
Beberapa bulan kemudian.....
"Sayang!"
"Enak, nggak?" Tanya Gavin yang masih bergerak di atas Zeline.
"Heem!" Jawab Zeline bergumam. Kedua mata Zeline terpejam seolah wanita itu sedang menikmati permainannya bersama Gavin.
"Kawin enak, ya!" Ucap Gavin lagi dengan nafas yang sudah terengah.
"Cepat selesaikan dan jangan bawel!", Zeline akhirnya membuka mata dan membungkam mulut Gavin yang sejak tadi tak berhenti bercerocos.
Dasar Gavin!
"Kenapa buru-buru, sih? Tadi katanya enak!" Cerocos Gavin lagi setelah pria itu menyingkirkan tangan Zeline dari mulutnya.
"Ck! Kemarilah!" Zeline yang sudah merasa geregetan akhirnya menarik kepala Gavin dan menyatukan bibirnya dengan bibir Gavin. Seolah tak mau membuang kesempatan, Gavin juga langsung menyambut kecupan panas Zeline dan pasangan suami istri itu langsung berpagutan dengan panas. Gerakan Gavin semakin cepat bersamaan dengan pagutannya bersama Zeline yang juga semakin dalam.
"Sayang!" Gavin melenguh, lalu melesakkan miliknya dalam-dalam, sebelum akhirnya tubuh prianitu mengejang di atas Zeline.
"Ouuuuhhh!" Gavin terus menekan miliknya dengan dalam, sembari menyemburkan benih-benih ketampanannya ke dalam milik Zeline.
"Akhirnya!" Gumam Zeline yang sudah melepaskan pagutannya pada bibir Gavin.
"Enak?" Tanya Gavin seraya mengerling nakal pada Zeline.
"Ya!" Jawab Zeline sedikit tersipu. Setelah beberapa menit, Gavin langsung berguling dan mendekap tubuh Zeline.
"Ayo mandi!" Ajak Gavin masih sambil mendekap Zeline.
"Bentar!" Zeline mengendus aroma tubuh Gavin dari mulai leher, dada, lalu terakhir wanita itu mengangkat satu tangan Gavin ke atas dan menciumi ketiak Gavin.
Lah, aneh!
Biasanya hoek hoek kalau Gavin pamer ketiak!
"Cari apa?" Tanya Gavin yang sedikit bingung dengan tingkah Zeline.
"Bau ketek kamu kok enak, Sayang! Kamu pakai parfum apa?" Tanya Zeline yang masih mengendus aroma ketiak Gavin.
"Parfum apa, ya? Aku lupa, Sayang!"
"Kan tadi pagi yang milihin dan ngambilin parfumnya kamu," jawab Gavin seraya garuk-garuk kepala memakai tangannya yang satu.
"Yang satu baunya enak juga, nggak?" Tanya Zeline yang sudah beralih ke ketiak Gavin satunya.
Ya ampun!
Apalagi ini?
"Hhhhhh! Enak juga, Sayang!" Ucap Zeline yang ekspresi wajahnya menunjukkan kalau ia memang menikmati aroma ketiak Gavin. Luar biasa!
"Ayo mandi!" Ajak Gavin sekali lagj pada Zeline.
"Mandiin!" Ucap Zeline manja sembari mengalungkan lengannya ke leher Gavin. Zeline lalu lanjut menciumi ketiak Gavin lagi.
__ADS_1
"Eh, tapi nanti aroma ketiak kamu hilang nggak kalau mandi?" Tanya Zeline yang langsung membuat Gavin mengernyit.
"Hilang sebentar biasanya trus balik lagi. Tapi nanti aku akan pakai parfum setelah mandi biar wangi?" ujar Gavin memberikan ide dan solusi.
"Jangan!" Tolak Zeline cepat.
"Nggak usah pakai parfum apa-apa lagi! Ini baunya udah enak banget, Sayang!" Ucap Zeline yang kembali bergelayut manja pada Gavin.
Gavin kemudian meletakkan punggung tangannya di dahi Zeline untuk memastikan kalau istrinya itu memang sedang waras sekarang dan sedang tidak demam!
Kan aneh saja!
Kenapa tiba-tiba Zeline menyukai aroma ketiak Gavin?
"Ayo mandi, Sayang!" Ajak Gavin sekali lagi karena sejak tadi mereka belum jadi mandi.
"Eh, iya!" Zeline meringis lalu bangun dan duduk di atas ranjang.
Gavin menyibak selimut dan turun duluan dari atas tempat tidur, saat Zeline tiba-tiba sudah melompat ke punggung Gavin.
"Aduuh!" Gavin yang tak siap sontak terjengkang ke belakang dan malah menindih Zeline.
"Sayang! Kok aku ditindih?" Protes Zeline yang langsung membuat Gavin buru-buru bangun dari atas Zeline.
"Maaf, maaf! Kamu bikin aku kaget, Sayang!" Ucap Gavin yang sudah dengan sigap membantu Zeline untuk bangun.
"Ck! Aku pikir kamu udah kuat gendong aku!" Cebik Zeline yang kini sudah duduk di atas ranjang seraya merengut dan bersedekap.
"Udah kuat, kok!" Sergah Gavin cepat.
"Sekarang! Aku udah kuat!" Gavin meregangkan ototnya sebentar lalu bersiap di tepi ranjang.
"Ayo naik! Aku udah siap sekarang!" Titah Gavin pada Zeline yang masih merengut.
"Yakin? Nanti kamu kejengkang dan nindih aku lagi, nggak?" Tanya Zeline yang seperti sedikit trauma.
"Enggak! Beneran!" Jawab Gavin yakin.
"Baiklah!" Zeline akhirnya bangkit dari duduk dan naik ke punggung Gavin.
"Yakin, kuat?" Zeline masih merasa ragu.
"Kuuaaaaat!" Gavin berusaha untuk bangkit berdiri, sambil menggendong Zeline di punggungnya.
"Kuaaaaat!" Gavin meyakinkan dirinya sendiri, saat akhirnya ia berhasil menggendong Zeline yang bohay dari atas ranjang.
Baiklah!
Sekarang hanya tinggal enam langkah ke arah kamar mandi.
Gavin bergelut dengan batinnya sendiri, saat tiba-tiba jarak ranjang ke pintu kamar mandi jadi jauh sekali.
Oh, sial!
Kenapa bisa begitu, ya?
__ADS_1
"Sayang! Kok malah diam di tempat dan nggak buru-buru ke kamar mandi?" Tegur Zeline yang masih berada di gendongan Gavin.
"Iya, bentar! Ini aku lagi kumpulin nafas," ujar Gavin beralasan.
"Yakin kuat?" Zeline kembali merasa ragu.
"Kuaaat!" Gavin maju satu langkah dan nafasnya seketika ingin putus.
Oh, ya ampun!
"Aku turun aja, ya, Sayang!" Usul Zeline yang mendadak merasa iba pada Gavin.
"Nggak usah! Aku kuat, kok!"
"Kuaat!" Tidak tahu mendapat kekuatan darimana, Gavin tiba-tiba langsung berlari ke dalam kamar mandi sembari menggendong Zeline. Namun tentu saja hal itu juga diiringi oleh suara dari knalpot Gavin yang tak berhenti terkentut-kentut.
Ck!
Sepertinya Gavin sudah benar-benar terkontaminasi virus kentutnya Zeline!
****
"Sudah kelihatan jenis kelamin keduanya?" Tanya Papi Zayn pada Gretha dan Sakya yang sedang mengusap-usap perut Gretha yang kini sudah membulat sempurna.
Ya, meskipun kandungan Gretha baru masuk usia enam bulan, tapi perut istri Sakya itu sudah besar sekali karena Gretha yang memang mengandung bayi kembar.
"Sudah, Pi! Perempuan semua," jawab Gretha seraya tertawa kecil.
"Padahal tadinya Sakya berharap bakal dapat bayi laki-laki-"
"Mau laki-laki atau perempuan, itu sama saja, Sakya!" Yang terpenting adalah, Gretha dan kedua bayinya sehat terus sampai lahiran," nasehat Mami Thalita yang saat ini sedang memangku Crystal.
"Iya, Mi!" Jawab Sakya bersamaan dengan Zeline dan Gavin yang terlihat menuruni tangga dari lantai atas.
"Eh, Kak Zeline!" Gretha buru-buru bangkit dari duduknya dan sepertinya hendak menghampiri Zeline dan Gavin.
"Pelan-pelan, Gre! Mau apa, sih?" Tanya Sakya yang sudah sigap membantu Gretha untuk bangun. Gretha langsung bergerak lincah ke arah tangga seolah wanita itu lupa kalau ia sedang hamil.
"Gre, jangan lari-lari!" Mami Thalita memperingatkan sang menantu.
Tepat saat kaki Zeline menginjak anak tangga yang terakhir, Gretha tiba-tiba sudah menginjak kaki kanan Zeline sekuat tenaga hingga sang kakak ipar menjerit kencang.
"Aaaaaaaaaa!"
"Gretha!!!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1