkan langkahnya. Zeline dan Gavin sudah tiba di lantai dua. Zeline langsung membuka pintu kamarnya dan Gavin yang pertama merangsek masuk mendahului Zeline.
Tunangan kurang ajar!
"Kita ngobrol di kamar saja kalau kau malas keluar!" Cetus Gavin mengusulkan sebuah ide. Pria itu juga sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Zeline seperti kemarin saat ia datang kemari.
Ck!
Menyebalkan!
"Aku ngantuk!" Zeline beralasan dan menarik tangan Gavin, lalu memaksa pemuda itu untuk bangun.
"Tidur saja! Aku tak akan macam-macam!"
"Kan ada Papi dan Mami juga di bawah! Kau bisa teriak nanti kalau aku macam-macam," Cerocos Gavin yang langsung membuat Zeline mengernyit.
"Sejak kapan kau memanggil Papi dan Mami?"
"Sejak kita tunangan beberapa jam yang lalu."
"Hehehe!" Gavin terkikik tanpa dosa dan Zeline sontak memutar bola matanya.
Zeline akhirnya duduk di samping Gavin, namun tak ikut merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Kau nanti mengerjakan skripsi disini, kan?" Tanya Zeline pada Gavin yang langsung bangun dan ikut duduk.
"Kampusku belum buka cabang di kota ini. Dan dosenku tidak memberikan fasilitas bimbingan online," tukas Gavin beralasan yang langsung membuat raut wajah Zeline berubah.
"Lagipula, nanti skripsiku nggak selesai-selesai, kalau aku kerjakan disini," imbuh Gavin lagi.
"Kenapa bisa begitu?"
"Karena aku sibuk gangguin kamu!" Gavin tiba-tiba sudah merangkulkan lengannya pada Zeline.
"Jadi kita nanti LDR? Seperti dugaanku kemarin?" Cecar Zeline menatap tak senang pada Gavin.
"Hanya satu bulan!"
__ADS_1
"Nanti kita video call, oke! Aku akan beli ponsel dulu," ujar Gavin yang selalu punya solusi.
"Kau tidak punya ponsel?" Zeline mengernyit heran.
Manusia jaman apa Gavin ini? Masa iya dia tak punya ponsel?
"Ponselku hanyut di laut saat kita terdampar kemarin. Dan aku belum beli yang baru," jawab Gavin beralasan.
"Sore ini aku akan beli! Disini beli ponsel dimana?" Tanya Gavin yang masih merangkul Zeline.
"Di toko material!" Jawab Zeline ketus.
"Oh, ada, ya? Baru tahu toko material jualan ponsel juga," Gavin terkekeh.
"Ck!" Zeline hanya berdecak.
"Nanti kamu yang anterin aku cari ponsel, ya! Besok pagi aku sudah pulang!" Gavin mengacak rambut Zeline lalu pemuda itu bangkit berdiri.
"Kenapa cepat sekali?" Tanya Zeline saat Gavin sudah mengayunkan langkahnya ke arah pintu.
"Kan harus ngerjain skripsi. Biar kita cepat nikah," Gavin menaik turunkan alisnya pada Zeline.
"Bobok siang, gih! Aku akan tidur juga di kamar lain!"
"Bye!" Pamit Gavin seraya menutup pintu kamar Zeline.
Zeline hanya diam dan menatap pada pintu kamar yang sudah ditutup oleh Gavin.
LDR?
Yang benar saja!
****
Zeline membuka perlahan kamar yang ditempati oleh Gavin untuk mengintip apa pemuda itu benar-benar tidur atau hanya pura-pura. Ternyata Gavin memang benar-benar tidur siang, dan pria itu begitu pulas.
"Zel,"
"Eh!" Zeline cepat-cepat menutup pintu kamar Gavin.
"Kau mau pergi lagi?" Tanya Mami Thalita.
"Gavin besok sudah pulang," ujar Mami Thalita memberitahu Zeline.
"Iya, Zeline tahu!"
"Jangan ketus begitu, kenapa?" Nasehat Mami Thalita.
"Zeline nggak ketus, kok! Tapi Gavin tadi juga udah ngasih tahu kalau besok dia pulang!"
"Padahal Zeline pikir dia ngerjain skripsi di rumah Opa Theo," gumam Zeline masih merengut.
"Eheem! Ceritanya masih kangen? Tapi tadi sok jual mahal," goda Mami Thalita yang ternyata mendengar gumaman Zeline.
"Mana ada!" Wajah Zeline langsung memerah.
"Wajah kamu merah!" Goda Mami Thalita lagi.
"Mami, ih!"
"Zeline mau ke kantor!" Ujar Zeline menghindar. Gadis itu langsung berlalu begitu saja dari hadapan Mami Thalita dan tak berselang lama, mobil Zeline sudah meninggalkan kediaman Abraham.
****
Tepat pukul lima sore, Zeline sudah tiba di kediaman Abraham.
Gavin dan Papi Zayn sedang bermain catur di teras depan, saat Zeline tiba.
"Baru pulang, Zel?" Sapa Papi Zayn pada sang putri.
"Iya, Pi!" Zeline menghentikan langkahnya sejenak, lalu memperhatikan Gavin yang tampak berpikir sebelum kemudian pemuda itu mulai menjalankan pion caturnya.
"Ngerti memang!" Cibir Zeline pada Gavin.
"Ngerti dong! Kamu kira aku tak bisa main catur?" Jawab Gavin sombong.
"Gavin sudah menang satu kali tadi," cerita Papi Zayn seraya tertawa kecil.
"Masa?" Zeline menampakkan ekspresi tak percaya.
__ADS_1
"Iya! Jago dia main catur," puji Papi Zayn.
"Main billiard juga bisa, Pi!" Timpal Gavin pamer.
"Sudah coba lawan Zeline? Dia paling jago di rumah," cerita papi Zayn lagi.
"Iyakah, Pi? Pantesan kemarin Gavin langsung kalah pas lawan dia," kekeh Gavin seraya kembalo menggerakkan pion caturnya.
"Jadi beli ponsel, nggak?" Tanya Zeline selanjutnya pada Gavin.
"Jam berapa memang? Sebentar lagi," jawab Gavin beralasan.
"Keburu malam! Nanti beli sendiri sudah!" Zeline memukul punggung Gavin dengan tasnya lalu gadis itu masuk ke dalam rumah dan terlihat
"Yaelah, ngambek!" Gumam Gavin seraya tertawa kecil. Gavin lalu minta izin pada Papi Zayn untuk menyudahi main catur sekaligus mengajak Zeline pergi menemaninya membeli ponsel baru.
"Pulangnya nanti jangan malam-malam!" Pesan Papi Zayn.
"Siap, Pi!"
****
"Udah dibelain pulang cepat biar bisa anterin dia beli ponsel! Malah sibuk main catur!"
"Dasar pria!" Zeline menggerutu sendiri di dapur, seraya melahap beberapa makanan yang ia temukan di kulkas.
"Makan apa?" Tanya Gavin tiba-tiba yang sudah berada di balik punggung Zeline.
"Minta dong!" Gavin hendak mencomot satu makanan di piring Zeline, namun Zeline dengan cepat mencegah.
"Nggak!" Zeline langsung menyumpalkan semua makanan ke dalam mulutnya.
"Oh, ya ampun!" Gavin tergelak saat melihat pipi Zeline yang langsung menggembung penuh makanan.
"Awas tersedak!" Gavin mengingatkan Zeline yang masih susah payah mengunyah dan menelan makanan di mulutnya. Gavin terus memperhatikan Zeline yang masih mengunyah makanannya.
"Jangan dilihatin!" Rengut Zeline yang mulutnya sudah tak terlalu penuh. Zeline akhirnya berhasil mengunyah semua makanan di dalam mulutnya.
"Sudah?" Tanya Gavin seraya menyodorkan segelas air untuk Zeline. Meskipun masih merengut, Zeline tetap menerima air dari Gavin, lalu meneguknya hingga tandas.
"Ayo pergi!" Ajak Gavin selanjutnya pada Zeline.
"Kau belum mandi!"
"Sudah!" Gavin mengangkat tangannya ke atas, lalu menyuruh Zeline mengendus ketiaknya yang tak lagi bau asem. Yang ada bau wangi parfum.
Tumben!
"Wangi, kan!" Tanya Gavin penuh percaya diri.
"Dikit! Tetep ada bau-bau asemnya!" Jawab Zeline berkomentar. Namun bukannya tersinggung, Gavin malah tergelak.
"Penting bukan bau kentut!" Sahut Gavin yang langsung membuat Zeline menghentakkan satu kakinya karena kesal.
"Ni kentut!" Ketus Zeline akhirnya seraya menghembuskan aroma tak sedap dari tengah-tengah bokongnya pada Gavin.
"Oh, astaga! Dasar tukang kentut!" Gavin mengejar Zeline dan mengacak gemas rambut tunangannya tersebut.
"Gavin, iiih!"
.
.
.
Maaf kalau minggu ini up-nya berantakan.
Kemarin habis aku sakit, gantian anak-anak aku yang sakit. Anak-anak sembuh, sekarang malah suami yang sakit.
Nggak tahu di tempat kalian kayak gini juga atau nggak. Tapi di tempatku lagi musim sakit. Banyak banget orang sakit batuk pilek sama malaria. Di sekolah anakku sehari bisa 8-10 anak yang izin sakit 😌
Tetap jaga kesehatan, ya para reader!
Banyakin minum air putih. Semoga kita semua selalu diberikan kesehatan. Aamiin.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1